
“Tadi dia beneran ada di kamarku, Kamila. Aku nggak bohong,” ujar Ixora ketika Kamila tiba di
kamar Ixora. Gadis itu bingung melihat cowok aneh tadi menghilang dari
kamarnya. Kemana perginya cowok itu? Bathinnya. Ia menuju jendela kamarnya dan jendela itu masih terkunci rapat. Ia menggigiti kuku jemarinya pertanda ia panik. Ia mengerutkan dahi dan melihat
meja kecil di sebelah tempat tidur. Mug berisi teh masih adadisana. Ixora menepuk pipinya sekali lagi.
“Aow...” Ia memekik kesakitan.
“Ixora, sebaiknya kamu jangan banyak berhayal. Lama-lama kamu bisa gila. Kamu habis nonton film apa?”
Ucap Kamila kesal karena merasa dibohongi sama Ixora.
“Suwer, Kamila. Aku nggak bermimpi dan aku enggak berhalusinasi.
Semuanya nyata cowok itu ada di depanku. Dia membuatkan aku teh dan ini mugnya.”Ixora memastikan.
Kamila menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sudahlah, sebaiknya kamu ke dokter. Mungkin saja kamu mengidap
penyakit aneh. Jelas-jelas cowok itu tidak ada di kamarmu. Kita
ke kampus aja. Jangan lupa kunci rapat-rapat pintu kamar dan jendela.”Ujar Kamila seraya keluar dari kamar Ixora.
Ixora menggigit bibir bawahnya dan mengerutkan dahi. Iamengawasi kamarnya sejenak, lalu keluar
kamar mengikuti Kamila. Sementara cowok bermata jernih itu mengawasi Ixora dari
luar kamar. Dengan kepakan sayapnya, cowok itu pun terbang ke angkasa.
Mobil Kamila melaju kencang di jalan hitam. Sepanjang perjalanan,
Ixora hanya memikirkan mimpinya dan sosok cowok misterius di kamarnya. Ia
benar-benar bingung. Apakah mimpi dan cowok itu berkaitan dengannya.Cowok dari masa depan? Itu tidak mungkin, pikirnya.
“Kamila, aku takut.” Ucap Ixora dengan suara pelan. Ia menoleh ke kanan melihat Kamila yang
sibuk dengan stirnya. Gadis berkulit cokelat terang itu memutar stirnya ke
kiri.
“Kamu takut apa?” tanyanya kemudian.
“Tadi malam aku mimpi bumi ini hancur, Mil. Trus ada binatang yang mengerikan
mengejarku. Aku taku sekali.” Cerita Ixora dengan
mimik gemetar.
“Itu cuma mimpi, Ixora. Mimpi itu bunganya tidur,” ucap Kamila mempertegas ilusi Ixora.
“Tapi nyata sekali bagiku. Trus cowok itu hadir di kamarku. Aku tidak tahu siapa cowok itu. Dia
sangat aneh. Kulitnya bercahaya.”
Kamila mendesah berat sambil fokus ke jalanan.
“Aku nggak mau membahas itu lagi, Ixora. Hayalan dan mimpimu itu terlalu jauh. Lebih baik kamu
piknik atau liburan ke pantai. Kamu semakin ngaco.”
“Ughh, kamu gak percayaan sih sama aku. Aku nggak berhalusinasi dan aku tidak berhayal, Kamila.
Ini sungguh terjadi.” Ixora merungut, kemudian ia diam sambil melipat tangannya
di dada.
Mobil yang dikendarai Kamila melaju di jalan hitam. Ixora diam sambil memperhatikan
suasana pagi yang begitu cerah dari jendela kaca mobil. Kota dimana masih ada peradaban. Ia tidak ingin mengingat mimpinya yang menakutkan. Bumi hancur dan meninggalkan puing-puing ketakutan. Teriakan
kematian terdengar dimana-mana.
Dari kejauhan, Mars memperhatikan mobil yang
ditumpangi Ixora. Cowok itu terbang dari gedung ke gedung dan tak seorang pun
melihatnya. Cowok itu memang tidak bisa dilihat begitu saja atau dengan mata
telanjang. Ia seperti sosok misterius yang kasat mata.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di areal kampus. Ixora turun lebih dulu dan ia melihat
sosok cowok yang mereka bilang aneh. Cowok itu bernama Jupiter.
Cowok yang diam-diam diperhatikan Ixora karena mirip sekali dengan cowok yang
Sementara Jupiter tampak dingin dan pendiam.
Tettttttt …. Tiba-tiba suara klakson terdengar keras. Kamila terkejut dan berteriak memanggil nama Ixora.
“Ixora, awaaasss!!!”
Ciiiiiiiittt … Mobil mengerem dengan suara mendecit. Kamila menjerit histeris karena mobil akan menabrak dirinya.
Jupiter tiba-tiba saja menyelamatkan Ixora. Jupiter melompat tinggi dan membawa Ixora
ke tempat lain. Cowok jangkung yang selalu mengenakan jaket bertopi. Entah dari
mana cowok itu bisa menyelamatkan Ixora dari maut. Ixora berada di pelukan Jupiter
dan ia menatap wajah Jupiter dengan lekat.
Cowok itu buru-buru melepaskan rengkuhannya dan meninggalkan Ixora begitu saja.
Sementara Ixora masih terbengong begok dan mengingat wajah Jupiter. Wajah itu tak
asing baginya. Seperti ada guratan kecil ia melihat sebuah kejadian
di mana seorang cowok mirip Jupiter, berdansa dengannya. Namun keromantisan itu
hancur, ketika seseorang tak suka dengan hubungan mereka. Mereka terpisah dan
tak pernah jumpa. Ixora memperhatikan kepergian Jupiter yang sangat misterius.
Kamila segera saja menghampiri Ixora.
“Kamu nggak apa-apa, Ixora?” tanya Kamila panik.
Ixora menggeleng. “Aku nggak apa-apa, Kamila. Aku baik-baik saja.” Ucapnya dengan
suara rendah.
“Syukurlah. Sebaiknya kamu pergunakan matamu dengan benar, Ixora. Jangan membuatku
jantungan. Apa sih yang kamu pikirin? Cowok halusinasi mu? Kamu udah terhipnotis dengan cowok
itu.”
“Maafkan aku, Kamila. Dia selalu menghantuiku.”Kata Ixora.
“Sebaiknya kamu buang jauh-jauh mimpimu. Tidak maik kalau
kamu selalu berhalusisani di jalan. Bahaya, Ixora.”Suara Kamila sedikit tertekan. Ia memang tidak mau
terjadi apa-apa dengan Ixora.
Ixora hanya terdiam. Ia masih terbayang dengan wajah Jupiter yang berbeda dengan cowok lain. Kulit wajahnya
terlihat halus dan bercahaya. Bola matanya juga bening. Apakah Jupiter adalah cowok yang ada dalam mimpinya? Dan siapa cowok yang berada di dalam kamarnya?
Kamila meninggalkan Ixora begitu saja dan berjalan di halaman kampus. Sementara Jupiter hanya memperhatikan
kejadian itu. Ia juga bingung melihat cowok yang menyelamatkan Ixora. Cowok itu
memiliki kemampuan super tinggi.
“Siapa dia?” pikir Mars, cowok bersayap yang berada di kamar Ixora pagi tadi. Mars kembali memperhatikan Ixora. Ada seorang laki-laki yang mendekatinya.
“Ixora …” Tiba-tiba saja seseorang menyapanya. Suara berat itu membuyarkan lamunan nya. Ixora
memalingkan tubuhnya dan menatap orang yang menegur nya. Sosok cowok jangkung
bernama Silver.
“Silver…?” Ixora menaikkan alis matanya.
“Kamu baik-baik saja kan?” Silver bertanya dengan penasaran.
“Ya, aku baik-baik saja.” Jawab Ixora singkat. Ia mengulas senyum tipis.
“Aku mendengar suara keributan dan seseorang memanggil namamu. Aku pikir terjadi apa-apa
denganmu. Aku khawatir, Ixora.”
“Aku baik-baik aja, Silver. Nggak
ada yang perlu kamu cemaskan. Aku masuk dulu.” Ucap Ixora seraya melangkahkan
kakinya.
Silver mengikuti langkah Ixora dan masuk ke ruangan.