
Planet Algar. Planet luar angkasa yang dihuni mahluk langit. Berjarak ribuan kilometer dari planet Earth dengan ribuan cahaya bintang. Penghuni mahluk Algar memiliki sayap yang diliputi debu ajaib berwarna perak. Mereka
lebih suka disebut mahluk langit karena mereka berbeda dari manusia. Kulit
mereka lebih terang dan bercahaya. Bola mata mereka lebih jernih serta terlinga
mereka sedikit lebih panjang seperti telinga para peri. Planet itu akan hancur
tak lama lagi.
Sebuah istana yang sangat megah dan elegan berdiri kokoh dengan pilar-pilar yang tinggi. Bangunan-bangunan dengan bentuk yang uniq dan
elegan serta taman-taman yang sangat
menawan terlihat sangat indah.
Mars, cowok bermata jernih berwarna silver berdiri di sudut pilar tinggi sambil memperhatikan planet
Earth. Ia tampak gusar. Sebagai penghuni
istana langit dan sebagai penerus kerajaan, ia mendapat tanggung jawab menjaga
istana agar tetap stabil, namun mahluk Exo menyerang planet mereka untuk menadapatkan
mineral dan perak sebagai kesimbangan planet Exo. Sebelum semuanya terlambat, Mars mencari ratu istana langit yang belum terlahir. Hanya sang Ratu yang mampu mencegah semua itu.
“Apakah kamu sudah menemukan sang ratu?” tanya wanita baya yang mengenakan baju dari kerajaan
langit. Baju kebesaran dengan model bangsawan
hingga menyapu lantai. Gaun itu berwarna
silver bertabur batu-batu kristal berwarna biru dan putih. Sebuah
mahkota berwarna keperakan dengan batu-batu berlian yang terususun apik berada
di kepalanya.
“Aku akan terus mencarinya, Bu.” Mars menjawab sambil menunduk sedikit, memberi
hormat.
“Segera mungkin kau mencari titisan sang ratu, Mars. Sebelum mahluk Exo menyerang
planet kita.”
“Beri aku waktu, Bu,” kata Mars.
“Baiklah. Kamu tentukan waktumu sebelum semuanya terlambat,” kata sang Ratu sambil berlalu.
Mars mengangguk dan memberi hormat kepada ibunya. Ia kembali terpaku sambil
memperhatikan planet Earth yang kebiruan. Ia masih penasaran dengan planet itu.
Kemudian Mars mengepakkan sayapnya dan terbang keluar
dari istana. Ia masuk ke portal waktu dan menuju planet Earth.
Sekawanan mahluk bersayap hitam terbang di antara awan-awan gelap. Ada puluhan mahluk
bertaring yang mengepakkan sayap. Mars mengintai dari balik awan. Mars
mengepakkan sayapnya menghindar dari serangan mereka.
Mahluk berkulit kasar dan bersisik berwarna hijau kehitaman itu mengetahui keberadaan Mars dan mereka mengejarnya. Mahluk itu berasal dari planet Exo. Planet yang tak memiliki peradaban seperti mahluk langit. Mahluk itu mengawasi gerak-gerik sosok mahluk bersayap dengan matanya yang tajam. Sosok yang mereka
kejar adalah Mars.
Langit tampak hitam dan menimbulkan kilatan cahaya yang sangat dahsyat ketika mahluk itu
menyerang Mars. Kilatan cahaya itu terlihat dari permukaan bumi. Ledakan demi
ledakkan menimbulkan suara yang menggelegar seperti halilintar.
Mars berusaha menyelamatkan diri. Ia terbang ke kanan dan ke kiri menghindari serangan mahluk Exo. Mars berhasil melarikan diri dari serangan yang bertubi-tubi. Namun sebelah sayapnya terkena benda
tajam dan mengeluarkan darah kebiruan. Ia terbang dengan terseok mencari
perlindungan.
Mars berusaha sekuat tenaga terbang di antara awan-awan gelap. Tiba-tiba saja sebuah benda
tajam berwarna hitam kembali mengenai sayapnya yang putih. Ia terkejut begitu
melihat mahluk-mahluk sangar dan buas menyerangnya dari belakang.
Mars berusaha menyelamatkan diri. Ia terbang kesana-kemari untuk menghindari serangan mahluk
ganas yang megejarnya.
“AKKHHH…” Tiba-tiba saja sebuah tombak kecil menghunus sayapnya hingga ia terjatuh dari
angkasa.