Possessive Brothers

Possessive Brothers
8 : Merajuk



"Kenapa kamu?"


Ziko bertanya pada kedua anaknya yang datang ke ruang makan dengan wajah murung. Berbeda dengan Zelline yang terlihat begitu bahagia, dia datang sambil memainkan ponsel baru miliknya.


Sedangkan itu yang ditanya tidak mau menjawab dan malah menatap Ziko dengan sinis. Selalu begitu kalau sedang merajuk, tapi Ziko sepertinya tau kenapa mereka begitu.


Pasti karena Zelline yang baru saja Ziko belikan sesuatu.


Devina juga melihat hal yang sama, dia menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah kedua anak laki-lakinya itu.


"Papi licik! Pokoknya licik banget!" Kata Arthan kesal.


"Memang Papi kenapa?" Tanya Ziko pura-pura tidak tau.


"Papi licik! Kalo sama Zelline aja semua dibeliin." Kata Arthan lagi.


Mendengar namanya disebut membuat Zelline mendongak dan menyengir sambil menatap semuanya.


"Masa kalo kita yang minta Papi mikir dulu." Kata Ardhan menambahkan.


Ziko tertawa pelan ketika mendengarnya.


"Memang maunya apa? Arthan mau motor kan Papi bukan bilang enggak, tapi nanti." Kata Ziko menjelaskan.


"Tapi, Zelline minta enggak nanti! Mana dua lagi belinya." Kata Arthan tak terima.


"Hey Zelline itu jarang minta sesuatu, kalau kamu? Berapa kali coba beli laptop sama handphone? Mau Papi sebutin?" Kata Ziko yang membuat Arthan langsung diam.


Ziko tersenyum melihat reaksi Arthan.


"Arthan kasih lihat dulu nilai di semester ini nanti Papi belikan motor yang Arthan mau." Kata Ziko.


"Bener yaaa?" Kata Arthan dengan penuh semangat.


Ziko mengangguk mengiyakan dan membuat anak itu bersorak senang.


"Kalau Ardhan mau apa?" Tanya Ziko pada Ardhan.


"Mau laptop baru terus mau buat perpustakaan kecil di rumah em kakaknya di sudut bawah tangga atau buat ruangan baru deket taman." Kata Ardhan.


"Dan lo jangan mulai deh! Ngapain perpustakaan di rumah? Udah deh ya enggak usah kebanyakan belajar." Kata Arthan yang tidak habis pikir dengan apa yang kembarannya inginkan.


"Laptopnya nanti, tapi perpustakaan itu nanti Ardhan cari tempatnya mau dimana biar Papi segera hubungi Om Fredi." Kata Ziko yang membuat Ardhan tersenyum lebar.


"Makasih Pi." Kata Ardhan.


Ziko mengangguk singkat sebagai tanggapan. Sedangkan itu Devina hanya bisa tersenyum melihat anak-anaknya yang banyak sekali keinginan.


Jangan heran kejadian seperti ini bukan sekali dua kali, tapi memang sering terjadi.


••••


Naura termenung di dalam kamarnya dengan wajah cemberut. Gadis itu merasa kesal karena tidak bisa keluar bersama dengan Maura dan teman-temannya.


Mana boleh keluar malam, jam enam sore tidak ada di rumah saja orang tuanya sudah sibuk menelpon.


Padahal perginya juga tidak jauh hanya ke sebuah cafe saja. Tadi juga Naura dan Maura sudah berjanji akan pulang sebelum jam sembilan, tapi tetap saja tidak diizinkan.


Saat tengah termenung tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan ternyata itu Devano yang masuk ke dalam kamar sambil tersenyum tipis.


"Ngambek ya?" Tebak Devano.


Naura memang agak sedikit manja dibandingkan Maura, dia agak sedikit mirip Devina manjanya.


Tidak bisa dimarah dan kalau dilarang akan langsung merajuk.


"Enggak."


Devano tersenyum lagi. Dia duduk ditepian kasur anaknya dan memberikan usapan sayang di kepala anaknya.


"Jangan marah dong Papa minta maaf ya?" Kata Devano.


"Naura kan sudah besar Pa." Kata Naura dengan wajah kesal.


"Iya, Papa tau kalau Naura sudah besar, tapi Papa masih takut biarin anak-anak Papa yang udah besar ini keluar malam-malam." Kata Devano.


"Tapi, kan dekattt terus sama Maura juga." Kata Naura sebal.


Lagi, Devano tersenyum melihat anaknya itu.


"Papa takut kamu keluar malam-malam bahkan meskipun itu sama Maura, jangan marah dong sayang." Kata Devano.


Naura menghela nafasnya pelan dan langsung menatap Devano yang tersenyum padanya.


"Nanti Papa belikan Naura handphone baru yang Naura mau ya? Jangan ngambek lagi." Kata Devano.


Naura masih cemberut dan tidak mau menerima tawaran itu.


"Beli novel deh yang banyak." Kata Devano yang kali ini membuat wajah cemberut itu mulai berubah.


Senyuman manis anak itu muncul membuat Devano tertawa pelan melihatnya.


Agak sedikit lebih mudah membujuk Naura dibandingkan Maura. Lihat saja sekarang anak itu sudah memeluknya dengan sayang.


Kalau Nathan mirip dengan Devano yang posesif dan galak. Kemudian Nadhin dan Maura mirip Adara yang agak sedikit bar-bar dan susah diatur.


Tapi, Naura berbeda.


Tapi, Devano tetap menyayangi semua anak-anaknya.


Setelah ini dia akan membujuk Maura agar tidak merajuk. Kalau membujuk anak itu agak sedikit sulit.


••••


"Papa diem aku ngambek!!!"


Devano tertawa ketika mendapat tanggapan dari Maura ketika dia masuk ke dalam kamar anak itu.


Dengan bibir mengerucut sebal Maura melipat kedua tangannya di dada dan menatap Devano dengan kesal.


Baiklah Devano harus banyak bersabar kalau menghadapi Maura.


"Kenapa ngambek? Papa kan tujuannya baik enggak bolehin kamu keluar rumah malam-malam." Kata Devano.


Maura mendengus kesal dan langsung berjalan mendekat pada Papanya.


"Tapi, Maura kan mau mainn Pa sekaliii aja gitu keluar malam-malam kan tadi juga janji enggak bakal pulang diatas jam sembilan." Kata Maura sambil menatap Devano dengan kesal.


"Lain kali aja ya? Untuk sekarang jangan dulu." Kata Devano dengan penuh kelembutan.


Melihat Maura yang masih cemberut membuat Devano langsung membawa anak itu ke dalam pelukannya.


Dia mengusap-ngusap kepala anaknya dengan sayang yang membuat Maura balas memeluknya.


Ehh dia masih kesal yaa!


Maura hanya tidak bisa menolak pelukan Papanya.


"Udah dong jangan ngambek lagi, mau apa Maura?" Tanya Devano sambil menguraikan pelukannya.


"Memang kalo bilang boleh?" Tanya Maura tidak yakin.


"Kalau enggak aneh-aneh boleh." Kata Devano.


Maura langsung tersenyum ketika mendengarnya.


"Mau pinjem kartu Papa sehariii ajaa." Kata Maura.


"Kredit?"


Maura mengangguk dengan penuh semangat.


"Boleh enggak? Sehari ajaa untuk belanja ke mall hehehe." Kata Maura yang membuat Devano menggelengkan kepalanya pelan.


"Mau sama siapa ke mallnya?" Tanya Devano serius.


"Nauraaa"


"Yaudah boleh." Kata Devano yang membuat Maura membulatkan matanya tidak percaya.


"Beneran???"


Devano mengangguk sebagai tanggapan dan membuat anak perempuannya itu berseru senang lalu memeluknya dengan erat.


"Sayang Papaaa"


Ya tidak masalah lagian hanya satu hari saja.


••••


"Ardhan lo enggak usah aneh-aneh deh! Ngapain ada perpustakaan di rumah?! Lo mah ah mau gue makin diomelin aja!"


Arthan berdecak kesal sambil menggerutu di kamar Ardhan yang sama sekali tidak kembarannya itu hiraukan.


Malahan Ardhan sibuk mencari tempat yang pas untuk perpustakaan mini miliknya. Buku-buku koleksi Ardhan sudah terlalu banyak dan memenuhi lemari di kamarnya.


Kalau punya perpustakaan sendiri kan akan sangat menyenangkan, jadi semua buku Ardhan akan ada di tempat yang sama.


"Tapi, deket taman belakang bagus enggak sih Tan? Kayaknya bagus deh nanti dikasih kaca gede gitu, jadi sambil baca buku bisa lihat taman." Kata Ardhan yang membuat kembarannya semakin kesal.


Arthan melempar Ardhan dengan bantal dan membuat pria itu menoleh lalu menatapnya dengan sengit.


"Lo keluar deh kalo enggak mau bantuin gue." Kesal Ardhan.


"Ardhan udah deh enggak usah segala ada perpustakaan di rumah! Lo kalo mau ke perpustakaan langsung aja ke kampus atau ke perpustakaan daerah atau..."


"Berisik"


Ardhan melempar balik bantal ke Arthan dan kembali sibuk melihat keluar jendela kamarnya. Ada banyak tempat yang bagus Ardhan jadi bingung.


Biarkan saja Arthan lagipula Zelline juga punya banyak buku dan suka membaca, jadi Zelline pasti mendukungnya.


Kalau Arthan tidak tau deh sepertinya dia bukan anak Mami sama Papi.


Buang aja deh dia enggak usah dipikirin.


••••


Yeyeyeyey updateeeeeeee❣️❣️❣️


Kalian paling suka baca part siapa? Atau suka semuanyaa????