Paregreg, Senjakala Wilwatikta

Paregreg, Senjakala Wilwatikta
episode 9



Beberapa waktu kemudian, setelah waktu beranjak sore, dan kain basah yang mereka jemur sudah kering, maka keduanya sepakat untuk segera menyeberang dan menuju ke dusun yang ada di seberang sungai.


Setelah mencari bagian sungai yang dangkal, mereka kemudian menyeberangi sungai. Tak butuh waktu lama untuk keduanya menyeberangi sungai kecil itu, dan sampailah mereka di seberang sungai. Kemudian mereka mencari jalan di sela-sela persawahan yang membentang di pinggir sungai sampai di pinggir desa yang mereka tuju.


Setelah menemukan jalan tanah yang membelah persawahan itu maka perlahan lahan Arya Wiguna dan Gupita mengarahkan kudanya menuju desa yang tampak di kejauhan.


Tanaman padi di kiri kanan jalan yang membentang luas di area persawahan itu tampak menghijau sedap dipandang mata, dan pada saatnya nanti tentu akan menghasilkan padi yang akan menjadi persediaan pangan bagi warga di desa.


Melihat suburnya tanaman padi itu, maka ada gambaran bahwa desa yang mereka tuju adalah sebuah desa yang cukup makmur.


Pelan namun pasti, akhirnya kedua anak muda dari padepokan gunung Penanggungan itu mulai mendekati pinggir desa. Tampak anak-anak kecil yang masih bermain-main kejar-kejaran sambil tertawa riang.


Pemandangan itu tak ayal membuat Arya Wiguna dan Gupita gembira, mereka merasa bahwa masa anak-anak memang masa yang menyenangkan, penuh dengan kegembiraan.


Memasuki pinggir desa, mereka kemudian bertanya kepada warga yang mereka temui dimana rumah Buyut (kepala desa).


"Permisi Paman, bolehkan kami bertanya desa apakah ini, serta dimana rumah Buyut desanya? " tanya Arya Wiguna setelah turun dari kudanya.


" Oh, kami ini kebetulan dua anak muda yang sedang mencoba melihat luasnya cakrawala Paman, tujuan kami bertemu Ki Buyut adalah hendak mohon ijin bermalam di banjar desa ini Paman" jawab Arya Wiguna.


"Wah, kalian ini mujur, masih muda muda namun sudah berkelana kemana-mana, tidak seperti anak-anak muda dusun yang harus bergelut dengan lumpur sawah setiap hari untuk mencukupi kebutuhan hidup, kalian tentu kenyang dengan pengalaman yang nantinya akan berguna di masa depan" ujar paman tua itu.


"Wah, paman ini terlalu memuji saja, apalah kami ini, dua orang tak tentu arah yang hanya mengikut kemana kuda kami ini membawa kami" jawab Arya Wiguna.


Setelah beberapa waktu, sekira sepeminuman teh Arya Wiguna dan Gupita berbincang dengan seorang penduduk desa yang telah menunjukkan arah rumah Ki buyut desa itu, maka Arya Wiguna dan Gupita kemudian berpamitan untuk segera menuju rumah Ki Buyut untuk memohon ijin menginap di banjar desa itu.


Tidak butuh waktu yang lama bagi keduanya untuk mencapai rumah Ki Buyut sebagaimana ancar-ancar yang tadi disampaikan oleh warga desa yang mereka temui di pinggir desa.


Di halaman rumah yang cukup luas itu, terdapat dua buah pohon sawo kecik yang rindang, tepat seperti yang tadi disampaikan oleh warga desa yang mereka temui, sementara di samping pohon sawo sebelah kanan terdapat sebuah banjar desa yang cukup luas dengan sebuah tempayan air lengkap dengan gayung di depannya sebagaimana layaknya banjar-banjar desa yang ada di seantero wilatah Wilwatikta.


Tempayan air biasanya diletakkan di dekat banjar desa serta di dekat pagar depan rumah - rumah penduduk yang berada di dekat pinggir jalan untuk memudahkan pejalan atau warga yang melintas di jalan itu yang kehausan di jalan untuk meneguk satu dua tegukan air sebagai penghilang dahaga.