
Karena ini adalah pertempuran, secara alami seseorang akan mengerahkan segalanya untuk bertarung. Orang tua berada di kantor untuk mempertahankan base camp. Sedangkan aku berpindah dari satu ke sisi lain di pesta dansa.
Pesta malam ini di villa yang indah. Meski bukan pesta besar tetapi pesertanya banyak. Aku memilih satu buah gaun malam baru yang khusus dirancang untuk menutupi luka di lenganku dan sengaja memakai anting Ruby di telingaku. Aku sangat menyadari pengaruh pembawa acara ini, Nathan. Kekuatan dan pengaruh Nathan tidak terbatas pada Perancis tetapi meluas juga hingga ke Jakarta yang jauh. Sangat sulit untuk menggoda orang ini.
Tempat itu dipenuhi dengan permata indah, semuanya menyilaukan mata. Dekorasi interior yang mewah dan wanita cantik yang semuanya berpakaian elegan, adalah sesuatu yang biasa aku lakukan.
Tiba-tiba ada tusukan rasa sakit di lenganku mengingatkanku akan keberadaannya. Bella, modal apa yang masih kamu miliki sekarang? batinku miris.
Baru sekarang aku menyadari betapa aku telah berusaha untuk melupakan bekas lukaku, betapa rendah diri yang sebenarnya aku rasakan. Cara masyarakat memperlakukan orang, aku telah melihat bagianku dalam adegan yang memalukan. Aku tidak ingin diriku memainkan peran utama. Ketika aku ragu-ragu, seseorang berbicara dari samping,
"Bella, kenapa kamu berdiri di luar pintu? kapan kamu menjadi penjaga pintuku, dan kenapa aku tidak tahu apa-apa tentang itu?"
Aku berbalik dan melihat Nathan. Wajahnya bersinar, tersenyum dan melambaikan gelas anggur merah ditangannya. Melihat dia dalam suasana hati yang baik menghilangkan kecemasanku.
"Apa yang terjadi dengan lenganmu?" dia tiba-tiba mengerutkan kening ketika melihat bekas luka di lenganku yang tertutup samar walau tak sepenuhnya dan mengulurkan tangan untuk menyentuk bekas lukaku.
"Tentu saja karena aku melanggar hukum dan melakukan kejahatan, mencoba tapi gagal mencuri ayam. Ayo kita tidak membicarakannya, karena aku sudah cacat, aku ditakdirkan menjadi orang jelek mulai sekarang" Aku tersenyum karena tangan yang menyentuh bekas lukaku masih mengelusnya dengan lembut.
"Benar-benar tidak jelek, sebaliknya itu menambah sedikit pesona" Tidak peduli ketulusan kata-kata itu, aku merasa sedikit lebih baik ketika mendengarnya.
"Bagaimana jika kita mencari tempat untuk membahas pesona ini?" dia dengan senang hati setuju dan menarik ku masuk.
Aku berada di sisi Nathan sepanjang pesta. Wanita yang menjadi pasangan dansa aslinya mengirimiku sejuta tatapan tajam tapi aku pura-pura tidak mengetahuinya. Demi menyiapkan cara balas dendam, aku kembali ke caraku yang dulu.
Untungnya bukan hanya orang-orang ini menghindari ku, mereka bahkan berpikir sedikit tidak kesempurnaan l nih cocok untukku, satu demi satu datang untuk menyambutku.
Di akhir pesta, kepercayaan diriku pulih secara signifikan. Aku dengan lancar menerima undangan tuan rumah di tempatnya yang mewah
"Kamu sudah berada di ruangan ku dan kamu begitu pendiam" Dia mulai menggodaku. Jari-jarinya membelai bekas lukaku diikutin ciumannya. Ketika Jemarinya berjalan ke arah dadaku seketika tubuhku membeku, ingatan mengerikan itu kembali menghantuiku.
"Apa yang salah?" tanyanya menatapku heran. Ketika aku hanya diam, Nathan tersenyum dan mulai melanjutkan lagi tetapi tubuhku semakin bergetar
"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya cemas
"Nathan, kondisiku hari ini agak buruk. Bisakah kita bertemu di lain hari?
"Lihat kondisiku, Bella jangan kamu menghukum ku, apakah aku menyinggung perasaanmu? ayo beritahu aku" kata Nathan heran melihatku
Bayangan itu kembali muncul berputar-putar di kepalaku. kejadian dimana mereka beramai-ramai mengerjaiku. Aku berusaha sekuat tenaga mendorong jatuh tubuh Nathan. Dia kaget melihatku. Aku yang panik dan takut langsung bangun dan berlari keluar meninggalkan villa besar milik Nathan. Beruntung dia mengadakan pesta di villa barunya, jika itu di villa utama, tentu akan sangat sulit melarikan diri dari sana.
Tiba dirumah dengan tubuhku dalam kondisi yang sangat buruk, aku tidak menghiraukan pelayan yang membuka pintu untukku dan bergegas masuk ke dalam kamar.
Aku melepaskan semua pakaianku dan mulai membenamkan tubuhku ke dalam air hangat untuk menenangkan diriku.
Aku kembali memikirkan semua kejadian yang baru saja aku alami. Aku tertawa mengejek diriku sendiri yang dengan percaya dirinya berkata bahwa aku pasti bisa membalas dendam pada Adrian.
Keesokan harinya, aku turun dengan wajah lesu menuju meja makan dan mendapati Ayah yang sedang membaca koran.
"Bella, bagaimana tidurmu?" tanya Ibu ketika melihatku
"Aiyaa...anak ini bagaimana bisa lingkaran hitam muncul di wajahmu?" lanjut ibu
Aku memang tidak bisa tidur sepanjang malam ini, jelas saja jika sekarang aku memiliki mata panda menghiasi wajah putihku.
"Kemarilah lalu cepat sarapan dan kemudian pergilah beristirahat" kata Ibuku sambil menuntunku duduk di kursi
"Ibu yang terlalu memanjakan putrinya" kata Ayah melipat korannya dan menatapku
"Kau beristirahatlah dan ikuti perintah ibumu"
Aku hanya diam mengangguk, dan kami bertiga segera mulai sarapan pagi itu. Benar, aku memang perlu waktu untuk menenangkan pikiranku dan mengistirahatkan mataku.
Seperti kata Ibu, setelah selesai makan, aku naik kembali ke kamarku. Bukan untuk tidur tetapi aku duduk diam di beranda kamar menikmati udara pagi itu. Langit mendung seperti tahu akan keadaan hatiku saat ini.
Satu jam aku masih tidak berusaha beranjak dari sana, sejak kembali dari liburan yang membawa kesan mengerikan. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku dikamar. Hanya keluar jika ada undangan pesta.
Aku mengutuk Adrian di dalam hati, tidak aku sangka, lelaki yang begitu baik dan polos di mataku ternyata adalah serigala yang menyembunyikan warnanya dibalik bulu domba yang putih bersih. Jika saja aku tidak dibutakan oleh cinta, harusnya aku menyadari banyak petunjuk kecil. Tetapi aku yang terlalu membanggakan diriku malah jatuh ke dalam jurang kebodohan.
Aku mengangkat pantatku dan mulai berjalan menuju kasurku, membaringkan tubuh lelahku dan mulai memejamkan mataku. Sekali lagi mengingatkan akan diriku untuk membalas dendam pada Adrian Adhitama. Pria yang aku cintai sekaligus aku benci di saat bersamaan.
Rasa lelah dan kantuk menyerang ku dan akhirnya aku larut dalam mimpiku, mimpi dimana saat pertama kali aku melihat Adrian dengan wajah tenangnya yang membuatku seketika jatuh cinta pada saat itu juga.