
Suasana kampus seperti biasa. Ixora duduk sambil
meletakkan bukunya di atas meja. Ia duduk diam, namun cowok di sudut dinding
mencuri perhatiannya. Ixora menoleh dan memperhatikan cowok yang duduk di sudut
dinding sambil mencorat-coret bukunya. Cowok beralis tebal dengan rambut yang sedikit menutupi
matanya. Cowok itu hanya diam dan tidak ada kesan
persahabatan. Cowok itu adalah Jupiter. Cowok dingin yang aneh dan
tidak mau bergaul.
Banyak yang tidak tau tentang Jupiter. Masa lalu Jupiter, alamat Jupiter serta asal
muasal Jupiter. Tiba-tiba saja cowok itu mengalihkan pandang dan menatap Ixora.
Gadis itu terkejut dan buru-buru memalingkan wajahnya.
“Oh my God! Tatapan itu tajam sekali.”
Gumam Ixora sambil menutupi wajahnya dengan buku.
Ixora menundukkan kepalanya sambil mendegut ludah. Entah mengapa ia sangat takutmenatap Jupiter. Ketika Ixora kembali ingin melihatnya,
Jupiter sudah tidak ada di kursinya.
“Kemana cowok itu?” pikiranya.
Ixora celingukan mencari sosok Jupiter. Jupiter tetap tidak ada. Ixora mengerutkan keningnya dan
menghalihkan pandangan. Ia seperti sudah mengenal sosok Jupiter begitu lama.
Namun ia tidak tahu kapan dan dimana. Pertemuan itu sangat lama sekali bahkan
ia tidak mengingatnya.
Pelajaran demi pelajaran terlewati begitu saja. Dalam benak Ixora begitu banyak yang
berkecambuk. Antara lain sosok cowok di kamarnya dan sosok Jupiter yang aneh.
Siapa sebenarnya mereka? Pikirnya.
Mata kuliah sudah selesai beberapa menit lalu. Ixora beranjak dari tempat duduknya
dan hendak keluar. Tiba-tiba saja pandangannya beralih ke kursi Jupiter. Ia
terkejut melihat cowok itu di sana menatapnya tajam. Ixora gugup dan mengucapkan
terima kasih atas pertolongannya tadi.
“Terima kasih, kamu sudah menyelamatkanku,”kata Ixora tanpa
senyuman.
“Aku tidak mau kamu selalu memperhatikanku. Anggap saja kamu tidak pernah
mengenalku,” kata Jupiter dingin. Cowok itu pun beranjak dari tempat duduk nya
dan pergi meninggalkan Ixora yang masih
terpaku. Cowok itu benar-benar dingin dan aneh. Ia datang begitu
saja dan pergi begitu saja. Seperti sosok hantu yang bisa datang kapan saja.
Seorang cowok yang diam-diam menyukainya mengintai
dari balik dinding. Cowok itu adalah
Silver.Ia melihat Ixora memperhatikan Jupiter.
Perlahan ia mendekati Ixora dan menegurnya.
“Ixora...” Tegurnya membuyarkan
lamunan Ixora. Ixora tercekat dan menoleh menatap cowok yang berdiri tegak di depannya.
“Silver ...?” Gumam Ixora.“Kamu kok disini?” tanya Ixora sedikit gugup.
“Hmm … Aku ingin mengajakmu nonton. Film hari ini bagus-bagus,”
ujar Silver.
“Aku lagi gak mood nih. Lain kali aja ya.”
“Kamu kenapa? Kamu sakit?”
“Nggak apa-apa. Aku sehat-sehat aja kok. Oh ya, kamu kenal ama cowok yang duduk disini tadi?”
“Jupter?” Silver menaikkan sedikit alis matanya. “Aku nggak begitu mengenalnya. Dia selalu tertutup. Memangnya kenapa? Dia mengganggumu?” tanya Silver ingin tahu.
tidak pernah mau tau tentang dia. Tapi akhir-akhir ini aku jadi penasaran. Ini tentang mimpiku.”
“Mimpi mu? Kamu memimpikannya?”
Ixora menggeleng. “Bukan. Tapi aku pernah kenal dengannya. Aku tidak tahu kapan dan
di mana.”
“Banyak yang tidak tahu tentang Jupiter. Asal usulnya dari mana juga aku nggak tahu. Dia cowok aneh. Ada apa dengan mimpimu?”
“Hmm … nggak ada apa-apa. Mungkin hanya kebetulan saja.”
Mereka berjalan keluar dari ruangan.
“Kemarin aku mimpi mengerikan, Ver.” Guman Ixora bercerita ketika mereka berjalan di koridor.Kampus terlihat tenang dan sepi.
“Mimpi hantu?” tanya Silver bercanda.
Ixora menggeleng. “Bukan. Tapi lebih mengerikan lagi. Aku melihat bumi kita hancur.
Ada meteor yang menabraknya. Mimpi itu seperti nyata. Apakah mimpiku akan terjadi?”
“Itu bunganyatidur, Ixora. Kamu nggak perlu khawatir. Aku juga sering mimpi dikejar-kejar
hantu. Dan aku baik-baik saja. Bahkan hantu itu takut denganku. Hahahaha...”
Silver tertawa lebar dan membuat Ixora tersenyum.
“Aku antar kamu pulang ya?” Silver menawarkan kebaikannya.
“Hmm ... Aku dijemput Kamila.” Tolak Ixora cepat.Ia tak ingin cowok itu merasa diacuhkan.
“Ayolah. Aku ingin sekali mengantarmu pulang.” Ajak Silver lagi.
“Nggak usah, Ver. Aku ada rencana dengan Kamila,” ucap Ixora seraya mengumbar
senyuman.
“Oke. Besok aku yang anter kamu, gimana?” Silver kembali
menawarkan kebaikannya.
Ixora hanya tersenyum dan mengangguk.
“Kalau begitu aku pergi dulu.” Kata Silver. “Sampai ketemu besok.” Silver beranjak
meninggalkan Ixora.
“Okey. Dag...”
Silver berlalu menuju parkiran. Cowok itu tampak berbunga-bunga. Sudah lama sekali ia
mengagumi Ixora, namun belum mengatakan apa pun kepada gadis itu.
Ixora berjalan di koridor sambil mendekap bukunya di dada. Halaman kampus bagian
belakang memang jarang dilewati mahasiswa lain. Banyak pohon-pohon rindang
disana. Sebuah tempat duduk juga bertengger apik di sudut taman. Tiba-tiba saja
sebuah benda mencuri perhatian Ixora ketika benda itu berkilauan. Benda itu ada
di sebuah rerumputan yang sedikit memanjang. Benda itu berkilauan berwarna kemerahan.
Bentuknya seperti kristal. Ixora menghampiri benda itu dan memperhatikan dengan
lekat. Ia tidak tahu benda apa itu. Sebuah batu bercahaya yang sangat unik.
Tekturnya juga seperti pecahan berlian. Di sebelahnya terletak kalung dengan liontin yang uniq. Ixora mengambil batu dan kalung itu. Ia mengamatinya dengan lekat. Batu itu semakin bercahaya.
Ixora buru-buru memasukkan batu itu ke dalam tasnya. Dengan segera ia meninggalkan
tempat itu dan menemui Kamila di parkiran. Dari kejauhan sepasang mata
memperhatikannya. Mata itu milik Jupiter.
“Dia menemukan batu itu,” gumam Jupiter.
Cowok bermata elang itu menatap tajam pada bola kristal di tangannya. Batu itu
satu-satunya penyelamat semua planet agar tidak terjadi kehancuran dan tidak
ada yang bisa melihat atau menyentuh batu itu selain keturunan bangsawan. Ixora
salah satu keturunan bangsawan langit. Ia titisan para dewa.
“Siapa gadis itu sebenarnya?” pikir Jupiter lagi. “Aku harus mencari tahu siapa dia.”
Jupiter mengepakkan sayapnya, lalu terbang ke angkasa.