Pasjamran

Pasjamran
PJR-02




Lima remaja cowok berjalan berurutan sembari mengandeng tas masing-masing kecuali si badan besar, Dodi.


Dengan gaya angkuh remaja yang berjalan paling depan bersama teman di sebelahnya, Apip dan Roni.


Lalu di belakangnya ada Dodi dengan Snack di tangannya, juga Ikhsan dan di susul Fahrul dengan tampang maco.


Egik dengan ponselnya sibuk chatting bersama pacar yang beda sekolah, sehingga ia tertinggal oleh yang lain.


"Roni bayar duit kas lo."


Teriakkan melengking dari arah depan membuat Roni yang tadinya sibuk menggoda adik-adik MPLS berubah seketika.


"Gayaan banget lo begitu, keren? Bayar dulu kas lo baru gue bilang keren." Kata sang bendahara kelas Roni yang menagih uang kas.


"Emang siapa juga yang minta lo bilang keren ke gue." Timpal Roni berusaha stay cool padahal aslinya mah dia ketar-ketir di tagih di koridor, apalagi di depan adik kelas.


"Berapa duit kas dia, biar gue yang bayarin."


Bak seorang pahlawan kepagian, Egik mengeluarkan dompetnya, orang kaya mah bebas.


"Aduh temen gue baik banget emang." Roni memeluk erat Egik


"Makasih bro makasih, nunggak satu bulan doang gak ngaruh kan?" Canda Roni melepaskan pelukannya


"Halah paling juga tuh dompet isinya cuman kert—


"Nih."


Dengan tangan yang gemetaran karena shock si bendahara menerima uang warna merah sebesar tiga lembar.


"Udah kan? Yok masuk kelas," ajak Egik


"B-buset tuh dompet isinya duit merah semua.."


"ORANG KAYA ANJIR!" Teriakkan melengking kembali terdengar dari mulut sang bendahara.


"Tolong gue mau pingsan," gumamnya berjalan sempoyongan ke dalam kelas.


"Napa lo bad mood?" Tanya Fahrul dia tipe cowok peka akan suasana.


"Cewek gue bro, gak pamit sama gue tiba-tiba udah di kelasnya aja." Ungkap Egik


"Salah lo sih nanya ke dia," ikhsan menepuk pundak Fahrul sabar.


"Bolos yuk." Kata Apip setelah menaruh tasnya di atas meja.


"Belum juga belajar." Ujar Dodi


"Makan mulu lo, bagi lah." Apip merebut snack dodi


"Cabut lah brader gue mau liat adek gue mpls."


"Iya juga ya, jangan sampe di bentak ma anak OSIS dedek kesayangan gue." Ucap Roni bersemangat untuk mencari adek Ikhsan yang menjadi anak baru di SMA mereka.


"Waduh bahaya nih kalo lecet." Ikut Apip


"Divan semangat mpls-nya dek." Teriak Apip tak tahu malu


"Abang di sini siap membantu dek." Sambung Roni


"Kalo laper Abang Odi banyak nih makanan kesini aja gak usah takut," mereka bertiga meneriaki 'Divanka' selalu adiknya Ikhsan.


Mereka berteriak dari lantai satu sekolahan, di koridor anak kelas X


"Jangan malu-maluin adek gue lo pada." Sungut Ikhsan


"Liatin aja gak usah berisik," ujar Fahrul dan semuanya kembali diam menatap siswa siswi baru yang sedang mpls di lapangan.


Mereka berenam ini tidak satu kelas semua.


Apip, Roni, juga Dodi itu masih kelas XII.


Sedangkan Ikhsan, Egik, dan Fahrul sudah kelas XII.


"Btw adek lo dimana ya San?" Tanya Dodi


"Terus kalian teriak-teriak tadi itu apa maksudnya kalo gak tau dia dimana." Ujar Ikhsan


"Gue sih ngikutin Apip doang."


Fahrul nampak memperhatikan sekitar alih-alih mencari keberadaan Divanka Adiknya Ikhsan ia tidak sengaja melihat cewek memakai tas cowok yang baru masuk gerbang dan tersungkur.


Di lihat dari jalannya yang membungkuk di pastikan beban di dalamnya tasnya cukup berat. Lalu dia kembali memfokuskan diri ke arah lapangan.


"Iya sih tapi bukan keknya tas dia warna coklat."


"Nih tas isi buku apa batu? berat banget."


Dari arah tangga belakang mereka berenam datang seorang cewek menyeret tasnya.


"Ini juga kelas, kenapa di lantai 3 nyusahin banget pagi-pagi mood gue ancur." Cerocos si cewek


"Buatin life kek, kepsek-nya gak berperikemanusiaan banget heran."


Tanpa melihat sekitar ia tetap berbicara sendiri dengan jalan yang terseok-seok berharap cepat sampai di kelasnya.


Sesaat setelah sadar bahwa ada yang memperhatikan si cewek ini pun menatap ke depan.


"COWOK LAYANGAN??"


Apip merasa terpanggil memutar otaknya mengingat sesuatu.


"Wah parah beneran satu sekolah kita pftt."


"Lo lagi lo lagi, beneran ancur mood gue."


"Gue ancurin juga nih bumi." Si cewek menghentak kakinya menyalurkan kesal, berjalan secepat mungkin untuk melewati para kumpulan cowok-cowok itu.


Di antara mereka berenam ada yang melirik name tag si cewek, "Adisya Maharani."


"Siapa Pip?" Apip melirik Roni


"Cewek kemaren yang nyubit gue."


"Ouh jadi itu, cantik juga ya." Ungkap Dodi


"Cantik? Mata lo perlu di cek dah Dod."


"Kek mak lampir iya." Gumam Apip merasa kesal.


•••


"Dis ke bawah yuk liat kakak-kakak OSIS." Ajak teman Adis


"Sabar napa La, gue baru nyampe udah lu ajak ke bawah lagi."


Lala nyengir sebelum ia membantu Adis membawa tasnya.


"Lu bawa apa aja Dis?"


"Semua buku paket."


"Buset buat apaan."


"Mau gue taro di loker semua lah, ogah gue bawa buku paket tiap hari mending nginep sini aja."


"Cerdik juga lo, pantes tas lo berat lo bawanya aja udah kek monyet kepanasan."


"Udah pernah di cekik belum? mau nyoba gak?"


"Kalem bro kalem."


"Gue bakal ngelewatin tuh bocah lagi?" Gumam Adis berjalan pelan bersama Lala keluar kelas.


"Duh gak sabar liat OSIS yang paripurna."


"Gue sih gak suka yang lebih tua, tim brondong nih bos senggol dong." Kata Adis


"Ngapain sih mereka masih di sana?" Tanya Adis


"Siapa?"


Adis menunjuk ke arah depan dimana kelima cowok itu masih stan bay.


"Ouh temennya kak Ikhsan." Kata Lala


"Kenal lo La?"


"Iya temennya abang gue juga." Adis mengangguk-anggukkan mengerti.


Adis berjalan ke belakang Lala berupaya untuk tidak di lihat oleh cowok tersebut.


"Lu kenapa sih Dis?"


"Cailah La jangan ngomong bisa gak, gue lagi menjalankan misi."


"Prik banget asli."