
Hari demi hari pun berlalu, setelah kejadian di malam itu, Sato tampaknya cukup ceria beberapa hari ini. Bagaimana tidak, dia sudah menyatakan perasaannya kepada gadisnya itu. Dia begitu bersemangat bahkan untuk berangkat bekerja pun dia benar-benar mood nya dalam keadaan bagus.
Tentu saja itu menjadi perbincangan para karyawannya di kantor.
"Hey.. Kamu tahu gak? Tuan Sato lagi semringah banget loh.."
"Iya dia beberapa hari ini terlihat senang sekali, apakah dia sedang punya pacar baru?"
"Wah fix sih kalo dia beneran punya pacar baru, boleh kali lah ya ketemu sama pacarnya.."
"Beruntung banget ya yang bisa luluhin hatinya, padahal orangnya kayak kulkas begitu.."
Omongan-omongan para karyawan terdengar sampai di telinga Hiiragi. Tentu saja, Hiiragi juga penasaran ada apa sebenarnya dengan Sato akhir-akhir ini.
*********TOK*********!
TOK!
TOK!
Terdengar bunyi suara ketukan pintu dari luar. Sato yang sedari tadi fokus dengan pekerjaannya jadi teralihkan dengan itu.
"Ya, masuk."
Terbukanya pintu itu dan kelihatan Hiiragi masuk membawa beberapa map merah yang sudah pasti itu untuk Sato.
"Ini berkas baru, coba di check deh.." kata Hiiragi sambil menaruh map-map itu di meja kerja Sato.
"Oke, nanti gua check deh gua lagi ngurusin bahan buat meeting besok dulu, bro." kata Sato yang masih sibuk mengotak-ngatik laptopnya.
Hiiragi menatap temannya itu dengan tatapan mencurigakan hingga sampai dia melihat notif di ponsel milik Sato yang bernama Sayangβ€
Seketika saat itu juga Hiiragi mengangguk penuh arti seolah-olah dia tahu apa yang sedang terjadi pada teman sekaligus bosnya ini.
"Oh jadi ini yang bikin lo semangat beberapa hari ini... Ahh.... Ya ya ya..." kata Hiiragi sambil ditambahkan bumbu-bumbu meledek Sato.
Sato langsung terfokus kepada Hiiragi dan mengambil ponsel miliknya.
"Iri aja sih lo.. Gak boleh apa lihat gua seneng dikit?" kata Sato yang menatap Hiiragi dengan tatapan sinis.
"Ya kaget gua gak biasanya lo selalu ceria, penuh senyum, ramah pula lagi sama orang-orang. Lo jadi buah bibir sama karyawan-karyawan lo sendiri, Sato."
"Yaudah sih biarin aja gak boleh banget lihat gua seneng, eh ya habis pulang ini atau jam makan siang nanti temenin gua cari toko baju yang bagus ya?" kata Sato.
Hiiragi tampak bingung yang mendengarkan perkataan Sato itu.
'Kenapa ini anak minta di temenin ke toko baju dah? Mau ngapain ini anak?'
"Hah??!! Emang lo mau ngapain dah? Lo mau beli baju lagi?" tanya Hiiragi penasaran.
Sato menggelengkan kepalanya cepat.
"Engga, gua mau survey aja buat bikin tuxedo pernikahan sama satu set lengkap baju pengantin aja sih.." kata Sato yang kembali fokus dengan laptopnya.
"Oohh..."
Hiiragi hanya merespon oh sebelum dia sadar kalau temannya ini berbicara soal pernikahan.
"Eh?!"
"Hm?"
"Bentar.. Bentar... Tadi lo bilang apaan?" tanya Hiiragi memastikan.
Sato hanya bisa menghela nafasnya saat temannya bertanya begitu. Dia mengira bahwa Hiiragi sedikit budeg juga telinganya.
"Gua bilang... Gua mau ke toko baju, mau cari rekomendasi tuxedo pernikahan sama satu set lengkap baju pengantin... Masih nanya lagi apaan?" ketua Sato dengan nada kesal.
"EHH??!! L-LO MAU NIKAH??!! SAMA SIAPA OI!?!! KOK LO KAGAK BILAβ"
"OI BERISIK EEHH!! INI MASIH DI KANTOR!!"
"Oh iya maaf maaf.. T-Tapi sama siapa oi?? Lo beneran mau nikah sama siapa?" tanya Hiiragi lagi.
Pasalnya Hiiragi hampir percaya tidak percaya soal itu. Yang benar saja, temannya ini sudah berencana ingin menikahi seorang gadis.
"Hmm.. Ada deh nanti gua kenalin ke lo.. Tapi lo jangan genit-genit sama dia, gua tampol lo.." ancam Sato dengan tatapan membunuh.
"Aish.. Ya kagak lah gua aja belum lihat wajahnya. Kapan mau kenalin ke gua? Weekend aja ajak ke tempat biasa kita nongkrong." ajak Hiiragi.
"Aaahhh boleh juga tuh... Yaudah weekend berarti Sabtu lah gua ajak dia pergi. Semoga aja dia gak ada jadwal kuliah sih.."
"Siap.. Gua tungguin lo ya?"
"Iya tenang aja.."
Hiiragi sama sekali tidak menyangka kalau Sato akan seserius itu menjalani hubungan dengan gadis yang ia sukai. Tanpa sadar dia malah tersenyum simpul.
'Syukurlah udah bisa move on.. Semoga dia yang terbaik dah buat lo...'
...πππ...
"Oke mungkin cukup sampai disini saja materi tambahan untuk hari ini, bagi yang sudah dapat jadwal sidang TA minggu depan, harap mempersiapkan diri kalian."
"BAIK SENSEI!!!"
Jam kuliah telah usai, Nadya kini merapikan beberapa alat tulis serta bukunya dan di masukkan kedalam tas.
"Iihhh.... Jadwal sidang TA ku minggu depan astaga..." kata Nadya dengan nada yang sedikit ketakutan.
"NAA-CHAAAANN~"
Diambang pintu ternyata sudah ada Ritsuka dan Hitoka yang setia sekali menunggunya selesai kuliah. Nadya langsung menghampiri kedua temannya itu dan berjalan menuju gerbang kampus.
"Gimana Naa-chan udah dapet jadwal sidang TA nya?" tanya Hitoka penasaran.
Nadya menganggukkan kepalanya, "Iya sudah dapat, aku hari Senin minggu depan jadwalnya." jawab Nadya.
"HAH?!! BENERAN MINGGU DEPAN?"
"Wuiiihhh kita bisa lihat Naa-chan presentasi nih~" seru Hitoka kegirangan.
"Ih kalian.. Aku ini lagi deg-degan tahu gak.. Senin itu terlalu cepat sekarang aja udah hari Rabu.." kata Nadya dengan wajah frustasinya.
"Heehh~~ Jangan se-frustasi itu Naa-chan."
"Ya habis bagaimana aku gampang gugup orangnya kan.. Kalian tahu sendiri kan?"
Saat mereka sudah mau sampai di pintu gerbang, pandangan Ritsuka dan Hitoka terpaku pada sosok pria yang sangat mereka kenal. Sosok pria itu pun juga menoleh kearah mereka bertiga.
Seolah mengerti, Ritsuka dan Hitoka pun mencoba pamit untuk pulang duluan.
"Kamu gak akan gugup lagi kok.. Pfftt..." kata Hitoka sambil menahan tawanya.
"Hah? Mana bisa ih..."
"Ya kan ada yang bakalan nenangin lo kok.." sahut Ritsuka.
"Jadi kita pulang duluan ya Naa-chan~ bye bye~"
"HEEHH???!!!"
Ritsuka dan Hitoka main pergi begitu saja meninggalkan dirinya sendirian tapi disaat itu juga Nadya terkejut karena di hadapannya sudah ada pria yang menunggunya.
"E-Eehh??!! S-Satoo??!!"
Pria itu tampak tampan dengan kemeja putih dan jas yang ia gunakan, meskipun kancing bagian atasnya harus terbuka begitu saja. d
"Kamu sudah pulang?" tanya Sato.
Nadya hanya mengangguk kikuk.
"S-Sudah, baru banget pulang."
"Ayo aku antar pulang.." kata Sato sambil mengulurkan tangannya kearah gadis itu.
Nampak Nadya yang dengan malu-malu menyambut uluran tangan pria itu dan mereka pun bergandengan tangan berjalan kearah parkiran.
'H-Heehh... I-Ini.. I-Ini gak apa-apa pegangan tangan begini.. E-Emang...'
"Sini dulu.."
"Hmm?"
"Mendekatlah.."
Nadya menurut saat disuruh mendekat kearah Sato. Dengan hati-hati, pria itu memakaikan helm di kepala gadisnya. Wajah mereka sangat dekat, bahkan Nadya bisa merasakan hembusan nafas pria itu.
'Y-Ya Tuhan.. I-Ini gak baik banget... Gak baik buat jantung...'
HAP!
Tiba-tiba saja tubuh Nadya di angkat oleh pria itu keatas motor.
"HUWAAA..... S-SATOO..." pekiknya.
Sato hanya diam dan menyalakan mesin motornya.
"Sudah siap sayang?" tanya Sato.
Nadya masih mendengar suara Sato meskipun suaranya sedikit berdengung di telinganya.
"I-Iya aku sudah siap..."
Mereka pun pergi meninggalkan kampus menggunakan motor. Hari ini cukup dingin mungkin mengingat sebentar lagi akan datang musim dingin.
Tampak tak ada obrolan apapun diantara mereka, saling diam tak menegur sapa. Sampai mereka tiba di sebuah tempat makan ramen.
"Eh? K-Kita kesini dulu?" tanya Nadya bingung.
Lagi-lagi Sato menggendong Nadya lagi untuk turun dari motornya.
"B-Bisa gak sih jangan gendong aku seperti itu? Aku bisa turun sendiri dan naik sendiri, Sato." kata Nadya dengan nada kesal.
Sato hanya diam dan tersenyum melihat tingkah gadisnya itu. Mereka bergandengan lagi untuk masuk ke dalam restoran ramen itu.
Kini mereka berdua duduk berhadapan, bahkan Nadya bisa-bisanya mencuri pandang dengan pria itu.
'Aku malu banget sumpah... K-Kenapa jadi kayak gini sih...'
"Kamu tunggu disini ya jangan ke mana-mana aku mau pesan ramennya dulu.." kata Sato.
Nadya lagi-lagi hanya mengangguk, seperti kucing yang patih terhadap majikannya.
CHUP!
Tiba-tiba saja Sato mencium puncak kepala gadis itu yang membuat Nadya seketika mematung di tempat.
"Tunggu ya sayang..."
Hanya itu perkataan yang ia ucapkan sebelum meninggalkan Nadya di meja sendirian. Gadis itu malah salah tingkah dan menutup wajahnya dibalik tangannya.
'S-Sato kenapa jadi begitu sih... Berhenti jangan bikin aku makin suka sama dia..'
Tidak perlu menunggu lama, pesanan ramen untuk mereka berdua pun datang dan Sato yang membawakan ramen itu.
Bukankah itu sangat romantis?
"Ini dia pesanan kita.." kata Sato sambil memberikan semangkuk ramen untuk Nadya.
Sato kembali duduk dan siap menyantap ramennya.
"Ayo kita makan ramennya mumpung masih hangat.."
Nadya langsung mengambil sumpit dan melahap ramen itu. Sedangkan Sato masih menatap gadisnya yang begitu lahap memakan ramennya.
Merasa di perhatikan, Nadya menatap kearah Sato yang ternyata ketahuan menatapnya sejak tadi.
"S-Sato.. K-Kenapa gak di makan?" tanya Nadya malu-malu.
"Aku ingin melihat wajahmu dulu.. Kan nanti aku semalaman gak bakalan bisa lihat wajah kamu..."
TUING!
Bagaikan di tembak panah oleh malaikat cinta, wajah Nadya langsung memerah seketika bahkan dia tidak bisa menahannya di depan pria itu.
"S-Sato jangan bicara begitu. Kamu jangan gombal terus." kata Nadya dengan nada gugup.
"Eh? Aku gak lagi ngegombal, aku emang mau lihat kamu. Kan kamu udah jadi milik aku sekarang." jawab Sato to the point.
Nadya tidak bisa lagi membalas perkataan Sato, dia hanya kembali melahap ramennya sambil menahan malu.
"Dan juga..."
"H-Hmm?"
"Jangan panggil aku Sato, sayang. Panggil aku Mafuyu." kata Sato dengan nada memohon.
"A-Aku malu..." jawab Nadya dengan nada terbata-bata.
Mendengar jawaban sang gadis, pria itu hanya mengusap lembut kepalanya.
"Nanti kamu juga bakalan terbiasa." jawab Sato sambil tersenyum.
Lagi-lagi Nadya harus menimbun rasa malunya dan juga mengatur nafas agar tidak pingsan di tempat akibat perlakuan pria yang ada di hadapannya ini.
'PLEASE!! KENAPA DAPETNYA MALAH KAYAK BEGINI? BIKIN DAG DIG DUG SERRRR TERUS YA TUHAN...'
...πππ...