
Jakarta, yang disebut semua orang dengan Kota Metropolitan menyambut kedatanganku dengan tangan terbuka. Saat aku memasuki rumah keluarga Adhitama aku melihat bahwa kepala keluarga Adhitama sudah menungguku dan berdiri di depan pintu.
"Perjalanan yang melelahkan, Bella" tuan rumah menyambut ku
"Paman Juan" aku dengan sopan menjawabnya dengan ciuman yang biasa aku lakukan saat bertemu orang di negaraku tinggal.
Aku tidak tahu apakah paman akan keberatan dengan salam gaya barat yang aku lakukan. Bagaimanapun, Jakarta adalah tempat yang masih mendalami tradisi, namun dia hanya tersenyum dan menerima salam ku.
Yang memakai setelan putih adalah Andra Adhitama, putra kedua dari paman Juan. Dia selalu riang dan menunjukan giginya saat tersenyum
"Kami sudah menunggu kedatangan mu" Katanya kepadaku
"Maaf mengganggu kalian semua" Kataku kepada mereka
Paman Juan menarik ku masuk sambil mengajakku berbicara
"Tidak tidak" kata paman padaku
"Saya hanya akan tinggal di Jakarta sebentar, Aku tidak berharap jika Ayah akan memberitahukan kedatanganku kepada kalian dan mengganggu kenyamanan kalian semua"
"Ayahmu dan Paman adalah teman lama. Tolong anggap rumah ini seperti rumahmu sendiri" kata paman Juan lagi kepadaku
Kami bertukar kata-kata dan aku melihat seorang lelaki yang hanya diam memperhatikan di belakang mereka sebagai penonton.
"Adrian, kamu sudah datang? kemari dan berkenalan dengan Bella" kata paman Juan menarik lelaki tersebut kehadapan ku.
"Bella, mungkin kamu sudah mengenal Andra tetapi paman berpikir kamu tidak mengenal Adrian, putra sulung paman" kata paman Juan
Adrian mengulurkan tangannya dan aku pun menyambutnya
"Bagaimana kabarmu? Sepertinya aku akan merepotkan mu" kataku sambil meremas sedikit tangannya. Sadar akan niatku, Adrian hanya tersenyum sopan kepadaku.
Sepertinya putra tertua keluarga ini memiliki potensi untuk mengembangkan perusahan menjadi lebih sukses dan besar tetapi tidak memiliki dukungan seperti yang di miliki Andra adiknya.
"Nona, saya sudah meletakkan koper anda di kamar anda" kata seorang pembantu yang membantuku dengan barang bawaan ku dengan sopan.
"Terima kasih" kataku kepada pembantu itu dan melepaskan tangan Adrian lalu beralih ke paman Juan
"Paman, Saya ingin mandi terlebih dulu" kataku yang merasakan lengket setelah perjalanan jauh
"Luangkan waktumu dan istirahatlah dengan benar. Kita semua akan menunggumu untuk bergabung saat makan malam nanti. Paman secara khusus menyuruh koki untuk memasak hidangan dari negaramu karena paman tidak yakin apakah kamu akan terbiasa dengan masakan Indonesia" kata paman Juan sambil tersenyum
Aku hanya tersenyum dan bersiap untuk naik ke lantai atas. Andra dengan cepat mengikuti ku " aku akan mengantarmu ke kamar"
Pantas untuk disebut putra kedua yang telah dipoles. Siap untuk memberikan kesan yang baik pada putri seorang Direktur penting. Aku mengikutinya ke atas, di sudut aku menoleh dan melihat Adrian yang masih berdiri di ruang tamu. Kebetulan Adrian mengangkat kepalanya dan menatap ku, mengikuti langkahku dengan kedua bola matanya, melihatku yang juga menatapnya, Adrian tersenyum dan mengangguk dan aku pun menghilang dari pandangannya dan masuk ke sebuah kamar yang dipersiapkan untukku.
Setelah selesai mandi, aku terlalu malas untuk bergerak. Aku tidak bisa untuk tidak marah kepada Ayahku karena mengganti liburan santai ku dengan meminta teman lamanya untuk mengawasi ku.
Di permukaan terlihat kenyamanan disediakan makanan dan akomodasi tetapi pada kenyataannya itu untuk menjauhkan ku dari kebiasaan buruk ku bersama teman-temanku. Dan selain itu mencari peluang untuk menjalin koneksi dengan generasi Adhitama baru. Sungguh orang tua yang licik. Kapan Ayah akan berhenti untuk memikirkan urusan bisnisnya? Sudahlah, tidak ada gunanya mengeluh. Aku dengan cepat mengganti pakaianku dan turun kebawah
"Maaf, telah membuat kalian semua menunggu"
Empat anggota keluarga Adhitama sudah duduk di ruang makan yang luas dan makanan juga sudah disajikan.
"Kita terlihat sama" ucap Andra kepadaku.
Andra Adhitama adalah sosok yang mudah dekat dengan orang lain dan karena menyadari bahwa aku dan Andra memakai pakaian berwarna sama , dia terus-terusan melirik ke arahku. Di bandingkan dengan dia, Adrian Adhitama lebih diam dan tampak tertutup. Mengenakan setelan hitam dengan kacamata hitam berbingkai yang serasi. kacamata berbingkai hitam yang jarang terlihat dalam mode saat ini.
"Kakak pertama sangat unik" kataku memulai percakapan
"Eh?" seperti dia tidak mengharapkan ku untuk berbicara dengannya membuatnya menatapku dan tertegun
"Oh, saya sudah terbiasa dengan kacamata ini. Saya Sudah memakainya selama bertahun-tahun" katanya kemudian
"Tampak sentimental, orang seperti ini jauh lebih mementingkan emosi" kata paman Juan tiba-tiba
"Bella, Adrian cukup pendiam. Tolong jangan tersinggung" tambah paman Juan lagi
"Bagaimana mungkin? dalam sekali pandang saja dan aku tahu kita akan rukun" kataku sambil tersenyum
Seseorang di sebelahku terbatuk ringan. Aku berbalik dan melihat ekspresi gelisah Andra.
Andra memotong steak di piringnya dan memasukannya ke mulutnya, mengunyah dan menelannya dan kemudian berbalik menatapku
"Bella, dimana kamu berencana untuk menghabiskan hari libur mu? aku adalah pemandu terbaik di sini" kata Andra dengan senyum cerah
"Apakah aku tidak akan menggangu pekerjaanmu?" tanyaku padanya
"Sebagai tuan rumah tentu saja aku harus melakukan hal itu" jelas Andra padaku
Aku tidak menjawab dan hanya tersenyum acuh kemudian melanjutkan makan.
Alasan mengapa Andra sangat bersemangat untuk mengakomodasi diriku adalah karena terlepas dari saham ayah yang ada di perusahaannya,aku juga memiliki ayah angkat yang memiliki posisi yang kuat.
Sebelum datang kesini ibu sudah bercerita padaku jika perebutan kekuasaan dan posisi penting di perusahaan Adhitama sudah memasuki tahap yang panas, dan Andra sudah melancarkan aksinya kepadaku.
Di sisi lain, Adrian yang menyedihkan itu dengan tenang menurunkan kepalanya dan mengiris steak nya tanpa menyadari krisis yang akan datang. Pada dasarnya Adrian tidak memiliki kewaspadaan atau mungkin dia sadar bahwa dia tidak akan cocok untuk saudaranya dan memilih untuk mengundurkan diri pada akhirnya.
Pandangan sembunyi-sembunyi mengungkapkan bahwa dia telah memotong steak nya menjadi potongan-potongan kecil seperti yang aku lakukan. Adrian menangkap pandanganku dan tersenyum
"Kakak kedua..." kalimatku terpotong oleh suara Andra
" Bella, panggil aku Andra" katanya
"Andra, kamu adalah orang yang sibuk.Aku pikir akan lebih baik meminta kak Adrian untuk menemani ku berkeliling" sekali lagi Adrian mengangkat kepalanya saat aku mengucapkan itu dan tertegun melihatku
Adrian memalingkan wajahnya ke arah paman Juan
"Pa, rencana pembangunan gedung Tirtayasa ku belum..."
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu kakak pertama" aku membuka mulut tidak menunggunya selesai bicara saat ku dengar keengganannya menemaniku. Aku Bella Morris tidak terbiasa di tolak.
Aku melihat senyum puas di wajah Andra. Aku jadi ingin tahu apakah Andra selalu menunjukan senyum seperti itu ketika kakaknya tidak sengaja menyinggung seseorang?
makan malam ini aku sepertinya telah belajar sesuatu dengan mengamati interaksi di antara mereka.