
"Siapa nih Gema?"
Arthan membaca pesan masuk dari seseorang dengan raut wajah bingung. Di sekolah Zelline dia memiliki satu mata-mata yang merupakan adik dari teman baiknya.
Setiap kegiatan yang Zelline lakukan di sekolah Arthan dan Ardhan selalu tau. Termasuk sekarang ketika adiknya itu tengah makan di kantin bersama seorang pria.
Raut wajah Arthan menggambarkan kekesalan ketika melihat foto itu. Sebuah foto dimana Gema menyentuh dagu Zelline dan membuat adiknya itu menatapnya.
Arthan langsung mengetik pesan dengan cekatan.
Arthan :
Siapa Gema?
Anaknya gimana di sekolah?
Kenapa dia deketin Zelline? Sejak kapan dia deketin adik gue?
Setelah beberapa pesan itu terkirim Arthan langsung memberitahu hal itu pada kembarannya. Saat tengah asik dengan ponselnya tiba-tiba seseorang duduk di sebelah Arthan.
Dia sedang berada di kantin fakultasnya sembari menunggu kelas selanjutnya. Teman-temannya sedang memesan makan dan yang duduk dihadapannya adalah Tania.
Kali ini raut wajah Arthan terlihat tidak suka.
"Hai sayang"
Arthan bergumam pelan. Bersamaan dengan itu teman-temannya datang. Ada Bima dan Sagara kalau Revan dia tidak berangkat ke kampus hari ini.
Begitu keduanya duduk Arthan langsung merebut air mineral yang ada di tangan Sagara. Dia membuka botol itu dan meminum cukup banyak.
Gerah karena ada Tania.
"Kamu kenapa cuekin aku?" Tanya Tania kesal.
Arthan langsung menatap kekasihnya itu dengan malas.
"Lagi enggak mood mending lo diem kalo masih mau marah-marah pergi aja." Kata Arthan yang membuat kedua temannya cukup terkejut dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
Biasanya Arthan selalu lemah lembut pada gadis itu.
Ah mungkin Arthan sudah mulai sadar.
"Kamu kok kayak gitu sih?" Tanya Tania kesal.
"Kayak gitu gimana sih? Gue lagi enggak mood enggak usah banyak tanya." Kata Arthan ketus.
"Arthan! Kamu kalo kesel jangan lampiasin ke aku dong padahal aku ke sini..."
Arthan memejamkan matanya sejenak, "Tania, lo mau diem atau mau gue seret pergi?"
"Kamu makin hari makin enggak jelas tau gak?!" Kesal Tania.
Gadis itu menggebrak meja dan membuat beberapa orang terkejut. Kemudian dia berjalan menjauh dan membuat Arthan menatapnya dengan sebal.
"Sinting"
Perkataan refleks Arthan itu membuat kedua temannya tertawa. Merasa puas dan senang karena akhirnya Arthan bersikap ketus juga pada gadis itu.
Jujur mereka sering kali emosi sendiri karena Arthan sangat bucin padahal jelas-jelas Tania itu sering memanfaatkannya.
Susah memang kalau bicara sama orang yang bucin, jadi nunggu dia sadar sendiri aja.
"Tumben"
"Lagi kesel, siapa Gema? Adek lo bilang dia deketin adek gue." Kata Arthan sambil menatap Bima.
"Lah mana gue tau yang tau si Adel lah bukan gue." Kata Bima.
Arthan mendengus kesal.
"Dari mukanya sih kayaknya anak nakal." Kata Arthan asal menebak.
Tapi, benar sih tebakannya.
"Jangan terlalu kayak gitu lah Tan kasian adek lo kalau dikekang terus." Kata Sagara mengingatkan.
"Kenapa? Dia masih kecil gue enggak mau dia pacaran nanti jadi bucin." Kata Arthan.
"Kayak lo ya." Kekeh Bima yang membuat Arthan refleks mengumpat.
"Brengsek"
Tapi, benar apa yang pria itu katakan.
Dia tidak mau Zelline sepertinya yang jadi bodoh hanya karena cinta.
••••
"Nih tuan putri makanannya"
Haikal datang sambil membawakan makan siang kepada Maura dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya.
Mereka hanya bisa berdekatan ketika di sekolah saja kalau di luar sekolah sudah ada Nathan. Belum lagi ditambah Arthan dan Ardhan yang ikut-ikutan mengawasi Naura dan Maura.
Pokoknya waktu mereka hanya di sekolah.
Di samping Maura sudah ada kembarannya yang tengah makan mie ayam bersama dengan Levi.
"Kal lo berani enggak kalo ketemu Papa gue?" Tanya Maura pada Haikal.
Pertanyaan itu membuat Naura juga menghentikan kegiatannya.
"Papa lo lebih galak dari Kak Nathan enggak?" Tanya Haikal.
"Galak, tapi enggak segalak Kak Nathan sih." Kata Maura.
"Lo mau ngajak gue ketemu Papa lo?" Tanya Haikal dengan alis bertaut.
"Kalo lo mau sama Levi juga kalo dia mau." Kata Maura.
"Serius Nau?" Tanya Levi antusias.
"Iya kayak gitu kata Papa, tapi tetep deh pasti Kak Nathan bakal ribet banget." Kata Maura sambil menghela nafasnya pelan.
"Minggu deh gimana? Atur aja Nau nanti gue sama Haikal dateng ketemu Papa lo, lagian cuman ngobrol aja kan? Enggak mungkin aneh-aneh juga." Kata Levi.
"Iya, gue enggak masalah sih." Kata Haikal menanggapi.
"Nanti gue bilang Papa dulu tanya kapan dia free nya soalnya kerja terus." Kata Maura disertai tawa kecilnya.
"Sip"
"Ini lo berdua enggak ada niatan cari cewek lain? Enggak capek nih sama gue dan Maura?" Tanya Naura.
"Nau jangan mulai, kalo mau udah dari dulu, tapi guenya cuman naksir lo." Kata Levi.
"Betul, kalo mau udah dari dulu gue cari cewek lain." Kata Haikal ikutan.
Naura tertawa pelan, "Ya kan nanya."
"Dari dulu kalo ada yang deketin pasti pada nyerah duluan karena tau Kak Nathan apalagi kalau Kak Arthan sama Ardhan udah ikutan." Kata Maura.
"Gue sama Levi enggak." Kata Haikal sambil tersenyum.
"Iya iya"
"Iya Haikal sayang gitu dong." Kata Haikal yang membuat Maura mendengus kesal.
Tanpa menanggapi lagi Maura mulai menyantap makan siangnya. Nanti dia akan membicarakan lagi rencananya untuk membuat Nathan memiliki kekasih bersama dengan Naura dan Nadhin juga.
Pokoknya Kakak laki-lakinya itu tidak boleh mengganggunya!!
••••
"Lo ke kelas duluan aja"
Gema menahan tangan Zelline dan meminta Kiara untuk pergi ke kelas lebih dulu. Hal itu membuat Zelline berusaha melepaskan tangannya karena ingin segera ke kelas.
Dia tidak mau berlama-lama dengan Gema.
"Enggak! Zelline ke kelas sama gue." Kata Kiara.
"Duluan, gue enggak lama." Kata Gema dengan penuh penekanan.
Kiara sudah ingin protes, tapi Gema kembali berbicara.
"Gue enggak bakal ngapa-ngapain." Kata Gema lagi.
Kali ini Kiara menatap Zelline.
"Enggak papa Zel?" Tanya Kiara tidak yakin.
Zelline juga awalnya ragu, tapi dia mengangguk singkat sebagai jawaban. Tidak papa dia akan selesaikan urusannya dengan Gema dan meminta pria itu untuk tidak mengganggunya.
Karena Zelline mengangguk, jadi Kiara tidak bisa memaksa lagi.
"Awas lo! Sampe macem-macem gue aduin ke Kakaknya." Ancam Kiara.
Gema hanya bergumam pelan dan menunggu hingga gadis itu pergi lalu menghilang dari pandangan mereka.
Kemudian Gema kembali menatap Zelline.
Oh apa dia akan punya hobi baru sekarang? Memandangi wajah Zelline misalnya.
"Gema kenapa? Kamu jangan gangguin aku lagi habis ini kan aku udah nurutin kamu makan bareng di kantin." Kata Zelline.
Perkataan itu membuat Gema tertawa lepas.
"Gue masih mau gangguin, besok dan seterusnya lo ke kantin sama gue." Kata Gema yang membuat Zelline langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aku enggak mau! Kamu ajak cewek lain aja." Kata Zelline.
"Maunya sama Zelline Naufa Sebastian." Kata Gema yang sudah hafal nama panjang gadis itu.
"Kenapa? Kamu tadinya enggak pernah gangguin aku malahan kita enggak pernah ngobrol, tapi...."
"Sst berisik." Kata Gema sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir gadis itu.
Zelline langsung diam dan menepis tangan Gema yang ada di bibirnya.
"Gue mau tanya lo jawab." Kata Gema.
"Kalo enggak mau?" Kata Zelline.
"Gue cium." Kata Gema asal.
"IHH GAK SOPAN!" Seru Zelline sambil memukul lengan Gema cukup kuat.
Bukan merasakan sakit Gema malah tertawa melihat reaksi yang gadis itu berikan.
"Gue bercanda, serius amat nanggepinnya." Kata Gema.
Wajah Zelline langsung cemberut, "Lagian kamu ngomongnya aneh banget! Kamu bisa di tendang Kak Arthan sama Kak Ardhan terus Papi juga."
Gema tersenyum dan memperhatikan Zelline yang menggerutu sebal. Terlihat begitu lucu sekali.
Tidak tidak apa Gema sudah benar-benar menyukai gadis itu atau masih dalam tahap tertarik?
Zelline sepertinya sebentar lagi Gema akan menyeret kamu untuk masuk ke dalam hidupnya.
•••••
Update untuk hari iniii🥰
Ayo vote dan comment biar aku semangat😚
Nanti malem aku update lagi yaaa❣️❣️❣️