
Sekelompok remaja yang masih berseragam lengkap sekolah, ada juga yang memakai celana sekolah dan atasan kaos.
Mereka sedang duduk santai di pondok depan rumah salah satu teman mereka yang sudah menjadi tempat terfavorit untuk mereka nongkrong setelah pulang sekolah.
"Gue bosen deh, main layangan yuk!" Ajak cowok yang tengah menghisap rokok yang sudah setengah.
"Nanti lah, tunggu ada layangan lego," sahut temannya menatap langit yang di dominasi beberapa layangan yang terbang tinggi.
"Lego!" teriak beberapa anak dari kejauhan berlari untuk mendapatkan layangan lego yang mulai turun ke arah rumput.
"Pip lego Pip ambil noh, keburu di ambil bocah sebelah." Seru temannya yang merokok tadi mendorong temannya yang lain untuk segara mendapatkan layangan tersebut.
"Mana anjir layangannya," bingungnya mencari layangan yang lego.
"Mangkanya tuh mata jangan di pakai buat liat cewek cantik doang, itu noh depan mata buset Pip!" Emosi temannya meledak.
Setelah memastikan target dimana, 'Apip' selaku orang yang di paksa temannya untuk merebut layangan dari para bocil kematian pun segera berlari mengejar layangan tersebut.
"KAK BUAT AKU AJA KAK!" Teriak anak kecil itu menatap layangan lego tadi yang sudah berada di tangan Apip.
"Wih mana bisa gitu, gue yang dapet enak aja lo," Apip tidak mau mengalah lantaran tubuhnya yang tinggi iya dengan mudah mengambil layangan yang masih melayang di udara itu.
Karena mereka stop di pinggir jalan komplek alhasil jalan untuk pengendara terasa ramai oleh beberapa anak-anak yang berbondong-bondong mengambil layangan.
Salah satunya perjalanan kaki, yang sudah bingung dari kejauhan melihat kerumunan di depannya. Terlebih lagi di keramaian itu ia melihat adiknya.
"Dek ngapain di sini?" Tanyanya setelah berdiri di samping adiknya.
"Ini kak, layangan aku lego terus di ambil sama abang ini," Tunjuk adik si cewek ke arah Apip yang sok polos sembari menyembunyikan layangan di belakangnya.
"Heh lo! Layangan adek gue itu balikin sana." Pinta si cewek
Apip menatap cewek yang ada di depannya itu, tingginya hampir sama dengan tinggi adiknya "layangan lego ini dek, gue dapet jadi ya punya gue," jelas Apip membela diri.
Apip menatap takut cewek di depannya karena raut muka yang merah padam.
"Apa lo bilang? Dek?! Gue seangkatan ma lo ya taik!"
"Hah?" Bengong Apip lalu ia tertawa puas
"Kita satu angkatan? tapi badan lo mirip anak sd."
Cewek itu mengedipkan matanya beberapa kali mendengar tuturan yang keluar dari mulut Apip.
"Sembarangan punya mulut gak di filter, kecil-kecil gini gue bisa banting badan lo ya,"
"Mang eak?"
Dengan emosi yang sudah meluap, ia membuat jarinya membentuk saranghae membuat si adik bergerak gelisah dan mundur menjauhi sang kakak
"Mampus dah lu bang, kena jurus lopek maut kakak gue," kata Adiknya lalu berlari menjauh menyisakan si cewek dengan gerakan anehnya, dan Apip bersama beberapa anak kecil yang masih kebingungan
"Rasain nih!" Si cewek mengarahkan jari berbentuk saranghae-nya ke arah paha Apip
"BUNDAAAAAA" teriak Apip kesakitan
Tidak adanya rasa bersalah si cewek pergi meninggalkan si korban setelah korban terduduk mengenaskan dengan paha yang bergetar.
"Napa kaki lo?" Tanya teman Apip setelah ia sudah kembali dan duduk di tempat awal
"Ada cewek gila yang nyubit paha gue,"
"Kok bisa?" Kepo temannya, panggil saja Egik.
"Gak tau dah gue, males banget ngomongnya," Apip beranjak dan mengambil pancingan kesayangannya.
"Mancing lagi lo?" Tanya ikhsan si pemilik rumah beserta pondok yang sering di pakai temannya untuk nongkrong.
"Yoi San, siapa tahu dapet ikan mermaid," semangat Apip menenteng pancingan beserta satu ember kecil di tangan yang lain.
"Gayaan lo mancing," celetuk Fahrul
Note from Apip >> Fahrul kalo ngomong suka nyelekit bikin kit my heart
"Pengen dapet mermaid?" Tanya Fahrul lalu Apip menganggukkan kepalanya dengan semangat
"Minimal mancing tuh umpannya daging lah, masa umpan botol teh gelas," kata Fahrul berjalan melewati Apip yang tercengang.
"Tuh mulut mohon di filter ya, kit my heart nih,"
"Iya sayang, bentar lagi aku ke rumah kamu," ucap cowok yang sedari tadi sibuk video call dengan sang pacar.
"Jijik gue Gik sumpah, lu kalo mau vc mending di dalem deh." Sindir Dodi memakan bakwan yang di siapkan oleh ibunya Ikhsan.
"Sirik banget liat orang pacaran, mangkanya cari cewek biar gak jomblo terus." Sungut Egik merebut bakwan di tangan Dodi.
Bunyi klakson motor yang di bunyikan tiga kali berturut-turut adalah sebuah kode yang sudah biasa di dengar di sini.
Itu tandanya kode sang raja motor sudah datang.
"Assalamualaikum anak-anak baik aku datang,"
Cowok berambut sedikit panjang dengan motor Scoopy merahnya berdiri dengan gagah.
"Gue ada atraksi baru buat kalian," katanya dengan tampang percaya diri.
Dia dengan cepat mengangkat ban depan motornya lalu menggas motor dengan kecepatan penuh hingga menghilang dari penglihatan.
"RONI!! SINI GAK LU GUE KEMPESIN LAGI YA TUH BAN OPY."
Pria paruh bayah, berteriak keras memangil si cowok berambut panjang yang memang sering banyak tingkah.
Dia adalah ayahnya Ikhsan si tuan rumah, panggil saja kang Indra.
"Maaf kang jangan di kempesin lagi dong ayang saya," cengengesan Roni setelah memarkirkan motornya dengan benar.
"Ayang ayang pala lo peyang," sungut kang Indra.
"Scoopy merah harga mati, gak ada Opy aku mati," Seru Roni memeluk motor Scoopy merahnya.
"Udah gila nih bocah, udah sana makan tuh ada bakwan."
Kang Indra menarik kerah baju Roni untuk duduk di pondok kayu tempat biasa mereka nongkrong.
"Mana yang lain?" Tanya Roni
"Apip biasa lagi mancing, Egik lagi pacaran noh di dalem."
"Eh tau gak gue liat mangga pak Imron udah masak."
Dodi menatap binar ke arah Ikhsan "yang bener lo,"
"Gak percaya cek aja sendiri."
"Kapan mau ngambil?" Tanya Roni
"Malem aja, sekalian nunggu yang lain ngumpul," saran Dodi dia tidak sabar untuk memakan mangga pak Imron yang lezat.
"Gue gak ikut-ikutan," celah Fahrul
"Ah lu mah gak asik," kata Ikhsan
"Cari aman aja, gue gak mau kena ceramah dia seminggu tiap ngajar di kelas,"
Pak Imron itu selaku guru juga tetangga di dekat rumah Ikshan jadi setiap mereka ketahuan maling mangganya pasti pak Imron akan membahas sesuatu tentang maling, atau mengambil barang orang lain tanpa izin setiap kali ia mengajar di kelas mereka.
"Lu mah gak kuat mental kek kami Rul," sombong Roni
"Bodo amat."
"Beneran gak asik nih orang, awas aja lu minta mangganya nanti," emosi Roni Ingin menendang pantat Fahrul