
"HENTIKAN ITU!!!" Rai berteriak pada rekannya.
"BAIKLAH!!!" Dia pun pergi ke sumber suara kencang dan menghancurkannya.
Setelah tertarik ke dalam ruang hitam, Rai dan Ernest terbangun dengan disambut oleh suara kencang. Suara inilah yang membuat ruang mimpi tadi menjadi hancur. Suara itu tampaknya berasal dari speaker yang dilempar oleh rekan Rai tadi.
Semua orang kecuali rekan Rai yang kelihatan baik-baik saja dalam kekacauan ini, menutup telinganya akibat suara ini. Suara ini rasanya sangat keras, sampai mereka merasa gendang telinganya akan pecah.
Saat semua orang menutup telinganya kencang, rekan Rai dengan santai berjalan menuju sumber suara dan menghancurkan alat itu.
Setelah itu mati, semua orang mulai bernafas lega.
"Syukurlah!" Seru Ernest yang sejak tadi terus bersembunyi di belakang anak buahnya.
Nafas lega mereka terhenti saat melihat Rai yang menatap mereka dengan tatapan membunuh. Dia menggeram sambil mengepalkan tangannya. "Kalian... Dasar kalian...!!!"
Ernest langsung berteriak menyuruh kabur, tapi Rai takkan membiarkan dia kabur begitu saja setelah menyiksanya.
Dia berseru. "Tidak semudah itu. Kekuatan waktu! Hentikan waktu!"
Waktu mulai membeku, dia berjalan ke arah Ernest dengan marah besar. Saat ini tubuhnya terluka parah, tapi dia tak merasakan sakit apa apa. "Kamu ini....!" dia mengepalkan tangannya bersiap memukul mereka.
Wajah mereka saat ini menampakkan kengerian, walaupun waktu saat ini berhenti, tapi mereka sudah tahu bahwa mereka bakal dihajar oleh Rai.
Saat dia bersiap memukul mereka, tiba tiba saja, dadanya berdetak kencang. Saat itu, dia merasa seperti mendapatkan suntik adrenalin.
"Apa ini? Tubuhku sangat panas, seperti ada kompor di dalam." Dia memegang dadanya erat dan bernapas dengan kencang.
Saat itu, dia merasa sesuatu yang berbeda muncul dalam dirinya. Tanpa diberi tahu, dia langsung tahu apa kemampuannya itu. Dia telah membuka kemampuan baru; 'Memperlambat dan mempercepat waktu'
"Baiklah kalau begitu. Saatnya kita coba." Rau memasang posisi kuda kuda, siap menyerang Ernest.
Rai berteriak, "Kekuatan waktu! Percepat waktu pada diriku!"
Bersamaan dengan kekuatan penghenti waktu, dia mengarahkan pukulan bertubi-tubi kepada dia.
"RASAKAN INI!!! PUKULAN SUPER KENCANG BERTUBI-TUBI!!!! HYAAAATTTT...!!!"
BUK! BUK! BUK! BUK!
Dengan sangat cepat, dia berhasil memukul Ernest bertubi-tubi tanpa ampun. Saat waktu berjalan kembali, Dia terpental sampai ke dinding akibat pukulan bertubi-tubi tadi.
"Adios (Selamat tinggal)!
Mukanya menjadi bonyok semua akibat pukulan tadi. Mulutnya mengeluarkan darah segar dan pelipisnya mengalami pendarahan hebat.
"Apa yang kalian lihat? Mau dihajar juga!" Teriak Rai pada anak buahnya yang terus memandangku.
Mereka pun ketakutan dan langsung kabur membawa Ernest yang pingsan pergi dari sana.
Rai pun merapikan kerah kemejanya yang berantakan, lalu berdiri diam melihat tumpukan mayat dari orang-orang yang tadi akan melakukan transaksi dengan mereka.
"Kau tak apa-apa?" tanya rekannya yang khawatir melihat luka di tubuh Rai.
"Memangnya kenapa? Eh...?" Rai melihat tubuhnya — dia tidak sadar, bahwa dia terluka parah. Dia lalu terjatuh dan berbaring di tanah.
"Tenang saja. Aku punya obat cepat." Dia segera bergegas pergi ke luar.
Beberapa saat kemudian, dia membawa sebuah kotak p3k. Dia lalu mengeluarkan sebuah jarum suntik dan menyuntikkannya ke leher Rai . Ajaib, dengan cepat, semua luka yang ada di tubuhnya langsung menghilang. Segala macam memar dan, sayatan dan goresan menghilang tanpa ada bekas.
"Hebat sekali! Apa ini?" Rai terkagum kagum dengan alat itu.
"Ini obat darurat. Memang berbeda dari obat biasanya, tapi ini jelas sangat membantu." Dia memasukkan kembali jarum suntik itu ke dalam kotak p3k.
"Sangat." Rai langsung berdiri dan merapikan kemejaku. Dia melihat-lihat tubuhnya lagi — mengagumi hasil obat itu pada tubuhnya.
Rai kembali melihat para orang-orang yang melakukan transaksi itu dengan muka sedih. Dia tidak sedih karena mereka mati, melainkan karena bagaimana mayat mereka diperlakukan. "Bagaimana dengan mereka?" Rai menunjuk pada orang-orang yang melakukan transaksi tadi.
"Mereka sudah mati." Dia tampak mencatat sesuatu di notes nya. "Mayat mereka bakal diurus oleh yang lain. Sekarang, ayo kita kembali."
Mereka lalu keluar dari toko, sambil melewati mayat sang pemilik toko yang tergeletak di lantai.
"Aku tak percaya mereka benar-benar membunuh orang. Mengerikan!" Rai melihat ke mayat si pemilik toko.
"Kalau sudah terbiasa, akan biasa saja nanti," kata rekannya dengan santai.
"Bagaimana dengan barangnya? atau uangnya?" Rai hampir lupa soal itu.
"Itu telah diambil oleh mereka." Dia terlihat kecewa. "Kita tak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya. Sekarang, ayo bawa kita kembali."
Rai kembali mengemudikan van dan kembali ke electronic center.
"Jadi, kenapa kamu bekerja dengan Pak Taufik?" Lagi-lagi Rai menanyakan pertanyaan itu.
"Apa?"
"Maksudku... Kamu sudah menolongku, aku juga menolong mu, jadi itu berarti, kita bisa saling percaya bukan?"
Dia pun berpikir pikir. Dia jelas tidak ingin memberi tahu masa lalunya pada orang yang baru saja dia temui.
"Tidak apa-apa. Aku takkan mentertawakan kamu. Entah masa lalu mu tragis atau tidak, aku tak akan mentertawakan nya."
"Benarkah?" Dia menatap tak percaya.
Rai mengangguk. "Pegang perkataan ku."
Dia lalu berhenti menatap Rai dan menghela napasnya. "Baiklah, tapi sekali ini saja. Sekali saja, paham!" Dia mengangkat jari telunjuknya, bukti bahwa perkataannya itu mutlak dan tidak dapat dibatalkan.
"Tak perlu bilang dua kali."
Dia pun terlihat berpikir. "Baik. Aku akan bercerita secara singkat saja.
Terserah apa yang kau pikiran tentang aku, karena aku tak peduli. Aku berasal dari keluarga yang berkecukupan. Sama seperti anak anak lainnya, aku juga butuh perhatian. Sejak kecil, orang tuaku sering tak ada untukku dan membiarkan pembantu mengurusku. Semakin aku besar, pembantu sudah tak lagi diperlukan dan aku sudah dianggap mandiri. Rasanya sangat sepi... sendirian....tak ada siapa siapa."
Rai mengangguk, dia juga tahu rasanya kesepian. Bedanya dia beruntung dulu masih punya adik. Dia mungkin tidak seberuntung Rai.
"Saat mereka di rumah, aku sering ingin meminta perhatian dari mereka. Mereka tak mendengarnya dan bahkan marah kalau aku seperti begitu terus. Akhirnya, aku memutuskan untuk melakukan hal-hal nakal demi mendapatkan perhatian mereka. Mereka jelas marah setiap kali aku begitu, tapi aku tak peduli, lebih baik begitu daripada tidak dianggap sama sekali." Dia lalu mengambil jeda dan menarik napas.
"Suatu hari, tepatnya adalah 2 tahun yang lalu, aku memecahkan vas bunga milik ibuku. Vas bunga itu sendiri adalah hadiah dari ibunya. Hal itu tidak disengaja, tapi aku terkena akibatnya. Aku mengelak nya dan bilang itu tak disengaja, tapi ibuku justru marah dan bilang 'DASAR KAU ANAK DURHAKA TAK BERTERIMA KASIH! HARUSNYA KAMU MINTA MAAF, KENAPA MALAH MELAWAN!' Lalu, dia mengamparku.
Rai mengangkat alisnya terkejut. Dia merasa bahwa ini sebenarnya mungkin adegan klise seperti yang ada di sinetron, tentang ibu yang berbuat begitu pada anaknya sendiri. bedanya ini nyata dan dia mendengar sendiri kesaksian ini dari korbannya.
"Saat itu... itu adalah saat yang tak dapat aku lupakan. Aku membalasnya 'Berterima kasih? BERTERIMA KASIH?! SEUMUR HIDUPKU KAMU TAK PERNAH ADA UNTUK KU, DAN KAMU BILANG AKU TAK BERTERIMA KASIH, KAMU... TAK TAHU DIRI... IBU!!!"
Karena terlalu fokus, hampir saja Rai membuat mereka bertabrakan dengan mobil lain.
"Lihat jalan dasar bodoh!" Teriak pengemudi yang hampir mereka tabrak.
"Hati hati!" Kata rekan Rai.
"Maaf." Dia meminta maaf pada pengemudi itu. "Tolong lanjutkan."
"Setelah itu, aku memutuskan untuk kabur dari rumah. Aku tak tahu harus kemana dan hanya menggelandang selama 3 hari di jalanan. Lalu, aku bertemu dengan orang itu, Pak Taufik. Dia bilang 'Apakah kau mau pekerjaan?' Saat itu, aku hanya berpikir untuk dapat uang agar dapat hidup, jadi aku mengiyakan perkataannya. Tak banyak yang aku tahu, ternyata dia adalah ketua dari geng penyelundup rahasia dan juga pengguna kekuatan. Mereka memberikan aku suntikan yang membuatku menjadi pemilik kekuatan."
Kasusnya sama dengan Rai. Bedanya dia tahu siapa yang melakukannya, sedangkan dia tidak. Sampai sekarang, ini masih menjadi misteri yang belum bisa dia pecahkan.
"Lalu, bagaimana dengan kekuatanmu?"
" Sekali ini saja, tolong." Rai bukan orang yang suka memohon, tapi orang ini membuatnya penasaran.
"Baik, kalau itu mau mu." Dia mengeluarkan sebuah stiker dari dalam kantong celananya.
Rai menetap benda itu dengan seksama. "Jadi, ini adalah benda yang mengeluarkan suara tadi?"
"Iya, benda ini adalah speaker berbentuk sticker. Speaker ini bisa aku gunakan untuk mengeluarkan suara apapun di dunia ini, termasuk saat tadi."
Rai mengangguk. jadi itu rupanya benda yang tadi dia hancurkan.
"Kekuatan itu adalah representasi dari pikiran serta apa yang dibutuhkan oleh penggunanya. Untukku, mungkin... mungkin aku hanya ingin didengar saja, walaupun hanya sekali dalam hidup." Raut mukanya berubah menjadi sedih saat mengatakannya. Dia mungkin memiliki kekuatan ini karena merasa bahwa kekuatan itu mampu memberinya perasaan bahwa dia tak sendiri.
"Begitu rupanya." Rai mengangguk. "Satu pertanyaan lagi..."
"Sudah kubilang tidak." Dia langsung memotong kalimat Rai.
"Ini bukan pertanyaan pribadi."
"Baiklah, apa yang kau ingin tanyakan — selama ini menyangkut tentang aku atau geng ku."
"Siapa sebenarnya yang menyerang kita tadi. Bahkan orang yang menyerang ku tadi, tampaknya bukanlah orang dewasa."
"Mereka? Mereka adalah families, sekumpulan geng anak-anak sekolah yang baru di sini."
Rai terkejut mendengarnya. Kenapa tidak? Nama itu adalah nama yang sudah dicari olehnya sejak sangat lama dan sekarang, nama itu muncul lagi.
"Kenapa kau ingin bertanya soal mereka?"
"Tidak, aku hanya penasaran saja." Rai berbohong.
"Sekarang, tidak ada lagi pertanyaan, paham!"
"Ya, aku paham." Rai kembali fokus mengemudi.
"Lalu, bagaimana denganmu? Apa kisah masa lalu mu?" tanya dia pada Rai.
"Bagaimana denganku? Itu... bisa dibilang rumit. Aku belum bisa memberitahu padamu, itu adalah masalah yang tingkat rahasianya sangat tinggi."
"Loh, kenapa? Aku sudah memberitahu mu tentang diriku. Lalu, kenapa kamu tidak mau memberitahu tentang dirimu? Apa kau menipuku?" katanya curiga.
"Tidak... tidak... bukan begitu." Rai menggelengkan tangannya. "Hanya saja... itu rahasia besar." Rai tersenyum untuk mencoba meyakinkan.
"Sama saja kau berbohong padaku," katanya kesal. "Huh... harusnya aku tak memberitahu ini padamu." Dia langsung memalingkan mukanya dari Rai.
"Ya, maaf," kata Rai sambil tertawa garing.
Akhirnya keadaan menjadi hening kembali.
"Tapi, tetap saja. Pasti semua ini berat bagimu bukan?" tanya Rai pada dia.
"Maaf?"
"Yah, meskipun aku tidak kehilangan kedua orang tuaku, tapi tetap saja, aku turut berempati denganmu."
"Jadi, apakah aku salah melakukan itu?"
"Iya, kamu salah karena telah meninggalkan orang tuamu. Biarpun mereka brengsek, mereka tetap orang tuamu."
Dia terdiam mendengar kata itu. "Kau bilang berempati denganku?" katanya kesal.
"Tapi, tetap saja, mereka juga bersalah karena tidak bisa membesarkan anaknya dengan baik. Banyak orang tua yang mungkin bisa punya anak, tapi tidak bisa membesarkan anak. Akhirnya anak-anak hanya menjadi barang bagi mereka. Sayang sekali, meski kita merupakan darah daging mereka, kita tidak dapat merasakan apa-apa dari mereka."
Dia kembali terdiam. Dia tidak menduga akan mendengar kalimat itu dari orang lain.
Mereka akhirnya terus berjalan dan tak berbicara lagi setelah itu. Setelah sampai, Rai mengambil seragamnya di belakang van dan segera mengganti kemejanya kembali dengan seragam sekolah.
"Ini." Rai menyerahkan kembali kemeja yang sudah berlumuran darah itu.
"Bilang pada Pak Taufik soal apa yang terjadi hari ini." Dia memasukkan kemeja itu ke kantong plastik.
"Kenapa?"
"Dia selalu minta laporan dan kamu adalah orang yang ditugaskan. Sudah sewajarnya kamu yang melapor." Dia naik ke kursi pengemudi dan segera pergi.
"Tunggu dulu!" Rai menyuruhnya berhenti dan dia langsung berhenti.
"Apa lagi?"
"Siapa namamu?"
"Namaku? Kau boleh sebut aku Ethan. Apa kau puas?" Dia bertanya tidak sabaran.
"Ya, aku rasa begitu. Senang berkenalan denganmu."
Dia tak mendengarnya dan langsung pergi begitu saja. "Dan dia pergi begitu saja," katanya ke diri sendiri sambil menggelengkan kepala.
'Aku masih tak percaya, setelah sekian lama, aku akhirnya menemukan mereka,' batin Rai.
...***...
Rai membeli terlebih dahulu beberapa barang agar tak dicurigai oleh petugas penjaga gerbang. Setelah itu, dia bertemu kembali dengan Pak Taufik di ruang guru yang masih sepi karena ditinggal rapat.
"Jadi, bagaimana hasilnya?" Dia tak sabar menunggu laporannya.
"Gagal, kita diserang oleh orang-orang tak dikenal."
"Orang-orang tak dikenal? Siapa mereka?!" Nadanya mengencang.
"Families. Itu yang anak buah mu bilang padaku."
"Families!" Dia terkejut mendengarnya. "Bagaimana dengan barangnya? Bagaimana uangnya?" Dia khawatir.
"Hilang, mereka juga mengambilnya. Rencana bisnismu gagal total."
Pak Taufik tertunduk lesu, jelas itu kerugian cukup besar baginya. Dia memukul meja karena frustasi.
"Sialan, dasar anak-anak kurang ajar!" Dia menggeram sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.
"Maaf Pak, tapi jika bapak tahu, apa mungkin bapak tahu soal lokasi mereka?"
"Hmm? Ada apa memangnya?"
"Ah, tidak, bukan apa apa."
Pak Taufik segera menjelaskan. "Tak ada yang tahu dimana mereka. Mereka seperti bayangan, seperti hantu, mereka terus bersembunyi."
Rai mengangguk. Dia kecewa karena ternyata tidak ada yang tahu lokasi mereka.
"Baiklah, terima kasih. Aku sudah menghapus videonya. Kau boleh pergi sekarang." Dia menunjuk ke arah pintu keluar.
Rai akhirnya meninggalkan dia yang masih merenung sejak tadi.
Meski Rai saat ini tidak tahu dimana lokasi mereka, tapi dia berhasil mendapatkan petunjuk awal soal mereka. Memang benar, mereka ada di sini dan tampaknya beroperasi secara diam-diam.
Sementara itu, pak Taufik saat ini sedang duduk di kursinya, sambil memainkan barang rokok di jemarinya. Dia kelihatannya sedang berpikir. "Anak itu, dia tampaknya tahu tentang siapa yang saya hadapi." Dia lalu melihat ke sebuah berkas file tentang Rai. "Tampaknya aku akan kembali menggunakannya lagi."