
"Makasih ya Ben." ucap Jessie saat motor yang Beni bawa sudah sampai di depan halaman rumahnya.
Beni menatap sekitar, menyipit pada pagar depan yang bertuliskan nomor rumah gadis itu. "Sama-sama, Princess." sahut Beni kemudian turun dari motor. "Nanti malam aku boleh main?"
Jessie mendengus sambil merotasikan mata. Hemmm … Ini sih modus! Dasar gembul!
"Boleh saja kalau kau sudah siap untuk menjadi objek penelitian Papa-ku." jawab Jessie, ada kilat jahil di iris coklat-nya.
Raut bingung tercetak jelas di wajah Beni. "Penelitian apa?"
"Erm ... Organ dalam manusia?"
Beni meneguk ludah, "Memangnya pekerjaan Ayahmu apa?"
"Dokter bedah jantung." Seketika wajah Beni langsung pucat. Ya, Tuhan… Jessie ingin tertawa. "Lho, Ben, mau kemana? Tidak mampir dulu? Minum teh bareng Papa, gitu?"
Beni menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak usah Je, makasih. Aku harus menjemput Daniel di tempat yang tadi."
Setelah itu motor Beni langsung melesat meninggalkan area rumah dan Jessie langsung tertawa dengan puas.
Melihat mobil sang Papa di halaman, Jessie yakin beliau pasti sudah pulang. Selain itu, bau mentega yang manis dari cerobong asap membuat Jessie tahu kalau Mamanya juga sudah pulang.
"Mama pasti sedang membuat resep baru di dapur tercintanya." tebak Jessie kemudian melangkah riang.
Saat membuka pintu, Jessie tersentak kaget karena sosok yang ia pikirkan sebelumnya ternyata sedang berdiri di dekat jendela.
Jessie jadi penasaran, apa yang membuat sang Mama yang sayang oven dan adonan kini tengah menyambutnya.
"Mama ngapain?"
"Tadi itu siapa?" tanya sang Mama tanpa menghiraukan pertanyaan anak gadisnya, "pacarmu?" Nadine kembali bertanya karena tidak mendapat jawaban atas pertanyaan sebelumnya.
Jessie menggelengkan kepala melihat tingkah Mamanya. Dia berjalan ke dapur setelah mengganti sepatu sekolah dengan sandal rumah. Sang Mama ternyata mengekor di belakang, ia menuang air dingin ke gelas kemudian menyerahkannya pada Jessie.
"Itu beneran pacarmu? Memangnya di sekolah tidak ada ada yang lebih oke? Yang seperti Papa tidak ada?"
'Hah? Mama ngomong apa sih? Untung saja air minumnya sudah meluruh ke tenggorokan, kalo belum kan bisa tersedak dan kena omel Papa.' Gerutu Jessie dalam hati.
Masih segar diingatan saat ia tersedak dan Papanya langsung berceramah 'kalau minum hati-hati, sekarang dirumah sakit sedang banyak kasus orang meninggal gara-gara tersedak.' Jessie tidak tahu itu berita benar atau hoax tapi yang namanya anak baik selalu percaya sama omongan orang tua.
"Bukan, Ma. Masa iya Jessie suka cowok macam Beni yang mandinya cuma satu kali sehari." oceh gadis itu seraya bergidik geli.
Ando yang tadinya sibuk sama berkas-berkas rumah sakit langsung mendongak dan tertawa, "Tahu dari mana kalau temanmu itu mandinya cuma sehari sekali, hm?"
"Badannya bau, Pa." jawab Jessie sambil mengerutkan hidung.
Ando menutup berkas-berkasnya kemudian menghampiri mereka di meja makan. "Bau badan bukan hanya karena jarang mandi. Asupan makanan dan produksi keringat yang berlebih juga bisa membuat badan menjadi bau. Makanya, Papa selalu bilang bla bla bla …."
Jessie mengerutkan kening. 'Loh, loh, kenapa jadi aku yang kena ceramah kesehatan sih? Yang badannya bau kan si Beni.'
"Papa nih, semuanya dikaitin sama teori kedokteran. Jessie mana ngerti." gerutunya seraya menenteng tas menuju kamar di lantai atas. 'Ugh, kalau aku tetap duduk di sana, Papa tidak akan berhenti mengoceh sebelum suaranya habis.'
Sesampainya di kamar, Jessie langsung melempar tubuhnya keatas ranjang. Hari ini benar-benar kacau, tidak ada yang berjalan dengan mulus.
Jessie tidak suka aktivitas fisik berlebih, apalagi kegiatan yang berhubungan dengan olahraga. Sebab itu dia lebih memilih bergabung dengan klub tabloid sekolah ketimbang jadi Cheerleaders. Rasa sukanya kepada Aldo —ketua klub Futbol— tidak membuatnya ingin masuk ke organisasi tari lapangan itu, tidak sama sekali.
Jadi bisa dikatakan, apa yang ia lalui bersama si brengsek Daniel adalah kegiatan fisik terberat pertamanya. Jessie bahkan masih speechless karena ia bisa berlari sejauh itu, lebih dari 800 meter, wah, sangat di luar nalar.
Karena hal itu pula ia merasa badannya benar-benar lelah, kakinya juga mulai terasa nyeri. "Daniel sialan!" umpatnya sebelum kesadarannya menghilang.
.
.
.
"Om Ando, terimakasih sudah mau menjadi wali saya untuk keluar dari sini." ucap Daniel sesopan mungkin.
Mereka berjalan sejajar menuju pelataran parkir di mana mobil pria itu terparkir. Daniel kembali menoleh kebelakang sambil menghela napas lega.
Sangat di luar rencana memang. Dia ingin menjauh dari kekacauan tapi justru terlibat situasi paling kacau. Untungnya, ya, untungnya saat ia ditangkap pihak keamanan tadi sore, Jessie sudah dibawa pulang oleh Beni. Jika telat semenit saja, Daniel tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Menghubungi Om Ando bukanlah idenya, saat itu Daniel hanya menghubungi sang sahabat dan meminta bantuan untuk menyewa siapapun agar bisa datang ke Polsek sebagai wali agar dirinya bisa pulang. Tapi Billy bilang orang tuanya sedang tidak di rumah, satu-satunya orang yang bisa dimintai bantuan adalah pamannya, yaitu Om Ando.
Daniel pernah beberapa kali bertemu dengannya saat ia main di rumah Billy. Dia pria yang cukup terbuka, asik dan memiliki jiwa muda. Beda dengan Om Mika yang super ketat dan membosankan.
"Masuk, Om antar kau pulang." ujar Ando dari sisi lain mobil.
Daniel mengangguk dan segera membuka pintu penumpang, "Aku jadi tidak enak sudah banyak merepotkan Om Ando."
Ando terkekeh, melihat Daniel seperti melihat dirinya dulu saat masih sekolah. Ando sangat mengerti kenapa anak remaja itu tidak mau menghubungi Inggrid maupun Mika. Sebenarnya Inggrid tidak terlalu mempermasalahkan asal kenakalannya masih dalam taraf wajar.
Tapi Mika?
Pria itu jelas akan heboh. Dia sangat benci kekacauan karena dulu hidupnya tidak pernah kacau, julukannya saat di sekolah dulu adalah orang suci. Lain halnya dengan dirinya dan Inggrid, saat itu masuk ruang BK sudah seperti masuk kamar mandi.
Andai saja ia memiliki anak lelaki, maka dia ingin anak laki-laki seperti Daniel. Tunggu, bukan berarti ia tidak menyayangi anak perempuannya, jangan salah paham. Ando hanya … keseruan anak laki-laki dan perempuan itu sangat berbeda. Mungkin ini bisa disebut karma, dulu dia sangat membenci Mika yang suci —terlalu polos dan tidak asik— sekarang anak gadisnya seperti memiliki setengah sifat menyebalkan musuh abadinya itu.
"Menang telak huh?" kata Ando setelah mengamati wajah dan tubuh remaja di sebelahnya. Beberapa lebam di pipi, pelipis dan ujung bibir sobek, tapi untungnya tidak ada luka parah.
Daniel tertawa, "Untuk menyelamatkan teman, saya akan bertarung mati-matian."
"Itu lebih baik daripada kabur seorang diri seperti pecundang." respon Ando. "Sebelum pulang, kita mampir ke klinik dulu. Inggrid akan meledak kalau melihat darah di mana-mana."
"Siap."
"Kau sudah punya pacar?"
Daniel melirik pria dewasa di bangku kemudi dengan satu alis terangkat. Pertanyaan yang sangat tiba-tiba sekali. "Papa bilang kalau menjaga diri sendiri masih tidak becus, maka jangan coba-coba mendekati gadis manapun karena akan ada seorang ayah yang siap bertempur saat melihat anak gadisnya terluka."
Ando berdecak takjub dengan jawaban yang keluar dari anak remaja itu. "Wah, keluarga Dewangga memang menjunjung moral yang tinggi huh?"
"Ketidakmampuan dibalik moral."
Mereka kemudian tergelak bersama. Perjalanan pulang menjadi semakin seru. Daniel banyak bercerita tentang olahraga, dan Ando sangat menyombongkan diri bahwa ia pernah populer pada masanya.