Perfectly Wrong

Perfectly Wrong
Bab 8 : Perjanjian



"Sekali lagi terima kasih atas segalanya, Om Ando."


Mereka sudah sampai di kediaman Dewangga. Daniel segera keluar setelah mengucapkan terimakasih pada pria dewasa itu.


"Kalau Mika bertingkah, kau bisa menelpon ku. Aku akan bawa obat bius agar dia bisa berhenti mengoceh sampe besok siang." ujar Ando dari dalam mobil.


Daniel terkekeh, dia bisa membayangkan bagaimana ricuhnya kalau kedua orang pria dewasa itu berada dalam satu ruangan yang sama.


"Salam buat Inggrid ya."


"Siap." ucapnya seraya mengacungkan kedua jempol.


Sepeninggalan pria itu, Daniel lekas menatap rumah di depannya nyalang, mata dan telinganya sudah coba ia fokuskan sejak 5 menit lalu. Mobil hitam tidak ada di halaman, dalam keadaan normal itu bisa diartikan kalau sang paman belum pulang dari kantor. Tapi keadaan saat ini jelas berbeda, Daniel ragu apakah ketiadaan mobil sang paman adalah sebuah jebakan?


Untuk sampai ke kamarnya hanya ada dua rute, pertama adalah rute normal yang mana dia harus melewati pintu utama, melewati ruang tengah kemudian naik lewat tangga ke lantai dua. Tapi dengan wajah lebam seperti ini bukanlah pilihan yang bagus, Om Mika sudah pasti akan meledak seperti tabung gas bocor. Lalu rute alternatifnya adalah memanjat tembok seperti yang biasa ia lakukan setiap kali menyelinap keluar rumah.


"Oh, sial!" umpat Daniel saat mendapati tangga gantung yang terhubung ke lantai dua sudah diputus. Daniel jelas tahu siapa pelakunya.


"Kalo boleh nggak tahu, Apa yang sedang kau lakukan di sana?"


Suara feminim yang berasal dari atas membuat cowok itu lekas mendongak. Sepupunya sedang berdiri di balkon sambil membawa mangkuk sereal. Daniel tersenyum, dia agak lega melihat Gea yang ternyata masih belum tidur.


"Om Mika sudah pulang?"


Gea membuat raut wajah sinis, "Kalau kau begitu penasaran, kau bisa langsung masuk ke dalam."


"Kau tidak lihat bagaimana keadaanku sekarang?"


"Kenapa?"


Daniel berdecak sebal. Gea tidak minus apalagi buta. Dia jelas bisa melihat bagaimana kondisi wajahnya saat ini tapi dia berlagak tidak melihat apa-apa. Oh, ya, gadis itu jelas sedang balas dendam atas lelucon bodohnya tadi pagi soal pacar. Daniel sedikit menyesal karena sudah memfitnah sepupunya tersebut, dia pasti mengalami hari yang buruk karena harus Om Mika.


Sebenarnya itu juga yang membuat Daniel ragu untuk masuk ke dalam rumah. Tadi pagi dia sudah berjanji tidak akan membuat ulah, ya, ia bahkan baru masuk sekolah setelah kena skorsing 3 hari. Om Mika pasti akan keluar tanduk kalau tahu ia habis berkelahi dan terancam dapat skorsing lagi dari pihak sekolah. Parahnya, bagaimana kalau kabar ini sampai ke telinga Mama Agatha dan Kakek Dewangga?


Daniel menggelengkan kepala, ia sedang mengenyahkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi.


"Bantu aku masuk ke dalam."


"Tidak ada bantuan yang gratis."


Daniel mengumpat. Gea benar-benar memanfaatkan situasi dengan sangat baik. "Aku akan menggantikan jadwal piket selama satu bulan."


"Lalu?"


Apa itu tidak cukup? "Dan membantumu mengerjakan PR."


"Oke, deal!" Gadis itu berseru girang karena sudah mendapatkan apa yang dia mau. Sebelum pergi dari balkon, dia melemparkan sesuatu ke arah Daniel. "Kunci pintu belakang!"


"Posisi Om Mika?"


"Papa tidur di sofa ruang tengah, jangan bersuara saat masuk kalau kau tidak mau dibungkus dan dikirim ke Mongolia."


Ketiadaan mobil Om Mika di halaman rumah adalah sebuah jebakan.


Memutar knop pintu super hati-hati, berjalan mengendap-endap seperti maling, pada akhirnya Daniel bisa melewati ruang tengah dan sampai di kamarnya dengan selamat.


"Jangan bilang tawuran?"


Sedetik lalu Daniel merasa jantungnya meluruh ke perut. Dia mendelik kesal pada sosok Gea yang tengah bersandar pada kusen pintu kamarnya seraya membawa kotak P3K.


"Sedikit berkelahi, tapi bukan tawuran." jawab Daniel seadanya.


Memang pada kenyataannya bukan tawuran. Sore tadi lapangan basket sekolah sedang dipakai oleh tim lain. Daniel tidak punya pilihan selain mengalah, ia meminta teman-teman klub basket untuk berlatih di tempat lain. Beni mengusulkan untuk memakai lapangan yang ada di taman dan menggiring anggota tim inti untuk latihan di sana.


Semuanya berjalan normal sampai segerombolan anak dari sekolah lain mulai mengacau. Awalnya mereka ingin ikut main dan tentu saja Daniel membiarkannya karena … ya itung-itung mengasah strategi yang sebelumnya sudah dibahas. Saat poin mereka terpaut jauh, mereka mulai bermain kasar. Jika hanya saling mendorong mungkin masih bisa ditolerir, tapi sialnya salah satu dari mereka ada yang mulai memukul dan menendang.


Daniel tidak ingin memperparah, dia meminta permainan diakhiri tapi hal tersebut justru membuat mereka semakin brutal. Sang kapten tentu saja menjadi geram karena anggotanya banyak yang terluka. Ia malas mendeskripsikan bagaimana prosesnya, yang pasti mereka kalah telak.


"Kau ini benar-benar yah!" umpat Gea, dia mulai membuka kotak P3K. "Kalau Papa sampai tahu—"


"Makanya jangan diberi tahu!"


Gea tertawa mengejek, "Dengan wajahmu yang seperti itu Papa tidak akan tahu? Kau pikir dia buta!"


Benar, sangat-sangat mustahil kalau Om Mika tidak menyadari luka lebam di wajahnya. "Kau punya solusi?"


Gadis 17 tahun itu mengambil kapas kemudian melumurinya dengan antiseptik dan mulai membersihkan wajah sepupunya tersebut. "Kalau aku jadi kau, lebih baik tidak pulang sekalian."


Daniel sedikit mendesis saat obat pembersih itu mengenai lukanya. "Rencananya memang begitu. Tapi sialnya beberapa dari kami tertangkap padahal kami sudah kabur cukup jauh dari area itu."


"Kau apa?"


"Tertangkap, Ge, aku dan beberapa teman-teman tertangkap pihak keamanan. Aku tidak tahu apakah mereka memang sedang berpatroli kemudian mendengar sebuah perkelahian atau ada orang yang sengaja melapor." jelas Daniel seraya menerawang, ia sedang memikirkan beberapa kemungkinan.


Gea tidak bisa menutupi keterkejutannya sampai-sampai ia lupa bagaimana caranya menutup mulut selama beberapa menit. "Kau gila!" desis Gea, dia tidak mau berteriak agar kedua orangtuanya tidak bangun dan mendengar semua kegilaan cowok itu. "Daniel, plis, tinggal setahun lagi, bisa tidak untuk tidak membuat masalah?"


"Aku tahu, aku juga sedang berusaha."


"Lalu bagaimana kau bisa keluar dari sana?"


"Aku meminta temanku untuk memanggil orang dewasa sebagai wali agar aku bisa keluar."


"Kalau Tante Agatha sampai dengar berita tentang anaknya yang kembali digiring pihak keamanan, kau benar-benar kelar, kau tahu itu kan?"


Daniel mengangguk, "Ya, benar-benar kelar." responnya seraya menghembuskan napas keras.


Gea memberikan plester di pelipis dan pipi bagian atas sebagai sentuhan terakhir. Setelahnya ia segera mengemasi kembali obat-obatan yang tadi dipakainya ke dalam kotak.


"Aku akan mencari cara agar besok Papa dan Mama tidak di rumah selama seharian." ucap Gea sebelum beranjak menuju pintu kamar kemudian keluar.


"Thanks."