Perfectly Wrong

Perfectly Wrong
Bab 3 : Konfrontasi



...Mencoba memasuki rumah yang pintunya terkunci adalah hal yang sia-sia. Tapi ini bukan tentang rumah. ...


...----------------...


Jessie menggerutu sesampainya ia di lapangan. Ya, seperti dugaannya, lapangan sudah penuh dengan lautan gadis genit yang memanggil-manggil nama ketua klub.


"Ugh... apa yang harus aku lakukan untuk bisa berdiri di barisan paling depan?" Mata gadis itu mengedar ke sekitar, dia menemukan sesuatu yang bisa membuat lautan gadis genit disana bubar seketika. "Ck, Jessie selalu mendapatkan apa yang dia inginkan!"


Dengan senyum puas, dia lekas mengambil sesuatu dari tanaman yang tak jauh dari koridor. "Ulat!" kemudian ia berteriak seraya melemparkan hewan lentur itu ke kerumunan.


Kalian tahu apa hasilnya?


Wooops!


Dalam sekejap gadis-gadis yang sebelumnya menyerukan nama Aldo kini sedang meneriakkan nama hewan lentur berbulu yang menjijikan itu seraya berlari tunggang langgang.


"Hahaha ... bodoh sekali." kekeh Jessie sampai rasanya sakit perut karena geli.


Merasa ditatap oleh seseorang, tubuh gadis itu lekas berbalik ke arah kiri, iris coklatnya menangkap sosok cowok berperawakan tak kalah tinggi dengan pangerannya, Aldo. Kekehan geli lekas lenyap begitu pandangan mereka saling bersirobok. Matanya entah bagaimana bisa dapat mengenali cowok itu di mana-mana, contohnya seperti saat cowok itu berada di lapangan indoor maupun outdoor, di kantin, koridor, dan perpustakaan.


Lalu saat ini cowok itu sedang bersandar di tiang koridor, tatapan tajamnya sama sekali tidak meninggalkannya.


"APA?" Jessie mulai memprovokasi.


Cowok itu Daniel, ketua klub basket yang terkenal nyebelin seantero sekolah. Sosok yang merasa dirinya paling keren sampai bersikap kurang ajar pada cewek yang naksir padanya.


Jessie kira Daniel akan mengatakan sesuatu atau lebih tepatnya dia akan melontarkan caci-maki. Namun setelah menunggu beberapa saat, telinganya belum juga mendengar satu patah kata pun keluar dari mulut tajam cowok itu. Justru yang dilakukannya hanya mengedikkan bahu tak acuh kemudian pergi.


Sialan!


Jessie tidak tahu di mana letak kesalahannya pada cowok sengak itu, tapi Daniel seperti memiliki rasa benci yang bermegah-megah padanya.


Oke, Daniel pernah melihatnya melakukan hal kotor 3 bulan lalu. Saat itu Jessie benar-benar kesal pada seseorang yang dengan tidak tahu dirinya mendekati Aldo. Tanpa berpikir panjang, ia lekas pergi ke loker milik gadis tidak tahu diri itu kemudian memasukkan sampah ke dalam sana.


Jam 6 sore, hanya siswa kurang kerjaan yang masih berkeliaran di lingkungan sekolah. Tapi nyatanya si brengsek Daniel masih ada di sana padahal klub basket sudah selesai latihan dari jam 5 sore. Jessie tidak bisa mengelak, terlebih lagi dengan barang bukti yang masih ada di tangannya. Daniel memang tidak mengatakan apapun, cowok itu hanya memberinya tatapan tajam sebelum berbalik dan pergi.


Keesokan harinya Jessie sudah mempersiapkan diri kalau nanti mendapat panggilan dari guru BK. Tapi saat ia sampai di sekolah, semuanya masih baik-baik saja kecuali kehebohan di loker kelas sepuluh.


Suara peluit yang entah ditiup oleh siapa sukses menarik Jessie dari ceceran memori menyebalkan. Anggota klub futbol sudah berhamburan keluar dari lapangan.


Di mana Aldo? Dalam sedetik kedua mata gadis itu berubah menjadi kamera pelacak, dan tadaaa ... ia berhasil menemukan pangeran tercinta.


"Aldo!" Jessie berteriak saat melihatnya tengah beristirahat di pinggir lapangan. "Ini, untuk mu." ucapnya seraya menyodorkan botol minuman elektrolit yang kubawa sejak tadi.


Oh, Tuhan... keringat yang mengucur deras melewati pelipis dan jersey bola yang melekat ketat di tubuh tegap—menampilkan bentuk roti sobek isi enam—itu benar-benar membuatnya kembali lapar.


"Sori, Je. Aku sudah punya." Aldo memberitahu, ada sebuah wadah minuman yang berisi teh manis di tangan kanannya. "Thanks, buat teh manisnya, sayang." sambung Aldo seraya tersenyum manis pada gadis berkaca mata tebal jelek di sebelahnya.


Sayang? Apa dia serius? Astaga... sebenarnya yang punya mata minus itu Aldo atau si culun Mia? Dilihat dari sisi manapun tidak ada hal yang menarik sama sekali dari gadis culun itu.


"Jessie!"


Oh, tidak!


Kenapa hari ini sial sekali sih?


Jessie menoleh ke belakang dan bulu kuduknya lekas meremang saat melihat sosok Rafael tengah berlari ke arahnya.


Dia berkeringat!


No, jangan pernah berani menyamakan Rafael dengan Aldo karena mereka jelas sekali berbeda.


Aldo plus keringat sama dengan hot.


Tapi Rafael?


Dia plus keringat sama dengan menjijikan dan bau!


"Hai, Raf!" sapa Jessie seraya tersenyum kecut, "Untukmu!" ia melempar botol minuman elektrolit itu pada Rafael sebelum berlari secepat yang ia bisa. Jessie tidak mau kalau sampai tubuh penuh keringat Rafael memegangnya.


"Kalian lihat tadi? Princess Jessie baru saja memberiku minuman!!!" seru Rafael pada teman-teman klub yang ada di sana.


Oh, Tuhan... apa tidak ada yang lebih baik dari Rafael?