Rai

Rai
The Madhouse part 3



Di bab sebelumnya, Rai dipanggil oleh kepala sekolah perihal penyusup yang masuk ke dalam kelas IPS, yang kebetulan adalah Rai itu sendiri.


Rai dan Rega terrekam sedang merencanakan penyusupan mereka ke kelas IPS, untuk mencuri sebuah botol milik anak IPA yang hilang.


Saat ini, mereka sedang pergi untuk mencari pelaku yang telah membocorkan hal ini pada publik. Dia adalah pembenci nomor 1 Rai, yaitu Yusuf.


Rai dan rega saat ini pergi ke rumah Yusuf. Rumahnya terletak di sebuah perumahan mewah yang berada di pusat kota karawang. Meski tampang dan wataknya yang tak meyakinkan, Yusuf adalah salah satu anak terkaya di karawang. Ayahnya adalah manajer dari perusahaan batu bara terbesar di Sumatera.


Tepat di gerbang masuk perumahan, terlihat sekelompok anak kecil yang sedang bermain ria di palang penutup otomatis. Seorang bocah menaiki palang itu — bermain motor-motoran dan yang lain menyorak-nyorakinya sambil temannya itu sambil tertawa-tawa.


"Hei! Menjauhlah dari sana!" Seorang satpam yang baru saja datang dari toilet melihat itu dan langsung lari sambil berteriak ke arah mereka.


Sontak anak-anak itu langsung panik dan segera kabur dari lokasi.


"kembali dasar kalian anak nakal!" Teriaknya pada mereka yang sekarang sudah berlari jauh dari sini.


Selang beberapa saat, Rai dan Rega yang mengendarai motor mereka masing-masing sudah sampai di depan perumahan tempat tinggal Yusuf.


"Bapak tampaknya sedang dalam masalah ya?" Tanya Rega pada satpam tadi yang sedang melihat dengan kesal ke arah anak-anak itu kabur.


Dia pun sadar bahwa ada yang berbicara dengannya. "Ah, tidak ada apa-apa," katanya berbohong sambil tertawa. "Ada apa ke sini nak Rega? Ingin bertemu dengan Yusuf?"


"Iya pak, ada sesuatu yang harus aku dan temanku ini bicarakan dengan dia," katanya sambil menunjuk Rai yang ada di sebelahnya.


"Oh, begitu rupanya. Yasudah, silakan masuk." Dia menekan tombol tiket palang otomatis, membiarkan mereka berdua lewat.


Sekedar info, sebenarnya Rega dan Yusuf adalah teman masa kecil. Hal itu pernah ia ceritakan pada Rai saat mereka masih pertama kenal. Itu juga sebabnya kenapa Satpam itu dan Rega bisa saling mengenal


Ini adalah pertama kalinya Rai datang ke sini. Perumahan ini dipenuhi dengan rumah dua lantai mewah yang berjejer di mana-mana. Terlihat orang sedang membawa anjingnya jalan jalan di jalanan, anak anak-anak sedang bermain di taman dan mobil mewah terparkir di rumah-rumah para penduduk.


Saat sampai di rumahnya, Rai melihat rumahnya adalah sebuah rumah 4 lantai dengan luas 1400 meter persegi. Tidak lebih besar dari rumahnya, tapi lumayan besar untuk dia.


"Tunggu di sini. Biar aku yang bicara," kata Rega pada Rai.


"Ok."


Rega membunyikan bel rumahnya, lalu terdengar suara dari speaker di bawah bel.


"Siapa itu?" Suara seorang wanita muncul di speaker.


"Maaf, ibu Yusuf. Kami ingin bertemu dengan Yusuf."


"Loh, dek Rega? bukannya dia di sekolah hari ini bersama kamu?"


"Tidak tante, dia tidak masuk hari ini," jawab Rega.


"Wah, setahu tante, dia bilang mau pergi ke sekolah. Tante tidak tahu apa-apa."


"Baiklah tante, terima kasih." Rega berbalik ke arah Rai "Dia tak ada di sini,"


"Rupanya dia memang bersembunyi dari kita," jawab Rai.


"Bagaimana ini? Dia pasti bersembunyi di tempat lain. Kecuali, kalau dia menyuruh ibunya berbohong begitu saja," Jawab Rega sambil berpikir.


"Tidak. Dia pasti bersembunyi di tempat lain. Coba hubungi teman-teman nya. Siapa tahu ada yang bertemu dengannya hari ini," jawab Rai.


"Kau yakin cara itu berhasil?"


"Coba saja. Kita tidak akan tahu sebelum mencoba bukan?"


"Baiklah, akan aku hubungi teman dekatnya." Rega langsung menghubungi para teman dekat Yusuf.


"Halo asyril, apa kau melihat Yusuf hari ini?"


"Tidak, aku tak melihatnya seharian ini. Kenapa memangnya?"


"Hanya bertanya." Dia menutup panggilan dan segera menelpon yang lainnya.


"Johan, apa kamu tahu dimana Yusuf? Mungkin kamu melihatnya atau bertemu dengannya hari ini?"


"Tidak. Dia menghilang seharian ini. Coba tanya pada Yudi, dia mungkin tahu."


"Baiklah, terima kasih, Johan." Dia langsung menelpon Yudi.


"Yudi, apa kau bertemu dengan Yusuf hari ini. Aku sempat bertanya pada Johan dan dia menyuruhku untuk bertanya padamu."


"Iya, aku bertemu dengannya hari ini."


"Benarkah?" kata Rega girang. "Rai, aku berhasil menemukan seseorang yang melihat Yusuf."


"Iya... sebentar." Rai terlihat sedang berbicara di telepon dengan seseorang. "Tanya dimana dia?"


"Jadi, dimana dia sekarang?"


"Dia bilang dia mau menumpang di rumahku hari ini. Kau tahu dimana rumahku bukan?"


"Apa, kau sudah pulang?" Tanya Rega.


"Belum, aku ingin segera pulang."


"Bagus, jangan pulang dulu ya."


"Kenapa memangnya? Apa ada masalah di rumahku?"


"Mungkin saja. Aku tak bisa memberi kamu detilnya. Sampai jumpa." Dia menutup teleponnya dan segera bertemu Rai.


"Jadi, dimana dia?" Tanya Rai yang masih memegang telepon di telinganya.


"Dia bersembunyi di rumah temannya dekat sini. Blok N nomor 12. Hanya beberapa blok dari sini."


Rai mengangguk dan langsung berbicara pada orang yang di telponnya. "Ya, dia ada di perumahan jatiasih blok N nomor 12... Ya, dia di situ... Berapa banyak? Sebanyak-banyaknya. Aku ingin kau membawa jumlah yang banyak" Rai langsung menutup telepon.


"Apa kita langsung pergi ke sana," kata Rega.


"Iya, aku telah menyiapkan kejutan untuknya," kata Rai sambil menggosokkan tangannya.


Rai dan Rega akhirnya pergi lagi. Kali ini, mereka pergi ke rumah teman Yusuf yang saat ini sedang dipakai bersembunyi olehnya.


...***...


Rumah ini sama seperti rumah-rumah yang ada di sini. Memiliki dua lantai, bagasi yang luas dan tentu saja, taman kecil pribadi.


Rai dan Rega memarkir motor mereka di seberang rumah itu, lalu segera pergi ke depan pintu rumah itu.


"Rega, aku rasa akan lebih baik jika aku saja yang melakukannya," kata Rai.


"Apa?"


"Ini adalah urusan antara aku dengan dia. Dia sudah merekam diriku dan dengan sembrono nya menguploadnya nya di medsos. Aku akan bicara dengannya."


"Apa kau yakin? Aku bisa membantu tahu."


"Entahlah Rega. Lebih baik aku saja yang melakukannya. Aku punya kekuatan, aku bisa melindungi diri sendiri."


"Justru itu bukan. Hanya karena kau memiliki kekuatan, bukan berarti aku akan menjadi beban. Kau tetap perlu bantuan bukan?"


"Aduh, bukan begitu maksudnya." Rai menepok dahinya.


'Dasar keras kepala. Aku tidak bisa melarangnya. Dia keras kepala,' batin Rai.


"Bahkan biarpun kamu melarang, aku akan tetap ikut." Tegas Rega


'Aduh... Jangan bilang begitu dong," Rai mengeluh dalam hatinya.


"Baiklah, tampaknya aku tak bisa meyakinkan kau untuk tetap di sini," katanya pasrah. "Ayo, mari kita temui teman kita ini."


Rega tersenyum mendengarnya. "Aku tahu kau akan bilang begitu."


Rai pun menekan bel rumah. Suara muncul dari speaker yang berada di bawah bel.


"Siapa itu?" Itu suara Yusuf.


"Ini kami, Rai dan Rega. Buka pintunya," jawab Rai.


"Kalian berdua?!" Katanya terkejut. "Baiklah, tunggu sebentar."


Rai dan Rega pun menunggu beberapa saat.


Dari speaker itu terdengar suara samar.


"Apa?! Kenapa harus dia?"


"Jangan mencoba melawan. Kau tahu akibatnya bukan?"


Rai tampak penasaran dengan suara itu. Tampaknya Yusuf sedang berbicara dengan seseorang di sana.


'Dia sedang berbicara dengan seseorang di sana. Apa ada orang lain di sana?' Batin Rai.


Sebentar kemudian, dia kembali menghubungi Rai dan Rega.


"Baiklah, kamu boleh masuk. Tapi, hanya Rai saja yang boleh."


"Apa?"  Seru mereka berdua.


"Kenapa begitu?" Tanya Rega.


"Aku hanya ingin berbicara dengan Rai. Aku tak ingin berbicara denganmu, Rega."


Mereka berdua pun saling bertatapan.


"Yah, tampaknya aku yang harus masuk."


"Iya." Rega mengangguk.


"Baiklah, Yusuf. Aku akan masuk ke sana," Kata Rai. Setelah itu, dia langsung membuka pintu itu.


"Semoga beruntung," Kata Rega.


"Iya," Jawab Rai singkat.


...***...


'Dingin... Keras... Dimana aku?' Rai membuka matanya, lalu bangun dan melihat sebuah tempat yang tampaknya tidak asing baginya.


'Tempat ini... Tidak mungkin bukan?' Batinnya ragu melihat tempat ini. Sebuah aula dari mansion yang sangat besar. Dia segera berdiri dan melihat sekitar.


'Tidak salah lagi. Aku tahu tempat ini.' Rai melihat ke arah lukisan besar yang terpajang di tempat ini. Sebuah lukisan keluarga yang masih baru dilukis. Lukisan itu menampilkan wajah dari seorang ayah, ibu dan anak laki-laki dan perempuannya. Lukisan ini adalah lukisan keluarga Rai.


'Bagaimana mungkin? Setahuku rumah ini sudah terbakar 2 bulan yang lalu. Aku sendiri yang datang untuk meninjau saat itu' Rai tampak kebingungan. Karena saat ini, dia sedang berada di tempat harusnya sudah tidak ada lagi; kediaman lama keluarga Rahman.


Rai melihat lihat sekeliling, mencoba mencari jalan keluar. "Tampaknya pintu ini tidak dapat dibuka," katanya sambil memutar kenop pintu rumah ini.


Perhatian Rai lalu tiba-tiba tertuju pada sudut gelap yang ada di ruang ini.


"Apa itu?" Dia pergi ke sudut yang gelap itu.


Saat dia mendekat, sudut gelap itu menghilang, berganti dengan sebuah adegan yang tidak asing baginya.


"Jadi, kapan ayah dan ibu akan pulang?" Tanya seorang anak lelaki kecil, dengan tampilan berumur 7-8 tahun di telepon.


Dia terus mengobrol dengan senang, lalu, tiba tiba, seorang anak perempuan yang tampak lebih muda darinya muncul di hadapannya.


"Kak, ayo main bareng yuk."


"Okay," katanya merespon. "Baiklah ibu, sampai jumpa." Anak itu menutup teleponnya lalu berjalan dengan anak perempuan itu ke arah bayangan di sudut sebelah.


Adegan pun selesai, dan Rai melihat ke arah anak itu berjalan. Dia pergi ke sana dan ditunjukkan lagi sebuah adegan baru.


"Kenapa tidak hah?!" Seorang anak perempuan berusia 14 tahunan terlihat sedang berteriak pada seorang anak laki-laki yang tampaknya lebih tua setahun darinya.


"Karena dia adalah seorang yang brengsek. Tentu saja mana mungkin aku percaya dengan seorang brengsek," balas laki-laki itu.


Mereka terus berdebat dan akhirnya sang anak perempuan pergi dari adegan. "Aku membencimu kakak!" Teriaknya. Adegan pun menghilang.


Rai hanya melihat, lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menyeringai. "Dasar idiot."


Anak-anak tadi adalah Rai dan Rosa, di versi masa lalu mereka.