Please Save Me

Please Save Me
Chapter 4



Malam harinya aku menelpon Ayahku untuk bertanya tentang keluarga Adhitama.


"Pa, bagaimana menurutmu tentang perebutan kekuasaan di keluarga Adhitama?"


"Perebutan kekuasaan apa? Andra sudah menjadi pemenang yang jelas"


"Tidak harus, aku ingin membantu Adrian" kataku


"Oh, mengapa?"


"Andra itu licik. Adrian itu jujur dan penuh perhatian. Papa sebagai pemegang saham harus mencari seorang presiden dengan karakter yang baik, akan mudah untuk mengendalikan orang yang jujur dan terus terang" bujuk ku kepada Ayahku


"Keluarga tua dan termasyhur. Kamu kira bisa dengan mudah mempengaruhinya?"


"Duduk saja dan tonton. Tetapi saat aku membutuhkan pengaruh pemegang saham. Pa, kamu harus membantuku" kataku dan di seberang sana Ayahku terdiam tetapi aku tahu dia telah terbujuk.


Setelah selesai menelpon aku membaringkan tubuhku telentang di ranjang menatap langit-langit kamar dan mulai memikirkan rencana yang akan aku lakukan untuk membantu Adrian. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa aku sangat ingin membantu Adrian. Jangan bilang jika aku sudah jatuh cinta pada Adrian. Aku menggelengkan kepala, itu tidak mungkin, sepanjang hidupku aku tidak pernah jatuh cinta dengan seseorang begitu cepat. Hatiku mulai menghangat saat mengingat kembali saat Adrian memelukku dengan lembut pagi ini saat di kantor. Anggap saja ini demi keluarga Morris. Bagaimana juga keluarga kami sudah memiliki investasi yang besar terhadap perusahaan Adhitama ini. Dan akan lebih baik untuk memiliki Adrian sebagai puncak pimpinan, daripada harus berurusan dengan Andra di masa depan. Akhirnya aku pun merasakan berat di kedua mataku dan jatuh tertidur.


Setengah bermimpi dan setengah terjaga aku merasakan seseorang berada di dekatku. Aku bangun dengan kaget dan melihat Adrian duduk di samping tempat tidurku.


"Itu kamu!"


"Ini aku, Aku tidak bisa tidur mengira kamu mungkin akan terbangun sekali lagi untuk mencari air, jadi aku datang untuk memeriksa mu"


"Tapi pintu kamarku terkunci. Kamu masuk ke kamarku di tengah malam untuk memeriksa apakah aku mungkin haus?"


"Aku punya kuncinya" jawabnya dengan malu


"Sepertinya kamu sudah mempersiapkan kuncinya sejak dulu. Kapan saja bisa meminta **** ilegal dengan tamu keluarga Adhitama" kataku dengan meletakkan kakiku di atas pahanya


Mata Adrian menunjukkan ingin sekali memakan ku tetapi sikapnya masih seperti biasanya. Dia memegang kakiku dan meletakkan kembali ke atas kasur dan menarik selimut menutupi ku hingga dada.


"Hati-hati jangan sampai kedinginan. AC di rumah Adhitama sangat kuat"


"Aku tidak kedinginan" aku kembali mengeluarkan kakiku dan Adrian yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya dan memasukkan kakiku kembali dalam selimut.


"Adrian, apakah kamu benar-benar menyukaiku?"


"Ya, benar"


"Aku ingin kamu menemaniku kemana-mana"


"Tunggu sampai aku menyelesaikan pekerjaan ini dan aku akan menemanimu dengan benar"


Setelah satu jam mengobrol aku mulai menguap dan Adrian kemudian berdiri dan membungkuk mencium keningku. Aku menarik piyamanya dan mendekatkan mulutnya ke bibirku dan dia pun mencium ku dengan sangat lembut.


"Pergi tidur" Adrian berbisik sangat rendah di telinganya dan aku menutup mataku yang sudah sangat berat.


Keesokan harinya aku terbangun dengan suara kicauan burung. Orang mengatakan jika Jakarta adalah kota metropolitan. Bunga, burung dan pohon sudah lenyap tetapi rumah keluarga Adhitama berada di pegunungan, halaman yang luas dan indah dengan tukang kebun yang ahli, tidak heran jika ada burung. Tidak yakin mengapa setelah mendengar panggilan burung pagi ini saya mulai memikirkan hal-hal yang tinggi. Aku berulang kali menggelengkan kepalaku dan turun dari ranjang. Selesai mandi aku memilih dress berwarna biru muda dan aku membayangkan wajah Adrian yang menatapku dengan senyum hangatnya yang sedikit pemalu tapi tetap terkendali. Adrian, kamu adalah lelaki yang beruntung.


Saat aku menuruni anak tangga menuju ruang makan aku melihat semuanya telah berkumpul dan menungguku


"Paman Juan, selamat pagi" aku dengan cepat menyapa paman Juan tetapi mataku mengarah kepada Adrian.


"Bella, kamu berpakaian sangat cantik hari ini. Apakah kamu akan berkencan dengan pacarmu hari ini?" yang pertama membuka suara adalah Andra. Dia menatapku seolah melihat sepotong harta langka. Kasihan untuknya karena itu hanya akan membuat rambutmu berdiri. Hanya Adrian yang dengan anggunnya mengangguk


"Ayo makanlah, Kebiasaan anda yang didapat dari tinggal di luar negri sebenarnya tidak baik, sarapan harus tepat waktu" mau tidak mau aku merasa kecewa mendengarkan ucapannya. Mengerutkan kening ku, aku menarik kursi dan duduk.


Sepertinya Ayah telah bertindak sangat cepat dengan membuka peluang untukku.


"Paman, aku tidak mengerti apa-apa. Perusahaan Adhitama adalah perusahaan besar. Bagaimana aku bisa dengan ceroboh masuk? Bagaimana dengan ini, aku akan mengikuti Adrian dan bertindak seperti asistennya" aku tahu paman Juan memberikan posisi itu dengan sakit di kepalanya. Mendengarkan jawabanku dia seperti merasa lega tetapi masih berkata


"Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa Adrian dibandingkan denganmu?" paman Juan memujiku tetapi dengan cepat mengubah topik pembicaraan agar aku tidak kembali pada kata-kataku.


Adrian menoleh kepadaku dan menatapku seolah-olah menuduhku tidak baik. Aku pura-pura terlihat serius dan memakan sarapan ku tanpa melihat ke arahnya. Karena kehadiranku di sisi Adrian akan di benarkan dan sekali lagi aku salah dalam memilih kursi di hadapan Andra. Sepanjang sarapan dia selalu melihat ke ayahku dengan kilatan samar di matanya, membuatku salah tingkah. Orang di hadapanku ini tidak baik.


Setelah sarapan semua orang pergi ke perusahaan. Secara alami sekali lagi aku memasuki mobil Adrian. Dia tidak terburu-buru menyalakan mobilnya tetapi berbalik ke arah ku dan tersenyum


"Kamu terlihat sangat cantik hari ini. Aku sangat terkejut sampai aku hampir jatuh dari kursi" mendengar kalimat yang memujiku seketika aku melupakan ketidaknyamanan tadi pagi di meja makan, aku mendengus dan mengerutkan bibirku.


"Bella, aku ingin mencium mu"


"Lalu kenapa tidak?"


"Apakah kamu bersedia?"


"Tidak mau!" aku memalingkan wajah ku kesal. Kenapa aku harus bertemu dengan karakter yang tidak cocok.


Dia duduk diam untuk waktu yang lama, suasana kembali tidak nyaman. Kemudian dia berbalik dan menyalakan mobilnya. Sesampainya di parkiran, aku keluar dan melemparkan tangan Adrian dan memasuki lift. Adrian tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengikuti ku di belakang. Di lift hanya ada kita berdua


Semakin aku melihatnya semakin aku marah. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku marah hanya karena hal sepele seperti itu. Tetapi jika dia terus seperti ini, bertali lurus dan berkepala sapi seperti kakek buyut ku, bagaimana aku bisa melewatkan hari-hariku bersamanya?


"Awas!!" ucapnya melihatku menabrak lemari arsip. Dahi ku terasa sakit. Sial, tidak menabrak pintu lift tetapi aku menabrak lemari arsip. Kenapa kabinet sialan ini berada di sini?


"Bella, apakah sakit? Bagaimana jika kita ke rumah sakit?" Adrian bergegas ke arahku dan memeriksa dahi ku yang sedikit memerah. Aku mengabaikannya dan pergi membiarkannya mengikuti aku dari belakang. Begitu kita memasuki ruangannya, Adrian meraih pergelangan tanganku


"Bella...."


"...... "


" Sungguh, kenapa kamu sangat marah?"


Aku tidak mau menjawab, aku juga tidak mengerti kenapa aku merah dengannya, aku hanya bisa cemberut ke arahnya. Wajah lembut Adrian saat ini penuh dengan kekhawatiran. Dia menghela nafas dan berbalik membiarkanku pergi.


Begitu aku tidak bisa melihat wajahnya lagi, tiba-tiba hatiku terasa dingin dan terbang menjadi kemarahan hanya untuk menarik perhatiannya. Dia tiba-tiba berbalik dan hanya dengan satu tarikan saja menarik ku erat ke dalam pelukannya. Baru sekarang aku menyadari betapa kuatnya dia. Seluruh hati dan wajahku dipenuhi dengan kehadirannya. Setelah ciumannya yang kuat, aku menyadari dia tidak se murni dan se polos yang aku bayangkan. Jika dia bisa membawa ku, Nona muda Bella ini dan mencium ku hingga aku kehabisan nafas, pasti dia punya beberapa kekasih. Sudah terlambat bagiku untuk cemburu pada hal-hal ini. Aku telah jatuh ke dalam jurang Adrian.


Kemudian asisten Adrian muncul dan dia membawa setumpuk file besar yang mengingatkan aku pada waktu proyek kelulusanku dengan segudang buku referensi. Adrian duduk dan mengambil beberapa file dan berkata kepada asistennya


"Jihan, Nona Morris akan mulai sebagai asisten khusus saya hari ini. Tolong siapkan untuknya pekerjaan yang perlu"


Jihan adalah wanita paruh baya yang menarik. Berbicara tentang itu, dia sebenarnya tidak benar-benar menarik, tidak anggun. Satu pandangan saja orang dapat melihat dari pakaiannya jika dia adalah orang yang tidak pernah di promosikan. Jihan mungkin tipe seperti Adrian, lembut jantan. Jihan mematuhi dan menoleh padaku lalu mengangguk.


"Nona Morris walaupun dia adalah asisten saya, dia juga adalah teman keluarga Adhitama. Dia disini hanya sementara waktu, tolong beritahu staf Junior untuk memperlakukannya dengan hormat" aku melihat keseriusan di wajah Adrian dan merasakan hangat di hatiku.


Mau tak mau aku menatapnya genit. Orang ini menunjukkan kepadaku bahwa karena aku mengikutinya, orang yang baik hati, dia khawatir aku akan diganggu. Secara resmi aku adalah asisten jadi aku tidak bisa untuk tidak melakukan apa-apa. Aku duduk dan bersandar di sofa dengan hati-hati memeriksa dokumen yang telah di periksa oleh Adrian. Ini terlalu banyak file, tetapi dia membalik sangat cepat dan belum juga mencatat instruksi. Aku berpikir jika cara kerja ini pasti akan memiliki kesalahan dan kelalaian, jadi aku memeriksa kembali untuknya. Aku tidak berharap jika aku tidak dapat melihat dan menemukan satu kesalahan apapun dan semakin aku melihat aku semakin kagum.


Pada saat aku tidak mengerti dia berhenti dan bahkan dia menjelaskan kepadaku. Dari membangun topografi situs, hingga kualitas dan komposisi tanah hingga koneksi pemerintahan tingkat tinggi.


Kemudian tiba-tiba dia meletakkan penanya dan meraih telapak tanganku dan membaliknya di telapak tangannya lalu mendudukkan ku di pangkuannya


"Ada apa? Kamu terlihat tidak bahagia?" tanya Adrian dan aku hanya tersenyum samar


"Jangan seperti ini, Jihan biasa saja masuk kapan saja" kataku padanya. Aku kembali dan melanjutkan pekerjaanku dan mendengarnya yang menghela nafas.