Please Save Me

Please Save Me
Chapter 8



Ternyata Tuhan benar-benar ada. Tepat saat Andra ingin menikam dadaku, dia malah buru-buru pergi. Jihan, sekretaris Adrian memberitahu Adrian setelah dia melihat Andra keluar dari kantor bosnya tadi siang. Oleh karena itu Adrian membawa banyak penjaga keamanan perusahaan Adhitama dan bergegas menuju tempat pertemuan kami. Tapi terlambat, mereka telah berhasil menodaiku sebelum Adrian benar-benar sampai hanya mungkin Tuhan masih sayang padaku jadi dia mengirim Adrian tepat saat pisau itu akan menancap di dadaku. Paman Juan juga bergegas mengikuti Adrian ke tempat kejadian dan menghentikan Adrian dari memukul Andra sampai mati, dan memohon kepada Adrian untuk meninggalkan jalan keluar untuk Andra.


Mereka yang tahu detail kejadian semuanya berasal dari perusahaan Adhitama dan semuanya disembunyikan. Terlalu banyak di dunia ini yang disembunyikan dengan uang, tidak meninggalkan bayangkan dan hilang tanpa jejak. Adrian tidak ingin tetapi dia juga tidak bisa melawan keinginan keluarga Adhitama yang sudah mengasuhnya. Dia hanya menungguku pulih dan memutuskan.


Aku sudah beristirahat selama satu hari penuh setelah kejadian malam itu yang membuat hidupku hancur.


"Maksudmu, masa depan Andra ada di dalam genggaman tanganku?" tanyaku siang hari itu saat Adrian mengunjungi


"Adrian, apa yang kamu ingin aku lakukan? apakah kamu ingin aku memaafkan Andra?" aku melihat Adrian terdiam lama dan mengepalkan tangannya


"Tindakannya terhadapmu, aku benar-benar ingin memotong dagingnya sepotong demi sepotong dengan tanganku sendiri. Tapi......tapi....." wajahnya lembutnya sekali lagi menunjukan raut ketidakberdayaannya. aku mendesah dan mulai mengambil keputusan


"Baik, aku telah memutuskan"


—————————————————————————


Paman Juan sangat baik dalam menyembunyikan fakta. Bahkan Ayahku juga berpikir jika aku baik-baik saja disini. Saat ini suasana hatiku sedikit lebih baik jadi aku mengundang Paman Juan dan berbicara padanya.


"Paman Juan, silahkan duduk" aku bersandar di sisi tempat tidurku dan menunjuk sofa. Dia menghela nafas panjang dan duduk. Aku mulai membelai tanganku.


"Paman Juan, dokter berkata jika luka seperti ini selamanya akan meninggalkan bekas luka" kataku mulai membuka percakapan


"Andra mengunakan dua buah pisau dan mengukir lenganku dari kedua sisi, bahkan dokter terbaik pun tidak bisa memperbaikinya. Dia dengan sengaja menodaiku dan memotongku" kataku acuh tak acuh melanjutkan


Paman Juan begitu tegang sampai kepalanya berkeringat. Itu adalah anak satu-satunya, bagaimana bisa dia tidak mengalami gejolak di hatinya. Aku tentu saja dari keluarga kaya dan juga kuat dan jelas tidak mungkin bisa dibeli olehnya. Jika aku membawa anaknya ke pengadilan, masa depan Andra akan benar-benar hancur dan berakhir walaupun keluarga Adhitama memiliki banyak aset tetapi semua tidak berguna saat ini.


"Bella, ini adalah kesalahan Andra. Aku bersedia mengganti semua kerusakannya, aku bersumpah -...."


"Paman Juan, bagaimana menurutmu kamu akan memberikan kompensasi padaku? Jenis kompensasi apa yang menurut Paman yang akan membuatku menganggap jika masalah ini seolah-olah tidak pernah terjadi?" Nadaku terdengar dingin dan membuatnya kehilangan kata-kata.


Kejahatan Andra ini akan mengakibatkan dia menerima hukuman seumur hidup. Keluarga Adhitama memang kaya, tapi apa gunanya? Andra putra manja dari keluarga kaya ini setelah dipenjara akan dianggap tamat. Melihat tampilan Paman Juan yang patah dan tanpa harapan, aku mengetahui jika kesempatanku telah tiba.


"Aku akan memperlakukan masalah ini seolah-olah tidak ada dan tidak pernah terjadi jika perusahaan Adhitama tidak jatuh kepada Andra" kataku kepadanya membuatnya terkejut.


"Tanda tangani pernyataan, semua saham perusahaan Adhitama yang ada di tangan Paman Juan harus segera diserahkan kepada putera tertua, Adrian Adhitama. Lalu aku akan mengganggap seolah-olah kejadian malam itu tidak pernah ada" kataku kemudian yang membuat Paman Juan tetap diam.


Dia tidak punya pilihan selain menerima, dia tidak punya pilihan lain. Kehilangan perusahaan lebih baik daripada kehilangan nyawa. Jika dia benar-benar menyayangi satu-satunya anak kandungnya, dia harus menandatanganinya.


Aku memulihkan diri beberapa hari dan dengan nyaman berbaring di tempat tidur dan menonton acara televisi dengan tenang.


"Presiden Adhitama Enterprise saat ini mengeluarkan pernyataan hari ini, bahwa dia telah mengalihkan semua saham atas namanya kepada putra tertuanya Adrian Adhitama. Pengalihan kepemimpinan berada pada....." Aku tersenyum tipis melihat siaran berita yang diumumkan dan membelai luka di lenganku. Pintu terbuka dan Adrian masuk dan duduk di samping tempat tidurku.


"Papa sudah mentransfer semua sahamnya padaku dan Andra tidak mendapatkan apa-apa" kata Adrian kepadaku


"Aku tahu, mereka baru saja melaporkannya di TV" aku dengan lembut menjawab dan mengangkat kepalaku, membiarkan dia mencium keningku.


——————————————————————————


Cedera tubuh yang ada di tubuhku berangsur-angsur membaik kecuali luka yang ada di lenganku. Paman Juan pensiun diduga karena usianya dan pindah ke vila yang jauh di Surabaya. Andra meninggalkan rumah besar Adhitama entah kemana. Rumah besar Adhitama sekarang telah menjadi milik Adrianku, memikirkan ini membuatku bahagia. Hanya dalam waktu beberapa bulan sudah banyak hal yang terjadi.


Aku ingat hari-hari dimana banyak orang luar mengabaikan putra tertua Adhitama ini, sangat menggelikan.


Setiap hari Adrian menerima banyak sekali undangan. Setiap bagiannya menjadi bukti nyata dari kebiasaan orang-orang yang menyembah kekuasaan. Aku menelpon keluargaku dan memberitahu mereka jika aku mengalami insiden kecil dan tidak perlu untuk khawatir.


"Kamu menelpon Ayah dan Ibumu lalu memberitahu kami jika kamu mengalami insiden kecil dan tidak perlu khawatir? Bella, jika sesuatu terjadi, jangan menyembunyikannya" Kata-kata Ayah membuatku tersentuh


"Tidak apa-apa, hanya saja ada luka di lenganku" kataku kemudian mencoba menenangkan mereka


"Apa?! lengan mu? Bagaimana dengan tempat lain? Ada luka lagi? " Ayahku makin khawatir. Aku tersentuh tetapi bicara terlalu bertele-tele membuatku repot. Setelah membujuknya untuk waktu yang lama, aku berhasil untuk tidak segera datang kemari. Aku menutup telepon dan bertanya-tanya apa yang sedang Adrian lakukan.


Aku mengambil handphoneku dan tidak sengaja menjatuhkannya ke lantai. Dengan hati-hati aku turun dari kasur dan mengambilnya dan itu telah rusak. Aku memainkannya ditangan sebentar dan sesuatu tiba-tiba terjatuh dan aku memungutnya.


Setelah aku mengamati sebentar, aku tiba-tiba teringat jika aku sering melihat benda ini saat aku menonton film detektif yang ada di televisi. Awalnya aku kira Andra yang melakukan ini karena dia penuh kebencian terhadapku tetapi itu tidak mungkin. Jika Andra yang melakukan kenapa dia membiarkan dirinya tertangkap saat aku merencanakan sebuah rencana untuk menjatuhkannya?


Tiba-tiba tubuhku berkeringat dingin, khawatir. Tidak, tidak mungkin dia melakukan itu. Aku berjuang keluar dari kamar dan berlari menghampirinya. Aku ingin memeluknya dan membiarkan suara tenangnya menghilangkan semua kekhawatiranku saat ini.