Rai

Rai
Anak sekolah part 4



Setelah Rai membantu cukup banyak anak IPS, dia mulai dikenal oleh banyak anak IPS. Banyak yang merasa berutang budi padanya, maka dari itu, salah satu dari anak IPS itu memperkenalkan dia dengan ketua dari IPS. Namanya Muhammad Diaz, dari kelas IPS 2.


Saat pertama kali mereka berkenalan, mereka berkenalan di depan gedung IPS saat siang hari jam istirahat kedua — Mereka bertemu di bawah pohon mangga.


"Salam kenal, kamu pasti Rai bukan? Namaku Muhammad Diaz. Kau bisa memanggilku Diaz," katanya sambil tersenyum dan menjulurkan tangannya pada Rai. Dia memiliki tinggi 175, rambut perak, dan mata merah rubi.


"Iya, salam kenal." Rai balas menjulurkan tanganku. mereka saling bersalaman.


Mereka lalu saling mengobrol ngobrol. Pertama dia bertanya pada Rai, kenapa dia membantu anak-anak IPS.


"Kenapa? Aku hanya ingin agar anak IPS dan IPA bisa berdamai. Itu sebabnya, aku melakukan itu." Sebenarnya, alasan Rai itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak benar.


Alasan sebenarnya dia melakukan ini memang agar anak IPA dan IPS bisa berhenti bertengkar, namun dia melihat kemungkinan lain, yaitu menyelidiki keberadaan geng families. Dia pikir, dengan punya banyak teman, maka dia bisa lebih leluasa mencari informasi. Hanya saja, dia melakukannya dengan cara yang salah. Dia pikir, dengan membantu orang lain, akan membuat orang lebih simpati terhadapnya, tapi malahan dia justru malah kewalahan karena harus membantu banyak orang.


Diaz juga bertanya tentang bagaimana perlakuan para anak IPS terhadapku Rai. Dia menjawab bahwa mereka orang yang baik, walau pertemuan pertamanya dengan anak IPS tidak berjalan baik.


"Hmm... apa alasanmu ke sini, Rai?"


"Alasanku? Kau ingin tahu?"


"Iya. Aku pikir kita bisa saling percaya bukan?"


'Orang ini tampaknya serius ingin berkenalan denganku. Tapi, aku takkan bilang alasanku pada sembarangan orang,' Batinnya.


"Orang tuaku pindah kerja ke sini. Aku hanya sekedar ikut mereka." Sebenarnya yang Rai katakan dia tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, itu bukanlah alasan utamanya.


"Begitu rupanya. Ya sudah, selamat datang di SMA 66. Tempat bagi murid terbaik di karawang." Dia mengangguk percaya.


'Ternyata berhasil juga. Aku tak menyangka dia bakal percaya.' Rai terkejut bahwa ternyata itu mempan. Padahal alasan seperti itu jelas terlalu umum.


" Oh, ya Rai. Karena kita teman — walaupun kita baru kenal sebentar. Bisakah kamu membantuku?"


"Baiklah. Apakah itu? " Rai tak bisa bilang tidak, karena dia sudah bersumpah untuk terus membantu orang, terutama anak IPS.


"Tolong, bisakah kamu memata-matai pacarku, namanya Mona. Akhir akhir ini, tampaknya dia sudah mulai jarang bertemu denganku."


"Memangnya kenapa kalau begitu? Mungkin dia hanya lagi tidak ingin bertemu denganmu bukan?"


"Awalnya aku berpikir begitu, tapi setelah aku perhatikan dia, tampaknya dia jelas tidak sedang lagi sendirian."


"Darimana kamu tahu?"


"Dia sering menelpon akhir akhir ini. Dari gaya bicaranya, itu bukan teman atau orang tua, dia hanya menggunakan gaya bicara itu padaku, padahal dia tidak mengobrol denganku."


Rai sekarang paham, dia pasti curiga bahwa pacarnya mungkin telah diam-diam punya pacar lain.


Rai pun mengangguk. "Masalah perselingkuhan ya? Baiklah, dimana dia sekarang?"


"Dia seharusnya berada di kelas IPS 3, akhir-akhir ini, dia lebih sering di kelas, karena kondisinya sering sepi. Akan saya kirim fotonya nanti. Sekarang cepat pergi."


Rai langsung pergi menuju kelas IPS 3. saat dia sampai, Diaz mengirimkan foto dari pacarnya ke ponselnya. Dari situ, dia akan bisa tahu yang mana pacarnya.


Rai lalu mengintip dari luar jendela, lalu melihat sambil mencocokkan muka di ponselnya itu.


Setelah melihat lihat, dia akhirnya melihat cewek itu.


"Itu dia, mukanya cocok." Cewek yang dia lihat memiliki rambut keriting berwarna hitam, kulit putih dan mata hijau.


'Tampaknya dia saat ini sedang sendiri. Aku akan menelpon Diaz untuk minta petunjuk,' gumam Rai sambil menelpon Diaz.


"Diaz, aku menemukan pacarmu, dia ada di dalam kelas," bisik Rai.


"Baiklah, tapi kenapa kau harus berbisik?"


"Kondisinya sangat sepi, jika aku berbicara terlalu keras, akan membuat orang lain melihat aku." Rai masih berbisik.


"Baiklah, apa yang kau lihat di sana?"


"Selain beberapa orang di dalam kelas, dia tampaknya sedang sendirian. Apa yang aku harus lakukan sekarang?"


"Terus awasi dia, jangan lepas darinya."


"Apa? Tidak mungkin." Rai menolak sambil berbisik. "Aku harus masuk kelas sebentar lagi. Mungkin nanti saja."


"Rai, aku butuh bukti sekarang. Ini sesuatu yang sangat penting bagiku."


"Aku mengerti, tapi kita tak boleh terburu-buru. Kenapa kau sangat terobsesi dengan ini memangnya?"


"Itu tak penting, lakukan saja yang ku suruh." Diaz sudah tampak kehabisan kesabaran. Nadanya mulai terasa memaksa.


Namun, tiba-tiba saja, Rai menoleh ke arah pintu kelas IPS 3, ternyata pacar Diaz akhirnya keluar dari kelas.


"Diaz... Tampaknya pacarmu keluar dari kelas. Apa aku harus ikuti dia?"


"Tak perlu tanya dua kali, cepat ikuti dia."


Rai akhirnya mengikutinya secara diam-diam. Dia terus menjaga jarak agar tak ketahuan.


Pacar Diaz pergi ke arah belakang sekolah, tepatnya di belakang gedung IPS. Tempat ini sendiri adalah sebuah jalan sempit dengan selokan air yang sudah kering dengan dedaunan jatuh di tepinya.


Tempat ini sendiri adalah tempat kumpul bagi para anak-anak nakal untuk merokok, yang bisa dilihat dari banyaknya puntung rokok di jalan atau dalam selokan.


Rai terus berusaha mengikutinya secara sembunyi sembunyi. Lalu, dia akhirnya berhenti. Dia melihat dari jauh, dan terlihat dia sedang bersama dengan pria lain. Pria itu tampaknya bukan anak sekolah, karena dia memiliki tampang anak kuliah dari wajah serta pakaiannya.


' Pria itu tidak tampak seperti selingkuhannya, tapi aku harus memastikan terlebih dahulu," Batin Rai.


Rai pun mengeluarkan sebuah kelereng besi dari dalam kantong celananya, lalu melemparnya diam diam ke arah mereka.


Kelereng itu sendiri merupakan alat penyadap yang dibuat oleh kenalan Rai — sejak karena Rai adalah orang yang kaya, sehingga dia bisa membuat alat canggih seperti itu.


"Kenapa kau meminta ku bertemu di sini, kakak?" Tanya Mona.


Dia melihat ke arah sekeliling untuk memastikan. Rai sendiri bersembunyi di balik pilar batu yang menempel pada tembok.


Setelah memastikan keadaan aman, dia menjawab dengan tergesa-gesa, "Dengarkan aku Mona, aku tak punya banyak waktu." Dia lalu mengambil sesuatu dari kantongnya — sebuah flashdisk. "Ini, sembunyikan lah benda ini." Dia memberikan flashdisk itu pada Mona.


"Ada apa kak? Apakah ada masalah? Apakah kau dalam bahaya?" Tanya Mona dengan khawatir.


"Kemungkinan begitu, karena itulah, sembunyikan lah benda ini, taruh di tempat yang hanya kamu saja yang tahu, kumohon!"


'Tampaknya dia bukan selingkuhan nya. Dari caranya memanggilnya, dia mungkin kakaknya atau sepupunya — muka mereka terlihat mirip,' batin Rai.


'Yang membuat ku penasaran adalah flashdisk itu. Apa isinya sampai disuruh untuk disembunyikan? Pasti itu sesuatu yang penting baginya.'


"Bagaimana keadaan ibu?" Tanya si kakak.


"Dia khawatir denganmu, kakak sudah lama tidak pulang katanya."


"Berarti dia masih aman? Syukurlah!" Dia tampak lega.


Saat mereka lengah, Rai langsung memotret mereka diam diam, untuk jadi barang bukti.


'Baiklah, saatnya memberikan ini pada Diaz.'


Rai pun pergi secara diam diam, lalu mengirim foto itu ke Diaz lewat WhatsApp. Selang beberapa menit, dia langsung membalas foto kirimannya.


"Baiklah, Rai. Aku sendiri terkejut melihat ini, tapi, terima kasih telah membantuku."


"Sama sama."


'Entah kenapa, aku menjadi penasaran dengan apa yang akan Diaz lakukan?" batin Rai. 'Aku akan tanya pada dia.' Rai lalu mengirim pesan padanya.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Akan ku putuskan pacarku."


Rai kaget mendengarnya"Kenapa?! Bukankah ini hanya kesalahpahaman? Apa alasanmu? Dia bahkan tidak melakukan kesalahan apapun."


"Bukan dia yang salah... Akulah yang salah. Aku sudah mencurigai dia telah berselingkuh, aku sudah sangat yakin saat itu, tapi setelah aku melihat foto itu, aku merasakan persaan bersalah dalam diriku. Itu sebabnya, aku harus memutuskannya, dia tidak pantas dapat orang sepertiku, yang bahkan tidak percaya dengan pasangan sendiri."


'Serius? Hanya karena itu?' Batin Rai dengan muka datar.


"Baiklah... terserah kamu saja. Yang penting aku sudah menolong mu bukan?"


"Iya, terima kasih banyak." Diaz menutup teleponnya.


"Ada ada saja," kata Rai sambil menggelengkan kepala.


Saat Rai kembali ke kelasnya, dia teringat kembali dengan percakapan antara Mona dan kakaknya.


'Apa yang sebenarnya tersembunyi di dalam flashdisk itu, sampai dia menyuruh orang lain untuk menyembunyikannya?' Dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Ingat Rai, kau tidak di sini untuk kepoin hidup orang. Aku harus tetap fokus.'


Sehari setelah insiden pertengkaran Rai dengan Yusuf, Dia dipanggil oleh ketua dari IPA, namanya adalah Rega Ahmad. Dia adalah anak kelas IPA 1. Mereka pertama kali kenal beberapa hari setelah perkenalkan Rai dengan Diaz. Dia memiliki tinggi 180 cm, rambut hitam dan mata coklat tua.


Fakta unik tentang dia, adalah dia adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa Rai memiliki kekuatan. Bagaimana ceritanya?


Ini sungguh mengejutkan. Saat pertemuan pertama mereka, Rega dan Rai langsung melakukan pembicaraan secara pribadi di gudang sebelah 12 IPA 1.


"Kamu pengguna kekuatan bukan?" Tanpa ada peringatan atau apa-apa, dia langsung menanyakan hal itu padanya.


Rai terkejut. Dia jelas tidak menduga bahwa ada seseorang yang tahu soal rahasianya. Apalagi untuk seseorang yang baru saja bertemu dengannya.


"Aku tidak tahu apa maksudmu?" Dia mencoba menyangkal, sambil memasang nada bertanya agar lebih meyakinkan.


Rega hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar jawaban itu. "Kau tahu? Kamu adalah pembohong yang buruk."


Rai akhirnya tahu bahwa dia tak dapat menyembunyikan hal ini dari orang itu. Entah bagaimana dia bisa tahu, tapi dia tampak sangat yakin dengan fakta ini.


Sejak saat itu, dia menjadi salah seorang yang tahu tentang rahasianya. Selain dia, ada beberapa orang lain yang tahu tentang rahasianya.


Dia menyuruh Rai untuk bertemu di gudang yang ada di sebelah kelas IPA 1.


'Jika ia ingin bertemu di tempat tertutup seperti itu, pasti ada masalah yang terjadi,' batin Rai.


Gudang tempat mereka bertemu adalah sebuah gudang penyimpanan barang-barang yang rusak atau terbengkalai. Terlihat di sini ada meja dan kursi rusak, lemari bekas dan sampah lainnya.


Saat Rai membuka pintu, dia melihat ada Rega dan juga Yusuf yang masih terlihat kesal pada Rai karena lukanya itu. Kemarin dia menuntutnya karena sudah memukulnya. Tentu saja tidak ada buktinya, karena Rai menghentikan waktu saat itu, Tap dia masih sangat yakin bahwa Rai yang memukulnya biar tak ada buktinya.


"Lihat Rega! Dia yang membuatku begini. Lapor dia ke guru! Biar dia dikeluarkan!" katanya sambil menunjuk Rai dengan marah.


"Rai, apa benar kamu yang memukulnya?" tanya Rega.


"Tentu tidak. Kau dengar kan kata orang, kalau dia terjatuh sendiri." Rai membantah.


"Lagipula, kau tahu bahwa Yusuf sangat membenciku. Dia bisa saja sengaja seperti begitu untuk menjatuhkan ku," katanya sambil memandang Yusuf dengan tatapan merendahkan.


Yusuf marah, tapi dia tahu kalau menghajar ku akan merugikan dirinya sendiri. Dia akhirnya pergi sambil marah marah sendiri. Dia bersumpah akan balas dendam padaku. Aku tak peduli apa mau mu. Coba saja kalau kau bisa.


"Baiklah, tampaknya kita aman Rai?"


"Ya, kita aman."


"Bagus..., tapi sebelum itu, aku butuh bantuan mu untuk merapikan gudang ini?"


"Sebentar?! Jadi kau memanggilku ke sini hanya untuk bersih-bersih?"


"Tidak, itu perkara lain. Sekarang, bantu aku bersihkan gudang ini." Rega melempar sapu pada Rai.


Mereka berdua pun mulai membersihkan gudang itu. Rai sendiri tidak bingung dengan kelakuannya itu, karena dia tahu kalau Rega punya semacam kepribadian yang perfeksionis. Apapun yang tampak tidak benar, akan dia betulkan sampai betul.


"Akhirnya, kita selesai juga." Rai bersorak lega, kecapaian membersihkan gudang yang isinya penuh dengan debu dan meja kursi bekas yang berantakan.


Rega juga selesai merapikan dan menaruh sapu itu kembali ke dalam lemari.


"Jadi, ada apa memanggilku ke sini?" tanyanya.


"Lihat foto ini." Dia menunjukkan sebuah foto yang ada di ponselnya.


Rai melihat foto itu. Itu adalah sebuah foto botol tupperware berwarna ungu yang sedang dipegang oleh seorang anak cewek IPA.


"Botol ini adalah milik murid perempuan dari kelas 12 IPA 3. Dia bilang bahwa dia kehilangan botol ini setelah pulang dari perpustakaan. Saat itu dia memang lagi membawa tasnya dan menaruh botol itu di kantong luar tasnya. Saat itu, ia bilang bahwa dia memang merasakan bahwa botol itu jatuh, tapi dia mengacuhkannya. Saat dia sadar, botol itu telah hilang. saat dia mencarinya, botol itu tak ketemu. Dia mencoba bertanya pada seksi barang hilang, tapi mereka juga tidak tahu. Para Guru bilang mereka tak mau ikut campur dalam urusan ini. Staf kebersihan juga tidak tahu soal itu. Dia sangat khawatir,apalagi itu adalah botol mahal," kata Rega menjelaskan.


"Biar ku tebak, kau pasti menyuruhku untuk mencari botol ini?" Tanya Rai.


"Iya." Kata Rega singkat.


"Juga, bila tebakan ku benar, botol itu kemungkinan diambil oleh anak IPS bukan? Mengingat perpustakaan ada di gedung IPS."


"Betul lagi. Kamu selalu bisa menebak situasi dengan cepat, Rai. Aku suka itu." Rega tersenyum.


"Baiklah, jadi dimana kemungkinan itu jatuh?"


"Dia bilang, kemungkinan ada di depan kelas 12 IPS 2. Di situlah dia merasa botol itu jatuh."


"Tapi, kenapa kamu ingin aku mengambilnya. seperti itu? Tidak bisakah kita bertanya pada mereka baik-baik?"


"Sebaiknya jangan lakukan itu. Beberapa hari yang lalu, Budi kembali bertengkar dengan anak IPS. Sekarang ini, mereka masih belum mau bermaaf-maafan."


"Anak itu lagi? Huh... Dasar kebiasaan buruk itu," Keluh Rai. "Tapi, dari semua orang..., kenapa harus aku?"


"Kau adalah orang yang paling dipercaya di sini. Kau sudah membantu banyak orang, hal ini seharusnya kecil bagimu dan juga kekuatanmu bukan?" katanya tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu, aku akan segera pergi ke sana." Rai pergi keluar gudang, lalu belok ke arah kiri.


"Rai, kau mau kemana? Gedung IPS ke arah kanan," tanya Rega.


"Aku tahu, tapi kalau ingin menyusup ke dalam sarang musuh, kau perlu persiapan matang."


Rega kebingungan, tapi dia membiarkannya.


Rai pun pergi ke kelasnya. Dia pergi ke bangkunya, lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Itu adalah sebuah topi SMA dan masker kain. Dia langsung mengenakannya dan segera pergi ke sana. Saat sampai, dia mulai melihat lihat sekeliling mencari botol itu. Rai melihat ke arah kelas IPS 2. Di dalam sana, penuh dengan para murid.


'Jika itu jatuh, harusnya pasti bakal ada yang melaporkannya ke seksi barang hilang dan tersangka yang paling jelas adalah kelas ini. Mereka mungkin tak tahu ini botol milik anak IPA dan berpikir untuk menyimpannya,' batin Rai.


'Aku membawa masker dan topi ini agar tidak terekam kamera CCTV, tapi... tetap saja, itu tidak cukup untuk melakukannya. Aku bisa menggabungkan penghenti waktuku, kurang lebih memberikan aku waktu sampai 30 detik. Namun, jika mereka masih ada di dalam, itu ide yang buruk.' Batinnya sambil mengintip ke dalam.


Lalu, Rai melihat sebuah tuas alarm kebakaran. Dia akhirnya berpikir untuk menyalakan nya dan membuat semua orang di dalam keluar.


'Aku pikir tidak ada salahnya sesekali bukan?' Batinnya.


Dia melihat ke sekeliling, untuk memastikan keadaan aman.


'Tampaknya tak ada orang di sekitar sini. Baiklah, akan aku tarik sekarang.'


Rai langsung menarik tuas itu dan seketika, Suara alarm langsung berbunyi, membuat orang di dalam kelas langsung panik ketakutan. Mereka langsung berbondong-bondong keluar dari dalam kelas, Sementara Rai mengawasi dari balik pilar yang menempel di tembok.


Saat semua orang sudah pergi, dia langsung menghentikan waktu. Kekuatan yang kali ini spesial, karena dia bisa menghentikan waktu hingga 30 detik. Itu adalah gabungan antara batas jumlah penggunaan kekuatannya dengan berapa lama dia bisa menghentikan waktu.


Dia menggabungkan waktu yang bisa didapatkan dari kekuatannya dan membuatnya jadi satu. Kelemahannya ialah dia tidak bisa lagi menggunakan kekuatannya setelah ini. Waktu 30 detik hanyalah sebentar, jadi dia harus bergerak cepat.


Karena hanya ada 30 detik, dia langsung mencari kemungkinan terbaik.


'Tak mungkin benda itu disembunyikan di bawah meja guru. Tak mungkin juga di belakang papan tulis atau di bawah meja murid. Berarti... Saat ini kemungkinan terbaik adalah di loker murid di belakang kelas.' Batinnya.


Dia langsung membuka cepat semua loker yang ada. Dia memeriksa secepat mungkin dan ternyata, ada botol yang bentuknya cocok dengan yang ada di foto. Dia langsung mengambilnya dan pergi tanpa menutup pintu loker, karena terburu buru.


'Biarkan saja, aku takkan terekam kamera. Dan bila terekam juga,mereka tak bisa melihat wajahku. '


Rai keluar dari kelas itu, dan beberapa saat kemudian, waktu mulai kembali berjalan. Para guru mulai berdatangan untuk melihat kondisi kelas, yang masih baik baik saja.


Setelah itu, ada sebuah pengumuman yang mengatakan bahwa alarm itu palsu. Semua orang kembali ke kelas sambil menggerutu.


Rai langsung mengirim pesan pada Rega. "Rega, aku sudah dapat barangnya. Dimana kau mau aku menemui mu?"


"Baiklah, temui aku di depan gudang sebelah IPA 1."


Mereka akhirnya bertemu di depan gudang sebelah IPA 1. Rai langsung menyerahkan barang itu.


"Tadi ada alarm kebakaran. Itu ulah mu bukan, Rai?"


"Yah... kau tahu pasti kan?"


"Baiklah, yang penting kita punya barangnya. Dimana kamu menemukannya?"


"Loker dalam IPS 2. Tampaknya ada yang menyembunyikannya. Entah sengaja atau tidak."


"Itu sebabnya kau menyalakan alarm itu?"


"Iya," kata Rai singkat.


"Bagaimana kalau mukamu ketahuan?"


"Mereka takkan bisa. Aku sudah mengenakan masker dan topi untuk menutupi mukaku."


"Hmm... Baiklah, kalau begitu. terimakasih, Rai."


"Sama sama."


Rai akhirnya kembali ke kelas. Di dalam kelas, satu kelas masih kesal dengan alarm palsu itu. Mereka mengutuk orang yang iseng buat melakukan itu.


'Kalau mereka tahu aku yang melakukannya, mereka pasti bakal membunuhku,' batin Rai sambil tertawa.