
Bunyi bell terdengar nyaring mengisi sudut di sekolah SMA Bumi Sakti
Siswa siswinya ber berbondong-bondong untuk mencapai gerbang sekolah
"Adek lo mau di jemput gak San? Tanya Egik
"Dia bilang tadi pagi gak usah di jemput dia mau jalan kaki aja sama temennya." Jelas Ikhsan
Mereka pun sampai di parkiran dan mengambil motor
Roni selalu dengan Scoopy merahnya, Egik bersama motor Aerox 'biasa orang kaya mah bebas'
Fahrul motor Vario milik kakaknya yang ia pinjam, juga Apip dengan motor Honda birunya.
"Dod kuy naik, siap balapan nih."
"Wes wes gak ada briefing mana bisa begitu," celetuk Apip
"Scoopy merah mana mau kalah, Ikhsan skuy brader."
Sebenernya jarak antara sekolah dan rumah mereka itu jauh, hanya saja mereka pulang sekolah tidak ada yang mau langsung pulang ke rumah melainkan wajib nongkrong dulu ke rumahnya ikhsan
Ke-empat motor tersebut melaju pelan tanpa mengebut
"Katanya mau balapan Gik, gue udah siap ini," teriak Roni kepada Egik yang memimpin di depan
"Iya balapan,"
"Tapi boong!" Sahut Ikhsan tertawa nyaring
"San itu Divan bukan?" Tanya Dodi
"Ouh iya tuh sama temennya,"
"Asik dapet adkel, kasih tebengan cuy bagi yang jok belakang kosong," kata Roni
"Ayok kalo dedek gemes siapa yang mau nolak"
Apip dengan semangat 1999 menyalip motor di depan meninggalkan teman-temannya
"Aduh ada adek manis, sini abang kasih tebengan,"
"LAH?!"
"Lu lagi lu lagi," ia memutar mata malas
"Jangan bilang ini kakak kamu Div?"
"Bukan, dia temennya kakak aku."
"Tinggi badan lo hampir kalah sama adkel." Ejek Apip menatap Adisya
"Cot! Bacot."
"Kenapa Pip?" Tanya Fahrul ketika berhasil menyusul Apip
"Ku kira adkel ternyata satu angkatan,"
Fahrul memajukan motornya agar bisa melihat cewek di samping Divanka
"Waduh min juga ya?"
"Iya kenapa?" Jawab Adisya pada cowok yang di bonceng oleh motor Aerox yang mencolok
"Coba lepas kacamatanya." Kata Roni
Dengan polos Adisya melepas kacamata pink-nya, lalu ia menarik turun kan alisnya guna mendapat respon dari yang ia lakukan.
"Masih bisa liat kegantengan gue gak?" Pede Roni menggombal
"Apasih kak! Gak usah nge gombal deh." Kata Divanka, ia sudah muak di beri gombalan gombalan maut oleh Roni si raja gombal gembel.
Tidak di pungkiri gombalan tadi, membuat Adisya menunduk merasa malu
Siapa yang tidak malu jika di kelilingi oleh para cowok dan di kasih gombalan tiba-tiba.
"Cailah bisa malu juga lo?" Cemooh Apip
Mimik muka Adisya berubah seketika, menatap tajam Apip dan tersenyum jahat mengangkat tangannya membentuk saranghae
"Kalo orang gak tau pasti ngira tuh saranghae cinta woi." Panik Apip memajukan motornya menghindari Adisya
"Tapi ini bukan tentang saranghae," celetuk Dodi
"Tapi tentang siksaan maut."
"Dek naik motor Apip sana." Suruh Ikhsan
"Terus kak Sya gimana?"
Satu persatu motor yang menjemput Divanka tadi melintasinya
Tiba-tiba ada bayangan motor yang berhenti di sampingnya
"Naik."
Adisya menoleh kaget, "gak usah, makasih."
"Gapapa gue anterin."
"Beneran gak usah." Tolak Adisya
"Rumah lo se arah sama rumah Ikhsan jadi sekalian, ayok naik," dia bersikeras membujuk cewek yang tidak ia kenali itu untuk menerima tebengan-nya
"Ikhsan siapa?"
"Temen gue."
"Tapi gue gak kenal,"
"Rumah sebelah warung Akang Jopan itu."
Patut di beri penghargaan karena membuat Fahrul berbicara cukup panjang dan sabar, biasanya dia enggan untuk berbicara panjang apa lagi sesuatu yang tidak penting
"Ouh tetep gak kenal sih," ucap Adisya lanjut berjalan kaki
•••
Mereka sudah sampai di depan rumah Ikhsan, Dodi langsung merebahkan dirinya di pondok kayu
"Gue cape banget hari ini." Katanya
"Kek kerja berat aja lo." Tutur Roni
"Iyalah kerja banting tulang melawan godaan untuk tidak makan tiga piring," ujar Dodi tertawa renyah
"Hahaha sungguh tidak jelas," sahut Divanka memasuki rumah
"Heh Divan gak sopan kamu," Tante Yuli memukul pelan pundak anak bungsunya
"Iya Te marahi aja dia," celetuk Apip kompor
"Eh Apip mau ngapain?" Tanya Tante Yuli
"Mancing lah Tan apalagi," Apip menarik turunkan alisnya
"Siang bolong begini mau mancing, makan belum ganti baju belum enggak enggak, gak boleh nanti sore aja. Sekarang gak boleh panas nanti item." Cerocos Tante Yuli dengan satu tarikan nafas mengomeli Apip yang hobinya mancing terus walau terkadang pulang bawa ikan besar. Tapi seringnya bawa sampah aja
"Bukan nanti item lagi si Apip mah, tapi dia emang udah item!" Roni dan Dodi tertawa puas mendengar ucapan Egik
"Fahrul kemana ya? Kok tante gak liat dia."
"Lah iya juga, Fahrul kemana?" Tanya Apip
"Mana gue tau, tadi ada di belakang gue tuh motornya." Roni berjalan ke arah depan untuk melihat jalanan, siapa tahu Fahrul mampir dulu ke warung
"Di culik nenek kebayan gak sih woi?" Panik Apip
"Nenek kebayan nenek lo!" Sungut Egik
"Mana ya tuh bocah, ilang berabe motornya punya kakaknya." Kata Egik ikut panik
"Malah motornya yang di pikirin."
"Pada kenapa sih?"
Semuanya menoleh ke arah pintu dimana Ikhsan baru keluar setelah mengganti baju
"Si Fahrul belum nongol," ujar Dodi tetap santai rebahan menikmati angin sepoy
"Udah fix ini di culik nenek kebayan," Apip duduk di jok motor sudah siap menjemput Fahrul
"Nah akhirnya nyampe juga." Lega Roni melihat wujud motor Fahrul dari kejauhan
Bukannya berhenti di tempat biasa, Fahrul melewati mereka berlima tanpa ekspresi
"Tuh cewek di bonceng Fahrul woi." Seru Roni
"Wah mana bisa begitu, telat dikit mana ngaruh," kata Roni sedih
"Kasian, lagian kenapa emang sama tuh cewek? Di SMA kita banyak." Celetuk Apip berkaca di kaca spion motor Egik
"Sok ganteng nih si Apip." Kata Tante Yuli
"Iya tuh gantengan juga gue," sahut Roni
"Yang ganteng cuman anak Tante, Ikhsan," Tante Yuli merangkul lengan Ikhsan
"Plan plan saja pak sopir, gue ngantuk." Dodi tertidur lelap seperti sihir tidur.