
Ada yang berbeda dengan hari senin ini. semua siswi terlihat lebih antusias untuk ikut upacara padahal sebelum-sebelumnya mereka tidak seperti ini. Bahkan yang biasanya mengeluh justru saling berebut untuk baris di barisan paling depan.
“Astaga … sehari tidak bertemu kenapa Pangeran ku semakin tampan?!” seru Ola.
Hah? Pangeran? Daniel, maksudnya?
Jessie baru akan memberikan cibiran namun Ola sudah menghilang begitu saja dari sampingnya, gadis itu sudah berpindah ke barisan kedua.
Gezzz ... apa Ola memang benar-benar sebodoh itu? Kenapa dia masih mau memperhatikan orang yang bahkan sudah membuatnya malu plus patah hati? Kalau Jessie jadi Ola, jangankan untuk melihat wajahnya, melihat bayangannya aja juga malas.
Serius, aku tidak bohong!
Jika diperhatikan kembali, ada sekitar 7 orang yang sekarang sedang berdiri di depan lapangan. Dari beberapa anak yang berbincang-bincang, ternyata itu kasus perkelahian antar siswa.
"Aku dengar mereka berkelahi dengan siswa dari sekolah lain."
"Mereka hanya membela diri, kalau aku jadi Daniel, aku juga akan melakukan hal yang sama."
Jessie memutar bola mata sebal, Itu suara Tio, dia juga salah satu anak basket, jelas saja dia membela kaptennya.
"Sampai ada yang masuk rumah sakit? Aku rasa itu bukan lagi masuk ke dalam membela diri."
Obrolan para siswa di belakang semakin terdengar seru. Jessie bukannya ingin mendengarkan, tapi suara mereka cukup keras sampai bisa didengarnya.
"Omong kosong! Beni bilang tidak ada yang luka parah kecuali lebam di wajah mereka. Daniel tidak segila itu sampai mau bunuh orang "
"Aku dengar Sabtu sore kemarin mereka ditangkap pihak keamanan." celetuk yang lainnya. Jessie tidak tahu siapa yang mengatakan hal itu, dia tidak bisa melihat ke belakang karena terhalang beberapa anak lain. "Sekarang pihak konseling akan mendata anak-anak yang terlibat dan akan memberikan hukuman."
Wait, mereka bilang apa? Pihak BK akan mendata anak-anak yang terlibat? Apa itu serius?
"Oh, Tuhan … apakah ini akan menjadi hari sial ku?
Karena … karena tanpa sengaja aku juga terlibat dengan mereka." gumam Jessie, ia mengerang kemudian menatap Daniel marah.
Jika saja cowok itu tidak berbuat sok pahlawan, jika saja dia tidak menarik tangannya, maka ia tidak akan berada di situasi tidak menguntungkan saat ini.
...----------------...
Jessie mengedarkan atensinya seperti hewan pemburu tepat setelah pemimpin upacara membubarkan barisan. Dia harus menemukan Daniel sebelum cowok itu masuk ke ruangan Ibu Harin atau kehidupannya akan kacau balau. Semua hal yang telah ia pupuk dengan baik bisa hancur dalam sekejap, dalam satu ucapan yang keluar dari mulut cowok itu.
"Je, kau mau kemana?" Ola baru saja menarik lengan gadis itu.
"Ola, aku …" suara canggung dan raut wajah tegang Jessie justru membuat Ola semakin penasaran.
"Apa? Ada apa?"
Jessie menggigit bibir, "Aku …." dan disaat yang bersamaan iris coklatnya menangkan siluet cowok yang dicarinya sejak tadi. Daniel tengah melintasi koridor bersama teman-teman yang lain, mereka akan pergi menuju ruangan Ibu Harin.
Oh, persetan dengan Ola! Jessie akan menjelaskannya nanti, dia hanya perlu mengurus satu masalah dulu. Saat ini nama baik dan harga dirinya sedang dipertaruhkan.
"DANIEL!" Jessie berseru, dia meninggalkan Ola dalam sekejap dan mulai berlari ke arah cowok itu. "DANIEL TUNGGU!!!" kali ini suaranya lebih lantang karena … entah cowok itu tidak mendengarnya atau berpura-pura tidak dengar.
Jessie nyaris hilang akal, dia mempercepat ayunan kakinya. Setelah cukup dekat, dia buru-buru menangkap tangan Daniel dan menariknya.
Daniel sedikit terseok efek tarikan tiba-tiba tersebut. Cowok itu berbalik dan mendapati Jessie tengah membungkuk sambil menetralkan pernapasannya.
"Apa?" suara Daniel terdengar ketus, alis hitam lebatnya menukik tajam namun entah mengapa ekspresi itu justru terlihat pas di wajah tampannya.
'Je, plis, berhenti memuji setan tengil itu.' Ia sedang memperingatkan dirinya sendiri. Setelah berhasil mengatur napas dan agak tenang, Jessie barulah berbicara. "Dengar, kau tidak boleh mengatakan apapun tentang aku di depan Guru BK!"
Daniel sedikit menelengkan kepala. "Kenapa aku harus membicarakan mu pada Guru BK?"
"Itu karena …" Jessie terdiam, dia sedikit kesulitan untuk menemukan kata-kata. "Bagaimana kalau ada yang memberi informasi pada Ibu Harin jika kemarin kau lari dengan salah satu murid perempuan dan juga …"
"Kenapa? Kau takut?" suara Daniel terdengar mengejek.
Bohong kalau Jessie tidak takut. Tidak hanya imej di sekolah yang akan hancur, tapi juga imej di depan kedua orangtuanya. Label anak baik-nya di depan sang Ayah akan hancur dan ia tidak mau itu terjadi.
Jessie menatap Daniel dari balik bulu matanya. Haruskah ia mengemis pada cowok menyebalkan itu untuk menyelamatkan dirinya dari kekacauan ini? Lagipula, bukan keinginannya juga ikut kabur dari area itu.
Baru saja Jessie akan bicara namun seseorang lebih dulu menginterupsi. "Jessie, Daniel, kalian sedang membicarakan apa?"
Ola berdiri lima langkah dari mereka, suaranya terdengar kesal dan juga tatapan menuduh itu membuat Jessie tidak nyaman. 'Oh, sial, kenapa aku harus terperangkap dalam drama cinta mereka?' ia mengerang dalam hati.
"Daniel, kau — sial, kemana dia pergi?" Jessie mengumpat karena cowok itu sudah menghilang dari hadapannya.
"Je?" suara Ola kembali terdengar.
Jessie tersenyum kikuk, "Ola, aku harus melakukan sesuatu lebih dulu. Setelah semuanya selesai aku janji akan menceritakan semuanya padamu."