Rai

Rai
Anak Sekolah part 2



Setelah mendaftar di SMA 66, dia ditempatkan di Kelas 12 IPA 5.


Saat dia pertama kali memperkenalkan diri, Orang-orang sudah banyak penasaran dengannya. Banyak dari mereka yang mencoba untuk berkenalan dengannya, meski Rai tampak tak tertarik untuk melakukannya.


Saat orang menanyakan dari mana sekolahnya, dia hanya sekedar menjawab dari Jakarta. Dia tak ingin membicarakan soal masa lalunya, terutama pada orang baru seperti mereka.


Selama hari hari pertama dia di sini, dia mencoba keras untuk tidak menarik perhatian. Dia belajar, makan siang dan pulang sore, seperti orang-orang biasa pada umumnya.


Di hari ketiga, dia mengalami hal paling tak terduga dalam hidupnya di SMA ini. Ternyata, apa yang tak terlihat di luar lebih menyeramkan saat berada di dalam.


...***...


Saat itu sedang jam istirahat kedua tengah siang. cuaca sedang terik dan Rai memutuskan untuk membeli minuman dingin di kantin. Kantin di sini berbentuk sebuah gedung dengan lebar 30 meter dan memiliki dua lantai.


Saat dia pergi ke kantin, suasana sangat ramai. Melihat keadaan yang sesak seperti neraka, Rai tak mau masuk ke dalam keramaian itu, Lalu, dia melihat bahwa sisi kiri gedung kantin tampak sepi. Dia tahu takkan membuang kesempatan seperti begini. Dia juga tak bermasalah untuk makan dimana pun. Dia pun langsung pergi ke sana.


"Hei, kau. Berhenti!" Teriak seseorang dibelakangnya.


Rai langsung melihat ke belakang.


"Aku?" katanya menunjuk diri sendiri.


"Ya. Siapa lagi menurutmu?" orang ini nampak tidak senang.


"Ada apa?"Rai tampak kebingungan.


"Apa kamu buta atau dungu, hah?!" Katanya meninggikan suaranya.


Rai pun memiringkan kepalaku. "Hah? Apa maksudmu?"


Dia pun menepok jidatnya sambil menggeleng geleng kepala.


"Kamu bukan anak IPS. Kamu tak harusnya ada di sini," katanya sambil mendorong Rai mundur.


"Tunggu? Apa?!"


"Masih tak mengerti? Kantin ini wilayah anak IPS. Kau tak boleh di sini." Nampaknya orang ini sudah kehabisan kesabaran.


"Apa maksudmu ini wilayah IPS? Bukannya kantin ini milik semua orang?" Tentu saja Rai tak terima mendengarnya.


"Jangan keras kepala! Kita semua punya wilayah masing-masing. Sekarang pergilah sebelum aku memanggil yang lain."


"Enak saja. Sejak kapan ada aturan kayak gitu. Minggir Lah." Rai menepis orang itu dari hadapannya. Dia segera berjalan ke arah kantin.


Orang itu tak terima, lalu mengangkat kerah seragam Rai.


"Dengarkan aku dasar kamu sok tahu. Kalau kau tak pergi, akan aku hajar kamu." Orang ini tampaknya mulai serius.


Rai lalu melepas pegangannya, dia lalu memutuskan untuk mundur terlebih dahulu, sambil masih diawasi oleh orang itu.


'Baiklah, sekarang aku punya dua opsi. Satu, ikuti saja katanya meski itu tidak masuk akal, atau kita terus berdebat sampai adanya penyelesaian?' Kata Rai dalam hati.


Rai pun melihat ke arah kantin anak IPA, yang masih sangat ramai. Dia pun menelan ludah membayangkan sesaknya di sana.


'Ada-ada saja, itu sama dengan bunuh diri. Begitu antriannya habis, nanti keburu jam masuk. Aku tak ada pilihan, aku harus pergi ke sana.'


Rai pun kembali ke arah kantin anak IPS dan dia sekali lagi disambut oleh orang yang tadi.


"Sudah kubilang untuk pergi bukan?!"


"Ayolah, berbaik hatilah. Lagipula, aku takkan mengobrak-abrik kantin mu ini. Aku berjanji." Rai menggosokkan kedua tangannya memohon.


Dia pun melipat bibirnya ke atas sambil berpikir, lalu tiba tiba, ia tersenyum licik ke arah Rai.


"Begini saja. Aku tahu caranya kamu bisa masuk."


"Benarkah? Apa itu?" Mata Rai melebar karena bersemangat.


Dia mengulurkan tangannya ke Rai.


"Bayar aku."


"Apa?" Rai memiringkan kepalanya. "Kau ingin aku bayar kamu? Demi bisa masuk ke kantin?"


"Setidaknya hasilnya pantas bukan?" Katanya tertawa.


Rai pun tertawa terbahak-bahak, lalu berhenti tiba-tiba.


"Hei! Kau!" Katanya pelan dengan tatapan dingin. "Kau bilang mau uang bukan?" Rai memasang muka menyeramkan.


"Apa yang kau lakukan?" Orang ini mundur beberapa langkah dengan ngeri.


"Kau ingin uangku? Ini uangku!" Tiba tiba, Rai menangkap leher orang itu dan mengangkatnya ke udara.


Orang ini memohon untuk diturunkan, tapi Rai tak memedulikan nya.


'Kau pikir aku akan memberikan uang pada parasit seperti mu? Tidak akan!' Batinnya.


Tiba-tiba saja, seseorang muncul dan mencoba menghentikannya.mukanya terlihat khawatir. Dia bertubuh gempal dengan tinggi kurang lebih 160-an. Dia memiliki rambut berwarna merah bata, mata berwarna biru dan kacamata yang sudah kekecilan. Dia adalah anak IPA, yang mana bisa dilihat dari rompi yang dia pakai. Ada tiga jurusan di SMA ini, yaitu IPA, IPS, dan bahasa. Untuk anak IPA mereka memakai rompi berwarna merah, IPS berwarna hijau dan bahasa berwarna biru.


" Tolong hentikan!" katanya dengan ketakutan.


"Kenapa aku harus melakukannya? Dia melarang ku untuk pergi ke sini. Padahal kantin ini milik semua orang bukan." Rai mengangkat orang ini semakin tinggi yang membuatnya berteriak.


"Jika kau berani berteriak, aku patahkan lehermu!" kata Rai mengancam. Orang ini langsung diam.


"Tolong, hentikan saja. Ayo kita bicara baik baik." Orang ini memohon mohon pada Rai untuk berhenti.


Rai Pun melihat orang yang dia angkat.


'Kalau dipikir lagi, sebenarnya apa tujuanku mengangkat orang ini,' batinnya.


"Baiklah, akan saya turunkan dia." Aku pun menjatuhkan orang itu kembali ke tanah.


Dia pun terduduk sambil memegangi lehernya. Lalu, dia menatap Rai dengan wajah marah, yang langsung dibalas lagi tatapannya oleh Rai.


"Awas saja kalau kau bilang apa yang terjadi hari ini!" Katanya mengancam.


Orang itupun langsung bergegas pergi dan tak mengucapkan apapun.


Rai melihat ke sekeliling. Ternyata banyak orang yang berkumpul dan menonton pertengkarannya tadi.


"Apa yang kalian lihat hah?! Enyah Lah!" katanya mengusir.


Orang-orang pun akhirnya berpergian dan meninggalkannya dan orang yang tadi mencegahnya.


......***......


Setelah keadaan mulai tenang, mereka saling berkenan. Namanya adalah Rian Hidayat dari kelas 12 IPA 3.


"Dengar Rai. Lebih baik jangan cari masalah dengan mereka. Bulan kenapa kenapa, tapi masalahnya adalah itu akan jadi masalah bagimu nanti," katanya menasehati.


"Kenapa begitu? Aku tidak ada salah dengannya!" Kata Rai sambil melipat lengannya.


"Begini saja. Kamu masih baru bukan?"


Rai mengangguk. "Lalu, apa hubungannya?"


"Jurusan IPA dan IPS itu sudah lama saling bermusuhan. Mereka saat ini semacam melakukan adu gengsi antar jurusan. Saran ku adalah jangan sampai terlibat dalam hal seperti begini."


"Mengapa begitu? Siapa yang memulainya?" tanyanya.


"Tak ada yang tahu, itu tidak penting lagi. Saat ini kita hidup diantara orang-orang seperti begini."


"Lalu, bagaimana dengan jurusan bahasa?"


"Kau boleh lega. Mereka adalah pihak netral."


Rai menarik napas lega.


"Lalu, soal masalah ini. Apakah para guru tahu soal ini? Apa mereka tak berusaha untuk mencegahnya?"


"Untuk itu aku kurang tahu. Ikuti saja saran ku, ok?"


Rai pun menunduk sambil memasukkan kedua tanganku dalam kantong celana.


'Astaga, kupikir hidupku tak bisa lebih baik dari ini,' batinnya sambil menggerutu.


Dia pun terlihat senang mendengarnya.


"Bagus sekali. Semoga kau bahagia di sini." Dia pergi dengan keadaan senang.


"Aku takkan," katanya dengan pelan masih sambil menggerutu.


Saat Rian akan pergi, Rai tiba-tiba bertanya.


"Kenapa kantin IPS sepi begini?"


"Oh, itu? Katanya mereka sedang rapat."


"Rapat?"


"Iya, terkadang setiap kubu melakukan semacam rapat begitu. Hukumnya tidak wajib, tapi kebanyakan dari mereka mewajibkan nya."


......***......


Rai pernah mendengar sebuah pepatah yang mengatakan: "Kenalilah temanmu, dekati lah musuh mu."


Pepatah itu cocok dipakai dalam keadaan sekarang ini. Dia sekarang berada diantara pertarungan bodoh antara dua kubu yang saling adu gengsi.


Rai pernah mendengar tentang perseteruan antara jurusan IPA dan IPS. Saat dua kubu yang saling menganggap diri sendiri lebih baik. Di situlah benih perpecahan mulai terjadi.


Setelah kejadian yang terjadi di kantin itu, akhirnya dia memutar otak untuk mencari solusi permasalahan tersebut. Selama itu, dia memutuskan untuk melakukan riset soal budaya di sini.


Ternyata ada banyak hal yang bisa dia pelajari dari sini. Mulai dari misalnya bahwa ternyata setiap kubu bahkan memiliki ketua masing-masing. Bahkan bahasa yang berstatus netral memiliki ketuanya sendiri.


Setelah berpikir selama beberapa hari, akhirnya aku berhasil menemukan solusi.


Daripada aku menjauh dari mereka. Akan lebih baik bila aku justru mendekati mereka. Seperti yang dikatakan pepatah di atas tadi.


Setelah berpikir cara apa yang aku gunakan untuk mendekati mereka. Dia sadar bahwa dia punya satu kelebihan yang mungkin bisa dia gunakan. Sejak dari dulu, dia selalu mendapat nilai akademis yang bagus, jadi dia berpikir bahwa kemampuannya ini bisa dia gunakan. Pelajaran anak IPA dan IPS memang berbeda, namun ada beberapa pelajaran IPA yang ada di IPS.


Sekarang karena dia sudah memutuskan cara pendekatan, dia hanya perlu mencari tahu siapa yang bakal dia temui.


Mendekati anak IPS bukanlah hal yang mudah. Apalagi setelah kejadian itu, nilainya di antara anak-anak IPS menjadi minus, tapi dia akan mengusahakan tetap melakukannya.


Dia mendengar bahwa biasanya lantai dua kantin sering dipakai untuk mengerjakan kerja kelompok atau belajar bareng. Jadi, dia memutuskan untuk mengawasi lantai kedua kantin anak IPS.


Beruntung, dalam sekali percobaan, dia melihat tampak ada dua orang yang sedan mengerjakan tugas. Dia mendekati mereka untuk tahu apa yang mereka kerjakan. Ternyata mereka sedang mengerjakan tugas Matematika di buku paket. Mereka tampaknya sedang sangat serius mengerjakannya.


"Bro, jawaban yang nomor 13 apa?"


"Mana aku tahu. Aku juga bingung." Kata temannya menggaruk kepalanya.


"Sial, kenapa susah sekali sih!"


Rai pun melirik untuk melihat soal apa yang mereka kerjakan, lalu, kedua orang itu tiba-tiba melirik ke arahnya dengan kaget.


"Siapa kamu? Apa yang kau lakukan di sini anak IPA?! Ini bukan wilayah mu!" katanya mengusir.


" Ah, maaf telah menganggu kalian." Aku membungkuk untuk meminta maaf.


"Kalian tampak kebingungan."


"Dari mana kamu tahu?"


"Lihat buku kalian, masih banyak yang kosong bukan?"


Mereka pun melihat buku mereka.


"Lalu, kalau kami kesusahan kenapa. Ingin tertawakan kami?" katanya dengan nada kesal.


"Tentu tidak. Aku ingin membantu kalian."


Mereka pun saling menatap. Kebingungan mendengarnya.


"Tunggu sebentar. Aku tahu kamu!"


"Siapa sih dia?" Tanya temannya.


"Kamu ingat tidak. Dia yang mencekik Bejo di dekat kantin sini."


"Oh, jadi dia orangnya." Dia tertawa.


"Apa ada yang lucu?" Tanya Rai.


Dia menghentikan tawanya sedikit. "Bukan begitu. Soalnya Bejo itu dikenal sangat menyebalkan. Itu sebabnya, saat kejadian itu, kita tak berhenti tertawa."


"Iya, kau ingat wajahnya saat itu. Seperti kepiting direbus." Mereka tertawa terbahak-bahak.


"Tapi...," mereka berhenti tertawa. "Kamu sudah menyerang seorang anak IPS, yang mana itu jelas tidak dapat diterima."


"Iya, jika seandainya yang melakukan itu pada Bejo adalah anak IPS, kami akan Mewajarkan nya. Masalahnya, bukan anak IPS yang menyerangnya, melainkan kamu, yang mana itu jelas masalah bagi kami." Timpal temannya sambil melipat jarinya.


"Baiklah. Jika begitu, aku minta maaf," kata Rai.


Mereka berdua terkejut dengan perbuatan Rai. Mereka tidak menduga bahwa Rai akan meminta maaf.


"Yah... kalau mau minta maaf, tanya saja pada Bejo," kata orang itu canggung.


"Jadi, kau mau membantu kami?"


"Tepat sekali. Itu sebabnya aku di sini."


Mereka saling bisik-bisik — berdiskusi.


"Kau yakin mau memberi orang ini kesempatan?"


"Entahlah, dia tidak tampak meyakinkan."


"Mari kita beri dia kesempatan sekali. Kita lihat apa dia benar-benar serius melakukannya."


"Apa kau yakin?"


"Tidak, tapi lebih baik kita memastikan terlebih dahulu bukan?"


"Baiklah. Tampaknya itu Ide bagus."


Mereka kembali menatap Rai.


"Baiklah, kita juga sedang terburu buru. Tolong, bantu kami kerjakan."


Rai pun tersenyum mendengarnya.


"Ayo kita mulai," katanya sambil meregangkan tubuh.


Mereka mulai mengerjakan tugas bersama sama. Rai menjelaskan dengan cukup rinci bagaimana penyelesaian dari setiap soal yang ada.


Akhirnya, hanya dalam 20 menit, semua soal telah terisi.


"Baiklah, kita sudah selesai bukan?"


"Iya. Terima kasih banyak."


"Baiklah, bilang pada teman teman kalian jika ada yang butuh bantuan, maka panggil saja aku. Namaku Raii Rahman. Sampai jumpa. "Rai pergi sambil melambaikan tangannya ke belakang.


" Orang aneh, tiba-tiba datang dan membantu kita."


"Iya, tapi kita berhasil menyelesaikan tugas." Mereka tersenyum puas karena berhasil menyelesaikan soal.


Sementara itu, tanpa sepengetahuan Rai, tampak ada dua orang sedang mengawasinya dari meja kantin sebrang. Satu adalah laki-laki, Satunya lagi adalah perempuan.


"Wah, siapa sangka, langkah yang brilian," kata si lelaki.


"Iya, dia jelas mengambil kesempatan." Sang perempuan mengangguk setuju.


"Jadi, apa kita bilang saja?" Tanya si perempuan.


"Mungkin jangan sekarang. Kita bahkan belum menemukan mereka." Si lelaki menolak.


"Iya, sejak kegagalan mereka di jakarta, mereka terus bersembunyi di sini."


"Ayo, kita pergi sebelum ada yang melihat kita di sini." Si lelaki bangkit, diikuti oleh si perempuan. Mereka pergi meninggalkan lokasi.