
14 Februari 2019
Setelah mendengar bahwa Families ada di sini, Rai semakin bersemangat untuk mencari mereka. Memang beberapa saat terakhir ini, dia hampir putus asa mencari mereka. Dia hampir saja berpikir untuk menyerah kedua kalinya.
'Sekarang, keberuntungan ada di pihak ku. Akan saya cari mereka sampai ujung Karawang kalau perlu,' batinnya.
Sekarang yang jadi masalah adalah cara mencari mereka. Dia tak mungkin bertanya pada para geng setempat, apalagi dengan risiko bahwa mereka adalah komplotan dengan mereka.
Saat dia mengingat kembali kejadian itu, dia menyadari bahwa saat itu orang yang menyiksanya, Ernest memakai ikat kepala dengan angka 10 dalam tulisan Romawi. Dia sempat meneliti soal angka 10 romawi yang ada di kepala Ernest. Dari melihat geng lain yang ada di kota ini, tampaknya itu semacam pangkat bagi mereka. Nomor 10 itu adalah posisi dia sebagai pentolan di geng Families, yaitu nomor 10 dari atas.
Mengerikan membayangkan bahwa nomor 10 sudah sangat kuat, apalagi bila pangkatnya semakin tinggi. Rai tak boleh meremehkan mereka, apalagi setelah dia tahu bahwa mereka juga kemungkinan besar pengguna kekuatan.
Beberapa hari setelah kejadian "mimpi indah", siang hari, dia sedang berjalan jalan di beranda kelas, sambil melihat lihat ke arah lapangan. Harus diakui, bahwa tempat ini memiliki lingkungan yang sangat asri terlepas dari kelakuan gurunya.
Di lapangan ini terdapat berbagai macam tumbuhan, mulai dari pohon mangga, jambu dan yang paling terkenal adalah pohon asam raksasa yang menjadi ikon dari sekolah ini.
"Sudah kubilang bukan. Pergi dari sini, kembalilah ke sarangmu itu!" Baru saja dia bersantai, tampaknya sudah ada keributan saja. Terdengar ada suara bentakan tak jauh dari sini.
Suara itu berasal dari ujung gedung IPA, tampaknya ada yang sedang bertengkar. Rai segera berlari untuk melihat apa yang terjadi.
Betul saja, ada dua orang yang tampaknya sedang terlibat pertengkaran. Satu dari mereka adalah anak IPS dan satunya lagi adalah anak IPA, namanya adalah Budi. Dia adalah salah satu pentolan dari kubu IPA. Dia memiliki tinggi 177 cm, rambut putih dan mata hitam.
Dia juga adalah seorang fanatik dari kubu IPA, yang aku pikir sebagai hal yang bodoh. Jika melihat ada anak IPS, dia sudah seperti melihat NAZI Jerman bangkit kembali dari kubur untuk menyerang Indonesia.
"Bertengkar lagi?" Kata Rai pada dia
Melerainya yang masih terus bertengkar dengannya, meskipun lawannya sudah pasrah.
"Rai? Sedang apa di sini?" Dia langsung melirik ke arahku.
"Menikmati jalan jalan, sebelum aku mendengar keributan dari sini," katanya dengan sedikit sinis.
"Dia yang mulai. Salahkan saja dia!" Dia menunjuk ke arah anak IPS tadi.
"Astaga! Kamu memang tak berubah." Rai menggelengkan kepala. Dia melihat bahwa anak IPS ini tampaknya sudah pasrah dibegitukan oleh Budi.
"Sudah, pergi sana." Rai melambai, menyuruh anak IPS itu pergi. Dia langsung pergi dengan cepat.
"Kamu tak harusnya melakukan itu. Jangan terlalu lembek dengan anak IPS!" Dia kecewa karena Rai melepasnya begitu saja.
"Bukan karena aku lembek. Aku hanya tidak mau membuat lebih banyak musuh. Tidak seperti mu, harga diriku tak setinggi kamu," jawab Rai dengan sinis.
"Huh, terserah!" Katanya tak terima tapi tidak protes.
Saat Rai hendak pergi, Budi memanggilnya. "Hei, Rai. Begini saja..., bisa kau bantu aku?" Pintanya.
Rai tak bisa menolak permintaan itu. "Baik. Sebutkan apa itu?"
"Bagaimana kalau kita jahili saja anak IPS. Cari sesuatu yang mungkin bisa membuat mereka kesal sendiri. Pasti lucu," katanya tertawa terkikik-kikik.
"Tunggu dulu. Jadi kau mau aku mengerjai salah satu dari anak IPS?"
"Iya." Dia mengatakannya sambil tertawa. Sungguh tak berperasaan sama sekali. "Bukankah itu lucu?"
"Kalau kubilang tidak?"
"Akan saya bilang bahwa kamu yang mengambil botol itu di kelas IPS."
"Dari mana kamu tahu?" Rai tak terkejut, tapi penasaran.
"Aku tak sengaja menguping pembicaraan kamu dengan Rega. Dari situ aku dengar kalau kamu yang mengambil botol itu."
'Ada saja sih orang yang terus menguping tentang urusanku. Tak bisakah mereka mencari orang lain untuk dicari tahu rahasianya?' Batin Rai sambil menggeleng.
"Tampaknya itu adalah ancaman bagiku bukan? Baiklah, akan aku lakukan untuk kali ini, paham." Rai memilih untuk mengalah daripada harus membuat keributan baru.
" Bagus sekali. Panggil aku kalau sudah selesai." Mukanya berseri mendengar itu.
"Bagaimana aku melakukannya?"
"Terserah kamu. Kamu yang melakukannya, bukan aku."
Rai akhirnya langsung pergi. Saat dia pergi untuk melakukan tugas itu, dia mengomel ngomel dalam hati. Peraturan sekian tentang pertemanan, "Jangan pernah berteman dengan seorang fanatik, atau orang gila lainnya. Nanti kamu jadi Ikut-ikutan dengan mereka."
Rai tahu bahwa saat ini, pohon mangga di sekolah ini sedang ditutup, karena wabah ulat bulu. Dia akhirnya berpikir untuk menggunakan ulat bulu ini untuk melancarkan aksinya ini.
Dia langsung pergi ke pohon mangga yang sekarang ini ditutup dengan garis pembatas. Dia melihat ke sekeliling untuk memastikan keadaan.
Lalu saat merasa aman, dia langsung menggunakan kekuatan penghenti waktu dan secara diam-diam mengambil ulat bulu itu. Dia menggunakan tusuk sate bekas yang dia temukan tergeletak di lapangan dan memasukkan salah satu dari ulat bulu itu ke dalam kantong plastik.
Setelah selesai, dia berpikir untuk mencari siapakah target yang tepat.
'Aku bisa saja mengajak anak IPS untuk mengobrol, tapi aku tak terbiasa dengan interaksi sosial semacam itu. Meski aku sering membantu mereka, aku kurang dekat secara sosial dengan mereka,' batinnya.
Dia akhirnya pergi ke gedung IPS untuk memikirkan cara selanjutnya. Tepat saat itu, sekelompok anak IPS sedang ramai ramai berjalan di beranda. Rai berpikir ini kesempatan yang bagus, karena takkan ada yang sadar kalau ada yang memasukkan plastik ini ke dalam celana salah satu dari mereka.
Rai berjalan ke arah mereka lalu berpura-pura terjatuh, yang membuat mereka juga terjatuh.
"Maaf." Rai Membantu mereka berdiri.
"Tidak apa-apa." Kata salah satu dari mereka sambil menggapai tangan Rai.
Saat mereka lengah, dengan cepat, Rai memasukkan ulat bulu itu ke kantung salah seorang dari mereka. Mereka tak sadar dan terus melanjutkan perjalanannya.
Rai langsung menelpon Budi untuk melaporkan keberhasilan tadi.
"Bud, aku sudah melakukan apa yang kau minta. Jangan bilang siapa-siapa tentang itu."
"Baiklah. Terima kasih, Rai. Tenang saja, rahasia aman bersamaku," katanya sambil tertawa.
"Semoga tertawamu berarti iya." Rai langsung menutup panggilan.
Saat dia baru mau pergi, sesuatu menangkap perhatiannya. Tampak ada seseorang yang aku pernah kenal. Dia adalah Dimas, salah satu pentolan dari geng Families. Rai kenal dengannya , karena dulu saat masih di jakarta, dia sering melihatnya menempel dengan Dario. Dia memiliki tinggi 180 cm, Rambut kuning dan mata biru.
Satu fakta bahwa sebenarnya dulu, dia, Dario dan Dimas berasal dari sekolah yang sama. Mereka bertiga adalah teman seangkatan meski Rai tidak terlalu menganggap Dario dan Dimas sebagai teman karena posisi mereka.
'Apa yang dia lakukan di sini? Tampaknya dia bersekolah di sini. Sungguh suatu kejutan bisa menemukan salah satu anggota geng mereka di sini,' batin Rai terkejut.
Saat ini dia sedang mengobrol dengan temannya, lalu secara tiba-tiba, dia mengangkat telepon di kantung celananya. Tampaknya pembicaraannya sangat serius, yang dapat dilihat dari raut wajahnya. Apa kira-kira yang dia bicarakan?
Beberapa saat kemudian, dia menutup teleponnya dan bilang ingin menemui seseorang. Temannya langsung mengiyakan.
...***...
Dia pergi ke belakang sekolah. Tempat ini adalah tempat paling sepi karena tidak ada apa, selain selokan kering dan puntung rokok dari para anak-anak bandel yang merokok diam diam di sini.
Tempat ini bukan pertama kali Rai datang ke sini. Dulu saat dia pernah memata-matai pacar atau mungkin sudah jadi mantan pacar Diaz, dia melakukannya di sini.
Setelah sampai di tengah-tengah sini, dia berhenti. Rai langsung bersembunyi di balik pilar yang menempel pada tembok, beberapa meter dari dia. Dia merogoh sesuatu dari kantong bajuku. Benda ini adalah semacam kelereng besi, yang sebenarnya merupakan alat penyadap yang pernah dia gunakan sebelumnya juga.
Alat ini sebenarnya digunakan untuk menguping tentang pembicaraan yang mungkin mengarah pada Families. Tapi, tampaknya Rai menggunakan alat ini juga untuk kebutuhan lain. Dia melemparnya secara lembut agar dia tak tahu dan mendarat tepat di kaki dia.
Selama beberapa menit, dia hanya diam saja. Tampaknya sedang menunggu seseorang yang tadi dia sebut ke temannya itu.
Dengan tiba-tiba, dia melihat ke arah Rai dan memasukkan tangannya ke dalam kantong celana — Mengambil sesuatu. Rai langsung bersiap-siap untuk kabur jika sesuatu terjadi.
Ternyata dia mengeluarkan bungkus rokok dan pemantik api. Dia menaruh rokok itu di mulutnya dan menyalakan nya. Rai Hampir saja, mengira dia mau melakukan sesuatu.
Tak lama kemudian, seseorang muncul dari belakangnya. Dia cewek berambut coklat pendek dengan mata hijau zamrud, dia adalah Julia.
'Mau apa dia di sini? Apakah dia orang yang disebut tadi olehnya?' Batin Rai.
Hal yang berikutnya Rai lihat, adalah dia mengambil paksa rokok Dimas dan mematikannya dengan jarinya, hebat betul.
"Kamu sudah gila? Ini masih di sekolah!" Katanya memarahinya.
"Hei, aku tak bisa menahannya. Aku juga butuh penenang stress." Dia tak terima, tapi setelah melihat wajah Julia yang serius, dia akhirnya mengalah.
"Baiklah, aku takkan melakukannya lagi." Dia lalu membuang bungkus rokok di kantongnya ke tempat sampah. Dia tampak kesal karena dilarang merokok olehnya.
"Jadi, kenapa kita ke sini, Julia?"
"Dia mengikuti kita bukan?" Kata Julia ke arah Rai bersembunyi.
"Apa?" Dimas melihat ke arah Rai dengan bingung. Tampaknya mereka tahu bahwa Rai ada di sini.
'Ini tidak baik,' batin Rai menyeringai.
"Ayo, kita samperin dia," kata Julia.
"Tapi kita...," Julia tidak mendengarkan Dimas dan langsung pergi ke tempat Rai bersembunyi. Mau tak mau, Rai langsung menggunakan kekuatan penghenti waktu dan segera kabur.
"Loh? Kemana dia pergi?" Dia melihat ke tempat Rai bersembunyi dan melihat tidak ada siapa-siapa lagi di sana.
Rai sudah keluar dari belakang sekolah, sekarang dia berada di dalam gedung IPS lantai 1. Meski begitu, dia masih dapat mendengar suara mereka dari alat penyadap yang masih menyala.
"Apa yang kau maksud adalah dia?" tanya Dimas.
"Menurutmu siapa lagi?" Jawab Julia dengan tatapan tajam ke arahnya. "Ya sudah, lebih baik kita bicarakan hal lain saja."
Mereka akhirnya memutuskan untuk mulai berbicara.
"Aku berhasil menemukan nomor 9 dan 8. mereka saat ini bersekolah tepat di sini."
"Benarkah! Apa kau tahu namanya?" Dimas terdengar penasaran.
"Tidak, aku belum tahu. Aku hanya tahu bahwa mereka kelas 12 di sekolah ini."
"Siapa yang mengatakan itu?"
"Sumber terpercaya aku. Kau tahu siapa dia."
'Nomor 9 dan 8? Apa maksud dari angka yang dia sebutkan tadi? Mereka tampaknya juga tak menjelaskan secara langsung. Aku harus mendengar lebih lanjut,' batin Rai.
"Seberapa kuat mereka berdua?" Tanya Dimas.
"Tidak pasti, tapi dia jelas memiliki Otoritas lebih tinggi ketimbang nomor 10."
"Oh ya, apa kamu dengar apa yang terjadi pada nomor 10?" Kata Dimas tertawa. "Dengar-dengar, dia telah dihajar orang tak dikenal."
"Ya, orang itu memang bodoh. Alasan dia bisa menjadi pentolan adalah karena kekuatannya."Jawab Julia dengan dingin.
Menilai dari pembicaraan mereka, tampaknya nomor 9 dan 8 yang dimaksud adalah pentolan Families. Namun, kenapa dia membicarakan mereka. Ada sesuatu yang Rai tidak ketahui.
"Tapi, kenapa kamu tak berbicara secara langsung?" Tanya Dimas.
"Maksudnya?" Tanya Julia.
"Kamu terus menggunakan kata istilah sepanjang pembicaraan kita, seolah kita berada di tempat umum."
"Karena kita masih diawasi," katanya santai.
"Apa?!" Dimas langsung melihat ke sekeliling. Dia tampaknya kaget mendengar itu.
Tiba-tiba saja, Dimas merasa telah menginjak sesuatu. "Hmm? Apa ini?" Dia memungut benda yang dia injak tadi. Itu adalah alat penyadap yang tadi dipasang oleh Rai.
"NGINGGGGG" Suara memekik kencang dari earphone Rai.
"Sinyal hilang." Suara yang dia dengar menunjukkan bahwa alat penyadap nya telah rusak akibat terinjak oleh Dimas.
Meski begitu, Rai sudah dapat informasi yang berguna. Tampaknya mereka sedang mencari nomor 9 dan 8 dalam geng Families. Kenapa mereka mencarinya? Apa hubungan antara Dimas dan Julia? Yang lebih membingungkan lagi adalah, kenapa Dimas mencari gengnya sendiri? Apakah dia mungkin sudah keluar? Segala hal mulai menjadi rumit.
Rai memutuskan untuk pergi kembali ke kelas, saat tiba-tiba, dia menabrak seseorang. Dia mendongak untuk melihat, ternyata itu Pak Salim, sang guru BK.
Dia sudah cukup lama mengenal Rai, karena reputasinya yang terkenal bahkan diantara para guru sekalipun.
Rai juga mengenalnya cukup baik, karena dia adalah anak dari Kepala Sekolah yang saat ini mengajar pelajaran kimia di kelasnya.
Dia terlihat lega melihat Rai. "Akhirnya kamu ketemu. Saya mencari kamu kemana-mana, ayo ikut aku." Tanpa adanya apa-apa, dia langsung menarik tangan Rai.
"Ada apa, pak?" Rai refleks menjawab kebingungan.
"Ikut saja cepat. Kepala Sekolah telah menunggumu," katanya tak sabaran.
"Kepala sekolah?! Kenapa dia mau menemui ku?" Dia kaget mendengarnya. Jika dipanggil oleh Kepala Sekolah, pasti ada sesuatu yang penting.
" Ikut saja. Ini mendesak!" Dia sudah tak sabar, lalu menarik paksa tangannya.
"Baiklah! Baiklah! Saya mengerti." Rai langsung melepaskan pegangan tangannya.
Saat itu dia tak tahu, bahwa dia akan mengalami perjalanan yang lebih berat daripada sebelumnya.