
Wabah yang menyerang dunia belum juga hilang hingga
merenggut nyawa jutaan manusia. Badai pasir terjadi di berbagai negara dan banjir meluluh lentakan sebagian bumi. Bencana alam terjadi di mana-mana.
Mahluk bersayap hitam dengan tekstur kasar mengepakkan sayap dan terbang
di antara gedung-gedung bertingkat. Gedung pencakar langit dengan bentuk yang
elegan. Tidak seperti bangunan-bangunan lain. Bangunan itu tampak lebih modern.
Gedung-gedung itu tidak berada di bumi, namun tetap saja membuat takjub bagi yang melihatnya.
Ixora, mengawasi mahluk-mahluk yang mengejarnya dengan nafas tersengal. Dahinya basah
oleh keringat. Wajahnya terlihat pias dan bibirnya bergetar. Ixora tidak tahu
mengapa tiba-tiba saja ia berada di tempat itu. Tempat yang sama sekali belum
pernah ia lihat. Tempat itu benar-benar asing baginya. Kota dengan bentuk yang
sangat elegan dan memancarkan sebuah kemewahan. Kota di mana tidak ada lagi mobil-mobil dengan suara
berisik dan klakson yang mengganggu. Kota itu menggunakan sebentuk pesawat
dengan model yang lebih elegan dan terbang seperti pesawat. Bangunan itu tampak menjulang tinggi terbuat dari nikel dan perak.Berbentuk kerucut, bulat dan melingkar.
Ixora bersembunyi di balik dinding nikel dengan wajah ketakutan. Matanya mengawasi
sekitar dengan pandangan nanar. Ia tidak melihat adanya penghuni di tempat itu. Sepi dan hening. Hanya suara-suara aneh yang menggelegar di angkasa. Suara itu sangat menakutkan.
Suara menggelegar di langit mengejutkan Ixora dan ia tercekat. Suara itu berasal dari
mahluk setengahbinatang dengan ekor yang kasar. Wajahnya terlihat seperti monster dengan mata
yang merah menyala. Memiliki tekstur yang kasar dan kuku jari tangannya sangat
tajam.
Ixora, berusia Sembilan belas tahun. Ia memiliki mata biru
cerah yang diwarisi ayahnya. Ayahnya adalah
keturunan bangsawan langit yang menikah dengan ibunya, seorang manusia biasa.
Ixora memiliki kulit terang seperti kulit ayahnya. Gadis itu adalah kunci dari kehancuran seluruh
planet di angkasa.
Suara-suara mengerikan keluar dari selah-selah langit. Suara
lengkingan kematian. Langit seperti
terbelah dan memperlihatkan planet-planet di sekitarnya. Gadis itu bergidik. Ia benar-benar tidak tahu berada di mana. Ia tidak ingat mengapa ia bisa berada ditempat itu.
Ixora terus menyelamatkan diri dari mahluk-mahluk buas yang menakutkan. Mahluk
aneh bertubuh besar dan bersayap kasar itu mengeluarkan suara yang menggelegar. Suara itu seperti halilintar yang ingin membelah bumi.Sayap-sayap hitam yang keluar dari punggungnya mengeluarkan
bau menyengat! Kuku-kukunya tajam kehitaman. Bola matanya berwarna
merah menyala. Giginya bertaring dan mengerikan.
“Toloongg…” Ia menjerit meminta tolong sambil mengawasi sekitarnya. Sementara jantungnya
berdegub sangat kencang dan ia gemetaran. Tak seorang pun mendengar
teriakkannya.Orang-orang yang ada disana sangat berbeda dengan orang yang ada di bumi. Sungguh Ixora sangat ketakutan.
Tiba-tiba saja suara mahluk itu menggema, membuat Ixora terkejut dan semakin ketakutan. Suara itu menggelegar seperti gemuruh di langit. Ixora tercekat sambil menatap langit kelabu. Ia berlari lagi
sekencang-kencangnya. Ia tidak peduli dengan arah tujuannya yang penting ia
Orang-orang yang ada disana juga sangat berbeda. Dari bentuk pakaian, kulit
yang terang serta kemajuan teknologi yang luar biasa.
“Aku di mana?” Gumamnya sambil menangis ketakutan.
Nafasnya semakin tersengal dan ia kelelahan. Tiba-tiba saja ia menabrak sosok mahluk di depannya.
Braaak! Ixora terpental dan jatuh beberapa meter. Ia mendongak dan menatap mahluk mengerikan di depanya. Mata-mata merah menyala mengawasi dirinya. Kuku-kuku yang tajam
siap mencengkramnya. Ia bergerak mundur ketakutan. Bibirnya bergetar seraya meminta tolong.
“Tolooonggg… Toloong aku!!!” Jeritnya minta tolong.
Mahluk itu mendekatinya dan ingin mencengkeram nya dengan tangannya yang panjang. Ekornya yang tampak kasar bergerak-gerak. Matanya seperti mata buaya yang haus akan daging mentah. Ixora
bergerak mundur dengan gemetar.
“Arrrghhhkkk.... Toloong…” Jeritnya histeris.
Braaakkk.
Tiba-tiba mahluk itu terpental. Seorang laki-laki menendang mahluk itu hingga
beberapa meter. Kemudian merengkuh Ixora dan membawa
terbang ke angkasa. Ixora terkejut dan memejamkan matanya.
Kepakan sayap itu terdengar di telinganya. Seperti kepakan burung raksasa. Ixora rengkuhan laki-laki itu. Dengusan nafasnya terasa memburu dengan detak jantung yang kencang.
Lagi-lagi mahluk itu menyerang dan ingin menangkap Ixora dengan cakarnya yang tajam.
Cowok bersayap silver itu mempercepat kepakannya dan membawa Ixora lebih tinggi
lagi. Ixora melihat awan-awan putih yang bertebaran di langit. Ia juga melihat gedung-gedung
mewah dengan bentuk yang berbeda. Namun ia tidak bisa melihat wajah laki-laki
itu. Wajah cowok itubercahaya dan berkilauan. Tiba-tiba saja rengkuhan Ixora terlepas dari cowok
itu dan ia jatuh dari langit. Ixora menjerit.
“Arrghhhhkk…”
Gedebuk!!!
Ixora terjatuh dari tempat tidurnya. Ia terbangun dengan nafas tersengal. Keringat mengucur deras dari keningnya. Ia bingung dan mengedarkan pandang ke seluruh kamarnya.Ternyata ia
bermimpi. Batinnya.
Ixora duduk dan bersandar ke dinding tempat tidur.Ia mengatur pernafasannya sejenak, lalu mengingat mimpi
yang ia alami. Sebuah kehancuran yang maha dahsyat dan mengerikan. Bumi
dikuasai mahluk-mahluk aneh bersayap. Semuanya hancur menjadi puing-puing yang
berserakan.
“Syukurlah hanya mimpi.” Gumamnya. “Siapa laki-laki itu?” pikirnya.
Ixora berusaha mengingat wajah itu, namun tak sedikitpun ia bisa mengingatnya. Dekapan
laki-laki itu begitu hangat dirasa. Seperti dekapan sang kekasih yang memeluk
kekasihnya. Begitu nyaman.
Bersambung
....