Raining Spell For Love

Raining Spell For Love
26 : Cemburu Buta



"I-Ini...."


"...."


"Itu.. Itu beneran?"


"Entahlah... Gua juga baru dapet ini foto dari si gadis sialan itu.."


"Gila banget dah! I-Ini pasti jebakan..."


"Udah pasti di jebak sih ini biar hubungan itu anak berdua hancur..."


"Itu orang gak ada kapoknya ya? Dia yang nyakitin, dia yang kekeuh mau minta balikan? Gak punya otak apa itu orang?"


Hiiragi dan Shizume saat ini sedang makan siang bersama di sebuah restoran yang tak jauh dari kantornya. Biasanya di temani Sato, tapi sayangnya Sato harus bertemu dengan klien hari ini.


"Padahal.. Nadya udah sidang TA nya kemarin.. Tapi malah di jebak kayak begini..."


"Hah? Dia sidang TA kemarin?" tanya Shizume dengan nada yang sedikit terkejut.


Hiiragi menganggukkan kepalanya sambil melahap makanannya.


"Hmm.. Bahkan Sato di buat salting terus sama pacarnya itu... Gila sih..."


Shizume tidak heran jika Sato menyukai bahkan sampai terlihat bucin dengan gadis yang bernama Nadya itu. Di mata Shizume, kesan pertama saat bertemu dengan gadis itu hanyalah gadis biasa dengan kepolosan dan kehangatannya. Itu saja.


"Ya.. Pasti banyak sih yang suka sama Nadya, apalagi dia orangnya humble kan? Punya temen juga..." sahut Shizume santai.


"AH!! BENER! LO BENER BANGET! Jarang ada orang kayak dia mau bertemen sama kita kayak gini.." kata Hiiragi bingung.


"Sebenernya banyak yang mau bertemen sama kita, cuman anehnya ya kita circle yang gak mau ribet jadi yaudah bertiga aja terus sampe sekarang kan.." kata Shizume melanjutkan.


Apa yang di katakan Shizume ada benarnya. Sato tipe orang yang cukup santai dalam pertemanan, tapi susah bagi mereka untuk bisa percaya sama orang baru.


"Kayaknya.. Ini beneran harus di cegah deh.." kata Shizume bangkit dari duduknya.


"Hah?! Apanya yang di cegah?"


"Ya si gadis sialan itu.. Daripada ini foto bisa bikin Sato ngamuk atau bahkan dia cemburu akut gimana? Lo mau tanggung jawab?" tanya Shizume.


"Ogah! Ngapain gua tanggung jawab?! Dia kalo udah kehilangan kendali, gua gak bakalan bisa nahan dia.." kata Hiiragi pasrah.


"Ya sudah kalau begitu, kita berdua kasih pelajaran aja ke si gadis gila itu. Biarin urusan Sato sama Nadya aja." kata Shizume.


Mendengar perkataan Shizume yang begitu excited ingin membalas perlakuan orang yang mereka sebut gadis gila itu, Hiiragi tersenyum miring sambil menepuk bahu Shizume secara tiba-tiba.


"Ayo!! Gua sih kalo di ajak yang kayak beginian, mau banget~"


'Gua baru kali ini ketemu gadis yang kayak Nadya, jadi siapapun yang ngeganggu dia ataupun temen gua, gua bakalan kasih pelajaran walaupun pelakunya itu seorang gadis sekalipun.'


...🍁🍁🍁...


"GEH!?! NAA-CHAN KAMU BENER-BENER MULUS BANGET SIDANG TA NYA KEMARIN!!!"


"Please... Gak usah begaya deh! Mentang-mentang udahan sidang TA nya!"


Saat ini Nadya berasa di kantin bersama dengan kedua sahabatnya itu. Tentu saja, sidang TA kemarin berjalan sangat lancar. Nadya mampu membawakan presentasi dengan sangat baik dan mampu menjawab pertanyaan yang di lontarkan padanya.


"Y-Ya... Aku berterima kasih banget sama kalian.. Udah mau nonton di sidang TA aku kemarin..." kata Nadya malu-malu.


"Hah?! Wajar kali yaelah, lo ini sahabat kita.." kata Ritsuka.


"Tapi presentasimu kemarin keren banget! Aku suka! Aku pikir kamu bakalan gugup setengah mati didepan banyak orang..." sahut Hitoka.


DEG!


Nadya tidak heran jika Hitoka berkata begitu, karena memang dasarnya dia sudah gugup setengah mati sebelum tampil sidang TA kemarin. Ingat kan menenangkan dirinya di kamar mandi? Itu sangat tidak masuk akal.


"Ah.. Kalian sudah ada jadwal sidang TA nya?" tanya Nadya sambil ngemil keripik singkong kesukaannya.


"Eh?! Gua sih masih harus di perbaiki lagi 2 bab terakhir soalnya kayak masih kurang gitu..." jawab Ritsuka yang sibuk mengotak atik laptop miliknya.


"Kalo aku sih 2 minggu jadwal sidang TA nya ya sambil nyicil juga sih hehehe terlalu banyak revisi.." sahut Hitoka sambil cengar cengir.


Saat mereka sedang asyik mengobrol membahas sidang TA, tiba-tiba saja seseorang muncul di belakang Nadya.


"Kamu udah pulang?"


Berapa terkejutnya mereka bertiga dengan kedatangan seseorang tanpa di undang. Ternyata itu Sato yang muncul secara mendadak entah dari mana.


"GEH?!"


"Lah... Lo? Kok bisa disini dah?!"


Ritsuka dan Hitoka masih terheran-heran dengan kemunculan Sato.


"Ah iya, tadi aku izin ke satpam mau jemput Nadya kok.." jawab Sato dengan senyuman yang tidak biasanya.


"Oalah..."


"H-Hah? Apaan sih kamu?"


"Udah sana pulang cepetan, udah di jemput juga.." kata Hitoka sambil mendorong tubuh Nadya.


Nadya hanya menghela nafasnya kasar sambil. merapikan beberapa barang-barangnya. Tak lupa ia berpamitan dengan kedua sahabatnya itu dan pergi meninggalkan mereka. Nadya dan Sato jalan beriringan sampai ke arah gerbang kampus. Namun saat sudah berada di depan kampus, Tiba-tiba saja tubuh Nadya di angkat ke atas motor milik Sato.


"W-WHOOAAA!!!!"


Nadya terkejut dengan perilaku Sato hari ini.


'Ada apa ini? Sato kok diem aja dari tadi?'


Sato mulai mengendarai motornya dengan kecepatan yang tinggi sampai Nadya harus memeluk Sato dengan erat. Gadis itu tidak mengucapkan satu kata patah pun, begitu juga dengan Sato. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam tanpa bertanya satu sama lain.


Tak butuh beberapa lama, Nadya tiba di sebuah gedung tinggi. Sepertinya itu apartemen yang cukup mewah bagi seorang gadis itu.


"E-Eh?! K-Kita ngapain kesini, Mafuyu?" tanya Nadya bingung.


GRAB!


Tangan gadis itu di tarik perlahan oleh Sato dan di bawa ke dalam apartemen itu. Sato bahkan belum menjawab pertanyaan Nadya tadi. Pria itu masih menarik lengan Nadya dengan erat dan mereka berhenti di salah satu pintu yang terpampang di sana.


"M-Mafuyu... K-Kita mau ngapain?" tanya Nadya lagi.


Namun Sato tetap diam. Dia tidak mengatakan satu kata pun. Saat pintunya sudah terbuka, Sato dengan cepat menarik tangan Nadya untuk masuk kedalam dan membanting pintu itu dengan kencang.


BRAK!


Tiba-tiba Sato mendorong tubuh gadis itu di dinding dan Sato Mengkabedon gadis itu dengan tatapan yang sayu. Nadya terkejut dengan perilaku Sato yang tidak di sangka akan seperti ini.


"M-Mafuyu... K-Kamu gak apa-apa?"


Belum juga di jawab pertanyaannya, Sato malah mencium bibir Nadya dengan ganas, bahkan sampai Sato menarik tubuh gadis itu lebih mendekat dengannya. Awalnya tubuh Nadya menolak dengan semua perlakuan Sato, tapi sayangnya runtuh juga. Nadya terbawa suasana itu bersama Sato.


Sato melepas ciumannya lalu ia mencium tengkuk leher gadis itu dan...


HAP!


"A-Aww!! S-Sakit Mafuyu...."


Tapi Sato lagi-lagi mengabaikan gadis itu sampai dia membuat tanda kissmark di leher Nadya.


"Kenapa..."


"Hmm?"


"Kenapa kamu mau aja?"


"E-Eh?! M-Maksudnya?"


Kepala Sato tertunduk lemas. Nadya masih bingung dengan sikap Sato yang sedikit berbeda hari ini.


"Kenapa kamu..."


"...."


"Kenapa kamu mau aja di cium dia? Hmm!? Aku lihat semuanya loh!"


"EH?!!"


Seketika Nadya langsung terkejut mendengar perkataan Sato bahwa dia tahu kejadian yang dialami gadisnya dicium sembarangan oleh pria tidak tahu malu.



"Kamu itu milik aku sekarang! Aku gak akan biarinin siapapun nyentuh kamu atau bahkan sampai mencium kamu seperti kemarin."


Kata-kata penekanan Sato membuat Nadya merinding. Bahkan gadis itu tidak tahu harus berbuat apa.


"M-Maafkan aku... A-Aku bahkan gak tahu kalo dia tiba-tiba cium aku... M-Maaf Mafuyu.."


Gadis itu mencoba memohon kepada pria yang ada di hadapannya saat ini. Namun Sato tidak menggubrisnya dan malah menggendong tubuh Nadya ala bridal style.


"WEEHHHH!!!!! MAFUYUUU!!!"


Sato menendang pintu kamarnya dan merebahkan tubuh gadis itu dengan sedikit kasar. Lagi-lagi Sato kembali menatap Nadya dengan tatapan dingin dan matanya yang sayu. Posisi yang sangat ambigu, Sato berada di atas dan Nadya berada di bawahnya.


"M-Mafuyu..." lirih gadis itu.


"Kamu harus aku hukum..."


"E-Eehh??!!"



"Kamu harus di hukum, dasar gadis nakal..."


...🍁🍁🍁...