Rai

Rai
Anak Sekolah part 3



SMA 66 karawang. Sekolah yang usianya bisa dibilang cukup tua, karena sudah berdiri selama 60 tahun lebih. Sekolah ini terletak tepat di pusat pemerintahan Kabupaten Karawang. Ada kira kira 4 gedung di sini. Satu adalah gedung tempat kantin. dua adalah gedung kelas. Satu milik anak IPA dan satu lagi milik anak IPS dan bahasa. Gedung terakhir adalah kantor guru. Gedung kantin menghadap ke arah timur, sedangkan gedung guru menghadap ke arah barat dan gedung siswa saling berhadapan ke utara dan selatan.


Ada sekitar 960 murid yang bersekolah di sini. Rinciannya adalah 452 murid laki-laki dan 508 murid perempuan.Mereka semua bisa dibilang adalah orang orang terpilih dari seluruh karawang. Selain itu, sekolah ini juga mempunyai 40 guru dan 30 kelas. 30 kelas itu adalah: 18 kelas IPA, 9 kelas IPS dan 3 kelas Bahasa. mereka juga memiliki 5 laboratorium dan 1 perpustakaan.


Sekolah ini bisa dibilang sekolah top, terlepas dari perseteruan yang terjadi antara anak IPA dan IPS. Untuk saat ini, level mereka masih bisa dibilang wajar. Sejauh ini, mereka masih menjaga sikap mereka di depan guru dan tidak ada laporan tentang terjadinya Perang antar kubu dilaporkan.


Namun, bukan itu juga masalah di sini. Rai telah menyelidiki lebih dalam soal tempat ini. Dia sadar bahwa ada beberapa hal yang janggal di tempat ini, jadi dia memutuskan untuk berbuat sesuatu yang nekat. Dia memasukkan alat peretas secara diam-diam ke dalam komputer di kantor kepala sekolah.


Setelah sampai rumah, Rai bersama dengan seorang hacker yang dia sewa langsung menyelidiki isi dalam komputer itu.


"Jika aku boleh tahu, kenapa kau ingin menyelidiki soal ini?" tanya hacker itu.


"Tidak ada. Aku hanya penasaran saja. Sekarang cepat lakukan pekerjaanmu," jawab Rai santai.


Hacker itu kebingungan dan hendak bertanya, tapi segera batal setelah Rai melotot dengan tajam ke arahnya.


Mereka akhirnya mulai meretas histori transaksi yang ada dalam komputernya. Terlihat bahwa tampaknya kepala sekolah telah menerima banyak uang dari seseorang.


"Uang apakah ini?" kata Rai penasaran. "Bisakah kau lacak dari mana nomor rekening ini?"


"Eh? Bisa saja sih. Tapi, bukankah itu melanggar hak privasi orang lain?" katanya ragu.


"Aku tak peduli. Aku takkan mencuri uang mereka."


Setelah beberapa hari, akhirnya sang hacker berhasil melacak nomor rekening itu.


"Apa-apaan? Nomor ini adalah nomor milik orang tua murid?" kata Rai sambil membaca kertas hasil analis.


"Brengsek! jadi dia menerima uang suap dari orang tua?" maki Rai.


Rai membuat teori tentang kemungkinan yang terjadi. Mungkin yang terjadi adalah, kepala sekolah telah mengirim blackmail kepada para orang tua, agar mereka bisa membayar ke rekening pribadinya.


Ternyata selama ini, kepala sekolah telah menerima uang dari hasil memeras para orang tua. Sungguh kurang ajar dan tak tahu malu.


Biar begitu, Rai memilih untuk tidak mengurusi masalah ini, karena dia saat ini memilih untuk fokus mencari geng Families.


Rai adalah seorang dengan jiwa keadilan tinggi. Meski begitu, ia terkadang lebih suka untuk mendiamkan sebuah masalah saja, jika itu tidak penting.


......***......


Setelah Rai membantu kedua anak IPS itu, dia tahu bahwa membantu dua orang saja tidak cukup. Jadi, akhirnya dia kembali mencari anak IPS lainnya untuk dibantu. Dengan cara ini, maka reputasinya akan cepat naik diantara para anak IPS.


Awalnya, Rai hanya sekedar membantu mereka mengerjakan tugas, Lalu dia mulai membantu mereka melakukan tugas tugas kecil lainnya.


Secara perlahan lahan tapi pasti, reputasinya mulai meningkat diantara mereka. Anak-anak IPS terus membicarakan namanya di sekolah.


"Hei, kau kenal tidak seorang anak IPA yang namanya adalah Rai?" Tanya anak IPS ke temannya yang sedang berjalan bersamanya.


"Iya, dia orang yang baik ya?"


"Iya, aku pikir anak IPA adalah sekumpulan bedebah. Sekarang, aku mungkin harus memikirkannya lagi."


Fenomena ini muncul dimana-mana. Namanya disebut di kelas, kantin, bahkan toilet juga. Namanya juga ikut terkenal diantara anak-anak IPA dan Bahasa yang penasaran seperti apa dia.


Berkat membantu mereka, akhirnya mereka mulai menerima keberadaan ku diantara mereka. Aku juga berhasil menjadi dekat dengan para petinggi kubu IPS. Selain itu, mereka juga memperbolehkan aku masuk ke wilayah mereka sesuka hati. Tempat mana saja, kecuali kelas mereka.


Hubungan Rai juga semakin dekat dengan anak-anak IPA. Dia mulai bergaul dengan para petinggi di kubu IPA. Dia mengerjakan tugas tugas mereka, mulai dari yang penting hingga remeh.


Satu-satunya kubu yang tak Rai dekati adalah kubu Bahasa. Rai sebenarnya juga ingin mendekati mereka, tapi mengingat bahwa mereka pihak netral, mereka jelas tak ingin terlibat apapun dengan anak IPA dan IPS.


Selama semester pertamanya di sekolah ini, dia mulai mengumpulkan informasi tentang keberadaan Families. Sejauh ini hasilnya masih nihil, tapi aku akan terus berusaha.


Untuk semester pertama ini, nilainya tergolong bagus biar hanya duduk di ranking tiga, karena dia tak ingin menarik perhatian banyak orang.


Sekarang sudah memasuki semester kedua, sudah saatnya dia kembali melanjutkan misinya untuk mencari Families.


...***...


17 Januari 2022


Sekarang sudah satu minggu semenjak semester dua dimulai. Rai sekali lagi kembali mencari geng Families. Karawang adalah wilayah yang sangat luas dan karena mereka tergolong sebagai geng baru, masih banyak yang tidak terlalu kenal dengan mereka.


Hari itu, pada sore hari, Rai baru saja menyelesaikan sebuah tugas yang diberikan oleh ketua IPS yang bernama Diaz dan bermaksud untuk memberikannya pada dia. Tugas itu hanya sekedar tugas sekolah biasa. Dia meminta bantuannya karena tugas ini harus dikumpulkan besok dan dia bilang bahwa dia lagi sibuk.


Saat Rai memasuki wilayah IPS, ada dua anak cewek IPS yang sedang mengobrol asik sambil bersandar di dinding.


Rai mencoba bertanya pada mereka apakah mereka melihat Diaz.


"Permisi, boleh aku bertanya?"


Mereka langsung menoleh ke arahnya.


"Aku ingin bertanya, apa kalian melihat Diaz?"


Salah satu dari mereka mengatakan.


"Aku tidak tahu, tapi, siapa kamu?"


Rai hanya diam saja.


"Hei, kalau ditanya jawab dong."


Rai pun tersadar dan melihat ke arah cewek itu lagi.


"Ah, maaf. Aku sedang tidak konsentrasi."


"Tunggu, kamu mencari Diaz bukan?" kata orang yang di sebelahnya.


Rai langsung menoleh.


"Diaz sudah pulang. Kenapa ingin menemuinya?"


'Jadi dia sudah pulang rupanya. Pantas saja aku cari dari tadi tak ketemu," batin Rai.


"Ah... tolong, bisa kau berikan buku ini ke Diaz?" Rai memberikan buku itu padanya.


"Tentu saja. Berikan bukunya ke aku," katanya menjulurkan tangannya.


Sementara, temannya yang satu lagi terlihat kebingungan.


"Terima kasih." Rai langsung pergi.


"Sama sama."


Setelah Rai pergi, temannya itu bertanya.


"Siapa dia?"


"Dia anak baru. Namanya Rai Rahman. Dia sudah dikenal oleh seluruh anak sekolah di sini sebagai seorang yang suka menolong."


"Rai Rahman? Hmm... namanya sepertinya tidak asing?" Katanya mengelus dagunya.


...***...


Esok harinya, pada jam istirahat kedua, Rai sedang lagi bersantai di kantin anak bahasa. Satu hal yang enak dari kantin bahasa adalah tempat ini serasa kayak di kafe, lengkap dengan kursi, meja dan parasol. Ini juga adalah tempat bagi orang-orang yang ingin lari dari perdebatan antara kubu IPA dan IPS.


Rai saat ini sedang duduk santai sambil menikmati segelas es teh. Memang sekolah ini tak main main dalam jumlah fasilitas.


Saat dia sedang menyeruput minumannya, seseorang tiba-tiba datang dihadapannya. Rai kenal dengan dia. Dia adalah anak cewek yang kemarin kebingungan melihatnya. Tingginya kurang lebih 165 dan berambut coklat. Ciri khas dari dirinya adalah matanya yang berwarna hijau zamrud yang berkilau.


"Halo, apa kabarmu?" katanya.


"Baik saja." Rai menyeruput teh dengan sedotan. "Apa mau mu?"


"Tidak ada. Aku hanya penasaran saja dengan kamu, apalagi aku belum pernah bertemu denganmu."


"Heran juga. Aku pikir semua orang di sini sudah kenal saya. Bagaimana kau tak mengenalku?" katanya sambil kembali menyeruput minumanku.


"Yah... aku bukan tipe orang yang sering update informasi. Jadi terkadang, aku mungkin kurang peka terhadap perubahan yang terjadi."


"Begitu rupanya. Silakan duduk saja," katanya mempersilahkan dia duduk.


Dia pun duduk di kursi sebelahnya.


"Salam kenal. Namaku Julia." Dia memperkenalkan dirinya.


"Namaku Rai." Mereka berdua saling menjabat tangan.


"Jadi, Rai. Apa pendapatmu tentang SMA 1?"


"Pendapatku? Hmm... itu pertanyaan yang menarik. Biar aku pikir dulu." Aku berpikir sejenak.


"Yah... kurang lebih ini adalah sekolah yang bagus. Ada banyak sisi negatifnya, tapi banyak juga sisi positifnya. Kurang lebih begitu."


Dia pun mengangguk.


"Tidak juga."


"Bagian mana yang tidak kau setujui?" Tanya Rai.


"Itu... Bisa dibilang rumit."


Mereka pun diam sejenak.


"Yah, senang berkenalan denganmu Julia, tapi aku ingin kembali ke kelas. Sampai jumpa" Rai pun berdiri dan pergi dari situ.


"Sebelum pergi, bisakah kau menolongku?"


Rai pun berbalik ke arahnya.


"Tentu saja. Apa mau mu?"


"Aku ada keperluan keluarga siang ini. Aku ingin mengambil surat izin keluar sekolah di resepsionis dan aku perlu bantuan mu."


"Kenapa memangnya? Apakah kau tidak bisa melakukannya sendiri?" Rai bertanya dengan penasaran.


"Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah, meja resepsionis itu berada di wilayah anak IPA. Aku takut kalau sendiri."


'Benar juga. Meja resepsionis itu ada di wilayah IPA. Perseteruan ini sampai membuat mereka membagi wilayah mereka. Tampaknya, aku harus menolongnya.


"Benar juga sih. Ayo, ikut aku." Rai mengantarnya ke meja resepsionis.


Saat mereka memasuki gedung, mereka harus diperiksa terlebih dahulu, untuk memastikan tidak membawa alat-alat mencurigakan, karena dulu pernah ada seorang anak ips masuk sini dan menaruh petasan di kelas 11 IPA 3, hanya untuk memprovokasi mereka. sejak itu, pemeriksaan menjadi wajib dilakukan, bagi para murid.


Mereka membiarkan Rai, karena dia anak IPA, tapi mereka harus memeriksa Julia, karena dia anak IPS. Rai menjelaskan pada mereka bahwa dia tak perlu diperiksa. Sayangnya, mereka menolak dan bilang kalau ini adalah hal yang wajib kalau kamu dari kubu lain yang ingin masuk ke gedung kubu lain.


Setelah selesai diperiksa, mereka melanjutkan perjalanan ke meja resepsionis. Saat mereka mencapai meja resepsionis, mereka bertemu dengan anak IPA yang bernama Yusuf. Dia memiliki tinggi 170, rambut kuning dan mata hijau.


Rai kenal baik dengan Yusuf, karena sering muncul sejak awal dia di sini,namun dengan konotasi yang buruk. Sejak dari pertemuan pertama mereka, dia selalu tidak suka dengan Rai. Usut punya usut, dikabarkan bahwa Yusuf kemungkinan dengki dengan Rai, karena berstatus sebagai pendatang, namun lebih dikenal daripada dia, meski saat ini, itu hanyalah spekulasi semata.


'Sial, itu dia lagi. Kenapa dari semua orang yang kutemui hari ini harus dia,' batin Rai sambil mencoba menghindari kontak mata.


"Wah wah. Rai, senang bertemu denganmu! Siapa itu? Budak mu?" katanya dengan nada mengejek.


Rai dan Julia hanya diam saja, meski terlihat bahwa mereka merasa terhina dengan kata itu.


"Jangan dengarkan dia. Dia hanyalah seorang pecundang," bisik Rai sambil terus melihat ke depan.


Julia pun mengangguk.


"Hei, Rai! Apa kamu sekarang juga jadi tuli, hah?" Dia tertawa mengejek, tapi aku tak memedulikannya.


mereka akhirnya sampai di meja resepsionis.


"Maaf Bu. Temanku ingin mengambil surat izin keluar sekolah," katanya ke ibu yang bertugas menjaga resepsionis.


"Baiklah. Silahkan isi kertasnya." Dia lalu menaruh kertas itu di atas meja.


"Hei, Rai. Lihat ini." Dia menggoyangkan pantatnya di hadapan Rai. Membuat semua orang yang ada di sekelilingnya melihatnya dengan jijik.


'Orang ini memang gila. Dia tak peduli biarpun ibu meja resepsionis itu jijik melihatnya. Dia hanya ingin melihatku kesal sekali saja, karena selama ini aku terus merendah padanya,' batin Rai.


Yusuf terus berusaha segala cara untuk memancing perhatiannya, tapi Rai tidak peduli dengan itu.


"Rai, siapa sih orang itu? Dia membuatku terganggu," bisik Julia pada Rai.


"Sabar saja. Jangan pedulikan orang seperti begini. Dia hanya mau mencoba membuatku kesal."


Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya selesai.


"Baiklah. Ayo kita segera pergi. Aku akan mengantarmu ke depan gedung IPS." Rai mengantar Julia pergi.


'Sejujurnya aku tak terlalu ingin mengantarnya. Aku hanya ingin lepas dari kunyuk yang terus menganggu ku ini,' batin Rai.


Saat mereka pergi, Yusuf semakin emosi karena dia tak diperhatikan. Dia lalu mendorong Rai sampai jatuh, yang membuat Julia juga ikut terjatuh karena dia ada depannya.


"Hahaha....Apa kau senang dengan itu?!" Dia tertawa puas melihat itu.


Rai hanya diam saja, lalu membantu Julia berdiri, meski Yusuf terus memprovokasi nya.


"Kau tak apa apa?" tanyanya.


"Iya." Dia membersihkan seragamnya.


"Perubahan rencana. Segeralah pergi dari sini. Jika penjaga itu menanyai mu lagi, bilang tanya saja pada aku. Kau paham?"


Dia pun mengangguk dan langsung pergi.


"Hei, Yusuf!" Kata Rai dengan tatapan dingin.


"Apa?" Yusuf yang melihat itu langsung kaget.


"Ayo, mari kita bertempur di lapangan."


"Apa? Sekarang!?"


"Nggak, bulan depan. YA SEKARANG LAH!!!" Rai kelihatan sangat emosi. Tampaknya, dia sudah tidak tahan lagi terus diperlakukan begini.


Dia pun kaget, tapi dia mengiyakan keinginannya. Dia terlihat senyum, Tampak percaya diri bisa mempermalukannya.


'Ada-ada saja. Kau pikir bisa mengalahkanku semudah itu? Kita lihat saja nanti,' Batin Rafi sambil menggerutu.


...***...


Mereka akhirnya bertemu di lapangan. Rai memutuskan untuk bertarung di samping pojok lapangan, tepat di bawah pohon asam terkenal yang jadi ikon di sekolah ini. Dia melihat sekeliling untuk memastikan kondisi.


'Ada banyak orang di sini. Bagus, jadilah penonton ku, wahai rakyat SMA 66,' batin Rai sambil tersenyum tipis.


"Akhirnya Tiba juga waktunya, Rai!" Dia tertawa terbahak bahak.


"Iya, tiba juga waktunya, Yusuf." Rai tetap berpose tenang.


"Bersiaplah! Akan aku hancurkan dirimu!" Dia menunjuk ke arahku dengan nada kejam.


Rai tak menjawabnya, dan terus memasang ekspresi tenang.


"Kenapa hah? Apa kamu Ketakutan? Huh, dasar pengecut!" Dia memutar mutar jari telunjuknya di dahi ku.


Rai hanya diam saja, membiarkan Yusuf terus berbicara.


"Hoi... Hoi... Kalau ditanya jawab dong."


Rai masih diam.


"Baiklah, kalau begitu. Akan kubuat kamu bicara!" Dia pun berteriak sambil mengarahkan tinjunya ke arah Rai.


"Kekuatan waktu! hentikan waktu!" Sebelum tinju itu mengenainya, Rai langsung menghentikan waktu.


Dia pun mendekatinya lalu berbicara. "Astaga, mukamu memang sangat menyebalkan, bahkan saat kamu tidak bergerak sekalipun."


Tanpa buang waktu, Rai langsung memukul wajah Yusuf dengan sangat kencang. Efeknya memang tidak kelihatan, namun begitu waktu kembali berjalan, segalanya mulai kelihatan jelas.


Dia langsung terpental jauh — berteriak kebingungan saat dalam keadaan terpental.


'Mustahil! Apa yang baru saja terjadi?!' Batin Yusuf.


Dia akhirnya tersungkur di tanah dan orang-orang yang berada di sekeliling menjadi kebingungan melihat Yusuf yang tiba-tiba terpental.


Dalam keadaan dirinya yang kesakitan, Rai langsung pergi meninggalkannya dalam rasa sakit dan malu.


'Setidaknya, semoga itu jadi pelajaran bagimu. Ada-ada saja.' Rai memperbaiki posisi jam tangannya yang bergeser ke arah kiri.


Sementara itu, tanpa sadar, ternyata dia telah diawasi lagi. Orang yang mengawasinya adalah Julia. Dia mengamati Rai dari jendela lantai dua gedung IPS. Setelah itu, muncul seseorang dari sebelahnya. Seorang pria berseragam IPS dengan rambut kuning.


"Jadi, apa pendapatmu?" tanya orang di sebelahnya.


"Dia sangat kuat. Aku tak menyangka dia berkembang secepat itu," kata Julia.


"Dia jelas memiliki tekad yang kuat, Julia. Tekadnya jauh melebihi perkiraan kita. "


"Baiklah, aku sudah melihat cukup banyak. Mari kita tunggu saja sampai waktunya." Julia langsung pergi meninggalkan orang itu.


"Oh ya." Julia berhenti lalu bertanya. "Apa kamu sudah tahu lokasi mereka?"


"Belum, tidak mudah untuk mencari mereka di tempat seluas ini."


"Cih, baiklah, akan saya bantu kamu." Mereka akhirnya berpisah.