
Planet Exo, planet dengan nuansa kehitaman terletak jauh dari planet bumi. Planet itu
berada di lintang utara dari poros matahari. Planet itu berpenghuni sosok
monster dengan sayap-sayap hitam dan bentuk menyerupai binatang. Binatang
dengan kaki dan tangan yang sangat kuat. Mahluk itu berdiri seperti manusia.
Planet
dengan batu-batu hitam dipimpin oleh sosok manusia langit bersayap. Sosok itu
bernama Edward. Berparas sedikit kasar, bermata kemerahan dan penuh dendam. Ia
mengenakan baju bangsawan sampai ke lutut berwarna hitam. Bentuknya sangat
elegan dengan sepatu boot sebatas betis.
Edward berdiri tegak dengan mata tajam. Ia mengamati planet Algar dari jauh. Matanya
memancarkan dendam yang mendalam. Ia keluar dari planet Algar karena baginda
raja tak lagi membutuhkannya. Edward ingin membalaskan dendamnya kepada
penguasa istana.
Seratus tahun yang lalu saat Raja Gilbert menguasai Algar, terjadi perselisihan antara
Edward dan Gilbert. Mereka kakak beradik, namun ayah mereka lebih memilih sang
kakak untuk menjadi raja. Edward dinilai sebagai sosok yang tidak bertanggung
jawab. Ia penuh dengan aura hitam yang akan membawa kerajaan menuju kegelapan.
Itu sebabnya sang ayah memilih Gilbert sebagai penerusnya.
Edward merasa dihianati dan ia pergi dari Algar menuju planet Exo. Edward membuat
kerajaan sendiri dan menguasai planet Exo. Ia memiliki pasukan yang kuat untuk
menyerang Algar. Edward ingin merebut kembali istana itu. Edward sudah
menyiapkan bala tentara yang kuat serta beberapa senjata canggih.
“Aku harus merebut kembali tahta itu.” Gumamnya sambil mengepal jemari tangannya.
Matanya menyipit pertanda ia sangat ingin membalas dendam.
Terlahir sebagai anak kedua dan tidak diberi warisan kekuasaan membujat Edward seperti
dikhianati ayahnya. Ia tidak tahu mengapa ayahnya selalu saja berpihak dengan
kakaknya.
Dengan cara apa-pun ia harus merebut kembali tahta itu. Ia ingin menjadi raja dan
ingin dihormati sebagai darah bangsawan.
“Tuan, semua
persenjataan sudah lengkap.” Kata seorang kapten prajurit.
dengan wajah dinginnya.
“Kita akan
menunggu waktu yang tepat untuk menyerang Algar.”
Sosok setengah
manusia berpakaian perang itu hanya menganggu, lalu pergi meninggalkan Edward
“Ixora,tunggu ..!” Panggil Silver ketika gadis itu berjalan di halaman kampus. Ixora
berhenti dan menoleh ke arah Silver. Silver berhenti dengan nafas sedikit tersengal.
“Kamu sibuk?” tanya Silver kemudian.
Ixora
menggeleng. “Enggak, ada apa?” Ixora balik bertanya.
“Tentang batu itu. Aku ingin tahu tentang batu yang kamu ceritakan tadi.”
“Apa sangkut pautnya denganmu, Silver? Batu itu mungkin bisa membunuhmu.”
“Boleh aku melihatnya?”
Ixora terdiam sejenak. Ia tidak ingin terjadi apa-apa kepada Silver. Ia tidak mau
Silver melihat batu itu.
“Sebaiknya jangan. Aku tidak akn menunjukkannya padamu, Ver. Untuk apa coba?”
“Aku khawatir padamu, Ixora...”
“Sudahlah, Silver. Jangan terlalu lebay. Aku baik-baik saja. Aku pergi dulu.” Ucap Ixora
seraya meninggalkan Silver begitu saja.
Silver terpaku memperhatikan kepergian Ixora. Ia semakin yakin kalau gadis itu memang
tidak menginginkannya. Cinta yang ada di dalam hatinya hanyalah sebuah
kepalsuan belaka. Cinta tidak berpaling padanya.
Berat Silver melangkahkan kakinya meninggalkan halaman kampus dengan
serpihan-serpihan sesal yang mendalam. Ia semakin yakin kalau gadis itu juga
bukan gadis yang ia cari selama ribuan tahun. Ia juga tidak tahu siapa gadis
yang berada dalam mimpinya. Mimpi yang sering sekali muncul, saat hatinya telah
raib.