
Dua minggu sudah berlalu untuk murid yang mpls kemarin, Divanka selaku siswa baru di sini sudah mulai bisa beradaptasi di lingkungan baru dengan teman dan orang-orang yang baru.
Divanka satu minggu terakhir terlihat dekat dengan salah satu kakak kelas yang juga satu organisasi dengannya. Ekskul yang di minati oleh Divanka itu ekskul Seni tari seperti sekarang ia berada di kantin bersama dua kakak kelasnya.
"Kak kira-kira kapan mulai ekskulnya?" Tanya Divanka
"Besok atau lusa dek, gak tau juga sih gurunya lagi lomba katanya." Kata Adisya
"Cailah gak sabaran amat lu Div." Sahut Lala
"Hehehe iya kak gak sabar pengen latihan nari, udah jadi hobi dari kecil soalnya mangkanya aku excited banget."
Saat mereka lagi bergurau ria tiba-tiba saja ada yang menepuk pundak Divanka yang sedang makan bakso membuatnya keselek pentol bakso
Divanka memukul dadanya berharap kesesakan yang lekat di dadanya menghilang
"Buset mampus lu Ron keselek anak orang gue aduin kang Jopan ya." Ancam Apip menakuti Roni yang iseng ingin mengangetkan Divanka.
"Tuh mulut bisaan aja emang, bantuin woi ini takut gue dia nanti mati gue di geprek si ikhsan."
"Congor lu tuh yang bisaan, rem dikit napa jangan nge-doain yang enggak-enggak." Dodi menggeplak kepala Roni
"Div minum nih." Lala yang ikut panik melihat wajah Divanka yang sudah membiru memberikan segelas Es jeruk
"Ngapain ngasih minum La?"
Dengan sigap Adisya menepuk punggung Divanka beberapa kali sampai pentol bakso itu keluar dari mulut Divanka dan meluncur cepat mengenai wajah Roni
Di situasi panik tadi mereka tertawa melihat wajah mengenaskan Roni
"WOI NGAKAK BANGET AJIB." Dodi melongo melihat kejadian barusan yang sayang jika terlewatkan satu detik saja
"Mampus kena karma." Ejek Apip
"Siapa kena karma?" Tanya Ikhsan baru datang bersama Egik dan Fahrul
"Eh enggak kami lagi bercanda aja." Roni tertawa garing sembari menutupi tubuh Divanka takut Ikhsan curiga
"Eh btw ini jam berapa ya?" Tanya Roni mengalihkan pembicaraan
"Jam berapa Dod?" Tanya Roni pada Dodi yang memakai jam tangan
"Gak tau, gue pake jam tangan mati."
"Buat apa dipake nyet." Celetuk Apip
"Buat gaya-gayaan lah biar keren mirip Jungkook BTS."
"Apa hubungannya nyet."
"Eh jam berapa sekarang?" Roni menatap Adisya yang kebetulan memakai jam tangan
"Jam 9.43." ujar Adisya
"Ah masa sih? Gak percaya gue coba liat." Roni memajukan badannya agar bisa melihat jarum jam yang ada di jam tangan Adisya
Adisya pun memajukan lengan tangannya agar Roni bisa melihat jam berapa
"Ouh manis ya."
"Apanya?"
"Kamu, manis."
"Eh ada kamu juga dek?"
"Iya kak, emang gak liat dari tadi gue di sini."
"Enggak keliatan, badan si Roni gede banget kek gajah."
"Waduh banyak juga ya orangnya." Kata Egik duduk di sebelah Lala
"Iya traktir Gik."
"Buntu gue mah, lain kali aja."
"Seorang Regi bisa buntu?" Histeris Roni
"Ya iyalah lu kira gue raja dubai."
"Makan, nanti keburu bell." Ucap Fahrul juga ikut duduk di sebelah Egik
"Eh lo siapa? Temennya Divanka?" Tanya Dodi Melihat Lala
"Enggak gue mah temennya ni bocah noh." Lala menunjuk Adisya yang duduk di depannya
"Siapa nama lo?" Tanya Apip pada Lala
"Lala."
"Ouh kenalin gue Apip cowok paling ganteng."
"Gue Roni cowok paling tampan."
"Kalo gue Dodi, cowok paling handsom."
"Gue ikhsan kelas dua belas."
"Ouh iya kak, salam kenal." Sopan Lala
"Gue Regi, gak perlu di omongin karena gue cowok paling cakep di sekolah ini." Regi mengusap rambutnya ke belakang
"Fahrul, salam kenal."
"Dek kamu gak ngantin bareng temen sekelas kamu?" Tanya Ikhsan heran
"Hehe enggak kak, aku pengen main sama kak Sya aja."
"Siapa kak Sya?" Tanya Apip
Divanka pun menunjuk Adisya
"Lah siapa nama lo?"
"Adisya."
"Lengkapnya?"
"Adisya Maharani, bacot lo kek wartawan nanya-nanya."
"Dih suka-suka gue lah."
"Berantem mulu lo pada, benci jadi cinta nanti." Ledek Egik
"Mit amit."
"Jangan sampe."