Possessive Brothers

Possessive Brothers
4 : Ajakan Gema



Devina membulatkan matanya ketika Arthan tiba-tiba menghampirinya yang tengah menonton film dan memeluknya dari samping. Wajah anak itu terlihat muram seperti sedang memikirkan sesuatu, tapi Devina tidak menanyakan apapun dan membiarkan Arthan memeluknya.


Dengan sayang Devina hanya mengusap-ngusap kepala anak itu dan menunggu Arthan sendiri yang berbicara.


Cukup lama berada di posisi seperti itu Arthan akhirnya melepaskan pelukannya dan menatap Devina dengan wajah sedih. Kalau sudah begini Devina seperti melihat Arthan yang masih berusia empat tahun.


"Mamiii"


Devina tersenyum dan menangkup wajah anak itu.


"Kenapa sayang?" Tanya Devina dengan penuh kelembutan.


"Zelline marah sama aku masa tadi aku mau masuk ke kamarnya enggak boleh padahal aku mau minta maaf, tapi dia enggak mau." Kata Arthan.


"Memang kenapa kok Arthan mau minta maaf?" Tanya Devina bingung.


Arthan semakin cemberut dan terlihat begitu sedih.


"Zelline marah karena tadi Arthan berantem sama Ardhan." Kata Arthan yang membuat Devina mengangguk faham.


"Pasti karena Tania itu?" Tebak Devina.


"Iya, Zelline marah enggak mau ngomong sama aku padahal aku udah minta maaf sama Ardhan juga udah." Kata Arthan sedih.


"Biarin dulu Zelline nya besok baru bicara lagi sama dia ya? Kamu juga jangan sering ribut gitu ah sama Ardhan enggak baik." Kata Devina mengingatkan.


"Maafin"


"Iya, udah jangan sedih." Kata Devina sambil tersenyum.


"Enggak ribut lagi sama Ardhan." Kata Arthan dengan raut wajah menyesal.


"Ardhan enggak mungkin berkhianat sama kamu apalagi sampai ngerebut pacar kamu." Kata Devina.


"Iya Arthan yang salah, maafin Mamii." Kata Arthan yang membuat Devina tersenyum melihatnya.


"Udah enggak papa nanti bicara lagi sama Zelline bilang kalau udah maafan sama Ardhan." Kata Devina sambil mengusap kepala anak itu dengan sayang.


Arthan mengangguk singkat dan tak lama suara Zelline terdengar membuat pria itu menoleh.


"Mami aku mau..."


Wajah Zelline berubah sebal ketika melihat Arthan.


"Enggak jadi deh nanti aja." Kata Zelline.


Dia langsung membuang muka dan mengurungkan niatnya untuk bicara dengan Devina.


"ZELLINEEE ADIK AKU YANG PALING CANTIK SEDUNIA KAKAK MINTA MAAFFFF"


Arthan berlari menghampiri Zelline dan membuat Devina tertawa melihatnya. Apalagi ketika Zelline berkali-kali menepis tangan Arthan yang merangkulnya.


Astaga lucu sekali kedua anak itu.


••••


"Zelline berangkat sama Papi aja"


Wajah Zelline berubah sumringah ketika mendengarnya. Berangkat bersama dengan Ziko itu adalah hal yang paling membahagiakan karena dia akan diberikan uang tambahan nantinya.


Kalau dengan anak perempuannya Ziko memang sangat royal. Apapun yang Devina minta selalu diberikannya, kecuali kalau minta izin untuk berpacaran tentunya.


"Kenapa enggak sama Arthan?" Tanya Arthan.


Zelline yang masih nampak kesal menatap Arthan dengan sinis.


"Enggak! Sama Papi aja." Kata Zelline.


"Iya sama Papi aja." Kata Ziko yang membuat Arthan menghela nafasnya pelan.


Seusai sarapan Zelline langsung memakai sepatunya lalu menghampiri Devina dan mencium punggung tangannya. Tidak lupa dia juga mencium kedua pipi Devina dan memberikan pelukan singkat.


Selalu begitu setiap akan berangkat ke sekolah.


"Mami aku berangkat dulu." Kata Zelline.


"Iya sayang"


Zelline selesai kini Ziko yang menghampirinya. Suaminya itu memeluk dan mencium keningnya dengan sayang.


"Ziko berangkat kerja dulu ya sayang." Kata Ziko pada istri kesayangannya.


"Iya Ziko"


"Nanti aku pulang waktu makan siang." Kata Ziko yang membuat Devina tersenyum senang.


Begitu selesai berpamitan Zelline pergi lebih dulu bersama dengan Ziko. Sedangkan si kembar masih di rumah karena jam kuliah mereka masih siang nanti.


Zelline segera masuk ke dalam mobil dan duduk di depan. Gadis itu tersenyum ketika Papinya mulai melajukan mobil meninggalkan area rumah.


Sebenarnya Ziko bisa saja berangkat bersama Zelline setiap hari karena letak kantor dan sekolah memang searah, tapi terkadang kedua anaknya ribut sendiri ingin mengantar Zelline sekolah.


"Papi em boleh enggak Zelline minta sesuatu?" Tanya Zellune dengan sedikit keraguan.


Dia takut mengatakannya, tapi Zelline sangat ingin.


"Minta apa sayang?" Tanya Ziko sambil menoleh sejenak.


Zelline terdiam sejenak dan terlihat bimbang ingin mengatakannya atau tidak.


"Tapi, kalau enggak boleh enggak papa." Kata Zelline pelan.


"Iya, sekarang bilang Zelline mau apa?" Tanya Ziko sambil tertawa pelan.


Anak itu menatap Ziko sejenak lalu mengatakan keinginannya dengan suara yang terdengar begitu kecil.


"Boleh enggak Zelline minta belikan macbook?" Tanya Zelline.


Ziko yang mendengar itu langsung tertawa, kenapa harus takut untuk mengatakannya sih?


"Boleh"


"Ehhh serius? Tapi, kalau enggak boleh enggak papa Pi." Kata Zelline dengan raut wajah terkejut.


"Boleh, nanti mau beli sama Papi atau mau Papi yang belikan aja?" Tanya Ziko.


Zelline terdiam sejenak lalu memberikan jawaban.


"Beli sama Papi. Aku mau ikut, mau pilih sendiri hehe boleh kan?" Tanya Zelline.


"Boleh sayang." Kata Ziko.


"Yesss"


Zelline terlihat begitu senang. Dia selalu takut untuk bilang, tapi ternyata Papinya tidak marah.


Di sepanjang perjalanan senyum manis Zelline terus mengembang membuat Ziko ikut senang melihatnya.


Aneh, padahal Ziko tidak akan marah bahkan meskipun dia belum bisa menuruti keinginannya dia tidak akan marah.


Soalnya Ziko tidak bisa marah pada anak perempuannya itu.


••••


Gema menatap lurus ke arah Zelline yang sedang melangkahkan kakinya menuju kelas. Senyum pria itu terbentuk untuk beberapa saat ketika melihat Zelline yang sesekali menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya.


Gadis itu memang sangat ramah pada orang-orang.


"Zelline"


Gema memanggilnya dan membuat langkah kaki Zelline terhenti. Wajah Zelline terlihat lucu ketika melihat Gema karena matanya membulat dan pipi tembam itu membuatnya semakin menggemaskan.


"Em kenapa Gema?" Tanya Zelline bingung.


Pria itu berdeham pelan sambil berjalan mendekat. Mata Zelline semakin membulat, dia melangkah mundur ketika Gema mendekat.


"Pelajaran pertama siapa??" Tanya Gema sambil terus memperhatikannya.


"Em pelajaran Bu Isna." Kata Zelline.


Gema mengangguk singkat.


"Nanti ke kantin bareng." Kata Gema tiba-tiba.


"Eh"


Gema tertawa melihat reaksi itu.


"Kenapa?" Tanya Zelline.


"Memang enggak boleh?" Tanya Gema dengan alis bertaut.


"Ehh bukan gitu, tapi biasanya aku ke kantin sama Kiara." Kata Zelline.


"Ya hari ini sama gue." Kata Gema sambil tersenyum.


Zelline semakin bingung, dia ingin menolak, tapi nanti kalau Gema marah terus mengganggunya bagaimana?


"Nanti gue samperin ke kelas." Kata Gema lagi.


"Enggak usah aku sama Kiara aja ke kantinnya." Kata Zelline yang membuat Gema tersenyum mendengarnya.


"Kalo lo enggak mau gue bakal gangguin lo sama Kiara di sekolah!" Ancam Gema.


Raut wajah Zelline berubah takut, dia menatap Gema yang kini tersenyum padanya.


Aneh, kenapa tiba-tiba pria itu bersikap aneh pada Zelline?


••••


Satu part lagi untuk hari iniiiii🤗