
Sesampai di dusun yang ada di bawah kaki gunung, dua ekor kuda yang ditunggangi oleh prajurit kedaton wetan membelokkan arah menuju ke kota Pamotan, ibukota kedaton wetan Wirabhumi, sementara dua ekor kuda yang ditunggangi oleh Arya Wiguna dan Gupita tampak mengarahkan kudanya ke arah kota tua Lamajang.
"kita berpisah di sini Paman, kami berdua akan ke arah Lamajang, menengok tempat para leluhur dicandikan, sampaikan salam kepada Ayahanda dan Ibunda, " ujar Arya Wiguna
"Baik Anakmas, salam akan kami sampaikan, Kami berdua mohon pamit untuk bergegas kembali ke Pamotan" jawab prajurit.
Setelah kedua prajurit menggebah kudanya agar berlari kencang menuju Pamotan, maka Arya Wiguna dan Gupita dengan berlahan mengarahkan kudanya menuju Lamajang, sebuah kota tua yang dahulu dibangun di era Tumapel, saat Maharaja Wisnu Wardhana. Lamajang didirikan oleh Nararya Kirana, salah satu saudara Maharaja Kertanegara, anak dari Maharaja Wisnu Wardhana. Dari keturunan Nararya Kirana inilah yang kemudian menurunkan para penguasa Lamajang, yang salah satu keturunannya kemudian menjadi istri Maharaja Rajasanegara yang menurunkan anak Pangeran Aji Rajanatha yang sekarang menjadi penguasa Kedaton Wirabhumi bergelar Bhre Wirabhumi II, menggantikan eyangnya, Bhre Wirabumi I, yaitu Pangeran Wijayarajasa yang tak lain adalah suami dari bibi Raja Hayam Wuruk, Dyah Rajadewi. Sementara itu, Arya Wiguna, sebagaimana dengan Bhre Wirabhumi adalah sesama keturunan Nararya Kirana saudara Prabu Kertanegara di era Singasari yang ditetapkan menjadi penguasa di kedaton Lamajang Tigang Juru oleh Prabhu Sminingrat pada saat itu.
Itulah mengapa sebelum meninggalkan padepokan, Arya Wiguna diberi pesan oleh kakeknya untuk mengunjungi tempat para leluhurnya dicandikan, baik yang ada di Lamajang serta yang ada di Tumapel dan yang lain.
Setelah berhasil mengalahkan kerajaan Lwaram, dan mengusir prajurit Srwijaya dari tanah Jawa, maka Airlangga dan teman setianya Narottama kemudian mendirikan Kerajaan Kahuripan. Namun setelah sekian lama berjaya, akhirnya kerajaan Medang Kahuripan terpaksa dibagi dua menjadi Jenggala dan Panjalu demi menghindari pertumpahan darah antara dua anak laki-lakinya.
Sepeninggal Airlangga, ternyata harapan agar Panjalu dan Jenggala bisa hidup berdampingan secara damai tidak terwujud. Kedua kerajaan saudara itu justru seringkali berperang demi niatan untuk saling menghapuskan kerajaan yang lain dari peta sejarah.
Demikian silih berganti Jenggala dan Panjalu saling unggul dan kerejaan yang satu menjadi kerajaan bawahan kerajaan yang lain, hingga akhirnya Jenggala sempat lama ditaklukkan oleh Panjalu yang kemudian berganti nama menjadi kerejaan Kediri dengan pusat di Dahanapura. Namun akhirnya keturunan Jenggala berhasil menaklukkan Kediri dalam pertempuran hebat di Ganter dan kemudian mendirikan kerajaan Tumapel yang kemudian lebih dikenal dengan nama kerajaaan Singasari.