Please Save Me

Please Save Me
Chapter 10



Aku hanya bisa bersyukur bahwa Jakarta memiliki bandara besar dengan banyak jadwal penerbangan. Aku langsung memesan tiket pulang tercepat ke Perancis. Saat menunggu pesawat, aku masih saja merasa takut jika tiba-tiba Adrian akan datang. Saat ini aku takut pada orang itu, bahkan Jakarta tempat kelahirannya.


Setelah mengalami masalah ini, aku benar-benar memahami pepatah bahwa ada surga dibalik langit tertinggi, seseorang diluar orang ini. Sebelumnya Ayah telah mengajariku segala macam hal, mengatakan bahwa aku sombong dan suka bertindak pintar. Ternyata semua itu benar.


Begitu aku turun dari pesawat, aku memutuskan untuk tidak memanggil sopir tetapi memanggil taksi dan memberitahukan alamatku. Barulah ketika aku melihat bangunan yang aku kenali dari kejauhan, tubuhku menjadi sedikit rileks. Begitu memasuki halaman, seorang pelayan melihatku dan kemudian dengan terburu-buru menghampiriku, sambil membawa sebuah payung dan membukakan pintu untukku. Barulah aku merasa saat itu jika aku akhirnya sudah kembali ke rumah. Aku merasa lega, beberapa pelayan kemudian datang ikut menyambutku dan membawakan koper untukku.


Kulihat Ibuku sedang duduk di meja, bermain bersama teman-temannya. Begitu dia melihatku dia terkejut lalu berdiri dan memelukku


"Mengapa kamu tidak memberitahu Ibu bahwa kamu akan pulang?"


"Ma..." panggilku dengan sedih, perasaan teraniaya itu kembali muncul di benakku. Tapi disana masih banyak beberapa wanita dari keluarga terkemuka yang sedang menunggu Ibuku, jadi aku terpaksa bertahan untuk tidak menumpahkan air mata dan kesedihanku saat ini.


"Aiyaa...Bella, apa yang terjadi pada lenganmu?" Ibu yang mulai mengira aku bertingkah manja mulai berseru saat ia tak sengaja menemukan lenganku yang memiliki bekas goresan luka yang lumayan panjang. Jari lembut dan halusnya dengan hati-hati dan susah payah meraba lenganku bergetar saat menyentuh lenganku, membuatku merasa hangat di dalam. Aku memaksakan untuk tersenyum.


"Ma...tidak apa-apa. Ini hanya bekas luka kecil, aku bisa menutupnya dengan jaketku" Ya saat ini aku hanya mengenakan kemeja dan celana jeans tanpa memakai jaket sehingga luka di lenganku bisa terlihat dengan jelas.


"Bagaimana ini bisa baik-baik saja? Bagaimana mungkin anak ini tidak tahu cara menghargai diri sendiri? Kau pergi berlibur dan ini hasilnya. Ibu selalu bertanya-tanya mengapa Ayahmu setuju untuk melepaskanmu sendirian di Jakarta. Tidak bisakah kamu tinggal di rumah dimana semuanya baik-baik saja? Aku merawatmu dengan sangat hati-hati, sepuluh tahun lebih dan tidak ada satu goresan pun, hari ini....." Kata-kata Ibu bahkan lebih dari air matanya dan aku tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa.


"Bella, kamu kembali?" Ayah turun dari lantai dua dan menghampiriku


"Pa.."


"Kenapa kamu menangis? seharusnya kamu tidak memanjakan anakmu. Aiya Ibu yang penyayang memanjakan anaknya" Ayah berbalik ke arahku dan seketika membeku ditempat melihat goresan panjang di lenganku. Aku sebenarnya sudah memberitahukan kepadanya lewat telepon tetapi mungkin Ayah tidak menyangka akan seperti ini.


"Aku menyuruhmu belajar dengan benar dan kamu masih bersikeras pergi ke Jakarta untuk liburan. Apa yang telah kamu lakukan hingga berakhir seperti ini?"


"Kenapa kamu masih berdiri, pergilah ke kamarmu dan pergilah mandi. Kamu berkeringat sekujur tubuhmu" lanjutnya lagi


Ayahku selalu menjaga penampilan dan dengan enggan aku melangkahkan kakiku naik menuju kamarku meninggalkan Ibu yang masih menitikkan air mata. Kudengar Ibu memanggil salah satu pelayan


"Bibi San, bantu Nona muda dengan air mandi" pelayan itu kemudian menyusulku dibelakang


"Ini semua salahmu, Lihat lengan Bella, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Jika bukan karena kamu...." Ibu terus menangis menyalahkan Ayah. Sebelum aku masuk ke dalam kamar aku masih sempat mendengar Ayah memerintahkan seseorang


"Cari tahu siapa ahli bedah plastik paling terkenal di Perancis. Cepat pergi..."


Menyentuh bekas luka di lenganku, aku dengan malas membiarkan diriku berendam dalam air hangat. Tenang, aku mulai bisa memikirkan kembali semua yang terjadi. Namun mengingatnya, memicu rasa sakit yang luar biasa. Sebenarnya taktik Adrian tidak sepenuhnya brilian. Ada petunjuk, kecuali aku dibutakan..... Aku memejamkan mata dan membenamkan kepalaku ke dalam air. Gendang telingaku merasakan efek tekanan air dan mulai berdengung. Kudengar seseorang mengetuk pintu


"Bella, sudah waktunya makan. Kenapa kamu begitu lama dikamar mandi. Apakah semuanya baik-baik saja?" Suara ibu terdengar begitu khawatir


"Aku baik-baik saja, aku akan keluar" jawabku kemudian


Semua orang diam di meja makan. Mungkin karena aku diam, jadi mereka takut berbicara sembarangan dan menyakiti perasaanku. Hanya dengan melalui tatapan mereka yang penuh kekhawatiran yang membuatku mengerti.


Wajah Ibu menunjukkan keberanian dan menungguku membuka mulut sehingga dia bisa berlari dan memelukku dan menangis lagi. Ayah mengelak, dia ingin selalu terlihat memiliki tampilan kebapakan yang tegas. Mereka hanya memilikiku, anak satu-satunya dan tentu saja itu memilukan.


Aku merasa sedikit sentimental dan sepertinya keluargaku adalah tempat yang baik. Adrian mungkin tidak pernah merasakan perasaan yang hangat sejak dia masih kecil. Dia kemungkinan besar hanya berusaha sekuat tenaga menyembunyikan bakatnya di meja makan. Untuk menghindari perhatian keluarga Adhitama untuk tidak membencinya. Setelah makan aku mencari alasan dan dengan cepat kembali ke kamar.


Aku duduk di rumah dengan perasaan murung dan depresi selama beberapa hari. Ibu terus menerus menyeduh sup obat berharap hal itu akan menghilangkan bekas lukaku. Ahli bedah plastik terbaik telah datang dan memeriksa dan menyatakan dengan jelas bahwa bekas luka di lenganku tidak dapat dihapus. Aku sudah mengetahui ini sejak lama.


"Bella, apakah seseorang menyakitimu? Bicaralah pada Papa" ketakutan akan Adrian kembali muncul, aku takut jika aku mengatakannya, dia akan menyakiti keluargaku. Dan akhirnya aku hanya bisa diam.


Suatu hari setelah makan, aku mengobrol dengan ayah di ruang kerjanya. Kami membicarakan tentang kenaikan tajam perusahaan Adhitama dan pencapaian luar biasa yang mengarah ke keuntungan saham yang sangat besar.


"Pa, karena Papa sudah begitu banyak memiliki saham perusahaan Adhitama, mengapa tidak mencari lebih banyak lagi?"


"Bella, sepertinya kamu telah belajar dengan baik"


"Papa mengajariku berjuang untuk lebih banyak mendapatkan pengaruh adalah saat seseorang paling puas"


Aku tahu, aku telah menciptakan krisis besar bagi perusahaan Adhitama dan dengan diam meninggalkan ruangan kerja Ayah.


"Ibu tidak tahu mengapa Ayahmu begitu sibuk, beberapa tahun dan dia masih berusaha sekuat tenaga" kata Ibu yang berada di depan pintu ruang kerja Ayah


"Pria berusaha sekuat tenaga karena karir mereka dan tidak selalu untuk uang ataupun barang" kataku pada Ibu. Mungkin Ayah sudah curiga dengan apa yang terjadi dan akan berperang menuntut keadilan untukku.


"Bisnis ini, bisnis itu, namun tidak mengurus putrinya sendiri. Jika dia lebih memperhatikan keluarga bagaimana mungkin kamu berakhir seperti ini" Aku terkejut mendengar suaranya yang berubah serak dan aku yakin sebentar lagi Ibu akan menangis.


Astaga, mengapa wanita memiliki begitu banyak air mata? Menangis untuk suaminya, menangis untuk putrinya. Meskipun aku telah diperlakukan dengan kejam oleh Adrian tetapi aku belum meneteskan air mata untuknya. Aku buru-buru menenangkan Ibuku dan mencari alasan kembali ke kamarku.