
"E-Ehh??!! A-Ayah lagi di Jepang?? K-Kenapa dadakan??!"
^^^"Ya mau bagaimana lagi.. Ayah kan mau lihat anak ayah.. Emangnya gak boleh?"^^^
"Ya boleh kok boleh banget, maksudnya kenapa gak tunggu Nadya aja yang pulang ke Indonesia?"
^^^"Ya gak apa-apa dong sekalian ayah liburan kan.. Hahahahaha.. Ya sudah kamu lanjut aja kuliahnya ayah istirahat dulu sebentar..."^^^
"Ya sudah hati-hati ya di sana.. Jangan gegabah.."
TAP!
"Siapa Naa-chan?" tanya Hitoka penasaran.
"Geh?! I-Ini ayahku tiba-tiba sudah ada disini.. Aku kaget.."
"Hah? Beneran itu?"
"Iya. Ini dia baru aja ngabarin aku."
"Ayo kita buat pesta kecil-kecilan di apartemenmu!" seru Hitoka bersemangat.
"HAH?!! YANG BENAR SAJA?" kata Nadya terkejut.
"Hey orang tua baru datang ke Jepang itu harusnya di sambut yang meriah. Gimana sih lo?"
Nadya hanya bisa menghela nafasnya kasar setelah menerima telepon dari sang ayah yang ternyata beliau sudah sampai di Jepang seorang diri. Iya, seorang diri.
"Ayo kita pulang sudah waktunya kan.." kata Hitoka yang sambil membereskan laptop dan juga buku-bukunya.
Nadya dan Ritsuka pun ikut membereskan barang-barang miliknya lalu pergi dari perpustakaan. Saat mereka berjalan menuju tangga, Tiba-tiba saja tangan Nadya ada yang menariknya dadi belakang sontak itu membuat Nadya menoleh ke belakang.
"E-Eh?! G-Gabriel?"
Ternyata sosok Gabriel sudah ada di belakang mereka dengan nafas yang terengah-engah.
"Haaahh.. Haaahh.. Halo Naa-chan~"
Bukan hanya Nadya, bahkan Ritsuka dan Hitoka terkejut saat Gabriel memanggil nama Nadya dengan nama panggilan itu.
"H-Haloo~ Kamu gak apa-apa Gabriel? Kayaknya kamu ngos-ngosan gitu.." tanya Nadya khawatir.
"Ah tidak apa-apa, aku habis main bola juga di lapangan. Kamu udah masuk lagi? Kemarin kenapa gak masuk?" tanya Gabriel.
Nadya yang di tanya seperti itu hanya bisa diam, tanpa sadar wajahnya sudah memerah sangat hebat seperti kepiting rebus.
"Wah~"
"Are are are~ Ada apa ini? Kenapa wajahmu merah begitu, Naa-chan?" goda Hitoka.
"D-Diam! Jangan menggodaku!" kata Nadya sambil menutup wajahnya malu.
Gabriel yang melihat ekspresi gadis itu hanya bisa tersenyum. Tanpa di ketahui jauh di dalam lubuk hatinya, Gabriel sangat kesal. Karena Nadya sudah jatuh ke tangan pria lain. Dia hanya mampu menahan emosinya dan mengepal tangannya dengan kuat.
...🍁🍁🍁...
"Lah? Lo mau kemana kak?"
"Mau ke apartemennya Nadya, tadi gua juga gak jemput dia ke kampus. Makanya gua khawatir banget." kata Sato yang tergesa-gesa memakai jaketnya.
"Heehh~~ Padahal baru kemaren dia nginep di sini. Dan lo udah kangen aja? Gila beneran bucin." keluh Haruki yang masih sibuk dengan laptopnya mengerjakan tugas kuliah.
Haruki tinggal di sebuah apartemen yang cukup mewah mengingat kakaknya yang sudah memiliki pekerjaan enak dan memiliki uang banyak, jadi dia meminta kepada kakaknya untuk menyewa apartemen yang bagus dan letaknya tak jauh dari kampusnya.
"Berisik! Yang jomblo mah diem aja ah."
"Gua jomblo juga banyak yang suka, Kak."
"Gua juga banyak yang suka tapi gua gak pernah disukain sama gadis model Nadya."
"Iya iya, Kak Nadya emang manis banget. Kalau dia gak pacaran sama kakak, gua mungkin udah pacarin kak Nadya." kata Haruki sambil menjulurkan lidahnya ke arah Sato.
"HAH??!! ENAK AJA! WALAUPUN DIA NANTI SUKANYA SAMA LO, GUA BAKALAN REBUT! BODO AMAT!"
Sato terus saja mengomel-ngomel tidak jelas sampai dia menutup pintu apartemen dengan keras. Haruki hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perilaku kakaknya itu. Untung saja itu kakaknya, kalau bukan mungkin sudah di hajar olehnya.
Sementara Sato mulai mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Wajahnya terlihat sangat khawatir dengan kekasihnya.
"Ah tadi gua jemput aja dia.. Kalo bukan karena client, gua udah nungguin dia di depan kampus."
Sepanjang perjalanan Sato hanya ngedumel terus menerus. Tak lupa juga dia mampir ke supermarket untuk membeli beberapa cemilan dan makanan ringan untuk kekasihnya itu. Hingga akhirnya Sato sampai di apartemen Nadya, dia memarkirkan motornya lalu berjalan naik ke tangga sambil membawa tentengan.
Sato sedikit terkejut melihat dua sahabat Nadya yang terlihat sangat sibuk seperti sedang mempersiapkan sesuatu.
"K-Kalian sedang apa?" tanya Sato.
Ritsuka dan Hitoka terkejut dengan kedatangan Sato yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"GEH?! LO JANGAN NGAGETIN DONG!"
"Iya! Kamu jangan ngagetin gitu.."
"E-Eh? I-Iya maaf.. Aku baru banget dateng, Nadya kemana?" tanya Sato sambil melirik ke dalam apartemen.
"Nadya lagi jemput ayahnya di bandara, ayahnya baru datang hari ini."
"Eh?! A-Ayahnya? M-Maksudnya orang tuanya?!" tanya Sato tergagap-gagap.
"Lah iya, Ayahnya baru banget dateng ke sini. Jadi Nadya jemput. Kenapa kamu gak jemput Nadya tadi? Kamu pengen 'pria' itu makin mengganggu hubungan kalian?"
Kata-kata Hitoka membuat Sato terdiam sambil menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku tadi ada client dan ini aku baru banget pulang.." jawab Sato.
"Untung aja kita ngejagain dia, kalau engga gimana? Nanti kecolongan lagi.."
Ritsuka yang mendengar percakapan Hitoka dan Sato itu hanya bisa menghela nafasnya kasar. Tiba-tiba saja Ritsuka melempar sebuah bungkusan ke arah Sato.
"A-Apa ini?" tanya Sato.
"Daripada lo khawatir soal dia sekarang, mendingan lo bantuin kita buat nyiapin pesta penyambutan Ayahnya Nadya." kata Ritsuka yang kembali sibuk dengan aktifitasnya.
Sato langsung membantu kedua gadis itu untuk mempersiapkan pesta penyambutan untuk ayahnya Nadya. Persiapan sudah selesai dengan cepat karena bantuan dari Sato, tinggal mereka menunggu kedatangan Nadya dan juga ayahnya.
...🍁🍁🍁...
"Eh? Ini tempat tinggal kamu?"
"I-Iya, Yah. Ini tempat tinggal aku."
"Ini mah udah kayak apartemen."
"Harga terjangkau tapi bentuknya kayak begini, Ayah juga mau tinggal disini."
Nadya dan ayahnya sudah sampai di apartemennya. Nadya juga membantu ayahnya untuk membawa koper, namun tiba-tiba saja di tahan oleh sesosok pria.
"Biar aku saja yang bawa, kamu naik keatas sana."
Nadya menoleh ke arah sumber suara itu.
"G-Geh?! M-Mafuyu... K-Kenapa kamu ada disini?" tanya Nadya yang masih terkejut melihat Sato sudah ada di hadapannya.
"Hmm? Ini siapa Nad?" tanya sang ayah.
"A-Ahh.. I-Ini... A-Anu..."
"Selamat Sore, Pak. Perkenalkan nama saya Sato Mafuyu. Saya pacarnya Nadya."
Nadya dan ayahnya terkejut mendengar perkenalan Sato yang singkat, padat dan sangat jelas itu.
"Oohh... Ini pacarmu Nad? Kenapa gak pernah cerita ke ayah kalau kamu punya pacar disini? Jahat ih.."
"A-Ayah... B-Bukan begitu maksudnya.. Ya Tuhan ayo langsung baik keatas saja.." kata Nadya yang sambil menarik lembut tangan Ayahnya.
Ayahnya hanya mengikuti Nadya dari belakang di barengi dengan Sato yang membawa koper ayah dari Nadya.
Setelah sampai di depan kamar apartemen Nadya, ketika Nadya membuka pintu kamarnya, terdengarlah suara terompet dari dalam ruangan.
"SELAMAT DATANG AYAHNYA NAA-CHAN!!!!"
Sambutan itu benar-benar meriah, sampai Ayah Nadya terkejut di buatnya.
"Wah.. Meriah banget berasa kayak bos. Hahahaha... Terima kasih Terima kasih..."
Nadya, Ritsuka dan Hitoka pergi ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan dan juga membuatkan minuman untuk sang ayah. Sedangkan Sato berada di ruang tamu bersama dengan ayah Nadya yang bernama Pak Nadi.
"Hey Nak.."
"Iya Pak?"
"Siapa namamu tadi?" tanya Pak Nadi.
"Saya Sato, Pak. Sato Mafuyu." jawab Sato dengan suara yang lemah lembut.
Baru kali ini Sato berbicara selembut kepada orang lain yang baru dia kenal.
"Sudah lama berpacaran dengan Nadya?" tanya Pak Nadi.
"B-Belum, Pak. Belum ada sebulan." jawab Sato dengan nada yang sedikit gugup.
"Oalah baru toh.. Umur kamu berapa?"
"Umur saya 28 tahun, Pak."
"28 tahun? Tapi wajahmu masih terlihat muda dan gagah ya? Saya pikir kamu masih berumur 23 tahun."
"Hehehe.. Muda sekali Pak saya 23 tahun mah.." jawab Sato dengan nada yang masih terdengar gugup.
Obrolan di antara Sato dan juga Pak Nadi cukup santai, bahkan mereka bisa langsung beradaptasi. Padahal Pak Nadi adalah tipe orang yang sedikit introvert dan susah untuk berbaur dengan orang lain.
"Sato.."
"Iya Pak?"
"Tolong jaga anak saya ya?"
Mendengar perkataan dari Pak Nadi, membuat Sato sedikit terkejut.
"Tentu, Pak. Saya pasti akan menjaganya." jawab Sato dengan penuh keyakinan.
"Saya bahkan tidak tahu sudah berapa banyak dia di sakiti oleh mantan kekasihnya yang dulu-dulu, tapi saya sangat berharap kamu tidak seperti mereka juga."
Lagi-lagi perkataan beliau membuat Sato tertegun. Dia semakin mantap hatinya untuk terus bisa menjaga Nadya dan mencintai Nadya dengan tulus.
"Baik Pak. Dengan senang hati saya akan menjaga anak Bapak dan selalu mencintainya."
Pak Nadi hanya tersenyum lembut ke arah Sato yang begitu yakin dengan ucapannya itu.
"Maaf Pak.."
"Iya? Kenapa Sato?" tanya Pak Nadi.
Niat hati Sato belum mau mengatakan hal ini, tapi ini sangat susah di pendam bagi seorang pria yang sudah terlanjur jatuh hati pada seorang gadis seperti Nadya.
"M-Maaf sekali kalau saya lancang. Tapi..."
"...."
"Saya sangat mencintai anak Bapak, saya juga ingin serius menikahinya. Kalau Bapak merestuinya, izinkan saya berjuang untuk anak Bap—"
"Tentu saja."
"Iya Pak?"
"Tentu saja saya merestui kamu dengan anak saya, Sato. Terima kasih sudah mau seserius ini dengan anak saya padahal baru berpacaran belum satu bulan." kata Pak Nadi sambil tersenyum lembut.
Sato yang mendengar ada tanda lampu hijau dari beliau, dengan rasa hormat yang begitu dalam, ia duduk bersimpuh di hadapan Pak Nadi.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak."
Pak Nadi terkejut dengan perilaku Sato yang tiba-tiba seperti itu. Beliau membantu Sato untuk duduk seperti biasa.
"Kau tidak perlu sampai seperti itu. Saya malah jadi terharu kalau kamu sampai bersikap begitu." kata Pak Nadi.
"Saya seperti itu untuk menghormati Bapak, karena bagi saya Bapak saya anggap sebagai orang tua saya sendiri."
Disisi lain, Nadya, Ritsuka dan juga Hitoka tengah menguping pembicaraan dua pria itu di dapur. Tanpa sadar wajah Nadya sudah memerah padam mendengar percakapan ayahnya dan juga kekasihnya itu.
"Ciee yang bakalan di nikahin.."
"Asyik banget ya langsung sat set sat set~ Duh jadi pengen juga.."
"Heeeyyyy... Kalian berdua berisik bangeeettt... Diaaammmm..."
"Naa-chan wajahmu merah banget loh!"
"Ciee ciee~"
"Kalian!!!"
...🍁🍁🍁...