
Jessie memutuskan kembali ke kantin karena jam istirahat masih panjang. Masalah Aldo dan Mia, akan Jessie pikirkan lagi nanti. Tetapi ... kenapa kantin terlihat jauh lebih heboh dari terakhir kali ia pergi?
Kening Jessie mengernyit saat mendapati Ola, teman sebangkunya plus sahabatnya yang cerewet itu sedang berdiri di hadapan … Daniel?
Mau apa dia?
"Daniel, aku suka padamu, sudah lama. Tepatnya sejak tahun lalu, saat kau menolongku dari incaran para senior.” ujar Ola pada cowok sengak itu.
Gosh!
Apa Ola serius? Dia nembak cowok macem Daniel? Astaga... otaknya Ola pasti sedang bermasalah. Masa iya dia suka cowok setipe Daniel? Seperti tidak ada stok cowok yang lebih oke saja.
Oke, oke, Daniel memang punya muka yang patut diacungi jempol, dia 11:12 sama Aldo. Dia juga sering nyumbang piala untuk dipajang di lemari kaca Kepsek. Tapi jangan lupakan juga fakta kalau Daniel itu mulutnya lebih tajam daripada silet, kalo ngomong suka nggak pake disaring dulu.
“87 dikali 5?” ujar Daniel, Ola langsung terserang virus panik sebelum akhirnya nyengir polos ke arah cowok itu. “Aku tidak suka cewek berotak kosong!” sambungnya kemudian, jangan lupakan senyum sinis yang dia lemparkan sebelum melanjutkan langkahnya menuju sebuah meja yang berisi anak-anak klub basket.
Tuh, kan... Jessie bilang juga apa. Mulut cowok satu itu tuh udah kayak diasah gitu. Lagian Ola bodoh atau apa sih, masa nembak cowok di tempat seramai ini? Bagaimana tidak jadi bahan tertawaan, coba?
Jessie melihat tubuh Ola mulai oleng, Dengan sigap langsung ia tangkap lengannya dan ia papah untuk duduk di kursi terdekat. “Minum dulu, La.” ujarnya setelah menyambar es jeruk milik Gea. “Sudah tenang?” tanya Jessie kemudian, Ola mengangguk lesu. Sesekali dia menoleh ke meja belakang untuk melihat Daniel yang rupanya sedang bercanda ria dengan teman-temannya.
Astaga... cowok satu itu emang bener-bener nyebelin! Dia kayak yang nggak punya rasa bersalah atau simpati sedikitpun padahal beberapa detik lalu dia sudah meremukkan perasaan anak orang.
“Padahal aku sudah bela-belain menghafal semua jenis perkalian deh, Je.” ucap Ola sedih.
Jessie duduk di kursi yang berseberangan dengan Ola, “Tck, seperti tidak ada cowok lain saja sampai nembak si Daniel!” ia berkata sinis yang kemudian dihadiahi cubitan oleh Ola. "Aw, sakit!"
Lagi-lagi Ola menoleh ke belakang.
“Cewek mana yang tidak naksir sama Daniel, coba? Dia itu tampan, pintar, anak basket lagi!”
Jessie merotasikan bola mata dan berdecak kesal, “Yelah ... modal cakep doang mah percuma kalau sikapnya kayak gitu. Yang ada juga tiap hari makan hati mulu. Berasa pacaran sama silet deh kalau kau benar-benar pacaran sama dia.”
Kalau memikirkan cowok perfect, otak Jessie langsung menjurus ke satu orang. “Seperti Aldo!” jawabnya sambil nyengir, sedang membayangkan wajah tampan si kapten klub futbol tercinta.
“Dia kan sudah milik si cupu, Je. Kau sudah tidak punya harapan.” celetuk Gea.
Gubrak!
'Gea sialan! Secara tidak langsung dia sudah menghinaku!'
“Mungkin saja Aldo lagi sakit mata pas si cupu nembak dia makanya dia nerima cinta si cupu. Nanti saat sakit matanya sudah sembuh, Aldo pasti akan teriak histeris karena punya gebetan culun seperti Mia.” ucapku sambil manyunin bibir. “Daripada kau, ngehusbuin cowok gepeng seperti Saskey?”
Jessie tersenyum penuh kemenangan setelah memberikan sindiran telak. Tck, memangnya cuma dia yang bisa nyinyir?!
“Kak, Jessie.”
Jessie menoleh saat seseorang memanggil namanya. “Ya?” ia menemukan seorang anak kelas 10 sudah berdiri di samping meja yang mereka tempati.
“Kata kak Sisil nanti jangan pulang dulu, ada rapat untuk acara Sport Day yang nanti diadakan di sekolah kita.”
Jessie mengangguk mengerti. “Oke, makasih ya infonya.”
“Serius, Je?” Ola yang tadi lagi asik makan siomay tiba-tiba saja menggebrak meja, membuat jantungku merosok ke perut beberapa saat. “Telinga ku tidak salah dengar kan kalau Sport Day kali ini akan dilaksanakan di sekolah kita?”
“Hm-em, kenapa?” jawab Jessie tidak begitu bersemangat. Lagian tumben banget Ola antusias begini, biasanya juga dia paling malas sama yang namanya olahraga.
"Tidak apa-apa, aku hanya … sedang membayangkan nanti akan melihat Daniel berkeringat di lapangan.”
Ya ampun… Daniel lagi, Daniel lagi. Tidak ada kapoknya si Ola padahal sudah ditolak sepuluh kali sama cowok sialan itu. Saat bel masuk berbunyi, Jessie, Ola dan juga Gea segera berdiri dan sebelum pergi meninggalkan kantin, Jessie kembali menyempatkan diri untuk melihat meja anak-anak basket dan tepat seperti dugaannya, Daniel sedang menatap kami. Cih, apa-apaan dengan senyum menyebalkan itu.