Rai

Rai
Mimpi indah part 1



9 Februari 2019


Beberapa hari setelah insiden yang membuat Rai harus masuk ke dalam kelas IPS ( Lihat bab 4), dia tiba tiba mendapatkan WA dari seseorang. Saat dia melihat isinya, dia terkejut, yang mengirim pesan ini adalah Pak Taufik.


Dia adalah guru fisika dari kelas 12. Siapa yang tidak kenal dia. Semua orang di kelas 12 mengenalnya, bukan karena dia adalah orang yang baik pada muridnya, melainkan karena dia adalah seorang sampah yang menyamar menjadi guru. Dia tak melakukan apa apa selain hanya memberi materi, merokok di belakang sekolah, minta uang sumbangan dan segala macam keburukan yang tak dapat di beri tahu semuanya.


Dia menulis, "Apa kamu Rai? Jika benar, maka temui saya di ruang guru jam istirahat kedua nanti. Saya punya sesuatu yang bakal membuatmu terkejut."


Dari pesan ini, Rai bisa simpulkan bahwa ini semacam ancaman terselubung. Hubungannya dengan dia memang tidak baik, sebab dia pernah menggunakan kekuatannya untuk memasukkan sambal tabasco ke dalam kopinya. Kabarnya dia sampai menghabiskan satu galon akibatnya. Dia tahu Rai adalah pelakunya, tapi tidak punya bukti, sehingga hanya bisa mengeluh padanya.


'jika seandainya ini adalah rencananya untuk balas dendam, aku harus siap siap,' batinnya.


...***...


Saat Jam istirahat kedua, dia langsung pergi ke ruang guru. Suasana sedang sepi, karena kabarnya para guru sedang rapat di luar sekolah. Pak taufik sedang duduk di mejanya sambil membaca sebuah novel sambil merokok dengan nikmat. Dia berusia kurang lebih 50 tahunan dengan rambut hitam yang sudah memutih dan mata biru cemerlang. Di mejanya terdapat berbagai macam tugas dari muridnya yang ia belum periksa dan asbak rokok yang penuh dengan puntung rokok yang sudah pendek.


Saat dia melihat Rai, dia kaget dan langsung


mematikan rokoknya. "Setidaknya ketuk pintunya!" Dia kesal.


"Maaf."


"Tidak apa apa. Duduklah." Dia menyuruhnya untuk duduk di kursi di depan mejanya. "Baik, mari langsung saja pada intinya." Dia kembali menyalakan rokoknya, lalu menghisapnya dan meniup asapnya ke arahku.


"'Uhuk... uhuk'... Nanti ada yang menciumnya," kata Rai sambil mengipas-ngipasi asap rokoknya.


"Tenang saja. Mereka bakal lama di sana." Dia kembali merokok dengan santainya.


"Apa bapak masih kesal karena insiden sambal di kopi itu?" tanya Rai.


"Aha! Jadi kau mengakuinya?" katanya senang karena merasa sudah menangkap basah Rai.


"Tidak..., aku bilang 'apa bapak masih kesal?'. Kenapa malah melenceng ke topik lain?"


Mukanya yang awalnya senang, seketika berubah 180 derajat. "Sialan!" Dia memukul meja kesal. "Padahal aku sudah sangat dekat." Dia mengeluarkan sebuah tape recorder dari kantong bajunya. Ternyata selama ini dia merekam pembicaraannya.


"Sudahlah pak. Ini sudah kedua kalinya bapak mencoba, jangan habiskan yang terakhir untuk ini," kata Rai sambil tertawa.


"Baiklah dasar kamu anak pintar." Muka Pak Taufik memerah karena kesal. Rai pun menahan tawanya melihat mukanya seperti begitu.


"Baiklah, Mau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?" Tanya Pak Taufik.


Rai berhenti tertawa, lalu menjawab datar, "Aku tidak tahu. Beri aku pencerahan."


"Lihat video ini." Dia menunjukkan video yang ada di ponselnya. Rai mendongak untuk melihat lebih jelas.


"Kamu pasti tidak asing dengan ini bukan?" Video yang dia tunjukkan adalah video Rai saat dia masuk ke dalam kelas IPS saat itu.


'Mustahil! Bagaimana dia bisa merekam ku? padahal aku sudah menghentikan waktu saat itu.' Rai seketika panik di dalam, tapi dia mencoba untuk tetap tenang.


"Bukankah ini kamu?"


Rai hanya diam, Berpura-pura tidak tahu.


"Diam tidak akan memperjelas situasi. Kamu tahu itu bukan?"


Rai tetap diam, tak mau menjawab.


"Saat itu, aku sedang berjalan ke kelas IPS setelah mendengar alarm kebakaran, lalu secara kebetulan, aku melihatmu di keluar dari kelas, dengan memakai topi dan masker. Sangat menarik bukan?" Katanya sambil tersenyum. "Aku ingat, saat kamu dulu memasukkan sambal ke dalam kopi ku. Aku awalnya tak melihat siapa-siapa mendekat, tapi kau bisa memasukkannya. Hebat bukan?"


'Apa maksudnya? Kenapa dia kembali membicarakan insiden kopi ini lagi?" Batin Rai.


"Mari jujur saja. Kamu adalah pengguna kekuatan, apa aku benar?"


Rai kaget mendengar itu. 'Sial! aku ketahuan!' Dia menggigit bibirnya untuk menenangkan diri. 'Baik, tetap tenang, aku tidak boleh panik dalam situasi ini. Aku harus mengelak perkataannya.' Dia mengeluarkan keringat dingin, karena sangat gugup.


"Pengguna kekuatan?" Rai berpura-pura kebingungan.


"Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu kamu berbohong. Jujur saja, kenapa sesama pengguna kekuatan harus berbohong?"


'Pengguna kekuatan? Apakah dia juga pengguna kekuatan.'


"Ya, aku juga pengguna kekuatan, sama sepertimu. Menurutmu, bagaimana aku bisa merekam kamu saat itu, jika bukan karena kekuatanku." Dia menjawab apa yang Rai pikirkan seolah dia bisa membaca pikirannya.


'Kekuatannya...? Merekam ku?' Rai terlihat biasa saja di luar, tapi kebingungan di dalam.


"Kalaupun itu benar, apa yang kamu mau dariku?" Rai berdiri — bersiap kabur jika terjadi sesuatu yang buruk.


"Hei... Hei... tenang saja. Aku takkan menyakitimu. Lagipula, apa untungnya bagiku menyakitimu? Duduklah kembali."


Rai kembali lagi duduk. 'Entah apa aku harus percaya padanya, tapi untuk saat ini, akan aku dengarkan perkataannya'


"Begini saja. Aku butuh bantuan dan aku pikir kamu cocok melakukannya. Bantu aku dan aku bakal menghapus foto ini, setuju?"


"Apa yang kamu mau?"


"Aku harus melakukan transaksi dengan seseorang, bisnis tentunya. Namun, karena aku sekarang sedang mengajar, aku tak bisa melakukannya. Aku sebenarnya sudah menyuruh anak buah ku melakukanya, tapi lebih baik melakukannya berdua. itulah sebabnya aku perlu kamu. Ambil surat izin keluar, lalu pergi ke electronic center di Tuparev. Di sana, ada van dengan nomor plat T 4164 JG, ketuk. pintu belakangnya dan anak buah ku yang tadi akan mengantarmu ke lokasi transaksi."


"Baiklah. Itu saja?" Rai bertanya lagi untuk memastikan.


"Itu saja. Sekarang cepat keluar." Dia menunjuk ke arah pintu keluar.


Rai pun langsung pergi ke luar, meninggalkan dia yang kembali asyik merokok sambil membaca novel.


...***...


Rai langsung mengambil surat izin keluar sekolah. Dia katakan bahwa dia ingin membeli sesuatu untuk keperluan tugas dan barang itu hanya ada di luar sekolah. Saat dia beri itu ke petugas penjaga gerbang, mereka percaya dan aku langsung bergegas ke electronic center.


Saat sampai di sana, dia segera mencari mobil van dengan nomor plat yang disebut tadi. Akhirnya, dia menemukan mobil van yang tepat. Dia mengetok pintu belakangnya, seperti yang disuruh.


Pintu belakangnya terbuka, seseorang keluar dari dalam sana. Dia bukanlah orang dewasa, melainkan seorang bocah seumuran anak SMP, dengan tinggi 160, rambut kuning dan mata hitam.


"Apa mau mu?" Kata dia.


"Pak Taufik mengirim aku ke sini."


"Jadi, kamu adalah orang yang dia maksud?"


"Iya."


Dia pun masuk ke dalam van dan melempar kemeja dan celana panjang hitam ke Rai.


"Untuk apa ini?"


"Ganti bajumu. Kita tak ingin orang tahu kalau kamu anak sekolah bukan?"


Rai langsung pergi ke toilet dan mengganti seragamnya dengan pakaian tadi. Setelah selesai, anak itu sudah menunggunya di kursi penumpang.


"Kau bisa mengemudi?" Tanya dia.


"Iya."


"Bagus. Kamu mengemudi."


Sebelum itu, Rai memasukkan seragamnya ke belakang mobil van, lalu naik ke kursi pengemudi dan segera menjalankan van ini.


"Kemana kita?" Katanya sambil memasang sabuk pengaman.


"Jalan Tuparev. Nanti aku tunjukkan di mana berhentinya." Dia tidak memasang sabuk pengaman dengan santainya.


"Setidaknya pasang sabuk pengaman."


"Aku tak peduli. Jalan saja."


Rai langsung menjalankan van. "Jadi... kenapa kamu bekerja untuk dia?" tanyanya.


"Maaf?" Dia bingung mendengarnya. "Apa maksudmu?"


"Kenapa kamu bekerja dengan Pak Taufik? Kamu saja bahkan masih terlihat seperti berusia 13 tahun."


"Aku 14 tahun."


"Ya..., begitulah." Rai tertawa garing.


"Jangan tanya yang aneh aneh. Sekarang, fokus saja pada pekerjaanmu."


Akhirnya mereka kembali diam lagi.


"Hiasan mobilmu bagus. Apakah kau suka dengan ini?" Rai tiba-tiba berbicara tentang hiasan mobil di jok van ini.


"Apa?" Dia bertanya kebingungan.


"Ah, maaf aku sudah keluar topik. Hanya saja, aku suka dengan hiasan-hiasan ini." Dia kembali memuji hiasan ini.


'Apa-apaan orang ini? Tiba-tiba saja, kenapa dia bertanya tentang ini?' batin orang itu risih.


"Oiya, siapa juga namamu?"


Dia hanya diam saja.


"Oh, baiklah. Kau mau aku fokus bukan? Baiklah." Rai akhirnya kembali fokus mengemudi.


Untuk saat ini, karena kita tak tahu namanya, kita akan menyebutnya rekan Rai. Mereka terus berjalan, melewati jalan Tuparev yang selalu disesaki dengan kendaraan bermotor.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di lokasi. Lokasi ini sendiri adalah sebuah toko obat milik orang china. Rekan Rai pergi ke belakang van dan mengambil sebuah koper, lalu memasuki toko itu. saat masuk, mereka disambut oleh seseorang yang memakai baju tradisional china.


"Iya." Rekan ku menunjukkan koper yang dia bawa.


Orang china itu lalu berubah dari ramah menjadi serius. "Baiklah..., ikuti saya." Dia membawa mereka ke belakang tokonya. Ternyata, ada sebuah lapangan kecil di balik bangunan kecil ini dan terdapat beberapa orang berpakaian serba hitam yang telah menunggu kita. Lapangan ini berukuran lapangan futsal dan dikelilingi oleh bangunan bangunan lainnya.


"Kalian terlambat!" Kata salah satu dari mereka.


"Maaf, ada sedikit gangguan teknis. Mari kita mulai saja." Rekan Rai langsung menyodorkan kopernya ke mereka.


"Bayaran kami?"


"Tunjukkan dulu barangnya."


Dia pun membuka kopernya. Terlihat sesuatu seperti tabung kaca dengan cairan berwarna ungu di dalamnya.


'Benda apakah itu? Aku tak pernah melihatnya sebelumnya,' batin Rai.


Mereka pun tersenyum dan langsung menunjukkan koper mereka yang berisi penuh dengan uang.


"Aku rasa, kita setuju tuan tuan," Kata rekan Rai sambil tertawa.


Tiba tiba saja, ada sesuatu yang terlempar ke arah mereka. Benda itu adalah sebuah flash bang.


"AWAS!!!" Rai berteriak, tapi sudah terlambat. Granat itu sudah terlanjur meledak.


...***...


Sesaat kemudian, Rai mulai membuka matanya. Dia melihat ke sekeliling, lalu mulai berdiri. Kepalanya berkunang-kunang akibat ledakan tadi.


Tempat ini sama dengan tempat yang tadi, hanya saja tidak ada siapun di sini.


"Suka tempat ini?" Tiba tiba, muncul suara dibelakang Rai.


Dia langsung menoleh ke belakang. Ternyata, ada seseorang yang sedang duduk di tumpukan kayu bekas. Dia berdiri dan dari situ, terlihat perawakan aslinya. Dia kurus dengan tinggi kurang lebih 158 cm. Rambutnya hijau dengan mata biru.


"Siapa kamu? Di mana aku?"


"Untuk menjawab semua itu, akan aku jelaskan secara perlahan terlebih dahulu." Tiba-tiba saja, muncul sebuah rokok yang sudah menyala di mulutnya. Padahal, tadi bahkan tidak ada apa-apa.


"Perkenalkan, namaku adalah Ernest Rifandy. Aku adalah pemimpin dari kelompok orang yang tadi baru saja menyerang kalian." Sekarang di tangannya tiba-tiba muncul jus jeruk.


"Aku yakin, kau penasaran kenapa kamu di sini bukan?"


"Langsung pada intinya saja."


Dia pun berdiri dan memasang pose pamer.


"Selamat datang di dunia ku, Rai Rahman!" Tiba-tiba saja, pelangi muncul dan burung burung berkicauan muncul.


"Apa?" Rai memiringkan kepalanya bingung.


Dia pun berubah dari senang menjadi kecewa. "Serius? Haruskah kamu merusak momen ini?"


"Tidak, aku hanya ingin penjelasan lebih masuk akal."


"Begitu ya? Jadi, simpel saja, kamu dan aku ada di dunia mimpi."


"Dunia mimpi?" Rai terlihat tertarik dengan itu.


"Ya, dunia mimpi. Di sini semua hal dikendalikan oleh aku. Aku bisa memunculkan segalanya, termasuk efek pembukaan tadi."


"Jadi, kita ada dunia mimpi. Lalu, kenapa di sini masih sama seperti dunia asli?"


"Yah... kekuatanku ini kurang kreatif untuk membuat sebuah ruang, jadi aku menggunakan desain dari lapangan di sini untuk jadi ruangnya."


"Begitu rupanya."


"Tunggu dulu. Kenapa aku menjelaskan ini padamu?!" Dia sadar dia sudah terlalu banyak omong.


"Aku tak tahu. Kenapa tanya aku?"


"Baiklah, mari kita serius sekarang."


Dia pun mendekati aku dan menatap ku dalam dalam. "Beri tahu semua yang kau tahu tentang Taufik!"


"Hah?" Rai ternganga mendengar itu.


"Kamu mengantar paket itu, berarti sudah jelas kamu bekerja dengan dia bukan. Sekarang beri tahu semua yang kau tahu tentang dia dan akan saya ... "


"Tidak... Aku akan menolaknya." Rai mengucapkannya persis di samping telinganya.


Dia terkejut, lalu mundur darinya. "Kenapa? Apa tawaran ku kurang menarik bagimu?"


"Bukan itu. Tapi, saat ini, dia sedang memberi kepercayaan padaku. Meskipun aku tak menyukai dia, aku takkan melanggar perintahnya. Lagipula, aku baru juga kerja dengannya sekali, apa yang mau kau gali dariku? Kamu salah tangkap orang," kataku sambil tertawa cekikikan.


Dia syok mendengarnya. Tampaknya dia tak percaya bahwa dia menangkap orang yang salah.


"Nah, karena sekarang kesalah pahaman. ini sudah diperbaiki, sekarang izinkan aku keluar. Aku ada omong kosong yang lebih baik. untuk dikerjakan."


"Apa? keluar?! Yah..., tak semudah itu."


"Kenapa memangnya? Aku sudah bilang, aku tak punya apa-apa. Sekarang cepat lepaskan aku."


"Karena kamu sudah tahu banyak tentang kami, maka dengan terpaksa...aku harus membunuhmu." Dia mengangkat tangannya ke langit.


Tiba tiba saja, langit menjadi mendung. dengan suara gemuruh yang kencang.


'Tampaknya bukan sesuatu yang bagus,' batin Rai


Sesaat kemudian, sesuatu jatuh dari langit, sebuah besi tempa.


"Sialan!" Rai langsung lari menghindar dari hujan besi itu.


Keadaan sungguh kacau, besi- besi itu terjatuh dan menancap di Tanah dengan keras. Rai berlari mati-matian menghindari besi besi itu.


Dia tertawa kesenangan melihat Rai. "Meski ini hanya mimpi, tapi kerusakan yang terjadi akan sama sakitnya seperti dunia asli dan yang kau rasakan, juga akan berefek pada kamu di dunia asli."


Dia memang tidak main main, karena Rai sedikit terserempet oleh besi itu — menimbulkan luka gores di tangan kirinya. Dia berteriak kesakitan, seolah itu dunia asli.


'Sialan..., apa yang harus kulakukan?" Dia berpikir keras mencari solusi sambil berlari.


Rai teringat, bahwa dia bisa menghentikan waktu. Dia pun menggunakan kekuatannya — Waktu berhenti, tapi tiba-tiba waktu berjalan lagi.


"Apa?!" Dia berseru tak percaya.


Dia mencoba lagi, tapi lagi-lagi kekuatannya tidak berguna.


Dia tertawa melihatku berusaha mengeluarkan kekuatan. "Kekuatanmu tidak akan berguna. Di sini, aku yang mengendalikan segalanya."


Tiba tiba saja, Besi yang tertancap di tanah bangkit dan terbang ke arah Rai. Dia mencoba menghindar, tapi percuma, besi besi ini sangat cepat. Dia terpental dan menabrak dinding.


Aku pun batuk darah, sepertinya tulang rusuknya patah akibat benturan besi tadi.


Belum selesai penderitaannya, tiba tiba saja, muncul masalah baru. Langit kembali mendung dan kali ini dia menjatuhkan hujan piranha.


Rai berseru. "Ayolah! Kau pasti bercanda!"


Dia pun berlari untuk menghindarinya, tapi dia sudah terluka parah hingga tak sanggup berlari lama. Salah satu piranha itu berhasil mengoyak lengan kanannya. Dia kembali berteriak kesakitan.


"Sial, aku tak bisa terus begini. Aku harus segera kabur."


Tapi masalahnya adalah, bagaimana? Aku mencoba memukul dinding di ruang ini, yang berakibat tanganku kesakitan.


"Percuma saja, ini hanya bisa dibuka dari luar." Dia tertawa girang melihatku menderita.


Benar, andai saja ada yang membantu ku, tapi rasanya itu mustahil sekarang.


...***...


Sementara itu di luar, Rekan Rai mulai terbangun. Dia melihat ke arah sekeliling, dan melihat Rai dalam keadaan pingsan, dengan seseorang di sebelahnya melayang sambil duduk sila.


Keadaan sekitar sangat kacau, bagaikan zona perang. Tercium bau darah dari tumpukan mayat dari orang-orang yang tadinya akan menjadi rekan bisnis mereka.


Dia juga melihat, bahwa area ini dipenuhi oleh sekumpulan orang-orang bersenjata lengkap. Dari tampang mereka, rekan Rai tahu bahwa mereka bukanlah teman.


'Sial! Tampaknya kita baru saja diserang' Batinnya.


Sambil berpura-pura masih pingsan, dia memasukkan tangan kanannya ke dalam kantong, mencoba mengeluarkan sesuatu.


Sesaat kemudian, terlihatlah benda apa yang dia keluarkan, sebuah speaker yang seukuran kancing baju. 'Semoga kalian suka ini.' Dia melempar speaker itu ke tengah para pasukan yang sedang berjaga ini.


...***...


Di dalam dunia mimpi, Rai masih saat ini sudah dalam keadaan terjepit. Tanpa kekuatannya dan sudah terluka parah, dia sudah tak punya kesempatan lagi untuk bisa menang melawannya. Saat ini, dia sudah menyerah — Ikhlas menerima takdirnya.


"MATILAH, RAI!!!" Dia sekarang mengirim penuh besi besi dan piranha itu ke arah ku. Semua berakhir, Dia telah kalah. Entah apa yang terjadi saat mereka menemukan mayatnya tergeletak di sini.


"Maafkan aku..., Rosa" Dia bergumam pelan seraya terbaring lemas di atas tanah.


Di saat terakhir, besi besi dan piranha itu jatuh sebelum mencapai dia. Seketika, ruang di sekelilingnya berguncang hebat. Muncul retakan retakan dari dinding dan tiba-tiba, muncul suara jeritan yang sangat kencang. Suara ini mirip seperti jeritan kesakitan dari para korban yang masuk neraka.


"APA ITU?!" Dia menutup telinganya begitu juga Rai.


Retakan di dinding mulai membesar dan pada akhirnya, ruang ini pecah, lalu hancur berantakan. Sekeliling seketika menjadi ruang hitam yang tidak berujung dan mereka semakin ditarik ke dalam kegelapan tersebut.