
Kantin terlihat ramai siang ini, tidak sedikit orang melakukan tindakan kotor hanya untuk mendapatkan sesuatu untuk mengganjal perut mereka. Belum lagi saat mereka sudah mendapatkan apa yang mereka ingin makan, kendala yang dihadapi adalah meja yang sudah penuh.
Jessie meringis saat membayangkan dirinya berada di tengah lautan orang kelaparan dengan baju mereka yang bau keringat. Beruntungnya ia menduduki posisi istimewa. You know, anak-anak populer selalu memiliki tempat sendiri walaupun mereka tidak meminta. Ini lebih seperti tradisi bodoh yang dilakukan oleh senior-senior terdahulu dan entah kenapa masih berlaku hingga sekarang.
"Mau kemana, Je?" Gea segera membuka suara saat melihat temannya berdiri dari kursi seraya membawa sebotol minuman elektrolit yang gadis itu dapatkan dari mesin pendingin di sudut kantin.
Jessie menyunggingkan senyum cerah. Ini hari sabtu, yaitu hari di mana anak-anak klub futbol melakukan latihan gila-gilaan. Maksudnya, gila-gilaan di sini mempunyai artian lain, yaitu mereka latihan di saat matahari sedang terik dan itu jelas saja akan menghasilkan banyak sekali keringat yang kemudian akan mencetak lekuk tubuh mereka di balik baju klub yang basah kuyup.
Astaga ... Jessie sudah tidak sabar untuk melihat pahatan indah sang kapten futbol. Sosok pangeran yang masih ia perjuangkan hingga detik ini.
"Maaf teman-teman, Pangeran Aldo sedang menunggu Tuan Putri di lapangan." ucap Jessie kemudian berlari dari area kantin sekolah menuju lapangan utama.
...----------------...
"Bagus! Lain kali saya tidak hanya memberikan setumpuk tugas dan skorsing, tapi akan saya keluarkan dari sekolah. Jangan ulangi lagi. Ingat itu baik-baik, anak nakal!"
Daniel memandang malas guru sejarah di depannya. Hanya karena dia menggebrak meja di tengah kelas yang sedang berlangsung, ia lantas mendapat skorsing selama 3 hari dan merangkum 4 Bab pelajaran membosankan guru itu, sejarah.
Tunggu, Daniel bukan tidak menghargai perjuangan para pendahulunya untuk membangun negara ini. Hanya saja, cara Pak Sunyoto menerangkan pelajarannya yang membuat seluruh murid merasa kebosanan. Pak Nyoto bahkan tidak tahu cara berinteraksi dengan muridnya, yang ia lakukan ketika mengajar adalah membaca buku lalu bertanya "Ada yang tidak mengerti?" lalu seisi kelas akan menjawab "Tidaaaak." dan guru itu akan membacakan materi tersebut sekali lagi dari awal.
Selalu seperti itu.
Apa yang tidak lebih mengerikan? Disaat dia ingin melupakan masa lalu, ia malah terjebak dan harus mempelajari tentang masa lalu itu sendiri. Bukan masa lalu pribadi memang, tapi yang namanya masa lalu tetap saja rasanya menyakitkan.
Satu lagi, Daniel benar-benar muak dengan ancaman— "Kami akan mengeluarkanmu dari sekolah!" —yang selalu mereka katakan di setiap sesi konseling.
Daniel sudah sering membuat kesalahan, tapi sampai hari ini dia masih belum juga mendapat surat D.O dari pihak sekolah. Yea, sekolah mana sih yang mau kehilangan salah satu donaturnya?
"Sudah sana, kembali ke kelas." perintah pak Nyoto.
Tanpa banyak bicara, Daniel lekas menyeret kakinya pergi dari ruang guru —yang lebih mirip dengan minimarket— tersebut menuju kelasnya.
Sebenarnya, kejadian di kelas waktu itu bukan seratus persen kesalahannya. Tidak jika partner kelompoknya bukan gadis menyebalkan itu. Daniel memang dikenal bermulut kurang ajar apalagi jika dihadapkan dengan sesuatu yang menjengkelkan, tapi dia sebisa mungkin tidak mengatakan hal kurang ajar pada perempuan. Sedangkan gadis bernama Alisya —teman satu mejanya— selain dikenal sebagai gadis lemah lembut, penyabar, akan tetapi dia memiliki gaya bicara yang gagap.
Kalian sudah melihat bagaimana akhir dari mulut sialannya tersebut. Tck, mau bagaimana lagi, kesabarannya memang setipis itu teman-teman.
"El!" teriakan Beni membuat Daniel mengemasi ingatan menyebalkan beberapa hari lalu. Dia menoleh ke belakang dan menemukan member satu klubnya sedang berjalan ke arahnya. Mereka memang beda kelas, jadi wajar saja baru bisa bertemu disela-sela jam kosong begini.
"Kemana saja kau selama 3 hari ini? Kau ganti nomor lagi?" tanya Beni setelah berhasil mensejajarkan langkah dengan Daniel.
Masalah tidak ada kabar selama 3 hari selain kena skorsing, Daniel punya alasan. Tapi Daniel malas untuk menjelaskan pada si gembul itu, buang-buang tenaga saja.
"Kok posesif?"
"Yee si anjir, ditanyain serius juga!"
Daniel hanya mengedikkan bahunya tak acuh, kaki panjangnya terus berjalan menyusuri koridor menuju kantin.
"Hari ini hampir saja telat, untung saja aku bisa lolos dari hukuman si Bagas." oceh Beni lagi, "si brengsek itu makin hari makin menjadi-jadi saja tingkahnya. Kau harus tahu, kemarin anak cewek kelas sepuluh ada yang kena hukuman lari keliling lapangan sepuluh putaran!"
Bagas adalah salah satu anggota Osis yang menjabat sebagai seksi kedisiplinan. Semua murid yang membolos, yang terlambat dan yang bermasalah akan berhadapan dengannya lebih dulu sebelum dilimpahkan kepada dewan guru jika kasusnya sudah terlalu berat.
Di samping itu, Daniel jelas tahu kalau Bagas sedikit memanfaatkan jabatannya demi kepentingan pribadi. Tapi dia tidak peduli selama si brengsek itu tidak mengusik ketenangannya di sekolah. Sama sekali tidak peduli!
Saat melewati lapangan outdoor, iris pekat Daniel seperti tersedot pada satu titik. Rambut cepol dua ditambah dandanan super nyentrik, Daniel mengerutkan keningnya. Entah kenapa sosok itu jadi bertebaran di mana-mana setelah kejadian tiga bulan lalu.
Daniel melihatnya berada di koridor saat ia hendak pergi ke kelas. Melihatnya ada di perpustakaan saat guru memintanya mengambil buku paket disana. Melihatnya di kantin saat ia membolos pelajaran, dan sekarang gadis itu berada di dekat lapangan, sedang mencari sesuatu di antara tanaman sekolah.
Daniel menaikkan satu alisnya, dia berhenti dan lekas menyandarkan tubuhnya di salah satu tiang koridor untuk melihat apa yang akan gadis itu lakukan.
"El?" panggil Beni.
Daniel mengibaskan tangannya, "Duluan saja, aku ada urusan sebentar."