PLANET ALGAR

PLANET ALGAR
KRYPTON



Ixora menutup pintu kamarnya dengan tergesa. Nafasnya sedikit


tersengal karena ia berlari menaiki anak tangga. Ixora meletakkan tasnya di


atas tempat tidur, lalu mengambil batu itu dari dalam tas. Ixora meletakkan


batu itu di atas meja dengan sangat hati-hati. Ia memperhatikan


batu itu dengan seksama. Batu itu berkilauan memantulkan cahaya merah.


Ia tidak tahu batu apa itu. Kalung yang ia temukan juga bercahaya keputihan. Benda apa sebenarnya yang ia dapat itu? Batu yang ia temukan seperti Krypton. Hanya warnanya saja yang berbeda. Apakah benar batu


itu memang ada? Pikirnya. Ixora buru-buru membuka laptopnya dan mencari di google search. Ia melihat bentuk-bentuk batu Kypron yang miripdengan batu di atas meja belajarnya.


“Krypton .... ” gumamnya pelan. Matanya kembali ke batu itu dan memperhatikan


teksturnya. Warnanya kemerahan berkilauan dan teksturnya seperti Krypton. Liontin


dengan bentuk yang menawan juga mencuri perhatian. Sepertinya kedua benda itu sangat berkaitan. Ixora mencoba memasukkan liontin itu ke salah satu lupang yang ada di bagian bawah batu itu.


Ixora pun takjub ketika batu itu berubah bentuk menjadi sebuah istana kecil. Matanya tak berkedip


mengawasi batu itu. Ixora mendengar jeritan-jeritan kecil di dalamnya. Ia bergerak mundur dan sedikit takut. Kemudian ia buru-buru melepaskan liontin itu. Ixora tampak panik. Ia segera saja menghubungi Kamila.Kamila pun dalam beberapa menit sudah hadir di kamar Ixora.


“Kamu yakin batu itu bergerak dan berubah bentuk?” Kamila hampir tak percaya. Ia memperhatikan


batu itu di atas meja belajar. Batu itu sudah kebali ke bentuk semula.


“Iya, Mil,” ucap Ixora sedikit panik.


“Kamu dapat darimana batu itu?” tanya Kamila penasaran. Ia terus memperhatikan batu kemerahan


itu dengan seksama. Tidak mungkin sepertinya batu mirip Krypton berada di bumi.


“Di kampus. Aku melihatnya di rerumputan. Batu itu berkilauan dan aku penasaran.”


“Sebaiknya kamu tanyakan ke dosen kita. Pak Peter mungkin tahu batu apa sebenarnya itu. Siapa tahu saja batu itu berbahaya.”


Ixora hening. Ia bimbang antara memberikan batu itu ke pak Peter atau menyimpannya.


“Sudah malam. Aku pulang dulu, Ixora. Simpan batu itu baik-baik.” ujar Kamila.


“Ya.” Ixora mengangguk dan membiarkan Kamila pulang. Ia duduk di sisi tempat tidur sambil


mengamati batu itu. Batu apa sebenarnya yang ia temukan. Ia takut batu itu akan


mencelakainya. Sesaat ia teringat akan ucapan cowok yang hadir di kamarnya. Ia


akan menemukan sesuatu di kampus.


“Apa maksud semua ini?” batinnya. “Siapa cowok itu?”


Ixora menggigiti kuku jemari tangannya.  Ia berharap tidak terjadi apa-apa dengan diri


dan keluarganya.



Silver, cowok berambut kecokelatan dan tulang pipi yang


bagus tengah memperhatikan seorang gadis yang selama ini mencuri hatinya. Gadis


itu menguncir rambutnya seperti ekor kuda dan tengah tekun menulis di meja


belajarnya. Gadis itu tak lain adalah Ixora. Sudah lama sekali sejak mereka


bertemu, Silver memendam rindu yang seramat dalam padanya. Jantungnya selalu


bergemuruh kencang jika melihat senyum Ixora yang sangat menawan. Di tempat


duduknya, Silver  mencuri pandang ke


Ixora dan sesekali memperhatikan sang dosen di depan. Tak jarang ia ketahuan


melamun hingga membuat sang dosen menggelengkan kepalanya.


“Silver ... Saya harap kamu tetap fokus dengan mata pelajaran saya.” tegur sang dosen


ketika Silver mulai melamun. Cowok itu pun tergagap dan salah tingkah hingga


hampir terjatuh dari kursinya. Hal itu membuat sebagian mahasiwa tertawa


Silver menundukan kepala dan berusaha konsentrasi dengan pelajaran yang diberikan sang


dosen. Wajahnya sedikit memerah pertanda ia sangat malu. Meski ia memperhatikan


sang dosen, namun pikirannya tetap kepada Ixora. Begitu dalam cinta yang ia


pendam kepada Ixora.


Silver termasuk cowok tampan dari sekian banyak cowok di kelasnya. Bibirnya merah


basah dengan hidung bangir yang menawan. Kumisnya dicukur, hingga menyisahkan


warna kebiruan. Warna kesukaan para gadis di kelasnya. Matanya berbinar dengan


warna kecokelatan.


Ingin sekali Silver mengajak Ixora untuk menikmati steak di warung kesukaanya atau


sekedar jalan berdua. Tapi itu belum pernah ia lakukan.


Siang itu ketika mata kuliah sudah selesai, Silver menghampiri Ixora yang sibuk


memperhatikan sebuah buku tebal di atas meja. Buku tentang tata surya dan


planet-planet di angkasa. Ixora mendongak menatap Silver yang duduk di


depannya.


“Apakah kamu sangat sibuk?” tanya Silver.


“Hmm, begitulah. Ada yang mengganggu pikiranku setelah menemukan sesuatu dai kampus


itu.”


“Sesuatu?” Silver mempertegas. “Apa itu?” tanyanya.


Ixora menarik nafasnya, lalu berujar.


“Kamu tidak akan tahu, Silver. Benda yang kutemukan itu benda langit.” Kata Ixora.


Silver mengerutkan keningnya.


“Benda apa itu?” tanyanya lagi.


“Krypton, ya sejenis itulah.”


Perkataan Ixora membuat Silver semakin penasaran.


“Krypton? Benda itu tidak mungkin ada di bumi, Ixora. Kamu jangan mengada-ada.”


“Buktinya aku menemukan benda itu, Silver.” tegas Ixora.


“Sudahlah ... Kamu nggak perlu sibuk-sibuk mencari benda itu di buku ini. Kita istirahat


yuk.” ajak Silver kemudian.


Ixora menghentikan kegiatannya, lalu menatap Silver sangat lekat. Cowok itu salah


tingkah diperhatikan seperti itu.


“Hei ... Jangan menatapku seperti itu. Kamu membuatku takut.” kata Silver.


Ixora mengerjabkan matanya, berusaha setenang mungkin menghadapi Silver di depannya.


“Please ... Aku sangat takut dengan keberadaan batu itu. Jangan ganggu aku, Silver.” pinta Ixora kemudian.


Silver menarik nafas dan mengangkat bahunya. Cowok itu berdiri dan beranjak dari


kursinya.


“Baiklah, aku tidak akan mengganggumu,” katanya seraya berlalu meninggalkan Ixora. Ixora


kembali mencari-cari benda yang mirip dengan apa yang ada di buku itu, namun ia


tidak menemukannya. Ixora memasukkan bukunya ke dalam tas, lalu keluar dari


ruangan .