
Ia bangkit dari tempat tidur dan menuju jendela kamar. Langkahnya sedikit
gontai. Ia menyampirkan gorden berwarna krem ke sisi jendela. Matahari sudah terbit.
Cahayanya masuk ke kamar Ixora. Ixora memicingkan matanya ketika sinar ultra violet
mengenai matanya. Gadis itu menguap dan merentangkan kedua tangannya. Pagi yang cukup berat baginya.Ia mendesah berat dan kembali berjalan menuju tempat tidur.Ixora terpakudengan kehancuran bumi. Apakah itu tanda-tanda kiamat? Batinnya.
“Kamu sudah bangun?” Tiba-tiba seseorang menyapanya.
Suara itu membuat Ixora terkejut dan hampir menjerit. Sosok laki-laki tak dikenal. Laki-laki berkulit putih
terangberdiri di dekat dinding kamarnya. Matanya seperti mata peri. Bening
dengan bola mata berwarna cerah. Tubuhnya mengeluarkan serpihan debu berwarna
silver. Laki-laki itu mengenakan celana panjang
berwarna perak. Terbuat dari bahan elastis bermutu tinggi. Kaus berwarna abu-abu dan sepatu
boot sebatas betis. Rambutnya rapi berwarna keperakan. Ixora bingung mengapa ada seorang cowok di kamarnya. Sementara kamarnya masih terkunci.
“Kamu siapa?” tanyanya dengan takut. Ia segera meraih selimut dan menutupi sebagian tubuhnya.
“Aku sudah menyiapkan teh panas untukmu.” Ucap orang itu sambil berjalan mengambil
mug berisi teh panas, kemudian meletakkan mug di atas meja dekat tempat tidur
Ixora. Gadis itu hanya memperhatikan dengan penuh tanda tanya. Sejak kapan dia
membuatkan teh? Dari mana
teh itu? Pikirnya.
“Hei ... aku tanya sama kamu. Kamu itu siapa dan kenapa ada di kamarku?!” tanya Ixora dengan suara sedikit tinggi dan bingung. Ia panik.
“Aku yang menyelamatkanmu dari mahluk itu.Mahluk itu menginginkanmu.”
Ixora mengerutkan dahinya sambil memperhatikan sosok laki-laki jangkung yang berdiri menatapnya. Wajah itu tidak terlihat jelas karena silau matahari. Ixora mencubit lengannya. Apakah yang ia hadapi
sosok hantu atau manusia? Apakah ia bermimpi atau kenyataan?
“Aow...” Ixora memekik kecil. Tenyata lengannya terasa sakit. “Ini bukan mimpi.” Gumamnya pelan.
“Sudahlah, ini bukan mimpi. Aku memang hadir di hadapanmu. Mahluk
itu mengincarmu,” ujar cowok itu.
Ixora semakin bingung dengan perkataan cowok itu.
“Mengincarku? Untuk apa? Kamu siapa sih? Kalau kamu
tidak menjawab aku akan teriak kalau kamu itu maling!” sergah Ixora dengan wajah cemas. Ia menatap laki-laki itu dengan lekat. Wajah itu sama sekali tak terlihat jelas. Silau matahari menutupinya.
“Okey... Tenang… Mungkin kamu tidak akan percaya padaku, tapi percayalah, aku buka orang jahat. Aku dari masa depan. Aku tinggal di planet Algar. Planet yang jauh dari bumi,” jawab
cowok itu. “Dan kedatanganku kemari ingin menyelamatkanmu dan negeriku. Mahluk itu menyerang planetku dan akan membuat kehancuran di planetmu.”
“Maksudmu?” Ixora menaikkan alisnya dan membuat kerutan di dahinya.
“Mahluk-mahluk itu akan menghancurkan planet Algar dan mereka akan menguasai planet bumi,” ujar cowok
itu.
“Algar? Negerimu?” Lipatan di kening Ixora semakin jelas. Itu pertanda ia
sangat penasaran.
“Ya dan aku dari masa depan. Masa di mana semuanya akan berubah. Peradaban dan
kehidupan manusia tidak seimbang.”
“Masa depan? Hei ... kamu sinting ya. Masa depan itu belum kita lalui. Kamu jangan
mengelabuhi aku. Kamu pikir aku bodoh? Sudah banyak yang ngaku-ngaku dari masa depan. Ujung-ujungnya mereka dianggap gila. Apa kamu salah satu dari mereka?” tanya Ixora lagi. Ixora berjalan
pelan menuju meja belajarnya.Cowok itu hanya tersenyum tipis.
“Aku hanya butuh bantuanmu,” kata cowok itu sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Gayanya begitu
cool.
“Kamu jangan macam-macam dan jangan coba menyakiti aku,” kata Ixora. Gadis itu masih
tampak ketakutan.
“Okey ... Aku tidak akan menyakitimu,” ujar cowok itu. “Aku hanya membangunkanmu dari
tidur panjangmu.”
Ixora semakin bingung. Ia diam sesaat sambil
memperhatikan cowok di depannya.Cowok dengan postur tubuh tinggi
mengenakan kostum yang tidak pernah ia lihat. Baju panjang sepaha dan ketat.
berwarna keperakkan.
“Aku butuh bantuanmu,” kata cowok itu lagi.
“Bantuanku? Bantuan apa? Aku bahkan tidak mengenalmu? Dari mana datangmu? Tiba-tiba saja kamu ada di
kamarku.” Ujar Ixora sambil mengawasi cowok itu. Ia sedikit pun tidak tertarik dengan ucapan laki-laki itu. Ia hanya melihat sosok aneh yang membuatnya semakin takut.
“Nanti kamu akan tahu. Sekarang kamu mandi dan berangkat ke kampus,” kata cowok itu tak memberi
kesan manis. Ia terlihat lebih dingin dari es.
“Memangnya kamu siapa ngatur-ngatur aku?” Ixora sedikit menentang kata-kata cowok itu.
“Okey, kalau kamu tidak mau mandi biar aku yang mengangkatmu.”
“Enak aja.” Ixora sedikit mundur dan ia meraih
ponselnya di atas meja diam-diam. Kemudian ia menyalakan power ponselnya. Ponsel
tetap mati. “Sialan. Kenapa bisa mati?” pikirnya.
Cowok itu duduk di kursi yang ada di kamar Ixora. Cowok bermata jernih
itu hanya memperhatikan gelagat Ixora. Ixora salah tingkah
sendiri. Ia beranjak melangkahkan kakinya menuju kamar mandi sambil menutupi tubuhnya dengan
selimut.
Di dalam kamar mandi Ixora berusaha menyalakan ponselnya dan ia berhasil. Ponsel menyala dengan
lampu warna-warni. Ia lega dan segera menghubungi sahabatnya. Ia menekan nomor
ponsel Kamila, sahabatnya. Ponsel Kamila nyambung.
“Halo...” sapa Kamila dari seberang sana.
“Kamila, bantu aku. Ada seseorang di kamarku.” Ucap Ixora tergesa-gesa dan ketakutan.
“Pacarmu? Atau gebetan barumu? Kamu jangan mengada-ada, Ixora.”
Sergah Kamila seperti biasa. Gadis itu memang selalu jadi bahan cerita hayalan
Ixora. Gadis berkulit kuning langsat dan rambutnya yang pendek.Ia sahabat Ixora
dari kecil. Mereka selalu kompak hingga ke perguruan tinggi. Dan Kamila
satu-satunya tempat curahan hati Ixora.
“Bukan, Kamila. Apa kamu gila? Aku kan tidak punya pacar. Please bantu
aku. Aku tidak tahu siapa dia. Dia membuatku takut.”
Kamila mengganti porsneling dan memutar stirnya.
“Kamu telepon polisi saja, Ixora. Gampangkan?” kata Kamila sambil memindahkan hapenya ke
telinga kiri.
“Masalahnya aku tidak punya nomor polisi.” Ixora terlihat
semakin panik. Ia memutar tubuhnya beberapa kali dan mondar-mandir seperti
setrikaan.
“Oh my God! Trus apa yang harus kulakukan?” tanya Kamila berusaha
konsentrasi ke jalanan.
“Jemput aku di rumah,” kata Ixora tegas. Kamila di seberang sana hanya mengeluh kesal.
“Ya ampun, Ixoraaa. Memangnya papa dan mamamu kemana? Aku
nggak mungkin ke rumahmu dalam keadaan seperti ini.”
“Papa dan mamaku lagi ke luar kota dalam beberapa hari. Please,
Kamila.” Ixora memohon dengan panik.
“Okey. Tunggu saja kedatanganku,” ucap Kamila sambil memutar stir
ke kanan.Ia mengeluh kesal. Namun, demi sahabat
yang sudah sekian lama mereka jalin, ia tak ingin terjadi apa-apa dengan Ixora.
Klik. Kamila mematikan ponselnya dan tancap gas ke rumah
Ixora. Ixora masih panik sambil menggigit bibir bawahnya. Ia berharap-harap
cemas di dalam kamar mandi.Pikirannya semakin kalud dengan keberadaan cowok tidak dikenal itu. Belum lagi mimpi mengerikan yang baru saja ia alami.