Pasjamran

Pasjamran
PJR-03




Adisya dan Lala berdiri di samping lapangan melihat anggota OSIS yang tengah membimbing siswa MPLS.


"Kak Vano cakep banget Dis!" Histeris Lala menggoncang tubuh Adisya.


"La udah La gue mabok woi mual ini."


Seketika Lala berhenti "Hamil lo?"


"Bacot,"


"Jadi pengen ikut mpls juga deh, siapa tau nanti di suruh minta tanda tangan OSIS gue sih mau banget apa lagi OSIS-nya kak Vano."


"Jangan ganggu, gue mau cari brondong."


"Suka kok sama yang lebih muda, yang lebih tua dong." Sindir Lala


"Sumpah lu bacot, diem aja bisa? atau gue balik ke kelas." Ancam Adisya


"Permisi kak." Sapa Adik kelas yang berjalan melewati mereka berdua


"Iya dek silahkan."


Adek kelas tadi kembali berjalan ke arah mereka.


"Maaf kak boleh tanya UKS di mana?" Tanyanya, mereka baru sadar kalau wajah sang adik kelas ini terlihat pucat.


"Eeh sakit kamu, sini gue anter ke UKS." Panik Lala


"Ngomong apa sih lo." Celetuk Adisya mendengar kosa kata campur aduk Lala.


"Sini dek, sama kakak aja nih orang gak waras." Ajak Adisya menuntun adik kelas itu menuju ruang UKS yang berada di ujung


"Lah gue di tinggal Dis?"


"Bentar doang juga."


"Kamu gak sarapan tadi?" Tanya Adisya berbasa-basi sembari berjalan ke UKS


Adisya merangkul erat pundak si adik kelas, takut jika tiba-tiba pingsan atau apa


"Sarapan kak, cuman sedikit soalnya kakak aku samson jadinya jatah aku di ambilnya." Tuturnya sembari cengengesan


"Kurang asem emang punya kakak modelan dia,"


"Btw nama kamu siapa?"


"Divanka Agustina kak,"


"Ouh Diva, kenalin kakak namanya Adisya Maharani,"


"Ouh kak Sya?"


Adisya cukup terkejut menerima panggilan tersebut, biasanya hanya orang rumah yang sering memanggilnya dengan panggilan tersebut. Selebihnya teman-temannya sering memangil Adis.


"Iya boleh."


"Gak becus banget ya anggota OSIS masa nyuruh kamu ke uks sendiri."


"Iya kak." Canggung Divanka, ia bingung harus merespon seperti apa.


"Nah udah sampe, kamu masuk aja."


"Makasih banyak kak udah nganterin," Dia menunduk sopan ketika Adisya akan pergi


"Iya santai aja."


"Ika kamu kenapa?"


Adisya sempat menoleh sekilas ketika ada yang berteriak tidak jauh dari tempat dia berada.


Nampak beberapa cowok berjalan sedikit terburu-buru ke arah UKS


Ia juga sempat bertatapan dari salah satu rombongan tersebut.


"Kakaknya kali ya,"


•••


"Mag lo kambuh?" Tanya ikhsan khawatir


"Enggak, cuman aku pusing aja tadi kena panas di lapangan."


lalu Divanka mengangguk


"Kurang apa lagi tuh sarapan dua baskom, sampe harus ngambil punya orang." Sindir Dodi


Ikhsan tidak menghiraukan, ia pura-pura tidak mendengar.


"Kamu masuk aja dek istirahat." Suruh Fahrul


"Aduh Abang Arul perhatian banget, jadi pengen juga di perhatiin sama abang." Fahrul menatap sinis Apip


"Jangan bilang lu suka ya sama adeknya Ikhsan?" Seru Roni


"Enggak,"


"Emang berani dia suka ma adek gue?" Tanya Ikhsan menatap Fahrul tajam


"Enggak." Ucap Fahrul singkat


"Kek robot lu." Cetus Apip


Lalu ia mengajak Roni dan Dodi pergi dari sana meninggalkan Fahrul, Ikhsan, juga Egik.


Apip tahu mereka pernah berseteru tentang adiknya Ikhsan, hanyalah saja ia tidak tahu pasti masalahnya apa.


"Udah lah masa lalu gak usah di ungkit-ungkit lagi," lerai Egik agar Ikhsan berhenti menyudutkan Fahrul


"Bukan gue yang mulai." Kata Fahrul berjalan menjauh


"Gak usah kek anak sd deh lo San, dikit-dikit marahan cuman di pancing gitu doang."


Ikhsan hanya diam mendengar ocehan Egik sembari tetap menatap punggung Fahrul yang perlahan menjauh dan hilang


•••


Kegiatan mpls berjalan lancar dan siswanya pun sudah di persilahkan untuk berkeliling juga istirahat di kantin.


"Dek kelas berapa lo?" Tanya ikhsan pada adiknya


"Kelas sepuluh tiga."


Mereka, teman-temannya ikhsan sedang menikmati makanan kantin setelah sekian lama mereka libur sekolah.


Di meja ini di isi penuh dengan mereka saja juga Divanka


"Napa pada ngeliatin kita sih?" Heran Dodi karena siswa yang lewat dengan terang-terangan melihat ke arah mereka.


"Mungkin karena ada gue, gue kan handsom." Pede Apip


"Gue kali yang hansom bukan elu."


"Iyain agar tidak stress," ujar Apip meladeni Roni


"Borong gih makanan apa aja, gue traktir."


"Beneran bang?" Antusias Divanka


"Iya itung-itung ngerayain elo masuk SMA ini." Kata Egik


"Waduh makasih banget bro, bayarin utang gue ke bude ya."


"Iya."


Dodi, Apip juga Roni yang paling bersemangat jika menyangkut tentang gratisan.


Fahrul sedari tadi banyak diam, terlebih lagi sifatnya yang memang pendiam dan tertutup.


"Jamkos gini enaknya kita bolos aja, main warnet." Saran Ikhsan


"Main mulu lo, udah mau lulus juga gak lulus mampus," hardik Divanka heran melihat kelakuan kakaknya


Ikhsan menjepit bibir Divanka "Mulutnya pengen di kasih cabe."


"Apasih kak, bikin malu aja."


"Punya malu?"


"Nyenyenye," ejek Divanka


"Udah ah gue mau liat kelas dulu,"


"Awas nyasar." Teriak Roni