
Silver membuka kotak berisi sebuah kristal dengan tekstur yang menarik. Kristal
berwarna kebiruan. Kristal itu dulu pemberian seorang gadis cantik bermata
bidadari. Gadis yang entah dimana saat ini, Silver tidak dapat menemukannya.
Ribuan tahun lalu, saat ia tinggal di taman yang penuh dengan keindahan, ia jatuh
cinta dengan seorang bidadari cantik. Memakai gaun bertaburkan batu minikan dan
serpihan kristal. Gadis itu begitu indah, hingga Silver terpana. Tiba-tiba saja
suara menderu menyadarkannya dari lamunan panjang.
TEEEEETTT...
Sebuah truk dengan kecepatan rata-rata melaju di jalan hitam. Truk bermuatan balok itu
membunyikan suara klason yang memekakan gendang telinganya. Bayangan bidadari
itu pun hilang sekejap saja.
Silver tersadar, saat ini ia berada di bumi ditahun dimana peradaban manusia
dipertaruhkan. Silver menatap ke angkasa dan melihat mahluk langit berterbangan
di sana.
Silver memperhatikan sekelilingnya dan ia mengepakkan sayap ketika keadaan sangat
sepi. Silver pun terbang menuju langit. Siapa Silver sebenarnya?
Seperti pagi kemarin, cowok itu hadir lagi di kamar Ixora. Ixora terbelalak kaget dan sedikit takut. Ia tidak percaya apa yang dilihatnya. Ia berusaha memberanikan diri menatap cowok misterius di depannya.
Mata cowok itu benar-benar bening. Kulitnya putih sekali dan memantulkan
kilau-kilau cahaya. Kemudian Ixora mundur ketika sadar ia ketakutan.
“Kamu siapa?! Dan untuk apa kemari?!” tanyanya dengan bibir gemetar. “Sebaiknya kamu keluar
dari kamarku! Atau aku panggil keamanan!” Sergah Ixora dengan suara gemetar.Ia sangat takut kalau cowok itu mencelakainya. Cowok itu mengumbar senyum.
“Tenang, Ixora. Aku bukan orang jahat.” ujarnya dengan tenang. Cowok itu menoleh ke arah Ixora dan mengumbar senyum yang menawan. Senyum itu manis sekali dengan sederetan gigi yang putih. Senyuman itu membuat Ixora meleleh sejenak.
“Kamu tahu namaku?”tanya Ixora penasaran.
Cowok itu hanya mengangkat bahunya.
“Aku yakin kamu akan mengalami trauma setelah bangun tidur. Oh ya, aku Mars. Aku datang dari dunia
dimana peradaban manusia telah berubah. Aku dari masa depan. Aku butuh bantuanmu, Ixora.” ujar Mars.
“Itu omong kosong.” Ixora menggeleng sambil menarik rambut dengan kedua tangannya.
“Itu nggak mungkin! Sebaiknya kamu pergi dari kehidupanku! Jangan ganggu aku!” Bentak Ixora seperti dirasuki setan.
“Tenang, Ixora ... Aku tidak akan menyakitimu. Negeri kami mengalami kehancuran jika
tidak diselamatkan. Dan ini ada hubungannya denganmu.”
“Apa hubungannya denganku?!” Sergah Ixora semakin bingung. Ia benar-benar tidak tahu apa maksud
semua ini.
“Dunia ini akan hancur dan kehidupan manusia akan punah. Aku tinggal di planet Algar. Planet luar angkasa yang
menyeimbangkan poros bumi.”
“Algar?” Ixora mengerutkan dahinya, lalu hening sejenak.Ia merapikan rambutnya dengan kedua tangan dari kening
lalu ke bawah. Ia mencoba untuk tidak panik dan berusaha setenang mungkin.
“Aku belum pernah mendengar nama itu. Kamu pasti berbohong. Apa yang kamu inginkan dariku?!”
“Ixora ... percayalah, aku bukan orang jahat seperti apa yang kamu pikirkan. Aku tidak menginginkan apa-pun darimu. Batu yang kamu temukan itu adalah kuncinya.Batu itu akan menyeimbangkan planet Algar dan batu-batu meteor lainnya.”
“Bohong! Kamu mau mencuri batu itu kan?” Wajah Ixora tampak
memerah dengan kerut kemarahan. “Kalau memang kamu menginginkan batu itu, ambil
saja. Aku nggak butuh batu itu!”
“Tidak, Ixora. Percayalah padaku. Aku bahkan tidak bisa menyentuh batu itu. Hanya keturunan
bangsawan yang bisa menyentuh batu itu. Kamu keturunan para dewa dan Bidadari.”
“Para dewa?” Gumamnya pelan. Ixora tertawa lebar.
“Hahahaha ... Kelihatan sekali kalau kamu berbohong. Sejak kapan aku keturunan
dewa? Aku hanya manusia biasa anak seorang manusia bernama Arch. Kamu jangan mengelabuhi aku!” Sergah Ixora keras.
cinta dengan manusia dan menikahi ibumu di saat
bulan terlihat sebelah. Bulan sabit dan mereka memberimu sebuah tanda di lehermu.”
Ixora terkejut dan mendegut ludahnya yang getir. Dari mana cowok itu tahu ada tanda bulan cabit di lehernya?
Ixora diam sambil menatap wajah cowok itu dengan
lekat. Ia tak bisa melihat wajah itu. Wajah Mars bercahaya. Mars tahu apa yang
ada dalam pikiran Ixora dan ia meredupkan cahaya di wajahnya. Ixora melihat
sosok cowok tampan di depannya. Wajah itu sangat bersih sekali. Tanpa noda dengan
bola mata bening bersinar.
“Bagaimana kamu bisa berada di zamanku?” tanya Ixora penasaran.
“Ada mesin perjalanan waktu di negeriku. Kami bisa kemana saja untuk melihat masa lalu dan
masa depan. Percayalah padaku, Ixora. Aku akan membawamu kesana.”
Ixora kembali diam dan tidak percaya. Ia bingung dan mempertimbangkan perkataan cowok itu.
“Tunggu-tunggu. Aku bingung apa yang sudah kamu ceritakan. Cerita itu tidak masuk di akalku.
Sebaiknya kamu pergi dan tinggalkan aku sendiri. Pergii ...!”
“Okey ... aku akan memberimu waktu untuk menerima semua ceritaku.”
Tiba-tiba cahaya berkilau sangat silau dan Mars pun hilang dari kamar Ixora. Gadis itu
sedikit takjup lalu tersadar seketika. Ia duduk di atas tempat tidur dan
bingung.
“Apa yang sudah terjadi padaku?” Gumamnya pelan.
Ixora menghela nafas sambil beranjak dari tempat tidur. Ia kembali memperhatikan batu
di atas meja belajarnya. Lekat ia melihat batu itu.
“Apakah benar batu itu kunci dari gelanya?” Pikirnya.
Ixora bergegas ke kamar mandi dan ia bersiap-siap ke kampus menemui Kamila.
Mobil Kamila melaju di jalan hitam dengan kecepatan rendah. Jalanan macet dan membuat
ia jenuh. Sementara Ixora sudah lebih dulu tiba di kampus. Ia celingukan
menunggu Kamila di parkiran. Beberapa menit kemudian, mobil Kamila muncul dan
membuat Ixora mengumbar senyum yang indah. Setelah turun, Ixora menghampiri
Kamila dan menceritakan semua yang terjadi.
“Cowok itu bercerita seperti itu?” tanya Kamila ketika mereka berjalan di koridor.
“Iya, Mil. Aku bingung dan tidak percaya. Sejak kapan papaku keturunan para dewa
coba? Aneh-aneh aja.” Tutur Ixora.
“Coba kamu tanyakan saja papamu. Mungkin saja benar. Karena kalau aku lihat sih...
kamu sedikit agak-agak gimana gitu ....”
“Ughhh, Kamila. Kamu jangan bercanda ah. Aku ini manusia biasa dan papaku juga
manusia.”
“Manusia setengah dewa? Hahahahah ...” Kamila tertawa renyah.
Setelah mereka tertawa, Ixora baru sadar kalau ada cowok yang memperhatikannya dengan
tajam. Sosok Jupiter yang menatapnya tanpa senyuman dan tanpa ekspresi apa-apa.
Cowok itu tetap dingin, sedingin es. Ixora terdiam seketika. Ketika ia menatap
Jupiter, cowok itu langsung pergi.
“Udah, nggak usah kamu peduliin cowok itu. Dia memang begitu. Aneh.”
Ixora menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Lagi-lagi pikiran
itu mengganggunya. Perkataan Mars kepadanya dan Jupiter yang membuat ia
penasaran.