
Keesokan harinya saat aku turun, semuanya telah ada di meja makan.
"Selamat pagi Paman Juan, Adrian, Andra"
Ada semangkuk bubur di depan paman Juan dan dia berkata "Selamat pagi Bella. aku ingin meminta pelayan untuk memanggil mu turun tetapi Adrian mengatakan bahwa kami harus membiarkanmu tidur setelah penerbangan jarak jauh. Itulah sebabnya kami tidak membangunkan mu"
Aku melirik Adrian dengan cepat dan melihat, dia dengan hati-hati menurunkan kepalanya untuk melihat sarapannya sendiri. Aku hanya bisa tersenyum sambil berkata "Adrian sangat perhatian. Terima kasih, aku berhasil tidur nyenyak"
"Itu benar, kakak laki-laki penuh perhatian. Bella, apa rencanamu hari ini? Aku akan bertugas sebagai supir yang ditunjuk" Andra menyela
"Tidak perlu. Papa bilang bahwa aku tidak harus bermain dan belajar dari paman Juan. Aku pikir akan lebih baik bagiku untuk mengikuti kalian semua ke perusahaan Adhitama untuk mengamati" Aku tersenyum ketika aku menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan pandangan menghina dari Andra.
Sudah terlambat Andra. Kali ini kamu tidak dapat membandingkan dirimu dengan kecepatan langkah kakak mu. Dengan diam-diam aku memandang Adrian dengan hangat dan lembut
Hatiku tiba-tiba di penuhi dengan rasa manis, sangat memikat. Perasaan yang belum pernah aku alami. Itu benar yang cepat sebenarnya adalah aku. Diam-diam aku tertawa. Setelah selesai makan kita semua pergi ke kantor. Aku mengatakan pada semuanya jika aku ingin duduk di mobil Adrian.
"Aku sangat suka model mobil ini. Nyaman dan dapat di andalkan" kataku kepada mereka
Andra yang selama ini ingin mengantarku memiliki ekspresi yang tidak sedap dipandang di wajahnya tetapi memaksakan senyum dan membuka pintu mobil Adrian untukku. Duduk di kursi pengemudi, Adrian tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Setelah itu Paman Juan dan Andra masing-masing masuk ke dalam mobil mereka.
"Ada apa? Apakah kamu takut aku membocorkan niatku?" aku bertanya
"Aku tidak berharap kamu begitu berani. Apakah kamu tidak takut mereka akan berspekulasi dengan liar?" Benar saja, sifat dari putra tertua yang berprilaku baik ini kembali dalam satu malam. aku mendengus.
"Semakin kamu mengelak, semakin banyak orang yang akan merasa curiga. Taktik ini harus kamu pelajari sedikit"
"Ya, ya, Aku mengerti" Adrian tertawa riang saat mengemudi, menatapku dengan mata penuh kelembutan. Tiba-tiba aku merasa nyaman dan senang duduk di sebelahnya seperti ini. Aku menyadari kekecewaan ku dan berkata kepada Adrian
"Kamu tahu? Kamu secara permanen sangat menggoda"
"Oh?"
"Itu karena satu pandangan darimu, dan hatiku melompat" kata-kata ini setengahnya benar, tetapi dia tampaknya menganggap ini dengan serius. Dengan wajah senangnya menatapku dengan wajah tampannya yang tiba-tiba memerah. Jantungku berdebar dan wajahku juga ikut memerah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya ketika aku dan dia menjadi pasangan dan bercinta.
Orang bodoh ini, tadi malam adalah kesempatan yang bagus dan tapi dia benar-benar menahan dirinya untuk tidak menyentuhku. Aku tahu ada pergumulan hebat di dalam hati dan pikirannya. Aku merasa sedikit terharu dengan bagaimana dia memperlakukanku dengan hormat, sama sekali tidak seperti yang aku bayangkan.
Dua orang, Pria dan Wanita yang memakai piyama dengan perasaan yang tidak terselesaikan kembali ke kamar masing-masing. Selain itu, Ciuman penuh gairah hasil akhirnya adalah aku melempar dan membalik dengan frustasi sepanjang malam. Mengumpat Adrian yang di cintai tetapi tetap konsisten.
Setelah sampai di kantor, kami semua masuk dengan anggunnya.
Perabotan yang sederhana, desktop penuh dengan file. Sekali pandang aku tahu betul bagaimana Andra melempar semua pekerjaan yang sulit kepada kakak laki-lakinya.
Aku berjalan ke arah file dan membagi file dengan hati-hati seperti instruksi yang tertulis. Orang ini sebenarnya tidak bodoh, dengan etos kerja yang teliti.
"Kantor Papa ada di lantai atas, dan kantor Andra ada di sebelah" Adrian menutup pintu dan tersenyum padaku
"Apakah kamu memperingatkan aku untuk tidak berani di kantor?" aku menyipitkan mata ke arahnya. Adrian tersenyum dan menghampiri untuk berdiri di sampingku. Aku tahu dia ingin mengalah kepadaku tetapi tidak memiliki keberanian untuk bersikap ramah. Aku menghela nafas dan membimbing tangannya untuk melingkari pinggangku. Tangan itu segera mengencang di pinggangku seolah tidak mau melepaskan.
"Adik tipe seperti ini cepat atau lambat akan menelanmu" Wajahnya yang tenang dan halus tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan, saat dia menundukkan kepalanya ke leherku dan bernafas
"Jangan bicara soal Andra seperti ini. Ini tidak bisa dihindari ketika kamu dilahirkan dalam keluarga kaya dan kuat"
Menakutkan, memikirkan bagaimana aku memiliki kesan yang baik tentang seorang yang bodoh. Aku tinggal di kantor Adrian sepanjang hari, menatapnya sibuk bekerja. Sekretaris nya dan dia seperti di takdir kan untuk mengalami kesibukan yang tiada henti. Membawa file bolak balik seperti gasing yang terus berputar sedangkan dari pihak Andra tidak terlihat adanya aktivitas seperti pada Adrian.
"Papa mengadakan pertemuan kecil, kamu ingin datang?" Aku hanya bisa mengangguk
" Tentu saja aku akan pergi. Aku juga di anggap sebagai pemegang saham masa depan" aku menarik tangannya dan keluar meninggalkan ruangan dan berpapasan dengan Andra yang juga keluar dari ruangannya.
Wajah Andra sedikit berubah ketika dia melihat tangan kami yang tergabung. Orang ini yang mungkin dulu lebih baik dalam segala hal daripada kakak laki-lakinya mungkin marah pada kegagalannya dalam menggodaku dan menjerat tanganku.
Kami bertiga masuk ke dalam kantor paman Juan dan setelah kami duduk, paman Juan langsung menuju pokok permasalahannya.
"Apakah kalian semua melihat putaran perekrutan tender kontruksi perkotaan dari pemerintah?" tanya paman Juan kepada kami
"Aku sudah melihatnya. Aku baru saja bertemu dengan dengan Insinyur yang bertanggung jawab" Andra bersaing untuk menjadi pembicara pertama.
Aku memandang Adrian yang baru saja selesai menelpon untuk mengkonfirmasi semua rincian dan harus memiliki pegangan yang baik tentang hal ini. Siapa yang akan mengharapkannya untuk mengatakan ini
"Akan lebih baik jika Andra menangani masalah ini. Dia sangat berpengalaman dengan kontruksi perkotaan"
Proyek ini adalah proyek besar, mengapa dia tidak mau bersaing untuk ini di depan paman Juan? Dengan diam-diam aku mencubitnya.
Tidak heran jika kamu selalu diganggu. Adrian diam-diam menderita cubitanku. Aku berbalik dan melihat sikap Andra yang arogan dan sekaligus merasakan kebencian pada Andra meningkat.
Setelah keluar dari ruangan Paman Juan telinga kami dipenuhi dengan deskripsi Andra yang sombong tentang rencananya sendiri. Aku memutar mataku malas mendengar pembicaraan itu. Begitu masuk keruangan Adrian, aku langsung memburunya
"Mengapa kamu tidak membuka mulutmu? Apakah kamu juga tidak bisa menangani masalah ini?" Desktop nya penuh dengan dokumen resmi yang teliti, dan semua itu menunjukkan semua kemampuannya yang jelas
"Kamu tidak mengerti" katanya kepadaku
"Baik. Katakan kepadaku apa yang tidak aku mengerti?" desakku padanya
"Aku diadopsi. Aku bukan anak kandung Papa. Hanya ada Andra" jawabnya membuatku terpana.
Keluarga yang kaya dan berkuasa tidak diragukan lagi akan memiliki banyak rahasia. Di antara mereka akan banyak potongan-potongan yang tersembunyi rapat-rapat. Namun Adrian dengan tenang mengungkapkan rahasia ini kepadaku yang baru saja dia temui selama dua hari. Membuatku sedikit resah.
"Bahkan Andra tidak mengetahui ini. Dia dengan sepenuh hati menganggapku sebagai musuh. Dia tidak tahu bahwa aku tidak bisa pernah bersaing dengannya" tambahnya sambil tersenyum masam kepadaku
"Lalu mengapa kamu mengatakan ini padaku?"
"Aku tidak ingin kamu menjadi kesal karena ku" jawabnya dan tentu saja aku kesal karena dia. Semua pekerjaan dikerjakan olehnya, tetapi semua pujian adalah milik Andra. Dengan cara ini anak tertua keluarga Adhitama mungkin tidak akan mewarisi satu sen pun dari kekayaan keluarganya di masa depan. Dia seperti seekor lembu jantan yang tertindas membuatku semakin kesal.
"Kenapa tidak menantang? Anak angkat juga memiliki hak waris" kataku tidak setuju
Dia menatapku dengan pandangan tidak setuju. Pengabdian buta seperti itu hanya akan membawa akhir yang sedih. Dengan aku yang ada di sisinya tentu saja aku tidak akan membiarkan itu berakhir dalam kondisi yang menyedihkan. Diam-diam aku mengepalkan tinjuku dan menganggap aku bisa menyelamatkannya seperti sekarang pahlawan. Aku benar-benar tipe yang implusif tetapi mengapa tidak mencoba demi Adrian yang lembut dan menyenangkan ini pikirku. Dan mungkin ini juga akan bermanfaat untukku.