
Profil Karakter
Nama: Rai Rahman.
Usia: 17 Tahun (Lahir pada 16 April 2004)
Tinggi:178.
Warna kulit:Coklat terang
Rambut:Lurus;hitam.
Bentuk wajah:Oval.
Mata:Biru;dalam
Golongan darah: A-
Kekuatan:Menghentikan waktu selama 9 detik dengan durasi penggunaan 5 kali sehari, mempercepat dan memperlambat waktu selama 5 detik dengan durasi penggunaan sekali sehari.
Rai masuk ke dalam ruangan Kepala Sekolah. Ruang ini sendiri berukuran kurang lebih 6x5 meter persegi, yang bisa dibilang kecil. Ruang ini dipenuhi oleh berbagai macam barang barang antik dari tahun 80-an yang terpajang rapi di lemari ruang ini.
Barang antik ini dipajang oleh Kepsek karena dia adalah seorang yang suka mengoleksi barang barang lama. ruang kecil yang penuh dengan barang antik ini menunjukkan bahwa dia adalah sosok yang menghormati guru lain, dengan bilang bahwa meski dia punya ruang pribadi, dia akan tetap sederhana, dan membuat ruang yang bisa membuat orang lain bernostalgia terhadap masa lalu. Meski Rai hanya melihat pencitraan.
Dia berumur 62 tahun, rambut botak, jenggot putih panjang dan mata hitam dengan kacamata minus tebal. Jika biasanya Kepala Sekolah itu muncul dengan tampang elegan, maka dia di datang dengan gaya yang santai. Bayangkan, siapa Kepala Sekolah yang datang ke sekolah hanya memakai singlet dan peci. Dia mungkin satu-satunya di dunia ini.
Meski terlihat seperti orang biasa, dia sebenarnya adalah pemilik dari perusahaan merek makanan skala nasional. Sama seperti ayah Rai, namun ayahnya sudah mencapai tingkat internasional, sedangkan dia masih setingkat nasional.
Bagaimana ia bisa mengelola bisnis, padahal dia adalah seorang pegawai negeri? Simpel saja, dia menaruh nama anaknya sebagai nama pemilik perusahaan, namun diam-diam dia mengelola perusahaan itu. Jadi kesimpulannya adalah, anaknya adalah sekedar boneka.
Dia saat ini mempunyai 3 anak, yang paling tua yang jadi pemimpin boneka, yang kedua menjadi anggota DPR karawang, dan yang paling muda menjadi guru di sini. Anak ketiga inilah yang membawa Rai kemari. Dia adalah Pak Salim.
Kepsek menunggu Rai di kursinya, sambil memasang muka serius. Rai juga melihat muka Pak Salim menjadi serius, berbeda dari biasanya.
Rai duduk di kursi depan mejanya yang sudah disediakan. Suasana menjadi menegangkan, karena tak ada seseorang yang berbicara.
"Jadi... Apa kamu tahu kenapa kau dipanggil ke sini, Rai?" Kepala Sekolah memulai pembicaraan. Rai hanya memandangnya, menggeleng tak mengerti apa maksudnya.
"Salim, tolong jelaskan apa yang terjadi."
"Baik, Pak Kepala Sekolah." Dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah video kepada Rai.
"Biar ketebak, kamu pasti menyuruhku untuk mencari botol ini?"
"Iya."
Rai tahu video apa ini. Dia terkejut tapi tidak asing dengannya. Video ini adalah rekaman dari pembicaraan dia dengan Rega sebelum dia mengambil botol di kelas IPS. Dia terkejut dari manakah rekaman ini berasal.
Kepala sekolah kembali berbicara."Beberapa jam yang lalu, Pak Salim datang ke kantor ku. Dia bilang ada sebuah sesuatu yang harus aku tonton. Ternyata, itu adalah video kamu. Aku terkejut melihatnya. Itu sebabnya aku memanggilmu ke sini."
Rai tak bisa berkata apa-apa. Saat ini pikirannya penuh dengan tanda tanya.
"Saya diberi tahu oleh Pak Taufik. Dia bilang yang melakukannya memposting video ini di sosmed miliknya. Tampaknya dia tidak tahu akibat dari perbuatannya. Beruntung, kami sudah segera menghapus video ini sebelum menjadi viral," Sambung Pak Salim.
"Siapa yang merekam video ini?"
"Kami tidak tahu. Pak Taufik meminta hal ini untuk dirahasiakan dan akan menghukumnya sendiri." Pernyataan dari Kepala sekolah tidak membantu.
"Kenapa begitu? Bukannya pihak sekolah yang harus menghukumnya?" tanya Rai.
"Taufik adalah guru paling senior di sini. Lagipula masalah ini sudah cukup merepotkan, apalagi mengingat bahwa aku sedang sangat sibuk. Itu sebabnya aku membutuhkan dia." jelas kepala sekolah.
'Iya, sibuk mengambil duit bukan?' batin Rai.
"Kenapa kamu melakukan ini? Aku penasaran dengan motif mu?"
Rai tidak punya pilihan lain. Dia pun menjelaskan apa yang terjadi. Mulai dari awal hingga akhir.
"Kenapa kau tak minta guru saja?"
"Dia juga begitu awalnya," Kata Rai merujuk pada anak perempuan yang kehilangan botolnya itu."Tapi, kalian bilang tidak ingin ikut campur dalam urusan ini. Itu sebabnya dia meminta bantuan kita."
"Salim, apa itu benar?" tanya kepsek.
Pak Salim kelihatan khawatir."Iya, itu benar Kepala Sekolah. Saat itu kami memang sedang sibuk, sehingga tak punya waktu untuk ikut campur. Maafkan saya." Dia membungkuk meminta maaf.
"Alasan saja kamu, Salim! Jangan bilang pekerjaan jadi alasanmu, kamu sendiri selalu saja bersantai di belakang Sekolah!" Perkataan Kepsek menyindir telak Pak Salim
"Jujur saja. Aku kecewa denganmu, Rai. Padahal selama ini saya sudah senang, karena berkat kamu, para anak IPA dan IPS menjadi damai. Namun, tampaknya akan ada badai yang datang. Astaga, kukira masalah hidupku akan makin membaik, ternyata memburuk." Kepala Sekolah menarik jenggotnya frustasi.
"Hampir saja reputasi sekolah kita hancur. Untung saja kita dengan cepat mengatasi masalah. Aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika seandainya kita tak diberi tahu Pak Taufik," kata Pak Salim.
"Maafkan saya Kepala Sekolah. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
"Semoga saja begitu. Tapi tetap saja, kamu harus tetap menghukum mu."
"Hukuman? Apa hukuman saya?"
"Kau harus menyatukan kubu yang terpisah. Artinya, kamu harus bisa mendamaikan pihak IPA, IPS dan bahasa."
"Apa?!" Seru Rai dan Pak Salim bersamaan.
"Pak... saya tidak salah dengar bukan?" tanya pak salim ragu.
"Saya rasa saya mungkin sudah tuli pak," jawab Rai sambil mengorek telinganya.
"Tentu saja aku serius. Sekarang, tak usah banyak tanya dan lakukan saja apa yang ku suruh."
"Baik, Kepala Sekolah," jawab Rai ragu.
"Bagus. Sekarang, silahkan keluar dan kembali belajar."
Rai keluar dari ruang Kepala Sekolah. Saat dia keluar, dia bertemu dengan Pak Taufik. Mereka lalu saling Hadap-hadapan.
"Apa ini pembalasan mu kepada aku? Karena aku gagal dalam misi?"
Dia membetulkan posisi kacamatanya. "Aku bisa saja melakukannya, tapi tidak. Untuk apa aku melakukannya? Jika aku melakukannya, kita berdua yang akan rugi."
"Kenapa begitu? Bukannya kau punya pekerjaan lain?"
Dia menjawabnya dengan tersenyum. "Begini saja. Pekerjaanku itu sangat beresiko dan sebab itu, aku harus kerja di sini, agar tetap aman."
"Sebenarnya, apa pekerjaanmu itu?"
"Rahasia. Semoga terus beruntung ke depannya." Dia pergi meninggalkan Rai.
'Yah, tak banyak yang bisa digali dari dia,' batin Rai.
Saat Raj hendak ke kelasnya, ada pesan dari Rega. Dia bilang padanya untuk bertemu di gudang sebelah IPA 1, ini sesuatu yang penting katanya.
......***......
Saat bertemu di gudang. Dia sedang duduk santai di atas kursi kayu reyot.
"Kau baik-baik saja?"
"Yah... baik itu relatif menurutku, tapi ya, aku baik-baik saja."
"Ada masalah?" Rai mengambil kursi satu lagi dan duduk di sebelah Rega.
"Kamu ingat saat aku menyuruhmu mengambil botol milik seseorang dari kelas IPS. Kabarnya seseorang telah membocorkan pembicaraan kita di media sosial."
"Ya, aku baru saja diberitahu oleh Kepala Sekolah."
Rega mengangguk. "Jadi kau sudah tahu rupanya." Dia langsung menegakkan tubuhnya. "Kita setidaknya bisa bersyukur, karena setidaknya berita ini belum sempat bocor pada para anak-anak. Bisa dibayangkan bukan apabila mereka tahu yang terjadi."
Rega mengangguk. "Aku setuju."
"Jadi, bagaimana kita mengendalikan masalah ini?" tanya Rai.
"Yang sudah terjadi tidak dapat dibatalkan, kita harus mencari siapa yang sangat bodoh untuk membocorkan video itu ke sosmed." Dia bertanya pada Rai. "Kamu tahu siapa pelakunya?"
"Tidak. Pihak sekolah tidak ingin memberi tahu siapa pelakunya, dasar bededah."
"Begitu rupanya. Mari kita tebak saja." Rega mengusap dagunya.
Mereka pun berpikir tentang siapa yang kemungkinan jadi pelakunya.
"Rai, apakah pelakunya adalah dia." jawab Rega.
"Siapa?"
"Kau tahu siapa dia bukan?"
Rai pun langsung berpikir. "Oh... dia? Ah... mana mungkin." Dia menggeleng.
"Kenapa tidak? Dari semua orang, maka yang paling mungkin adalah dia bukan?"
Rai berpikir lagi. "Hmm... memang benar sih, tapi kita perlu bukti. Mari kita tanya pada para anak anak IPA. Siapa tahu mungkin ada yang melihat pelakunya."
"Ide bagus." Rega mengeluarkan ponselnya, lalu mengirim pesan pada grup whatsapp IPA.
"Aku sudah kirim. Aku bilang pada mereka untuk mengirim pesan pribadi padaku dan bertemu di belakang sekolah."
"Baik, mari kita tunggu siapapun itu." Rai dan Rega bangkit dari tempat duduk dan kembali ke kelas masing-masing.
Setelah sampai di kelas, Rai langsung berpikir tentang apa yang terjadi. Dia jelas tidak menduga kejadian ini.
'Apa yang baru saja terjadi? Siapa yang melakukannya? Dan yang lebih penting, kenapa dia melakukanya?' batin Rai sambil duduk merenung.
Orang-orang di sekitarnya langsung bertanya karena khawatir melihat Rai seperti begini.
"Kau tak apa-apa Rai?" tanya seorang murid cewek.
"Ya, apa kamu pusing?" sambung murid cowok di sebelahnya.
Rai sendiri tak memedulikan apa yang orang-orang sekitarnya tanya. Saat ini, ada yang lebih penting dari mendengar perkataan orang.
"Tidak. Aku tak apa-apa." Dia tersenyum palsu. Mencoba memberikan kesan bahwa dia baik-baik saja.
Orang-orang akhirnya pergi dan setelah mereka pergi, dia menghubungi Budi, untuk sekedar memastikan apa dia pelakunya. Mengingat dia bisa saja yang melakukannya, karena dia tahu soal apa yang Rai lakukan saat itu.
"Bud, kamu sudah dengar apa yang terjadi?"
"Apa yang terjadi?" Dia tak mengerti maksudnya.
"Kamu lupa? Kejadian itu."
"Kejadian apa sih? Bicara saja langsung."
"Kau lupa? Insiden pengambilan botol oleh aku."
"Oh, itu? Iya, aku sudah mendengarnya. kenapa memangnya?"
"Bukan kamu... Yang menyebarkan video itu bukan?" Kata Rai memastikan.
"Tentu tidak, lah!" Katanya tak percaya. "Aku memang tahu soal kejadian itu, tapi untuk apa aku merekam kejadian itu? Apa kau mencurigai ku?!"
"Tidak, hanya memastikan saja." Rai langsung menutup telepon.
......***......
Sore harinya, Rega mengiriminya pesan. "Rai, seseorang bilang telah melihat pelakunya. Temui aku di belakang sekolah." Tanpa banyak tanya, dia langsung pergi ke sana.
Saat sampai di sana, Rai melihat mereka berdua sudah menunggu. Saksi mereka adalah seorang anak kelas 10 IPA, yang bisa dilihat dari badge kain angka 10 di rompi nya. Dia membawa tas di punggungnya dan kamera polaroid yang digantung di lehernya.
"Silahkan tanyai dia Rai. Kau yang lebih pandai bukan." Rega mempersilakannya untuk menanyakan dia.
"Kamu saksinya?" Tanya Rai pada dia.
"Iya."
"Bisa ceritakan apa yang terjadi?"
Dia memulai cerita dengan menarik napas. "Saat itu, aku sedang mencari foto menarik di sekeliling sekolah — Tugas dari ekskul fotografi. Aku sedang berjalan di dekat gudang IPA 1, saat tiba-tiba, aku melihat seseorang sedang merekam isi dalam gudang dari jendela. Karena merasa itu menarik, aku memotret nya tanpa tahu apa apa. Setelah aku mendengar tentang kejadian itu, aku menjadi ketakutan. Aku takut mungkin orang itu akan mengancam ku karena foto itu." Dia bergidik ketakutan.
"Lalu, kenapa kau mau memberikan foto ini?"
"Aku awalnya tidak mau, tapi..."
"Kamu merasa terbebani bukan? Seolah ada hal yang salah tapi kamu tidak bisa melakukan apa-apa?" Tebak Rai.
"Iya, kak. Entah kenapa, aku sebenarnya tidak percaya dengan kalian, tapi, lebih baik begini bukan?"
"Baiklah, bisa kau tunjukkan fotonya?"
"Ini." Anak itu mengeluarkan foto itu dari dalam tasnya. Rai melihat seksama foto itu dan setelah melihat pelakunya, dia tidak terlalu terkejut.
"Hei Rega, lihat foto ini"
"Sebentar." Rega sedang sibuk menyapu dedaunan di jalan dengan kakinya.
"Ayolah, jangan buang waktumu percuma seperti begitu. Nanti juga bakal kotor lagi."
"Ayolah, biarkan aku sebentar saja." Dia ngotot untuk tetap melanjutkan itu. "Sabar sebentar. Aku sebentar lagi selesai."
Rai hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Ada-ada saja," katanya pelan.
Setelah beberapa saat, dia akhirnya bergabung dengan Rai.
"Lihat ini." Rai menunjukkan foto itu padanya.
"Hmm..., yah, ini terlalu mudah bukan?" Kata Rega sambil tersenyum tipis.
"Ya, betul." Aku mengangguk setuju. "Kau tak masalah bila kita mengambil foto ini?"
"Ya silahkan. Lagipula, foto itu sudah menghantuiku seharian ini. Aku senang karena berhasil lepas darinya," katanya tertawa.
"Bagus sekali. Terima kasih atas kerja samanya." Aku memasukkan foto itu ke kantong bajuku. "Kau boleh pergi."
Dia langsung pergi dari sini.
"Jadi, apa rencana kita sekarang?" Tanya Rega.
"Mudah sekali. Kita beri dia kunjungan kecil, kita lihat apa reaksinya," kata Rai sambil tertawa kecil. "Apa kau melihatnya? Aku tak melihatnya seharian ini."
"Tidak. Aku juga tak melihatnya seharian ini."
Rai menggeram. "Dia pasti kabur. Dia tahu soal ini dan kabur begitu saja."
"Ayo, kita pergi ke rumahnya. Mungkin dia ada di sana," kata Rega.
"Ayo."
Mereka langsung pergi dari belakang Sekolah, menuju ke tempat parkir. Dari situ, Rai tak tahu, bahwa kedepannya, usahanya untuk mencari Families akan lebih rumit.
Lantas, siapakah orang yang ada di foto itu? Orang itu tak lain adalah orang yang mereka berdua kenal dengan baik. Bahkan mereka juga bertemu dengannya beberapa hari yang lalu di gudang IPA 1. Dia adalah Yusuf, sang pembenci nomor satu Rai.