
Beberapa hari telah berlalu. Sore harinya saat kami berada di parkiran mobil selepas bekerja Adrian tidak langsung menyalakan mobilnya
"Bella, kamu seharusnya tidak seperti ini, dimana aku dapat bersaing dengan Andra? Aku tidak memiliki kekuatan" aku melebarkan mataku saat tiba-tiba Adrian berkata seperti itu padaku
"Adrian, kamu begitu baik dan tulus adalah hal yang baik. Tetapi karena kamu terlalu berbaik hati banyak orang yang akan memanfaatkan dirimu" kataku kesal melihat Adrian seperti tidak memiliki minat untuk bersaing dengan adiknya
"Di pasar saham, Ayah dan anak, suami dan istri biarkan sendirian semua.. Juga tidak masalah. Kamu harus cepat belajar ini untuk kebaikan kamu sendiri, kalau tidak..akan mengerikan untuk di renungkan nanti" tambah ku menasihati nya
"Bella, kamu benar-benar dapat berbicara non stop selama satu jam. Jangan bilang kalau kamu tidak haus" Adrian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Aku sangat marah hingga hampir pingsan melihat sikap Adrian yang tidak mempunyai sifat waspada.
Aku Bella Morris, sepanjang hidupku tidak pernah mendukung sepenuhnya seseorang. Pasti aku berhutang banyak pada kehidupanku yang lalu. Aku beberapa kali mencegah Andra mengklaim kredit beberapa kali berturut-turut. Aku juga memungkinkan Adrian untuk mendapatkan pengakuan dari dunia luar menjadi sedemikian rupa sehingga dalam laporan media membuat judul halaman depan dalam jurnal ekonomi.
Ketika Adrian menghadiri pesta elit, akan ada barisan orang yang terus menerus yang akan melibatkannya dalam percakapan.
Saat memikirkan Andra, akan tampak seperti dia sangat ingin memotong ku dan menyebarkan abuku, dan terlihat niat lain yang 100% mesum. Menghadapi Andra selama waktu makan seperti duduk di atas paku. Aku selalu meminta Adrian untuk pergi lebih awal dan pulang terlambat hanya untuk menghindari Andra.
Kami pulang ke rumah seperti biasa, sedikit terlambat karena aku ingin menghindari anaknya malam di rumah keluarga Adhitama
Hari berikutnya aku terbangun dengan sakit di tenggorokan dan kepalaku yang mulai pusing. Adrian datang dan memanggilku dengan khawatir
"Bella, apa yang terjadi? Kamu sakit?" suaranya di penuhi rasa khawatir
"Aku merasa sangat buruk.... "
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter"
"Hari ini adalah hari penandatanganan kontrak dengan perusahaan Ruita Jaya, kenapa kamu masih ada disini?"
"Kamu sakit, mana bisa aku mengesampingkan dan meninggalkan mu sendirian?" katanya yang membuatku merasakan hangat di dada.
Ini adalah hasil ulahku yang menendang selimut semalam dan membiarkan AC menghantam tubuhku.
Kontrak ini bernilai milyaran dan akan menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan Adhitama selama 6 tahun kedepannya. Bagaimana mungkin dia tidak pergi? Seolah aku akan membiarkan Andra memanfaatkan kesempatan ini dan menandatangani namanya di kontak. Dia pasti akan tertawa nakal.
"Pergilah cepat! Pastikan kamu tidak terlambat. Jangan pedulikan aku, aku tidak suka kamu bertindak seperti bibi tua" aku mendorongnya dan meraih telepon untuk memanggil dokter sendiri. Dengan enggan Adrian melangkah pergi menuruti ucapannya.
Dokter keluarga Adhitama sangat cekatan, dalam beberapa menit sudah tiba dan memeriksaku
"Jangan khawatir Nona Bella, ini sedikit dingin, anda harus meningkatkan kekebalan tubuh anda, selebihnya tidak ada yang salah" kata dokter lalu memberikanku obat dan vitamin lalu pergi mengundurkan diri.
Saat aku akan berganti pakaian, telepon berdering dan seperti dugaan ku, itu adalah Adrian
"Bella... Sudahkah dokter datang? Apa yang dia katakan?"
"Pilek kecil dan aku harus memperkuat sistem kekebalan tubuh"
"Itu pasti karena kamu menendang selimutmu lagi. Kebiasaan buruk mu itu, jelas aku melihatmu semalam dan aku sudah membantu memalukan mu kembali kedalam selimut. Pasti kamu menendangnya lagi tepat setelah aku pergi" baru kali ini aku mendengar bicaranya yang panjang seperti ini
"Baik, baik, baik, bagaimana? Kamu sudah menandatangani kontrak?"
"Aku sudah menandatangani, aku baru saja kembali ke kantor dan menghubungi mu. Akan ada tamu dari Hong-Kong sore hari ini"
"Aku tahu, aku akan pergi setelah makan sedikit" kataku sebelum kami mengakhiri pembicaraan kami di telepon.
Kemudian aku pergi mandi dan mengganti pakaianku bersiap untuk pergi kekantor. Aku berjalan menuruni tangga dan aku melihat orang yang sangat tidak ingin aku temui. Andra berdiri disana berbalik dan melihatku menuruni tangga. Aku menatapnya, merasakan hawa dingin yang tiba-tiba, aku tidak bisa membantu tetapi mengumpat AC rumah keluarga Adhitama yang terlalu kuat.
"Jarang kakak meninggalkanmu di rumah sendirian, bagaimana mungkin aku tidak memanfaatkan kesempatan yang baik ini? "
"Kamu berbicara seolah-olah sulit melihatku, apakah aku tidak tinggal di rumahmu?"
"Sayang sekali kamu terus bersembunyi dariku setiap hari. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kamu selalu saja menentang ku dalam segala hal. Aku rasa aku tidak pernah menyinggung mu dalam hal apapun" Andra berjalan di depanmu semakin mendekat padaku, aku seperti merasakan sinyal bahaya melangkahkan kakiku mundur
"Apakah kamu sudah berhubungan dengan kakakku?" tanya nya kembali. Aku tidak mengerti mengapa dia memakai pakaian olahraga hari ini. Jika terjadi perkelahian, pihak yang kalah pastilah aku.
"Apakah merasa senang bermain-main dengan saudara lelakiku di tempat tidur?" Andra menanyakan pertanyaan cabut dan menunjukan sikap merendahkan kepadaku, aku hanya tersenyum dan menjawabnya
"Aku belum pernah mendengar seorang adik lelaki berbicara tentang kakak laki-lakinya seperti ini"
Andra memegang daguku dan mengangkatnya " Aku juga bisa membuatmu merasa sangat baik" aku seperti disengat listrik mendengar bicaranya, aku mengangkat tanganku dan menepis tangannya dan mendorongnya sekuat tenaga.
"Sebaiknya hati-hati, ini rumahmu! " Aku berteriak agar aku bisa menarik perhatian para pelayan keluarga Adhitama tetapi dia malah tersenyum sinis dan terkekeh pelan
" Pelayan keluarga Adhitama sangat masuk akal, selama ini mereka tidak pernah ikut campur dalam urusan pribadi tuan mereka. Tidak ada gunanya bahkan jika kamu berteriak sampai kamu kehabisan nafas"
Mau tak mau aku diam-diam mengutuk fakta alasan bahwa keluarga Adhitama membangun rumah besar di daerah pegunungan.
Andra mengambil langkah semakin mendekat ke arahku, dan benar-benar berani merenggut kedua tanganku di belakangku. Aku sangat marah, sejak lahir aku tidak pernah mendapatkan penghinaan seperti ini. Jika diketahui bahwa Nona muda Bella diambil secara paksa, akan di letakkan dimana wajah ku ini untuk bertemu orang-orang.
"Andra, apakah kamu sudah kehilangan akal?!"
Aku menggelengkan kepalaku ke kiri dan kanan menghindari ciumannya yang melecehkan ku
"Bella, kamu benar-benar seorang tokoh yang layak. Secara alami mampu melayu orang" Andra berbicara yang sama sekali tidak mirip pujian
"Andra!! Apakah kamu sudah kehilangan akal?!" sebuah teriakan dari belakang tiba-tiba menyelamatkanku dari pelecehan yang dilakukan Andra padaku.
"Ayah?!" Andra yang terkejut melompat kaget dan otomatis menjauh dariku. Terima kasih surga, masih berpihak padaku.
Aku menghembuskan nafas lega dan bersiap-siap menanti pertunjukan bagus di depan ku.
"Bukankah ayah di kantor? Kenapa... "
'Plakk ' suara tampan keras memenuhi ruangan dan aku yang melihatnya sangat ingin sekali bersorak. Tamparan paman Juan ternyata masih sangat kuat, terlihat jelas bekas merah di pipi Andra. Paman Juan kemudian memukulinya dan Andra hanya terdiam dan tak berani melawan.
"Bella, kamu baik-baik saja?" tanya paman Juan kepadaku setelah selesai melampiaskan amarahnya kepada Andra
Walaupun aku merasakan marah aku tidak ingin menangis di depan mereka
"Paman Juan, tolong jangan membahas masalah ini lebih jauh. Lagipula ayahku masih perlu tampil di depan umum. Aku akan segera mengemas barangkali dan kembali ke Paris" Aku kemudian berbalik menuju kamar dan mulai mengemas pakaian ku.
Putranya baru saja melakukan hal memalukan seperti itu. Bagaimana dia bisa berani membiarkan aku pergi begitu saja. Apakah dia tidak takut aku akan mengadu sambil menangis kepada kedua orang tuaku? Jika masalah ini bocor, harga saham mungkin akan mengalami penurunan besar. Paman Juan segera menghentikan ku
"Bella... masalah ini paman pasti akan memberikan solusi terbaik. Jangan mengepak barang-barangmu dan mari kita berbicara dengan kepala dingin" paman Juan berbalik dan memberikan sekali lagi tamparan keras kepada Andra.
"Masih tidak keluar?!" Andra menatapku tajam dan berbalik bergegas. Tidak mungkin dia akan membiarkan Andra untuk bertanggung jawab. Tetapi beberapa tamparan yang dia berikan pada Andra memang membuatku sedikit bahagia.
Sayang sekali Adrian tidak ada disini untuk melihat dengan mata kepala sendiri. Kepala keluarganya Adhitama menghiburku dengan kata-kata baik untuk waktu yang lama. Paman Juan juga menjanjikan ku sebuah posisi istimewa di dalam perusahaan Adhitama. Paman juga membuat berbagai macam penjelasan atas sikap kasar Andra dan dia juga memintaku untuk tidak membiarkan masalah ini bocor karena akan memperbarui masa depan perusahaan.
Aku akhirnya pura-pura menyetujui dan tidak akan membuat masalah ini keluar kepada media. Sejujurnya aku tidak berniat untuk pergi, Adrian masih disini dan bagaimana aku bisa meninggalkan dirinya sendiri dan melemparkan nya kepada Andra yang kasar dan kejam ini.