
Rapat klub yang membosankan. Seharusnya Jessie sudah ada di rumah, di kamarnya, berbaring nyaman ditemani drama Korea favorit. Kalau saja si nenek lampir Sisil tidak mengancamnya, ia pasti sudah kabur dari ruangan membosankan tersebut sejak bel pulang sekolah tadi.
Drrrt... drrrt...
Getaran yang berasal dari saku rok membuat gadis itu berjengit kaget. Ada pesan masuk dari Ola.
^^^:: Olarila 15.48^^^
^^^Aku punya ide brilian.^^^
^^^Aldo masih latihan futbol, kemungkinan dia juga pulang sore hari ini. Tas mu masih di kelas kan?^^^
Aldo masih latihan futbol? Bibir gadis itu langsung menukik membentuk kurva tajam.
:: Jessie 15.49
Ide brilian apa? Aku tidak mau sampai gagal seperti Minggu lalu.
Ide-ide dari Ola memang banyak, tapi entah kenapa tidak satupun dari idenya berjalan dengan mulus. Minggu lalu dia menyuruh Jessie pura-pura keseleo saat jam olahraga yang kebetulan Aldo sedang lewat di sana. Ya memang sih, di film-film yang Jessie tonton juga si pemeran cowok akan langsung membantu si cewek, menggendongnya sampai UKS dan bla... bla... bla...
Tapi itu Aldo, cowok paling nggak peka di sekolah. Boro-boro nolongin, yang ada dia malah tertawa. Kaki bengkak, ditertawakan... sakitnya memang nggak seberapa, tapi malunya itu loh.
Tidak berapa lama pesan balasan dari Ola datang.
^^^:: Olarila 15.50^^^
^^^Aku dan Gea akan menyembunyikan dompetmu. Nanti kau katakan pada Aldo kalau dompetmu hilang dan tidak punya uang untuk ongkos pulang. Taraaa … kau akan diantarkan pulang naik motor, jangan lupa untuk menghitung berapa pack isi roti sobek Aldo ya, Je. Hahahaha.... ~Ola^^^
Ya ampun... Ola kok cerdas banget sih, tumben. Jessie jadi tidak sabar pengen buru-buru balik dan dibonceng Aldo. Enak kali yah nyenderin kepala di bahu lebarnya.
"Jessie! Gue lagi ngomong! Simpen hp lo sekarang juga!” teriak Sisil seraya memberikan pelototan. "Karena Sport Day akan diadakan di sekolah kita, maka tema tabloid kita bulan ini adalah sport. Jessie, lo bertugas meliput klub basket. Wawancarai seluruh anggotanya, terutama ketua klubnya.”
Tunggu, tunggu, tunggu!
Jessie tidak salah dengar kan? Klub basket? Itu artinya dia harus menghadapi cowok paling tidak ingin ia ajak bicara dong?
"Klub basket? Kenapa harus basket? Siapa yang dapat liputan klub futbol?”
Sisil langsung melotot dan bersedekap dada, “Aku yang meliput klub futbol. Ada masalah?”
"Yang lainnya ada yang ingin protes atau kurang jelas dengan apa yang gue ucapin?” anggota yang lainnya pun sama sepertinya, mereka masih sayang jabatan. “Baiklah kalau begitu. Tapi ingat, kalau kalian melakukan kesalahan, kalian harus siap menanggung hukuman dari gue.”
Tck, ancaman yang selalu sama disetiap sesi rapat.
“Kalian boleh bubar.”
...----------------...
Jessie berdiri di sini, di sebuah halte, menunggu mobil atau apapun yang bisa dikatakan kendaraan umum untuk membawanya pulang. Tapi sayangnya, sejak 30 menit lalu tidak ada satupun angkot yang lewat di depannya. Apa hari ini ada demo masal? Jessie mendengus kesal.
Tck, jangan tanyakan kenapa Jessie nggak pulang bareng cowok itu. Semua ini gara-gara si cupu Mia! Kalian bayangkan, Jessie sudah menunggu Aldo selesai latihan futbol kurang lebih selama 1 jam dan saat cowok itu selesai, dia malah nyamperin Mia yang sibuk bercocok tanam di halaman sekolah.
"Aldo …."
Cowok tinggi berambut cepak itu menoleh ke belakang, keningnya mengerut seketika melihat siapa yang baru saja memanggilnya.
"Je, kau belum pulang?"
Jessie mengangguk tak yakin, "Aku baru selesai rapat bulanan klub majalah sekolah."
Aldo tidak begitu menanggapi karena saat ini dia sudah sibuk membantu Mia menanam bibit tanaman entah apa itu ke dalam tanah yang sudah dilubangi.
"Kalian tidak pulang?" tanya Jessie kemudian.
Si cupu menatap Jessie dari balik kacamata besarnya ragu-ragu. "Aku masih harus menyelesaikan semua ini." Ia kemudian beralih menatap cowok di sampingnya. "Sebaiknya kau juga pulang."
"Nope, Aku akan disini sampai kau selesai, kita akan pulang bersama." potong Aldo cepat, dia kemudian beralih menatap teman kecilnya. "Kau pulang sama siapa?"
Melihat interaksi dua orang itu membuat sesuatu yang disebut hati jadi terasa panas. Apa yang spesial dari sosok Mia sampai Aldo mengabaikannya? Dulu, Aldo tidak pernah membiarkannya pulang sendirian, dia sudah pasti lebih mengorbankan hal lainnya demi mengantarnya pulang sampai rumah.
"Bareng Billy, dia dia sudah menunggu di halte depan. Kalau begitu aku duluan ya, bye..."
Dengan teramat sangat terpaksa Jessie menyeret kakinya menjauh dari area broken heart.
Sedih tidak sih, sudah lama-lama nunggu nyatanya si doi malah sama yang lain. Jessie juga tidak mungkin menangis atau merengek minta dianterin pulang sama Aldo, harga dirinya nggak mengizinkan untuk melakukan hal memalukan itu.
Dompet dibawa sama Ola, ponsel mati. Kurang apes apalagi coba?