Pasjamran

Pasjamran
PJR-08



"Lah tumben temen-temen Abang lo gak ada di sini Div?"


"Udah pergi duluan tadi kak, dari jam 5 subuh."


"Buset ngapain,"


"Bolos."


"Beneran bolos mereka? Gue cepuin ah enak banget bolos gak ngajak-ngajak."


"Emang kakak mau bolos juga?"


"Ya enggak sih."


Mereka pun pergi ke sekolah berdua jalan kaki untuk menuju sekolah tidak terlalu jauh.


"Kak jemput gue ya ke kelas nanti." Kata Divanka saat mereka sudah sampai di koridor sekolah


"Lo aja ke kelas gue."


"Malu kak banyak kakak kelas, nanti gue di godain," cengir Divanka


"Gayaan banget lo." Adisya tampak berpikir "ya udah deh gue yang ke kelas lo, bye ya!" Pamit Adisya berjalan ke lantai atas.


•••


"La nanti temenin gue jemput si Diva ya di kelasnya,"


"Aduh gue buru-buru ke kantin nih keburu bakso bude ngantri panjang woi!" Lala berlari secepat kilat meninggalkan Adisya "MUSUHAN AJA YA KITA LA?"


"Tapi ini soal perut bro jadi maaf dulu," Sahut Lala yang belum jauh


Kaki Adisya berjalan ragu untuk ke koridor kelas X takut khilaf malah kepincut sama brondong "aduh brondong kenapa cakep-cakep bener dah," Gumamnya


"Ceweknya juga cakep jadi insecure gue," Adisya menggigit lengan seragamnya gregetan karena melewati adik kelas cewek yang mukanya kinclong mulus gak gradakan seperti kulit ayam


"Kak kelewatan woi!" Adisya menoleh saat suara teriakan Divanka terdengar di telinganya, ia pun memutar badannya melihat kelas yang sudah di lewatinya "buset udah nyampe ke kelas sepuluh 8 aja,"


"Maaf kebablasan liat brondong," Adisya tertawa garing


"Demen brondong kak?"


"Iya tipe gue brondong hahay,"


"Gue sih yang lebih tua."


"Untung kita beda tipe,"


"Apa yang mempunyai 12 kaki bisa terbang?" Apip membuka topik di kantin pojok setelah aksi minggat mereka dari jam 5 subuh ke belakang sekolah sukses di lakukan, Sekarang mereka tengah bersantai memakan bakso bude.


"Ulet kaki seribu,"


"Itu gak bisa terbang goblok." Roni memukul kepala Dodi


"Santai bro gue cuman nebak."


"Apa cuy gue gak tau."


"6 ekor burung."


krik krik


"Gak nyambung,"


"Tebakan orang jenius ini, kalian mana paham,"


"Jenius pala mu."


"Ikhsan sama yang lain mana?" Dodi melihat sekitar mencari ketiga kakak kelasnya itu, tumben belum muncul biasanya paling cepat 10 menit sebelum bell udah stan bay di kantin.


"Macet kali di jalan," celetuk Roni


"Lu kira jalan tol."


"Siapa tau."


"Tempe," sahut Dodi


•••


Suara bising kendaraan berlalu lalang sudah menjadi ciri khas di jalanan, suara klakson orang yang tidak sabaran karena jalan yang macet membuat riuh suasana pad siang yang terik ini


"Kak temenin aku ke toko kosmetik yuk nanti sore,"


"Boleh gue juga dah lama gak ke sana, seven star kan?"


"Iya di situ."


"Naik apa tapi, bapak gue lagi pergi jadi motornya di pake," Tanya Adisya biasanya ia memakai motor bapaknya tapi hari ini bapaknya ada urusan sama mamanya.


"Naik angkot aja gimana?" Usul Divanka


"Boleh boleh, gue jemput lu ya nanti."


•••


"Divaaaaaaa kuy pergi."


"Mau kemana lagi kalian?" Harus menjadi pertanyaan kenapa setiap Adisya memangil Divanka yang keluar malah Apip? Nama dia Divanka kali ya.


"Elu mulu yang keluar, gue manggil diva bukan elu."


"Suka-suka gue lah, gue tanya tadi mau kemana kalian?"


"Ke seven star belanja keperluan perempuan cantik sedunia biar muka glowing, mulus kek pantat bayi."


"Buset selow mbak,"


"Divaaaa cepet woi kesorean rami nanti!" Teriak Adisya sekali lagi berulah Divanka keluar


"Sorry sorry gue boker dulu tadi."


"Ritual lo sebelum keluar boker dulu kah?" Heran Adisya


"Enggak juga sih, cuman suka mules dadakan."


"Ouh berarti lo ini PasEkDan."


"Apa tuh?" Kepo Apip


"Pasukan Eek Dadakan."


"Suka-suka gue lah, yok Div gue udah enek Melihat makhluk ini."


•••


Setelah sampai di tokoh kosmetik yang jaraknya tidak terlalu jauh akhirnya mereka sampai dan memilih-milih apa yang di perlukan


"Mau pergi kemana lagi ini?"


"Udah sih kak langsung pulang aja, keburu magrib."


"Eh bentar gue mau ke apotek dulu ya di seberang lu tunggu sini aja."


"Lama gak?" Cemas Divanka takut Adisya-nya kelamaan terus dia di culik om-om spek Anime mau sih tapi malu, takut malu-maluin.


"Enggak, cepet kok cepet."


Adisya buru-buru menyebrang jalan yang cukup ramai, dengan hati-hati akhirnya ia sampai di depan Apotek, lalu ia pun masuk ke sana.


"Permisi mbak, beli obat sakit gigi dong apa aja yang penting gigi saya ilang."


"Hah gimana kak?"


"Maksudnya sakit giginya ilang," Adisya tertawa canggung


"Tunggu sebentar ya kak."


•••


"Bunyi hp siapa ini woi kok bising banget? Angkat kek." Roni merasa tidurnya terganggu lantaran suara dering ponsel yang sedari tadi berbunyi "Ikayang." Roni buru-buru mengangkat telepon tersebut setalah tahu yang menelpon adalah Ika.


"Halo kenapa Ka?"


"HALO KAK IKSHAN TOLONG KAK!" Suara nafas tersengal dari ponsel Ika membuat Roni panik


"SAN! IKHSAN ADEK LO NIH WOI GAWAT!"


Dodi dan Apip yang kebetulan ikut tidur di sebelah Roni juga terbangun dengan komuk panik dan penasaran


"Kenapa adek gue?" Ikhsan berjalan cepat mengambil ponsel yang ada di tangan Roni


"Halo dek kamu kenapa?"


"Kak tolong kak, aku sama kak Sya di kejer orang gila kak. Dia bawa batu aku takut banget kak." Suara Divanka bercampur suara angin karena sedang berlari membuat suaranya hampir tidak terdengar


"ADA ADA AJA SIH KAMU, SEKARANG POSISI DI MANA?"


"Simpang empat gang Aman kak deket Alfamet."


"Oke oke kakak kesana."


"Gas jemput adek gue, di kejer orang gila dia."


"Hah apa? Gue mimpi ya?" Apip mengigau siap untuk tidur kembali, tapi sebelum itu tangan Apip sudah di tarik dengan kejam oleh Roni


"Bangun gak lo pada, ini keadaan genting woi, Ika lecet kita yang kena amuk Kang Jopan!" Setelah itu barulah mereka sadar dan buru-buru turun kebawah tidak lupa mengambil jaket dan kunci motor


Dodi dengan segala triknya, mampir terlebih dahulu ke dapur mengambil minum.


"Eh eh kaget gue, pada mau kemana woi?' Kaget Egik yang sedang duduk di pondok depan bersama Fahrul


"Kita jemput Ika cepet naik motor." Ikhsan memerintah dan semuanya langsung siap di motor masing-masing


"Ngebut aja kita, harus cepet sampe sebelum adek gue kenapa-kenapa." Katanya


•••


"DIV GIMANA UDAH DI TELPON BELUM?" Panik Adisya berusaha lari sekuat tenaga untuk menghindari orang gila yang tiba-tiba mengejarnya selepas keluar dari apotek tadi.


"Udah kak udah, kita ke tempat rame aja kak biar di tolong warga." Usul Divanka berlari mendahului Adisya


"Pak tolong Pak kami di kejer orang gila bawa batu dia." Kata Divanka ngos-ngosan meminta bantuan pada para penjualan kaki lima.


"Mana dek orangnya, ya ampun duduk dulu sini." Bapak-bapak tadi mempersilakan Divanka duduk


"Makasih pak, itu ada temen saya juga di belakang." Divanka menunjuk arah dimana dia keluar tadi, tapi tidak ada tanda-tanda Adisya dan orang gila tadi keluar.


"Dimana dek?"


"Aduh mana ya, tadi perasaan kak Sya masih di belakang gue." Gumamnya Panik


"Dek!"


Divanka menoleh melihat kakaknya sudah tiba bersama yang lain


Ikhsan turun dari motor dan memegang pundak Divanka erat "kamu ada yang luka?" Ikhsan memutar badan Divanka untuk Melihat ada yang lecet atau tidak


"Gak ada yang luka kak, aman kok," katanya berusaha menenangkan sang kakak


"Kamu ada ada sih, kenapa bisa di kejer orang gila?" Tanya Roni


"Tadi tuh aku lagi nunggu kak Sya ke apotek terus tiba-tiba di lari karena di kejer orang gila, jadinya aku ikut lari."


"Terus Adisya-nya mana?" Mata Fahrul mencari Adisya di sekitar sini


"Nah itu kak tadi Kak Sya masih di belakang aku kok, tapi sekarang gak tau kemana." Kata Divanka gugup takut terjadi sesuatu pada Adisya


"Ya udah kita cari dulu dia kamu naik motor Apip sana."


Ke-empat motor itu pun berpencar mencari Adisya.


"Gue takut tuh cewek nyemplung di got."


"Yang bener aja doa nya!" Divanka mencubit pinggang Apip


"Auu auuu." Desis Apip


"Adisya?"


Adisya mendongakkan kepala melihat seseorang yang ia kenal, ia bersembunyi di dekat tong sampah sangking takutnya sama orang gila tadi.


"Akhirnya ada malaikat penolong yang menolong inces, gara-gara tuh orang gila gue hampir gila," Terharu Adisya


"Keadaan genting gini, masih aja bercanda cepet naik."


"Makasih kak, Hehehe kau lah sahabat terbaik ku."


"Temenan aja enggak."


"Kit my heart bang."