Please Save Me

Please Save Me
Chapter 6



Sore harinya saat Adrian pulang, aku menceritakan masalah itu seperti sebuah lelucon dan wajahnya menjadi terkejut


"Apakah dia benar-benar melakukan hal seperti itu?"


"Mengapa kamu terkejut? Jangan bilang hanya kamu yang melihat pesona ku? Hmph"


Aku menjawab dengan sinis dan kemudian dia menarik ku ke pelukannya


"Aku harus menjagamu dengan hati-hati. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi padamu lagi dan tidak boleh membiarkan mu tinggal dirumah sendirian"


Tidak mungkin aku akan mau untuk tinggal dirumah ini sendirian. Aku masih mengingat dengan jelas raut wajah benci yang diberikan Andra kepadaku. Hari-hari berikutnya Andra seperti menghilang, dan akan menundukkan wajahnya saat berpapasan ataupun duduk di depanmu saat rapat. Aku tidak tahu apakah dia malu atau masih memendam niat jahatnya kepadaku. Aku tidak takut dan aku akan menghadapinya.


Akhir-akhir ini Adrian menjadi pusat perhatian, gengsi Tuan mudanya menjadi naik sedikit demi sedikit dan itu membuat paman Juan tampak tidak terlalu bahagia. Menunjukkan ekspresi yang tidak menguntungkan pada putra tertua yang tiba-tiba berpengaruh ini.


Sebenarnya ini tidak mengherankan, putra angkat yang tangguh mengambil alih posisi putranya sendiri di perusahaan. Bagaimana mungkin dia tidak mulai khawatir tentang masa depan jangka panjang?


Andra putus asa selama sebulan sebelum akhirnya mencapai sesuatu yang membuat paman Juan bahagia, Andra memenangkan tender tetapi dia tidak bisa terlalu banyak membanggakan dirinya untuk itu.


Di rapat selanjutnya paman Juan memberikan selamat dan membanggakan putranya di depan orang-orang dan disana Adrian hanya tersenyum tipis dan mengucapkan selamat seperti itu adalah hal yang biasa.


Aku berpikir bagaimana laki-laki ini bisa begitu lembut dan baik hati? Apakah dia tidak tahu, jika mereka semua adalah serigala dan serigala. Membuatmu bekerja keras memerah keringat dan pikiranmu tanpa imbalan apapun. Aku menjadi sangat kesal untuk Adrian. Dia berada di tengah kompetisi yang tidak adil. Dan hakim kompetisi adalah Ayah angkat nya. Di pertemuan ini itu paman Juan seperti sengaja memuji dan untuk menunjukan kepada Adrian.


Pada malam harinya aku terbangun dan melihat Adrian duduk di samping tempat tidurku.


"Kamu terlihat tidak terlalu baik, Apakah kamu lelah" tanyaku ketika melihat wajah kusutnya


"Aku? Aku tidak pernah merasa tidak baik. Lihat, bukankah kamu sangat baik kepadaku?"


Aku mengambil tangannya dan kemudian menggenggamnya


"Adrian, kita adalah kawan seperjuangan kan"


"Bella, jangan terlalu baik kepadaku. Aku tidak akan sanggup untuk menanggungnya"


"Bodoh, Aku paling suka sikap naif mu yang seperti ini. Tumbuh di kediaman Adhitama, bagaimana kamu bisa menjadi pribadi yang begitu tulus dan baik hati dan menderita diam-diam seperti ini?"


"Jika aku bukan orang seperti itu, bagaimana aku bisa bertahan sampai saat ini? Papa juga tidak akan mengizinkan aku untuk masuk ke dalam perusahaan Adhitama. Setiap orang memiliki keberuntungannya sendiri... Seperti Andra, hanya saja dia menyia-nyiakan keberuntungan itu" Adrian tampak sedih dan menghela nafas


"Apa yang terjadi dengan Andra?"


"Andra mengacaukan rekening perusahaan dan menggelapkan uang sekitar lima hingga delapan ratus juta, dan aku tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membantu menutupinya. Hah.. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu jika berita ini sampai bocor ke media, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada perusahaan Adhitama"


"Kenapa kamu duduk? Berbaringlah. Kamu baru saja sembuh dari sakit" Adrian kembali membantuku berbaring dan menyelimuti ku


"Adrian.... " tiba-tiba aku merasa tidak ingin berpisah dengannya


"Apa itu Bella?" Adrian membungkuk dan mencium keningku


"Tidak apa-apa"


"Baiklah. Selamat malam" katanya kemudian berbalik dan keluar kamar. Aku beranjak lalu mengunci pintu takut jika Andra akan mendatangiku saat aku terlelap. Kemudian aku mengambil telepon genggam ku dan menghubungi Ayahku


"Papa, ini aku. Bisakah Papa meminta seseorang datang besok untuk memeriksa akun perusahaan Adhitama?"


Aku berbincang-bincang sebentar dengan Ayahku melalui telepon dan membahas semua yang terjadi di perusahaan Adhitama, kemudian menutup telepon dan meletakkannya di samping tempat tidur. Menarik kembali selimut dan aku mulai memejamkan mataku. Semoga kecurangan Andra besok akan terbongkar. Aku tahu pasti Adrian tidak akan menyukai ini tapi aku tidak ingin melihatnya terus menderita atas apa yang tidak dia lakukan. Aku melakukan ini semata-semata hanya ingin membantunya.


Tidak ada yg bisa menjelaskan efisien Papa. Keesokan harinya, begitu kami sampai di kantor, kami semua melihat sosok asing di ruang VIP. Benar saja, itu adalah direktur perusahaan yang juga bisa dianggap adalah paman ku yang lain. Untuk mencegah Adrian tahu tentang ini, aku berpura-pura tidak mengetahui masalah ini dan dan masuk ke kantor. Hanya setelah kami mulai sibuk dengan beberapa file, telepon berdering. Adrian mengangkat telepon dan aku mulai merasa was-was


"Halo?" setelah mendengarkan sebentar, tiba-tiba ekspresi Adrian berubah. Dia tiba-tiba berdiri dan meletakkan penanya


"Oke, aku akan segera kesana" Adrian menutup teleponnya dan menatapku dengan wajah seperti ingin mencari sesuatu


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat marah? Apakah ada masalah perusahaan?" tanya ku berpura-pura untuk tidak tahu


"Bukan apa-apa. Sepertinya ada direktur di kantor Papa. Dia ingin melihatku dan Andra untuk mengobrol sedikit" Adrian bergegas keluar dan aku juga bisa melihat wajah Andra yang marah, jengkel dan bingung dari balik kaca.


Hatiku sangat puas, bisa dikatakan bertemu denganku adalah nasib buruk bagi Andra. Aku bukanlah Adrian yang berhati lembut. Aku menunggu dengan sabar. Saat Adrian kembali aku dengan cepat menghampiri


"Jadi apa itu?"


"Direktur datang dan tiba-tiba ingin mengaudit rekeningnya"


"Apa?! Lali bagaimana dengan tindakan Andra??" Aku pura-pura terkejut dan khawatir


Adrian menggelengkan kepalanya dengan sedih "Aku mencoba yang terbaik untuk mencegahnya dalam segala hal. Kakak ini benar-benar tidak berguna" katanya pada diri sendiri


"Untungnya itu adalah direktur dari perusahaan Adhitama dan masih bisa dianggap seorang paman. Jadi masalah ini tidak akan bocor ke pihak media, dan selama perusahaan Adhitama stabil apa yang perlu dikeluhkan ?"


"Andra adalah adikku.... "


"Adrian.... Di dalam kehidupan bagaimana bisa seseorang tidak bisa merawat diri sendiri? Begitu mereka menjadi tangguh, kemudian mereka bisa menjaga orang-orang yang dicintainya" Adrian sebenarnya sangat tanggap dan aku takut dia akan menemukan manuver rahasiaku, dengan hati-hati aku mencoba menenangkannya untuk waktu yang lama. Dan seperti itulah hari dimana aku melewatkannya dengan Adrian.