Perfectly Wrong

Perfectly Wrong
Bab 6 : Bencana!!!



"Woy! Berhenti!"


Jessie berjengit saat segerombolan siswa berteriak lantang dari ujung gang. Mereka berhasil mengubah rasa kesalnya menjadi panik.


Apa ada tawuran?


"El, buruan lari!" seseorang yang baru saja lewat di berteriak pada temannya yang masih tertinggal di belakang.


"Duluan saja!" sahut seorang cowok yang masih sibuk baku hantam di ujung gang sana.


Ternyata adegan perkelahian antar siswa dalam kehidupan nyata itu tidak sekeren yang Jessie lihat di drama-drama. Jessie bergidik ngeri saat cowok itu melayangkan tendangan keras pada perut lawannya, 3 orang langsung tersungkur.


Tunggu, tunggu, tunggu... sepertinya Jessie kenal dengan cowok itu. Tinggi badannya, rambut agak panjang yang di kuncir, kalau tidak salah itu ... Daniel?


"Lihat apa?" Jessie terkesiap saat mendapati Daniel sudah berdiri di depanku. "Lari, bodoh!"


Apa katanya? Lari? Kenapa Jessie harus lar-


"Kyaaaa..." mulutku memekik efek tarikan kuat Daniel yang begitu tiba-tiba. "Kenapa aku harus ikut lari juga?" Jessie memprotes saat Daniel mensejajarkan langkah kakinya dengannya.


"Seragam."


"Kenapa dengan seragamku?"


"Ternyata kau tidak sepintar kabar yang beredar di antara para guru-guru." ejek Daniel, "Mereka kalah telak, mereka jelas akan melampiaskan perasaan kesal mereka pada siapapun yang notabenenya satu sekolah dengan kami."


"Tidak masuk akal!" Jessie kembali memprotes. "Yang bermasalah kan kalian, kenapa harus melampiaskan pada orang lain yang tidak tahu apa-apa!" sungutnya tidak terima karena ikut terseret ke dalam masalah mereka.


Jessie hanya ingin pulang, itu saja. Hari ini sudah cukup, tidak, hari ini sudah sangat melelahkan. Dia ingin mandi kemudian tidur. Tapi ini benar-benar di luar dugaan, dia tidak pernah sekalipun membayangkan akan terperangkap pada situasi rumit dengan cowok yang paling tidak ingin ia ajak bicara.


Daniel tidak menjawab, cowok itu hanya mengedikkan bahunya tak acuh. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa segerombolan siswa dari sekolah lain tadi sudah tidak mengejar mereka.


"Sudah aman." ucap Daniel seraya mengatur nafas yang tersengal-sengal efek lari maraton tadi. Begitupun dengan Jessie, ini kali pertamanya lari seperti dikejar anjing herder. "Kau mau pulang?" tanyanya sambil menatap gadis di sampingnya dari atas sampai bawah.


'Ish, kebiasaan!' Jessie benci kebiasaan Daniel yang seperti itu, menilai seseorang dari penampilan luarnya saja.


"Ya, tentu saja. Tidak seperti seseorang kan?"


Daniel memutar bola mata, dia sedikit menggerutu sambil mengotak-atik ponselnya. "Ben, lagi di mana? Bawa motor? Oke, aku tunggu di Daha tiga."


Tunggu, Daniel minta jemput temannya? Terus gimana sama nasibku? Gimana aku pulang ke rumah? — Jessie mengerang dalam hati, dia menatap kesal cowok di sampingnya karena sangat tidak bertanggung jawab.


Jessie mengerutkan kening, dia sedang berusaha memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar sama sekali.


Well, dia Daniel!


Cowok di depannya itu adalah Daniel, sosok yang sangat tidak ramah, tidak peka dan tidak punya rasa simpati pada orang lain. Jadi ... mendengar cowok itu bicara panjang lebar dan memberikan bantuan pada orang lain agak mencengangkan.


"Kau serius?"


Iris pekat cowok itu langsung menghujam, "Aku yakin kau tidak tuli."


Jessie merenggut seketika, 'Dasar mulut sampah!' balasnya dalam hati. Mana berani ngomong langsung di depan Daniel, Jessie takut kepalanya di sliding.


"Punya air?" tanyanya seraya melirik botol minuman di samping tas. Belum juga dijawab, Daniel sudah lebih dulu mengambil botol minum itu dan tanpa tahu malu dia langsung membuka tutup botol kemudian menenggaknya sampai habis.


Glek... Glek... Glek...


Kira-kira seperti itulah suara air yang meluncur di dalam tenggorokan cowok itu. Dari tempatnya berdiri, Jessie bisa melihat dengan jelas bagaimana jakunnya naik turun dan entah kenapa itu terlihat seksi.


Seksi? Seksi? Seksi?


Jessie baru saja bilang Daniel seksi? Ck, yang benar saja! Sadar Je, tidak ada cowok yang lebih seksi daripada Aldo! Tidak akan pernah ada!


Ya, tentu saja, Jessie mengatakan itu karena efek pusing di kepalanya saat ini kan?


Suara klakson motor membuat gadis tersadar dari pikiran tidak warasnya beberapa menit lalu.


"Yang lainnya mana, El?" tanya seorang cowok berbadan gempal yang baru saja turun dari motor.


"Entah, mereka menyelamatkan diri masing-masing."


Cowok gempal itu mengangguk paham. Setelahnya ia menatap Jessie cukup kaget. "Weh, sedang apa princess Jessie disini?" tanyanya sambil cengengesan.


Jessie merengut seketika, "Kau tanya padanya kenapa aku bisa berada di situasi kacau seperti ini!"


Daniel menaikkan satu alisnya tapi dia tidak menanggapi. Dia justru sibuk bisik-bisik pada Beni sebelum akhirnya mengatakan, "Ben, antar dia pulang." kemudian menunjuk matanya ke mata si gempal dengan dua jari. Tanda bahwa dia benar-benar mengawasi cowok itu.


"Sip! Kau tenang saja." jawab si gembul, "Yok, princess, Abang anterin pulang."


Hah? Abang? Iiih!!!