Perfectly Wrong

Perfectly Wrong
Bab 1 : Pagi yang kacau



Suara hujan begitu berisik di luar. Seorang gadis bercepol dua tengah mengerang kesal saat menatap jendela kamar yang dipenuhi rintik air.


Jessie benci hujan, sangat. Tidak ada alasan spesifik, dia hanya benci. Ah, andai saja ini hari Minggu, mungkin Jessie masih bergelung di dalam selimut tebal bermotif panda kesayangannya.


"Bye selimut, kita akan bertemu lagi nanti malam. Jangan rindukan aku, oke?"


Jessie mengoceh seperti orang gila. Setelah memastikan bahwa dandanannya tidak ada yang aneh sama sekali, gadis itu segera menyambar tas di atas meja belajar kemudian turun ke lantai bawah untuk bergabung dengan kedua orangtuanya dan juga sang sepupu untuk sarapan bersama.


"Selamat Pag—" ucapan selamat pagi ceria tertahan di ujung lidah. Dahi lebarnya mengerut heran saat tak mendapati satu pun anggota keluarganya di meja makan.


Well, ini pemandangan yang teramat sangat langka selama 17 tahun ia tinggal di rumah ini.


Berjalan ke arah lemari es, Jessie menemukan 2 note sekaligus. Jessie mendengus sebelum akhirnya mengambil note itu. Semuanya mempunyai pesan yang mirip. Mereka meminta maaf karena tidak bisa sarapan bersama dikarenakan masalah pekerjaan yang mendesak.


Biasanya Jessie selalu nebeng motor Billy untuk pergi ke sekolah. Tapi hari ini sang sepupu sudah pergi lebih dulu. Ditambah lagi di luar sedang hujan, hal yang membuatnya semakin buruk karena jarak rumah menuju halte lumayan jauh.


Kalau sudah begini, aku harus bagaimana?


"Gea!" Jessie berseru girang saat wajah sang sahabat melintasi otaknya yang cerdas. Gadis itu segera mengeluarkan ponsel dan mencari kontak Geane. "Ayo, Gea, Angkat telponnya!" Jessie menggerutu kala suara sambungan telpon masih belum juga diangkat oleh sang empunya.


Menelpon Gea pada jam segini sama susahnya dengan memecahkan soal vektor. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa ia tarik. Pertama, Gea masih sibuk luluran di kamar mandi. Kedua, dia sedang berkonsentrasi melukis eyeliner di lipatan matanya.


"Aaaargh, aku benci naik kendaraan umum."


.


.


.


Udara pagi ini begitu menggigit tulang. Pemuda yang masih bergelung dibawah selimut semakin merapatkan diri. Berharap benda itu bisa menghangatkan tubuh pucatnya yang mulai menggigil.


Si pemuda berani membayar mahal siapapun yang bisa membuang seseorang yang sebentar lagi akan menggedor pintu kamarnya. Jam 06.00, itu sudah seperti jadwal rutin sang tante untuk mengusik mimpi indahnya.


Duk... Duk... Duk…


Pemuda berambut coklat gelap tersebut mengerang kesal. Dia masih ngantuk, sangat ngantuk setelah menghabiskan malamnya dengan setumpuk tugas skorsing dari guru sejarah di sekolah.


Jika kalian melihat pemuda berambut cepol ala buah apel, maka itu adalah Daniel, Daniel Sagara. Nama yang bagus kan? Tapi anehnya hampir semua orang memanggil namanya dengan julukan aneh seperti—pangeran cabe, si kalkulator berjalan dan cowok kulkas 100 pintu. Entah dari mana asalnya julukan itu, pastinya Daniel masih mencari tahu si pencetus sebutan sialan tersebut.


"Daniel! Bangun atau pintu kamarmu akan aku hancurkan!" teriak suara cerewet dari luar kamar.


Daniel kembali mengerang, cowok itu mengerjapkan matanya beberapa kali sampai benar-benar terbuka lebar. Sebelum menjulurkan kakinya menyentuh lantai dan menegakkan diri, dia lebih dulu melakukan peregangan badan di atas kasur.


Saat pintu berhasil dibuka, sosok dari luar itu langsung memberondong masuk. "Dasar pemalas! Cepat mandi dan turun ke bawah, Tante sudah membuat sarapan." omel Inggrid seraya membereskan tempat tidur yang masih mengundang pemuda itu untuk kembali bergelung di sana.


Daniel sedang bersandar pada lemarinya seraya bersedekap dada sambil memandang tantenya jengkel. "Di mana Om Mika?"


Inggrid segera menoleh, satu alisnya terangkat tinggi. "Dia sedang membuat kopi. Ada apa?"


Apa yang sedang coba bocah itu lakukan? Biasanya Daniel selalu menghindar saat Mika mencarinya, bahkan dia lebih memilih tidak pulang ke rumah daripada bertemu pamannya tersebut.


Oh, ini buruk!


Inggrid buru-buru menyusul Daniel ke lantai bawah. Mika dan bocah itu sama-sama memiliki tingkat kesabaran setipis tisu dibelah empat. Bisa-bisa terjadi perang saudara di rumah ini.


"Daniel!" seruan Inggrid terhenti saat melihat pemandangan langka di meja makan.


Sebelum hari ini Daniel tidak pernah mau diajak sarapan bersama. Keponakannya itu lebih memilih roti bakar yang bisa dibawa dan dimakannya di dalam mobil daripada duduk bersama di meja makan.


Tapi apa ini? Ada apa dengan hari ini?


Mika melipat koran, "Hari ini kau harus berangkat sekolah dan belajar layaknya murid teladan. Berhenti membuat onar, kau harus bisa mengendalikan temperamen buruk-mu itu atau kita berdua akan mendapat masalah dari Nenek dan Ibumu."


Remaja di seberang meja sama sekali tidak menyahuti ucapan sang paman, dia terlalu fokus pada makanan di depannya. Setelah 2 tahun, ini pertama kalinya Daniel kembali merasakan yang namanya masakan rumah. Walaupun masakan Tante Inggrid tidak seenak koki, setidaknya lebih layak makan daripada masakan Mamanya.


"Oke." jawab Daniel.


Mika menyipitkan kedua matanya tanda ia tidak percaya dengan jawaban sang keponakan. Beberapa bulan lalu Daniel juga mengatakan hal yang sama— 'Oke' —namun dirinya tetap dipanggil oleh pihak sekolah. Mika tidak habis pikir dengan anak sekolah jaman sekarang yang entah bagaimana bisa memiliki hobi masuk ruang BK.


Parahnya lagi, minggu lalu ia dipanggil karena anak gadisnya merusak meja dan bangku kelas, dan tiga hari yang lalu ia dipanggil kembali karena ulah keponakannya tersebut.


"Paman butuh bukti, bukan sekedar janji!" ucap Mika seraya memasang wajah serius. "Daniel, ingat alasan kau bisa berada di sini?"


Oh, jelas. Daniel sangat ingat. Untuk bisa kembali ke negara ini dia harus mengemis pada Nenek dan Ibunya. Bukan hanya itu, dia bahkan membuat perjanjian hitam diatas putih, ditambah cap jempol warna merah.


"Kalau sekali lagi membuat Onar, kau tahu kan akibatnya? Kalau Agatha sudah turun tangan— BLA BLA BLA …. "


Daniel mengunyah makanan dalam hening. Mulai hari ini dia harus lebih menjaga sikap dan berhati-hati, kalau sampai Mama-nya mendengar kekacauan di sini, sudah pasti dirinya akan langsung dikirim ke Wina. Misinya belum selesai, masih banyak hal yang harus dia lakukan.


"Om Mika." panggil Daniel, dia melirik gadis yang duduk di sampingnya —Gea, anak gadis kesayangan Om Mika yang tak lain adalah sepupunya sendiri.


Untuk mengalihkan perhatian sang paman sangat-sangatlah mudah. Cukup lemparkan api ke tempat lain maka dirinya akan bebas dari ceramah panjang tak berujung.


"Apa lagi?"


"Gea punya pacar." celetuknya dengan enteng dan tanpa rasa bersalah sedikitpun pada sang sepupu.


"Apa?"


Gea yang sebelumnya sibuk men-scroll layar smartphone kini lekas meletakkan ponsel tersebut di atas meja. Dia menoleh ke samping kiri dan menemukan Daniel sedang menyeringai sambil menggumam 'Thank you' sebelum menarik diri meninggalkan meja makan.


Dalam langkahnya, Daniel mendengar pamannya yang mulai memberondong Gea dengan pertanyaan— "Apa itu benar? Katakan, siapa laki-laki kurang ajar yang berani mengencani anak gadisku tanpa izin!" —yang jelas tidak akan bisa dijawab oleh Gea dengan mudah.


Ketika membuka pintu kamar, Daniel kembali dihadapkan dengan selimut tebal dan kasur yang mengedip genit padanya. Seolah meminta cowok itu untuk kembali bergelung di sana, mengabaikan detik jam yang terus berputar menuju angka tujuh.


"Sial!" ia mengumpat saat getar ponsel di atas meja belajar membuat langkahnya menuju ranjang terhenti seketika. Dia mendengus sebal saat melihat nama yang tertera di layar ponsel yang masih berkedip-kedip.