
"Papaaaa"
Naura dan Maura berlari menghampiri Devano yang baru saja pulang dari kantor. Kedua anak itu langsung memeluk Papanya dengan erat membuat pria itu tertawa senang.
Dia membalas pelukan itu dengan sayang lalu memberikan ciuman di pipi kedua anaknya. Selalu begini kalau Devano pulang kerja.
Setelah pelukannya terlepas Devano tersenyum seraya mengusap-ngusap kepala anaknya secara bergantian.
"Mana Mama?" Tanya Devano pada kedua anaknya itu.
"Mama lagi pergi ke rumah Mami Vina sama Kak Nadhin." Kata Naura.
"Loh kalian kok enggak ikut?" Tanya Devano bingung.
Soalnya kedua anak itu biasanya senang sekali kalau sudah diajak pergi ke rumah Devina.
"Udah dari tadi perginya sebelum aku sama Naura pulang sekolah." Kata Maura.
Devano mengangguk faham.
"Pa"
"Iya"
Naura dan Maura menggandeng kedua tangan Devano lalu mengajak pria itu untuk duduk bersama di ruang tamu.
Meskipun tidak mengerti tujuan dari kedua anaknya itu Devano ikut saja. Biasanya kalau begini pasti mereka ingin meminta sesuatu.
"Papa"
"Iya sayang kenapa?" Tanya Devano dengan penuh kelembutan.
"Memang aku sama Naura enggak boleh pacaran??" Tanya Maura yang membuat wajah Devano langsung berubah.
"No!"
Devano langsung menjawab dengan tegas.
"Tapi, aku sama Naura kan udah besar Paaa." Rengek Maura.
"Terus?"
"Ya masa enggak boleh pacaran! Temen aku pada pacaran tuh." Kata Maura kesal.
"Marah sama Papa karena enggak dibolehin pacaran?" Tanya Devano dengan raut wajah serius.
Kedua anaknya itu langsung diam ketika melihat wajah Devano yang mendadak menyeramkan.
"Enggak gitu." Cicit keduanya takut.
"Papa enggak mau kalian pacaran. Kalian itu masih kecil." Kata Devano.
"Kak Nadhin udah besar juga tetep enggak boleh." Kata Naura pelan.
Devano menghela nafasnya pelan ketika mendapat protes itu.
"Kenapa Naura sama Maura mau pacaran? Biar sama kayak temannya? Memang pacaran sepenting itu?" Tanya Devano.
Kedua anaknya diam lagi karena tidak tau harus menjawab apa.
"Papa enggak mau kalian sedih karena Papa tau enggak selamanya kisah cinta itu bahagia sayang,"
Devano menatap kedua anaknya bergantian lalu mengusap kepala mereka berdua dengan sayang.
"Papa enggak mau melihat anak-anak Papa disakiti dan patah hati." Kata Devano.
Tidak ada jawaban apapun. Mereka diam untuk waktu yang cukup lama hingga kedua anak itu mendekat dan memeluk Devano dari samping.
Mendapat perlakuan itu membuat Devano tersenyum. Mungkin ketika dengan Devina dulu dia bisa memberikan izin kembarannya itu untuk memiliki kekasih karena dia cukup mengenal Ziko.
Tapi, untuk anak-anaknya dia bahkan tidak mengenal teman-teman mereka. Bukan tidak mengenal melainkan hanya tak sebatas nama saja, jadi tidak mudah bagi Devano untuk percaya.
"Gini deh nanti kalian kenalin coba ke Papa laki-laki yang lagi dekat sama kamu nanti Papa pikirin lagi kalau udah ketemu mereka." Kata Devano.
"Bener?!"
"Iya, tapi enggak janji kasih izin pacaran ya? Mungkin kalau dekat boleh nanti Papa enggak larang lagi kalian pergi jalan-jalan, tapi Papa lihat dulu gimana orangnya." Kata Devano yang tetap membuat kedua anaknya itu merasa senang.
"Makasih Paaa"
Kedua anak itu mencium kedua pipi Devano dan membuat Papanya itu tertawa pelan atas perlakuannya.
"Yaudah Papa mau ganti baju dulu." Kata Devano.
Mendengar itu Naura dan Maura langsung menjauh. Mereka membiarkan Devano pergi ke kamarnya.
Begitu Devano pergi keduanya langsung berseru senang. Setidaknya mendapat izin untuk keluar jalan-jalan sudah membuat mereka senang.
Ayolah Kakak mereka Nathan bahkan tidak pernah memberikan izin untuk keduanya pergi jalan-jalan dengan teman pria mereka.
Padahal jalan-jalannya juga tidak jauh. Biasanya hanya menonton film atau pergi ke toko buku, tapi tetap saja tidak pernah diberikan izin.
Menyebalkan sekali bukan? Kalau mau keluar terkadang keduanya harus berbohong dan bekerja sama dengan Nadhin dulu.
Jadi, mereka harus merayu Devano dulu karena kalau Devano sudah setuju mau tidak mau Nathan juga akan melakukan hal yang sama.
••••
Terlalu malas untuk protes, jadi Nadhin membiarkan saja.
"Ngapain lo nelpon Nadhin? Ini udah malem Nadhin mau tidur enggak usah ganggu." Kata Nathan ketus.
"MASIH JAM DELAPAN BELUM NGANTUK." Seru Nadhin yang membuat Nathan langsung melotot padanya.
"Ngapain sih nelpon? Mau ajakin Nadhin bolos lagi besok, iya?!" Tuduh Nathan.
"Thannn"
Nathan mengabaikan rengekan itu dan tetap berbicara di telpon dengan Adnan.
'Ngobrol doang Than'
"Enggak perlu! Lo matiin telponnya sekarang karena Nadhin mau istirahat." Kata Nathan.
'Masih jam delapan Than'
"Terus kenapa? Dia mau tidur, jadi jangan ganggu." Kata Nathan lagi.
"Nathan apaan sih?! Balikin HP gue." Kata Nadhin sambil berusaha mengambil ponsel miliknya.
"Gak!"
Nathan tanpa menunggu jawaban lagi langsung mematikan sambungan telpon itu.
"Nathann!"
"Tidur sana." Kata Nathan.
"Enggak ngantuk!" Seru Nadhin kesal.
"Yaudah enggak usah telponan." Kata Nathan yang membuat Nadhin semakin kesal.
"NATHAN JANGAN NYEBELIN DEH." Nadhin memukuli lengan kembarannya itu karena kesal.
Bukan sakit Nathan malah tertawa dan memeluk kembarannya itu dengan erat.
"NATHANNNN"
Nadhin berdecak kesal dan berusaha mendorong kembarannya itu agar menjauh.
"Nathan Nadhin kenapa lagi sih? Enggak berhenti juga ributnya."
Pintu kamar Nadhin tiba-tiba terbuka dan Adara yang sejak tadi mendengar kebisingan langsung masuk ke dalam.
Nadhin segera mendorong kuat-kuat tubuh kembarannya dan berlari menghampiri Adara lalu memeluk wanita itu dengan erat.
Melihat itu Nathan mendengus kesal kalau sudah bertemu orang tuanya aja langsung sok kalem.
"Nathan rese banget Maaa." Adu Nadhin.
"Kenapa lagi? Udah dong sayang jangan ribut terus." Kata Adara sambil menghela nafasnya pelan.
"Kak Nathann aku lagi telponan sama temen aku tiba-tiba dia rebut hp nya terus dia matiin." Kata Nadhin dengan wajah cemberut.
"Temennya cowok." Kata Nathan.
"Ya terus kenapa?! Memang gue enggak boleh punya temen cowok?!" Kata Nadhin tak terima.
"Nadhin"
"Dia sih nyebelin." Kata Nadhin kesal.
"Gue aduin Papa lo telponan sama cowok sampe malem." Kata Nathan.
"Tuh kan Maaa dia tuh lebayy aku enggak pernah telponan lama-lamaa." Kata Nadhin sambil menatap Adara.
Adara menghela nafasnya pelan melihat pertengkaran kedua anak ini.
"Nathan udah ah jangan kayak gitu kan itu cuman temen Nadhin." Kata Adara.
"Gak! Itu cowok suka sama Nadhin dia pasti mau ngajak Nadhin telponan sampe tengah malem." Kata Nathan.
"Nathan kan belum tentu seperti itu sayang mungkin cuman mau ngobrol sebentar, lagian kan Nadhin di rumah aja kalau dia keluar sama teman cowoknya kamu enggak papa marah." Kata Adara sambil berjalan mendekat pada anak laki-lakinya itu.
Dia mengusap lengan Nathan yang kini terlihat pasrah dan langsung mengembalikan ponsel milik Nadhin.
"Awas lo telponan lagi gue aduin Papa."
Nadhin mendengus kesal dan menatap Nathan yang keluar dari dalam kamarnya dengan sengit.
Dasar tukang marah-marah!!
••••
Hey heyyy aku updateeeeee😗
Jangan lupa vote dan comment🤗🤗🤗🤗