
Namanya Rai Rahman. Dia adalah seorang murid kelas 12 di SMAN 66 Karawang.
Dia saat ini baru saja datang di sini dari SMA di jakarta dan sekarang duduk di kelas 12 IPA 5.
Dia adalah seorang yang bisa dibilang, cukup pendiam. Dia tak banyak berbicara, apalagi tentang masa lalunya . Saat orang bertanya dari mana asalnya atau keluarganya, dia hanya menjawab dari Jakarta.
Untuk membuatnya lebih jelas, mari kita telusuri tentang dia 2 tahun yang lalu. Inilah awal mula dari ceritanya.
...***...
Rai dulu bersekolah di SMA 8 Jakarta. Sebuah sekolah impian, untuk mereka yang terpilih katanya.
Dia hidup berempat dengan ayah, ibu dan juga adik perempuannya. Ayahnya adalah seorang pebisnis yang kaya raya dan Ibunya juga mengikuti jejak ayahnya. Setiap harinya dia tinggal berdua dengan adiknya di sebuah rumah besar yang sepi, yang hanya diisi oleh para pelayan yang sering mondar mandir melayani mereka.
Meski sering sendiri, dia masih memiliki adik yang menemaninya. Adiknya bernama Rosa. Dia saat ini duduk di kelas 9 SMP.
Dia adalah sebuah permata bagi Rai di hidupnya yang sendirian ini.
Meski dia punya teman, namun dia bukan tipe orang yang suka berteman banyak. Akhirnya dia memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan adikku.
Dia adalah murid paling berprestasi di kelasnya. Sudah menjadi semacam tradisi baginya untuk meraih piala di Olimpiade atau rangking di kelas.
Dengan hidup semacam ini, bisa dibilang dia sudah menghidupi kehidupan yang dibilang sebagai mimpi semua orang.
...***...
Suatu hari, bulan Januari 2020, malam hari.
Rafi baru saja pulang setelah melakukan kerja kelompok sampai malam. Hari itu, tak ada siapapun di rumah seperti biasa.
" Rosa, aku pulang!" teriak Rai agar adiknya bisa mendengarnya.
"Halo! Rosa? Apakah kau di rumah?" Rai kembali berteriak.
'Sesuatu tak betul. Dia biasanya menyambut aku setiap kali aku pulang dengan wajah senang. Ada yang tidak beres,' pikir Rai.
Dia pergi ke kamarnya dan melihat tak ada siapapun di sini. Dia lalu beralih mencari di dapur, ruang tamu, kamarnya sendiri lalu kamar mandi juga. "Sial, dimana dia?" katanya sambil menggaruk kepala frustasi.
Tak dapat menemukannya, dia akhirnya bertanya pada kepala pelayan di sini.
"Tidak tuan. Nona muda masih belum pulang." Dia menggeleng.
"Loh, aku pikir dia sudah pulang. Padahal tadi dia mengirim ku pesan yang mengatakan bahwa dia sedang pulang." Dia mengelus dagunya berpikir. "Ada yang tidak betul di sini."
Karena khawatir, akhirnya Rai memerintahkan kepala pelayanan untuk mengerahkan para pelayan untuk membantunya mencari Rosa.
"Mulai mencari di perumahan ini. Dia pasti tidak jauh dari sini." Perintah Rai.
"Baik tuan." Para pelayan dan Rai akhirnya mulai mencari keberadaan Rosa.
Rai mulai mencari dari blok terdekat.
"Ada tanda-tandanya?" tanya Rai.
"Tidak tuan, kami masih terus mencari," jawab Kepala pelayan.
Rai semakin frustasi. Dia jelas khawatir ada sesuatu yang terjadi pada adiknya.
Setelah 1 jam mencari di sekeliling perumahan, Rai mendapat telepon dari kepala pelayan.
"Tuan, kami telah menemukan nona muda. Dia sekarang sudah dibawa ke rumah."
"Syukurlah," jawabnya lega. "Bagaimana keadaannya?"
"Buruk tuan. Kamu harus segera ke sini."
Mendengar itu, Rai kembali khawatir lagi. Dia segera bergegas berlari ke rumahnya.
Saat dia sampai, sebuah tangisan terdengar dari dalam sebuah kamar. Itu berasal dari kamar Rosa.
Rai langsung berlari menuju sana dan Saat dia sampai di sana, dia melihat adiknya dalam keadaan berantakan. Dia masih memakai seragamnya, tapi semuanya dalam keadaan lusuh.
Kamar ini dipenuhi para pelayan yang mencoba menenangkannya. Dia terisak isak dan berhenti ketika melihat Rai.
"Rosa, apa yang terjadi padamu?" Tanya Dia melihat Kondisinya yang sangat buruk.
Rosa pun menjawab dengan sesenggukan.
"Kak... kak.. Aku takut... " Dia memeluk Rai.
"Apa yang terjadi?Mengapa kau berantakan begini?" tanyanya dengan khawatir sambil memeriksa tubuhnya secara hati hati.
Tubuhnya penuh dengan luka lebam akibat serangan benda tumpul. Luka itu terdapat di lengan, kaki dan juga punggung dia. Seluruh pelayan yang ada di kamar ini ikut prihatin melihat kondisinya seperti begini.
"Kami menemukannya di gang, 4 blok dari sini. Dia sudah dalam keadaan begini saat kami temukan," jelas Kepala pelayan.
'Siapa yang melakukan ini?' Batin Rai.
"Tidak apa apa. Tenang saja," katanya mencoba menenangkan Rosa.
Beberapa menit kemudian, Rosa akhirnya mulai tenang.
"Baiklah, apa kau sudah mulai tenang?"
Dia mengangguk.
" Luka ini disebabkan oleh pukulan. Siapa yang melakukan ini?" tanya Rai.
Dia menjawab dengan perlahan. "Fa.. fam... Families," katanya dengan gugup.
Rai terkejut mendengar itu.Dia kenal siapa Families. Mereka adalah geng anak nakal yang sering membuat keributan dengan banyak anak sekolah di seluruh Jakarta. Mereka juga saat ini sendiri sedang dalam pengawasan kepolisian Jakarta.
"Katakan. Bagaimana ini terjadi?"
Dia ketakutan, tapi dia mau menjawabnya.
"Aku baru pulang dari sekolah, karena aku ingin pulang cepat, aku mengambil jalan pintas melewati gang durian."
"Gang durian?! Bukannya itu wilayah preman bukan?" Rai terkejut ternyata adiknya pulang melewati gang yang terkenal berbahaya.
"Saat aku lewat, aku sedang melihat ponselku, lalu tiba tiba..." Dia berhenti bicara.
"Tidak apa apa. Bilang saja," kata Rai sambil memegang pundaknya.
"Tiba-tiba saja, saat aku pergi, dia membius ku..." Rosa pun menangis.
"Mereka membawaku ke rumah kumpul mereka. Aku bisa mengenalnya, karena simbol mereka. Mereka bilang akan memperkosaku. Aku sangat ketakutan. Pemimpin mereka mengurungku dalam sebuah kamar yang kecil lalu mulai melakukannya. Aku berhasil kabur secara diam diam, saat tidak ada yang melihat." Tubuh Rosa bergetar hebat.
"Aku ketakutan... sangat ketakutan, kak."
Rosa pun menangis dalam pelukan Rai.
Saat mendengar itu, Rai menjadi sangat murka. Dia pun langsung pergi ke kantor polisi dan langsung melaporkan kejadian ini.
Polisi menerima laporan itu dan langsung melakukan penangkapan pada pimpinan Families, Dario.
Mereka menginterogasi Dario. Dario menyangkal semua perbuatanya dan bilang bahwa dia tidak mengenal sama sekali dengan Rosa.
Ayahnya juga adalah seorang pebisnis kaya Raya. Dengan mudah dia pun bisa menyuap para polisi untuk membebaskannya.
Saat Rai mendengar soal pembebasannya, Dia sangat marah. Rosa hancur mendengar hal itu. Dia pun tidak masuk sekolah selama 3 Hari. Dia terus mengunci dirinya kamarnya dan tak mau keluar bahkan sekedar untuk makan atau pipis.
...***...
Hari itu, hari keempat dia tidak masuk sekolah. Sore hari setelah pulang sekolah, Rafi mencoba datang menghiburnya.
Dia datang ke kamarnya dan mengetok pintunya.
"Rosa, ini aku. Boleh aku masuk?"
Dia tidak menjawab.
Rai pun mencoba mengintip dari jendela, namun jendelanya ditutup gorden. Jadi dia mencoba melihat dari kolong pintu.
Dekat dari situ, kepala pelayan sedang lewat.
'Apa yang dilakukan tuan muda di situ?" Katanya dalam hati.
Dia pun mendatangi Rai untuk bertanya.
"Tuan muda, apa ada masalah?"
Rafi langsung menoleh. "Oh, kepala pelayan. Adikku tidak mau membuka pintu. Apa kau punya kuncinya?"
"Sayangnya tidak. Kunci kamar ini hanya ada di nona muda."
"Baiklah, kalau begitu, aku akan mencoba mengintip." Rafi pun mengintip dari kolong pintu.
Saat dia melihat sekeliling, tiba tiba saja, dia melihat sesuatu yang terlihat menggantung di kamarnya.
Dia pun langsung panik dan mencoba mendobrak masuk.
Tidak berhasil, dia akhirnya meminta bantuan
kepala pelayan untuk membukanya. Kita pun akhirnya mencoba untuk mendobrak masuk.
Para pelayan lain yang mendengar itu juga berkumpul di sekelilingnya.
"Kalian, cepat bantu aku dobrak pintu ini! Jangan banyak tanya, lakukan saja!"
Para pelayan pun membantu untuk mendobrak.
"Baiklah. Dalam hitungan tiga. Tiga... dua... satu, Ayo!"
Mereka pun akhirnya berhasil mendobrak masuk. Saat Rafi melihat apa yang terjadi, Itu adalah pemandangan paling mengerikan yang pernah dia lihat.
Terpampang jelas dihadapannya, pemandangan yang paling tak ingin dia lihat. Tergantung dengan tubuh kaku, adik dari Rai Rahman, yaitu Rosa Rahman
Dibawahnya terdapat kursi yang jatuh terbaring, yang mungkin terjadi karena ia meronta-ronta sampai membuat kursi itu terjatuh. Matanya tertutup dengan pandangan ke arah laptop yang sedang menyala di meja depannya. Laptop itu sedang membuka browser tentang berita pembebasan Dario.
Para pelayan di luar kamar berteriak ketakutan. Rafi benar-benar syok. Sampai sampai, dia tersungkur dan menatapi kejadian ini dengan kesedihan.
Pelayan tadi menurunkan Rosa lalu memeriksa denyut nadi dan napasnya.
Dia lalu menggelengkan kepalanya.
Para pelayan lain yang berada di sana langsung menangis mendengarnya.
Sekeliling Rafi menjadi kabur, dia mulai kehilangan kesadaran akan Realita. Lalu, Rai pun akhirnya jatuh pingsan. Para pelayan di sana langsung berteriak ketakutan melihatnya pingsan.
...***...
3 hari setelah kejadian. Seluruh keluarga Rai berkabung. pemakaman adiknya dilakukan di siang hari saat cuaca sedang mendung. Ibunya stres berat setelah mendengar kematian Rosa. Ayahnya juga sama terpukulnya, tapi dia tahu bahwa dia tak bisa terlihat bersedih di depan keluarganya.
Diantara semua itu. Rai lah yang paling terpukul. Saat itu, hanya ada satu hal yang dia pikirkan.
'Akan kubunuh Dario. Aku telah bersumpah,' katanya dalam hati sambil mengepalkan tangan.
......***......
Langkah pertamanya adalah mencari tahu keberadaan mereka.
Dia takkan percaya lagi dengan polisi, karena tahu mereka takkan mungkin mendukung orang sepertinya.
Dia mulai dari menanyakan pada para murid murid SMA di Jakarta. Mereka menjawab tidak tahu atau tidak kenal.
Tentu saja, kebanyakan dari mereka berbohong. Mereka tahu reputasi dari geng Families dan takkan sembarangan memberi tahu lokasi mereka.
Akhirnya, karena gagal dengan usaha pertama. Rai mencoba dengan cara yang lebih ekstrim.
Dia akhirnya bergabung dengan sebuah geng bernama Harvester.
Usut punya usut, ternyata geng ini merupakan partner kerja sama dengan geng Families.
'Ini kesempatan yang bagus bagiku untuk tahu lebih banyak tentang geng Families,' katanya dalam hati.
Saat pertama bergabung, mereka langsung memberikan tugas padanya. Tugasnya adalah mengantarkan paket heroin ke geng lain. Terdengar simpel memang. Namun. kenyataan tak seperti yang kelihatannya.
Saat melakukan transaksi, dja hampir ditangkap oleh polisi. Dengan susah payah, dia berhasil kabur.
Beruntung ternyata misi itu masih dihitung sebagai berhasil, sehingga dia masih dapat bertahan dalam geng.
Tugas yang mereka berikan semakin lama semakin berbahaya. Dari situ pun dia belajar, bahwa kehidupan kriminal itu berbahaya dan tak pantas dilakukan.
Pada akhirnya semua usahanya percuma. Sebelum aku bisa mendekati geng families, Rai mendengar kabar bahwa mereka sudah keluar dari Jakarta dan pindah ke tempat lain.
Kecewa, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari geng. Tidak semudah itu, karena usahanya juga dihalangi oleh geng yang tahu bahwa ternyata dia bermaksud memusuhi families.
Rai akhirnya bisa kabur berkat seorang teman dalam geng yang menolongnya. Dia akhirnya bisa lepas dari geng Harvester.
......***......
Rai akhirnya memutuskan untuk menyerah.
"Entah bagaimana aku bisa menemukan mereka di kota lain," katanya sedih.
Dia akhirnya mencoba untuk sekedar melanjutkan hidup ini.
Suatu hari saat sore hari pulang sekolah. Dia bertemu dengan seorang pria tua yang berpakaian lusuh di gang dekat rumahnya. Dia hanya memakai celana compang-camping dengan sabuk tali rafia dan memakai baju yang penuh dengan tambalan serta tubuh yang kurus kering.
"Hei, nak. Kemarilah," katanya memanggil.
Rai menunjuk dirinya.
Orang tua itu mengangguk.
Rai akhirnya memutuskan untuk mendekatinya.
"Ayo, ikut aku." Pria tua itu membawanya memasuki gang itu. Rafi merasakan firasat buruk dari ini.
Mereka akhirnya semakin masuk ke dalam gang dan setelah sampai di ujung gang, orang tua itu berhenti.
Di situ terdapat sebuah meja dan kursi di depannya seperti tempat untuk konsultasi.
"Duduklah," katanya menyuruh Rai untuk duduk di kursi di depan meja.
Rai akhirnya duduk dan orang tua itu duduk di depannya.
Orang tua itu memandangnya lama. Hal itu membuat Rai merasa bingung dengan sikapnya itu.
"Dari yang aku lihat, kau pasti punya banyak masalah bukan. Mungkin kehilangan anggota keluarga?" tanyanya.
"Bagaimana kamu tahu?" kata Rai terkejut, tapi masih dengan posisi santai.
"Nak, aku tahu banyak darimu hanya dari menatap dirimu."
'Menatap diriku? Bagaimana bisa?' Tanya Rafi dalam hati.
Orang itu berdiri dan berdiri tepat di sampingnya sambil menatapnya tajam dengan tatapan menyeramkan, sampai Rai tak berani melirik ke dia.
"Bagaimana bila aku bilang. Aku punya solusi untuk masalahmu nak."
Rai akhirnya menatap muka orang itu.
"Benarkah?" Rai terkejut mendengar itu. Seorang tiba-tiba saja muncul dan menawarkan solusi untuknya.
Orang itu kembali ke mejanya lalu mengambil sesuatu dari dalam lacinya. Barang itu adalah sebuah jarum suntik.
Sebelum Rai bertindak, orang itu langsung menyuntikkan suntikan itu ke lehernya.
"Kau... Apa yang kau... lakukan?!" katanya sambil memegang lehernya yang. kesakitan terkena suntikan.
Dia hanya senyum dan tak menjawab.
Rai pun akhirnya jatuh pingsan.
...***...
Rai mulai membuka mata dan melihat sekelilingnya. Dia sekarang berada di tempat tidur di kamarnya.
"Bagaimana aku ada di sini?" Rafi mengusap dagunya kebingungan.
Dia akhirnya memutuskan untuk bangkit dan keluar dari kamarnya. Dia merasa kesakitan, tapi dia tetap memaksakan untuk berdiri.
Saat dia keluar dari kamar, seorang pelayan wanita melihatnya dengan kaget, lalu menghampirinya.
"Tuan muda! Kau baik baik saja?" katanya sambil membantunya berjalan.
"Aku baik baik saja. Mengapa aku bisa di sini? " Katanya sambil memegang dahinya yang pusing.
"Tadi ada seseorang yang datang di sini sambil membopongmu. Dia bilang kau tiba tiba pingsan di jalan, lalu mengantarmu ke sini dari alamat di dompetmu."
"Pingsan?" Rafi mengangkat alisnya.
Dia mencoba mengingat apa yang terjadi, lalu tiba-tiba saja dia terjatuh lagi.
"Tuan muda!" katanya khawatir.
"Lebih baik tuan muda beristirahat saja dulu. Tuan masih dalam keadaan tidak fit."
"Iya, kau benar. Tolong antar aku kembali ke tempat tidurku."
Pelayan itu akhirnya mengantarnya kembali ke tempat tidur.
Rai akhirnya mengambil izin tidak sekolah selama 3 hari. Selama izin itu, dia kembali mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Entah kenapa aku seperti ingat sesuatu, tapi aku tak bisa mengingatnya," katanya dalam hati.
Setelah selesai tiga hari. Dia masih tidak bisa ingat apa yang terjadi, tidak peduli seberapa keras di berusaha.
Sore harinya setelah pulang sekolah, dia sedang berjalan pulang sambil masih mencoba mengingat.
Saat dia menyebrang jalan, aku sangat fokus sampai tak sadar ada truk yang sedang mengebut datang ke arahnya. Supir itu sedang mengantuk dan saat dia sadar, dia sudah di depan Rai.
Semua orang sudah berteriak awas, tapi aku tak mendengarnya.
Saat Rai sadar, truk itu sudah tepat di depannya. Dia langsung melotot kaget.
Saat itu dia berpikir bahwa riwayatnya sudah tamat saat itu.
Tapi, tiba tiba saja, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi. Seketika semua orang di sekelilingnya diam membeku. Segala macam benda benda yang bergerak juga ikut diam. Bahkan truk box di depannya juga diam membeku. Dia kebingungan, tapi akhirnya dia tahu harus menghindar.
Selang beberapa saat, semua orang dan barang yang membeku kembali bergerak.
Orang-orang melihatnya heran. Dia lebih heran lagi.
'Apa yang baru saja terjadi?' Katanya dalam hati.
Supir truk itu juga kebingungan karena dia merasa bahwa saat itu sudah terlambat untuk mengerem.
Dia akhirnya langsung berlari ke rumah dengan masih kebingungan. Setelah sampai di rumah, dia langsung berlari ke kamarnya dan tanpa sengaja menabrak seorang pelayan yang sedang membawa botol-botol minuman dengan nampan. Nampan itu terjatuh dari tangannya.
Saat minuman itu mulai berjatuhan, Rai menjadi panik dan tiba-tiba saja, sekelilingnya kembali membeku.
Dia melihat botol-botol itu membeku di udara dan langsung merapikan nya kembali. Beberapa detik kemudian, semuanya kembali bergerak.
"Ini," katanya memberikan nampan dan botol. botol yang masih berisi itu ke pelayan.
Pelayan itu kebingungan. Dia mengucek matanya untuk memastikan penglihatannya tidak salah.
Rai akhirnya meminta maaf dan langsung berlari ke kamar.
Setelah masuk ke kamar, dia langsung mengunci pintu.
'Jika aku tidak salah, tadi aku baru saja melihat semua orang dan kejadian di sekelilingku menjadi diam membeku,' katanya dalam hati.
Dia memutuskan untuk menguji coba hal ini. Dia melempar sebuah gelas beling ke udara dan benar saja, botol itu diam membeku di udara.
Dia menangkap gelas itu dan melihat ke luar kamar, bahwa semua hal yang ada di sekelilingnya diam membeku.
Dia menutup mulutnya tak percaya.
"Ini benar-benar tak dapat dipercaya. Nampaknya aku baru saja menghentikan waktu. Bagaimana bisa?"
Dia mencoba mengingat lagi.
Akhirnya, dia teringat. Dia baru saja diberi suntikan oleh orang tua yang ditemuinya di gang dekat rumahnya. Itu sebabnya dia jadi begini.
Dia duduk di tempat tidurku. Setengah dirinya menolak percaya apa yang terjadi, sementara setengahnya lagi merasa senang. Kenapa dia senang? Dengan begini, dia merasa punya semangat baru untuk mencari geng Families.
"Dengan kekuatan ini, aku bisa menyusup dan mencuri dengar soal tentang geng ini," katanya sambil tertawa kecil.
...***...
Rai mencoba menguji coba lagi kekuatan ini. Hasilnya adalah, dia bisa menghentikan waktu selama 5 detik, dengan durasi penggunaan maksimal 4 kali sehari.
Dia akhirnya berlatih untuk memaksimalkan kekuatannya, meski tidak banyak perkembangan. Dia hanya mampu menaikan kemampuan dari 5 detik menjadi 7 detik.
Dengan kekuatannya, dia akhirnya mencoba masuk secara diam diam ke dalam geng menggunakan kekuatannya, lalu bersembunyi dan mencuri dengar percakapan mereka yang mungkin menarik.
Setelah berbagai usaha, akhirnya dia tahu dimana mereka. Seorang anggota geng lokal keceplosan bilang bahwa Families saat ini sedang berada di sebuah kabupaten di Jawa Barat bernama Karawang.
Dia tersenyum mendengar itu, lalu berkata pelan.
"Hoo, kedengarannya menarik."
Sekarang, dia sudah tahu kemana tujuannya. Rai akhirnya mencoba meyakinkan orang tuaku untuk pindah ke Karawang. Dia bilang kepada mereka jaraknya tidak terlalu jauh dari Karawang dan juga lebih tenang dibandingkan tinggal di jakarta. Mereka setuju dan tak menanyai detail apapun.
Mereka pun akhirnya membeli sebuah rumah di karawang, sementara Rai mendaftarkan diri di SMA Negeri 66 Karawang.
"Akhirnya, penantian lama telah datang. Pemberhentian berikutnya, Karawang dan juga Families," katanya siap.