Please Save Me

Please Save Me
Chapter 2



Malam harinya saat semua orang sedang tertidur lelap, aku terbangun dan merasakan haus. Tidak ada segelas air yang biasa tersedia di kamarku. Aku melangkahkan kaki keluar kamar karena disini aku hanyalah seorang tamu dan tidak akan sopan jika aku harus mengganggu tidur seseorang hanya untuk melepas rasa haus ku.


Aku menuruni tangga dan berjalan ke arah dapur, kulihat cahaya dari sebuah lampu yang menyala di dapur. Jangan bilang padaku jika Andra sebenarnya meramalkan bahwa aku akan merasakan haus dan dengan itu sengaja menungguku. Mengandalkan kecantikan dan silsilah keluargaku, aku terbiasa dengan para lelaki yang hanya mendekatiku karena menginginkan posisi tinggi dari orang-orang di belakangku. Memikirkan jika Andra akan sengaja bermain denganku aku tidak bisa untuk tidak menampilkan senyum sinisku.


Semakin mendekat seketika aku membeku. Anehnya yang duduk disana tidak lain adalah Adrian. Berganti dari setelan jas hitamnya ke dalam piyama tidurnya, kacamata hitam berbingkai tak lagi terlihat.


Duduk disana dengan memegang sebotol bir di tangannya. Diam-diam aku menatap punggungnya, aku menemukan jika sikap diamnya dalam meminum sebotol bir terlihat sangat seksi. Aku menyukai punggung yang lebar. Jika harus jujur, penampilan Adrian tidak kalah dengan Andra, hanya saja seperti ada sesuatu yang menyembunyikan kecemerlangannya.


"Diam-diam minum di tengah malam, bukankah kamu takut jika paman Juan akan menemukanmu?"


Terlonjak kaget, dia menatapku dan tersenyum malu "Itu kamu"


Aku bisa melihat upayanya untuk menyembunyikan kekhawatiran di antara kedua alisnya. Secara alami, ketidakmampuan untuk menyerang kembali pada adik laki-lakinya dalam perebutan kekuasaan bagaimana dia tidak menjadi khawatir.


"Aku sedikit haus. Itu sebabnya aku memberanikan diri diam-diam untuk melakukan pencurian kecil-kecilan, datang ke dapur untuk mencuri segelas air" kataku


"Maaf, kami lupa memberitahukan padamu bahwa ada lemari es kecil yang tersembunyi di meja samping tempat tidur" dia meminta maaf dengan tulus padaku


Tiba-tiba aku menemukan dia sangat menarik, aku mengambil birnya dengan cepat dan menatap ke arah matanya sambil meminum bir yang masih tersisa setengahnya. Dia membelalakkan matanya, sepertinya sedikit bingung, membuatku tertawa girang.


Sambil menatap dan menggodanya aku pun bertanya padanya "Benar-benar tidak mau mengajakku jalan-jalan dan bersenang-senang?"


Berapa banyak pengusaha yang menyerah karena rayuanku? Bagaimana bisa Adrian melawan?


"Aku...." bahkan dia mulai ragu "Besok aku harus...."


"Siapa yang mengatakan sesuatu tentang besok? Apakah kita tidak diizinkan membuka gerbang rumah Adhitama di malam hari?" aku meraih tangannya dan dia tersentak kaget tidak terbiasa dengan interaksi yang intim seperti ini


"Berpakaian seperti ini?"


"Jangan bilang di Indonesia melarang memakai piyama di jalanan" aku menariknya untuk bangun dan menyeretnya keluar ke arah garasi dan memaksa masuk ke mobil sportnya.


Itu adalah mobil yang dibuat dengan baik, halus dan stabil namun cepat. Aku membuka jendela mobil dan membiarkan angin masuk.


Adrian saat mengemudi tidak memiliki pilihan selain menatapku.


"Angin malam tidak baik" katanya


Aku berbalik dan melihat kearahnya sambil tersenyum manis dan dia memerah sampai ke telinganya dan berbalik untuk melihat ke depan, tidak tahu alasannya. Tiba-tiba keinginan untuk merayu dan menggodanya muncul dalam benak ku. Pria naif ini belum merasakan rayuan seorang wanita.


Aku membuka satu kancing piyama ku dan membiarkan angin menerpanya. Dia menginjak rem mendadak saat kami hampir menabrak sebuah pohon di tepi jalan.


"Kamu...kamu..." Adrian menatapku dengan nafas yang tidak rata


"Jangan bilang ini dilarang?" kataku sambil menaikkan alisku sambil melihat kearahnya


Adrian menarik nafas dan menghembuskan dengan perlahan dan mendapatkan kembali sikap yang tenang. "Tutup kembali, ok? kamu akan kedinginan"


Aku benar-benar tidak menyukai orang-orang yang menolak pesona dan daya tarik ku. Tiba-tiba aku menariknya ke arahku


"Adrian, sudahkah kamu mencoba melakukannya dengan seorang wanita?" aku bertanya dengan bernafas di telinganya. Benar-benar menghibur. Adik laki-laki ingin merayuku sementara aku gagal membujuk Abang yang lebih tua.


Dia berusaha keras untuk tetap tenang dan tidak terpancing "Aku bukan lelaki seperti itu"


"Hah? kamu pikir aku wanita yang seperti itu?" aku tidak membenci orang-orang naif tapi lelaki di depanku ini benar-benar lucu membuatku ingin terus memprovokasinya.


"Lalu mengapa kamu setuju untuk menemaniku sampai larut malam? Apalagi hanya memakai piyama?" tanyaku heran


"Jangan tidak masuk akal" Dia mengerutkan alisnya yang tebal dan hitam, menatap bibirku yang telah berada tepat di depannya.


Apa dia mendapatkan sakit kepala dari perilaku provokatif ku atau itu sifat implusifnya? aku dengan santai memperhatikannya. Dia adalah orang paling tradisional, paling taat, paling introvert yang menyerah pada hal-hal tabu.


Malam yang indah dengan suasana seperti ini, berpakaian seperti ini dan yang terpenting adalah aku yang penuh dengan percaya diri mengalirkan daya tarik ku. Bagaimana Adrian Adhitama tidak jatuh dalam perangkap ini?


Benar saja, dia tunduk dan dengan ringan menciumiku, aku tersenyum. Sekali lagi aku telah merusak sesuatu yang begitu murni. Aku telah membujuk tuan muda yang berprilaku sempurna ini ke dalam jurang yang menggoda. Orang tua ku pasti akan mendapat manfaat dari ini. Ciuman Adrian sangat lembut, meskipun tidak terlalu terampil, itu sangat menyenangkan dan ada perasaan tulus di dalamnya.


Mendengar aku tertawa kecil, dia bertanya "Mengapa kamu tertawa?" dengan satu ciuman, suaranya tiba-tiba penuh kelembutan. Suaranya yang dalam membuatku sedikit mabuk.


"Apakah kamu menyukaiku?" aku bertanya sambil menatap ke arahnya


Dia menatap ku dan dengan tulus menjawab "Ya"


Aku mencibir "Sudah berapa lama kamu mengenalku? Satu menit dan kamu sudah jatuh cinta padaku?"


"Hanya satu detik. Aku menatapmu sekali ketika kamu memasuki rumah Adhitama dan aku tidak bisa berhenti menatapmu,kecuali bahwa aku sedikit malu" ucapnya padaku


Aku mendengus. Aku benar-benar tidak berharap orang yang kaku ini tiba-tiba mengeluarkan omong kosong.


"Sentuh aku" kataku tiba-tiba


"Sentuh dimana?" Dia bertanya dan suaranya tercekat


"Disini" aku meraih tangannya dan meletakkannya di pahaku. Dia buru-buru menarik tangannya seperti tersengat listrik dan aku tertawa.


"Cium aku" Dia dengan patuh membungkuk ke arah bibirku dan menciumiku lagi


"Apakah kamu benar-benar menyukaiku?"


"Iya"


"Seberapa banyak?"


"Aku tidak tahu"


Adrian sangat kokoh, aku merogoh piyama dan membelai punggungnya.


"Apakah kamu menyukainya saat aku menyentuh seperti ini?"


"Ya" Dia merespon ku seperti anak sekolah, harus dijawab saat di tanya. Jelas dan sederhana, tidak mampu menipu.


"Bella..." panggil nya


"Teruslah memanggilku"


"Bella..Bella"


Aku tersenyum mendengar suaranya. Kami kembali diam-diam ke rumah keluarga Adhitama.